
Lagi. Chia mendapati Adit lagi-lagi menghela napas. Entah sudah berapa kali sahabat Chia sejak SMP itu terus mendesah pelan. Sun yang berdiri tepat di belakang lelaki itu hanya tersenyum lebar sambil menunjukkan gigi-giginya.
"Semangat dong, Bro!" kekeh Sun kemudian berjalan melewati Adit begitu saja.
"Duit gue," rengek Adit sambil memandang hamparan luas tanah di depannya yang sedang dipijak Sun. "Kapan duit gue bakalan balik lagi?"
Jun yang mendengar pertanyaan juniornya itu, tersenyum tipis. "Kalau saatnya udah tiba. Santai aja. Duit lo pasti balik kok." Jun menepuk-nepuk bahu Adit pelan. Lalu bergegas menyusul Sun yang mulai 'dikeroyok' oleh sekumpulan bocah cilik di depan sana.
"Thanks, Bro." Kini giliran Asta yang menepuk bahu Adit dan langsung mendapat tatapan tajam dari lelaki itu.
Dengan wajah memelas Adit mengamati Asta. "Lo punya utang paling banyak sama gue."
Seruan Adit barusan tak didengar Asta sama sekali. Alih-alih menjawab, lelaki yang berjalan agak pincang itu kini tengah sibuk dengan seorang bocah perempuan berkepang dua, dan Chia yakin itu adalah Lala yang sering Asta sebut ketika dia mengigau dalam tidur. Astaga! Bagaimana Adit tidak merasakan kepalanya berdenyut hebat sejak tadi?
Dua hari lalu, Adit tiba-tiba kedatangan Jun, Chia dan seorang lelaki bernama Andra di depan rumah mungilnya. Ketiga orang itu mendadak menerobos masuk ke dalam rumahnya begitu saja. Wajah mereka kelewat serius. Kaku. Auranya menakutkan dengan sorot tajam yang penuh makna.
Tanpa berbasa-basi, mereka meminta Adit menjadi seorang milyarder bohongan. Adit yang tak tahu apa-apa, hari itu juga didandani layaknya golongan konglomerat dengan baju dan barang-barang mewah lain yg dia pakai. Termasuk mobil Lamborghini yang seniornya--Jun--entah bagaimana caranya mendapatkan mobil itu dari kedua orang tua Adit yang kaya raya. Parahnya lagi, mobil itu tak diberikan kepada Adit secara cuma-cuma.
Ya ampun!
Pernah dengar istilah 'Sudah jatuh, tertimpa tangga pula?' Itu adalah istilah peribahasa untuk hal yang dialami Adit sekarang. Sudah mobilnya diberikan secara bersyarat, Adit diminta untuk berakting dan berhadapan dengan seseorang yang menakutkan, kini uang tabungannya ludes dipakai untuk membeli tanah kawasan sebuah pemukiman kumuh. Tak tanggung-tanggung, Adit harus membelinya dengan harga 10 kali lipat dari harga aslinya. Meski sebenarnya uang yang dipakai tidak murni milik Adit semua. Ada uang Chia dan Jun. Namun, tetap saja jumlah yang Adit keluarkan jauh lebih banyak.
Chia yang sejak tadi berdiri di belakang Adit, maju satu langkah untuk mensejajarkan posisi keduanya. Mata Chia berbinar melihat pemandangan yang menyejukkan matanya. Apalagi kalau bukan tawa anak-anak. Juga tawa dari orang-orang yang berbagi kebahagiaan di depan sana.
"Coba deh lihat ke depan," ucap Chia dengan senyuman melekat di wajahnya. "Berkat lo, berapa orang yang udah lo selamatin dari nasib penggusuran tanah? Berapa orang yang akhirnya tetap lo jaga tawanya? Berapa anak yang akhirnya masih bisa mengenyam pendidikan meski tanpa harus ke sekolah? Lo menyelamatkan mereka Dit , dan gue bangga sama lo."
__ADS_1
Adit mengangguk setuju. Senyumnya mengembang mengamati orang-orang yang masih tertawa-tawa di depan sana. Sebagian besar hatinya merasa lega. Pemukiman kumuh itu akhirnya tidak jadi digusur. Tanah itu sekarang sudah beralih menjadi miliknya. Warga yang tinggal di sana sudah bisa aman dan tidur dengan nyenyak setiap malam. Tanpa harus khawatir lagi apakah rumah yang mereka tinggali akan segera dihancurkan atau tidak. Adit lega, keresahan orang-orang itu akhirnya sirna.
Tapi ...
"Kakak ganteng! Bisa nyanyi gak?"
"Kakak Sunshine, nyanyi yah nyanyi?"
"Makasih yah Kak Sunshine udah datang ke sini kita semua seneng."
"Kak Sunshine sering-sering yah datang ke sini?"
"Kita semua sayang kak Sunshine."
Dan pujian-pujian lainnya yang membuat batin Adit miris seketika. "Kayaknya keputusan bawa si aktor itu salah deh Chia. Gue kalah telak sama dia. Dia terlalu terang sampai gue berasa jadi debu yang diterbangkan angin begitu saja." Adit pura-pura merajuk dan Chia hanya tertawa menanggapi candaan lelaki itu.
Adit mengangguk dan mengekor di belakang Chia.
Begitu Chia dan Adit bergabung, suasana riuh ricuh dari anak-anak yang sangat antusias dengan kehadiran Sun dan yang lain, kini menjadi kondusif. Anak-anak itu telah duduk manis bersila di atas karpet yang digelar di tanah. Para orang tua berdiri di samping. Berjajar dengan raut wajah bahagia. Chia dan Adit duduk di sebelah Jun dan Asta yang telah lebih dulu bercampur dengan anak-anak itu.
Semua mata kini tertuju pada satu arah. Yaitu Sun yang duduk di dalam saung yang dijadikan seperti panggung. Sun memangku sebuah gitar dan mulai memetiknya. Suara merdu lelaki itu mulai terdengar. Lagu Harta Berharga menjadi lagu pembuka dan pengiring kebahagiaan siang itu.Beberapa orang yang tahu lirik lagu itu pun ikut bernyanyi menemani Sun. Serta para penonton bertepuk tangan mengikuti irama sehingga suasana semakin ramai.
"Mereka anak-anak yang manis yah," seru Sun yang sedang duduk-duduk di pinggir bersama Chia.
Kedua mata mereka tengah mengamati Asta yang mendapat giliran berada di saung. Lelaki itu tengah mengajarkan anak-anak di sana seperti yang biasa dilakukannya. Asta tidak terlihat kaku atau pun canggung. Berbeda ketika Jun yang berdiri di sana. Makanya pengacara itu bertahan sebentar dan memilih untuk bercengkerama dengan para orang tua ditemani Adit.
__ADS_1
Sambil mengamati dari kejauhan, Chia diam-diam tersenyum. Tak menyangka, di depan sana seorang yang dingin seperti Asta, bisa menjadi hangat di depan anak-anak. Lelaki itu terlihat tampak sabar ketika mendapati rentetan pertanyaan dari anak-anak yang kurang paham dengan penjelasannya. Asta bahkan terlihat sesekali bercanda dengan mereka. Pemandangan yang manis dan Chia setuju dengan komentar Sun barusan.
"Sesekali tampil di lingkungan seperti ini, berbaur dengan mereka, tertawa bersama, duduk di tempat yang sama untuk sekedar menyantap makanan sederhana, membuat gue merasa terharu dan bahagia. Banyak pelajaran yang bisa gue petik dari orang-orang di sini. Salah satunya, kebahagiaan bukan semerta-merta berasal dari seberapa besar kekayaan yang kita miliki. Kebahagiaan sejati ... adalah bagaimana kita bisa tertawa, menangis, saling menguatkan dan tetap bersama-sama dalam kondisi apa pun dengan orang-orang yang kita cinta."
"Juga, Bisa membawa dan membagi kebahagiaan itu sendiri, kepada orang lain," tambah Chia sambil menoleh ke arah Sun dan melempar senyum pada lelaki itu.
"Gue jadi kepikiran pengen punya anak banyak. Biar nanti pas gue nyanyi, gue punya penonton sendiri di rumah," canda Sun sambil tertawa-tawa sendiri.
"Kakak Cantik!" seru seorang anak laki-laki yang tiba-tiba saja bergabung di tengah perbincangan Sun dan Chia. "Kakak Cantik, kakak pinter kayak Kak Andra juga 'kan? Kakak gantiin Kak Andra yuk. Dito males sama Kak Andra. Kak Andra galak."
Alis Chia terangkat satu kemudian menoleh ke arah Andra di kejauhan. Chia tertawa pelan. "Dito kata siapa kakak pinter? Kakak biasa aja kok. Justru kakak yakin Dito jauh lebih pinter."
Dito menggeleng. "Kak Andra bilang kakak cantik pinter juga. Selalu saingan sama Kak Andra waktu dulu?"
"Dulu? Iya kah?" Sun mengerutkan dahi. Lalu menengok ke arah Chia. "Emangnya lo udah kenal sejak kapan sama Andra? Apa lo udah kenal dia sejak lama?"
Uh ya ampun! Chia lupa. Sun belum tahu kalau Andra adalah Asta, teman sekolah Chia sewaktu SMA dulu. Akan semakin aneh jadinya jika Chia terpaksa berbohong untuk mencari alasan kepada Sun. Maka Chia sengaja tersenyum saja dan cepat-cepat beralih pada anak lelaki bernama Dito.
"Jadi Kak Chia boleh ikut ngajarin kalian juga?" tanya Chia tanpa berani memandang ke arah Sun yang mulai curiga.
"Boleh banget!" seru Dito sambil berjingkrak senang.
"Ya udah yuk, Kak Chia ikut ke saung," ajak Chia sambil berdiri. "Chia tinggal dulu yah Kak Sun."
Setelah pamit pada kakaknya Riga itu, Chia segera mengikuti langkah Dito. Menghampiri anak-anak yang sedang belajar di saung. Lalu disambut senyuman merekah dari semua yang berada di sana. Termasuk Asta.
__ADS_1
∆ ∆ ∆
demi apa aku ketiduran semalem dan gak up cerita ini . ya ampun 🤧