
"Pulang sana!"
Chia meliriknya. Laki-laki itu tak menjawab atau bahkan mendengarkan perintahnya. Chia mengembuskan napas berat saat lelaki itu justru duduk di sampingnya. Yang masih menunggu kedatangan bus di sebuah halte.
"Ini salah lo, karena lo gak mau gue anter pulang," balasnya dengan ekspresi datar yang terarah ke jalanan.
Chia terperangah sejenak sebelum ekspresinya berubah tenang kembali. Dia emang cowok aneh!
Chia meliriknya lagi. Dengan sorot mata yang datar, Chia menatapnya. "Jadi lo mau tetep diem di sini?"
Asta, laki-laki itu hanya menjawab dengan gumaman. Membuat Chia menghela napas berat. Berkali-kali.
"Gue gak mau disebut perusak hubungan orang," protes Chia sambil mengamati Asta yang tak menjawab perkataannya barusan.
Cukup lama, hingga Chia merasa bosan memandangi wajah laki-laki itu. Menarik pandangannya, Chia memusatkan kembali perhatiannya pada jalanan.
"Kenapa lo gak ngejar dia?"
Dari sudut matanya, Chia melihat lelaki itu memutar kepala hingga menghadap ke arahnya. "Siapa?" tanya Asta.
Siapa? Chia mengulang pertanyaan lelaki itu di dalam hati. Berapa kali gue harus jelasin? "Pacar lo," dengus Chia sambil menatap wajah Asta.
Diamatinya garis tipis yang terukir di sudut bibir lelaki itu. "Buat apa? Dia gak pernah sayang sama gue," jawab Asta sambil mengendikan bahu. Melebarkan senyuman di wajahnya.
"Dasar cowok bego." Chia menyeringai sambil menatap tajam laki-laki itu. "Lihat dari ekspresi marahnya aja, gue tau kalau dia cemburu."
Asta tiba-tiba tertawa. Tawa yang terdengar dipaksakan. Chia bahkan tak menyukai tawa laki-laki itu. Dilihatnya Asta meluruskan kakinya ke depan. Merubah posisi duduknya agar terlihat lebih santai.
Chia tak berkomentar saat Asta mendesah pelan. Laki-laki itu merubah ekspresinya menjadi datar kembali. "Mara gak mungkin cemburu sama gue. Dia marah kayak gitu, karena dia gak suka gue cuekin."
__ADS_1
Chia tersenyum saat mendapati Asta yang terlihat menerawang dan ... berubah sedih. "Tapi hati kecil lo, lo berharap dia cemburu kan?" goda Chia, membuat wajah lelaki itu terlihat makin frustrasi.
"Mustahil," kata Asta yang dibalas dengan tawaan keras dari Chia.
Ya, Chia tertawa. Di depan Asta yang tampak terperangah. Bahkan ini pertama kalinya Chia tertawa lepas kembali setelah sekian lama, di hadapan laki-laki yang belum dikenalnya dengan baik pula. Yah, masa bodoh. Chia bahkan tak bisa menghentikan tawanya sendiri.
Kelakuan sama ucapannya bertolak belakang. Dia emang cowok aneh! Komentar Chia disela tawanya.
● ● ●
Dia tertawa? Asta terperangah. Mengerutkan dahinya sambil menatap tajam ke arah Chia. Sialan! Dia masih ngetawain gue! Keluh Asta tanpa melepaskan pandangannya dari Chia.
Asta masih memerhatikan gadis yang duduk di sebelahnya. Entah kenapa Asta malah menikmati wajah gadis itu yang sedang tertawa. Chia terlihat manis saat tertawa seperti itu. Berbeda jauh dengan kesehariannya yang biasa ia lihat di sekolah.
Yah, Asta tak peduli tentang hal itu. Ia tak keberatan untuk hal apapun mengenai Chia. Tak masalah jika gadis itu ingin menunjukkan sisi yang mana. Nyatanya ia merasa nyaman saat bersama gadis itu. Hatinya terasa tenang. Seolah seluruh beban di pundaknya lenyap begitu saja bersama angin.
Bertemu dengan seseorang yang bisa mengerti dirinya seperti saat ini, bukankah suatu keberuntungan? Asta tak akan menjadi orang munafik yang tak pernah merasa bersyukur. Asta meneduhkan pandangannya sambil mengukir senyum. Seenggaknya lo masih bisa ketawa.
"Puas lo ngetawain gue?" Asta berpura-pura merajuk dan gadis itu membalasnya dengan anggukan dan senyuman lebar. Membuat Asta ikut tertawa pelan bersamanya.
"Seharusnya gue ketemu lo sejak dulu." Asta berkata tiba-tiba tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.
Namun tidak dengan Chia. Dilihatnya gadis itu terdiam sambil mengerutkan dahinya. Matanya menatap dalam-dalam ke dalam bola mata Asta.
Asta tertawa kecil sebelum melanjutkan perkataannya, "Gue bener kan? Seharusnya kita ketemu sejak awal. Mungkin aja kisah hidup kita bakal berubah. Atau ... kisah cinta kita juga bakal berubah? Kali aja gue malah sukanya sama lo?"
"Gak mungkin!" Gadis itu langsung mengelaknya dengan cepat. "Kita bahkan udah pernah ketemu sebelum ini. Apa lo lupa?"
Deg! Pernah ketemu? Asta termenung. Berusaha mengingat sesuatu dari perkataan gadis itu barusan. Sialnya! Meski berusaha mengingat pun, nyatanya Asta tak ingat-apa-apa. Sungguhkah ia pernah bertemu gadis itu sebelumnya? Kapan?
__ADS_1
"Kelas satu. Saat lo ngusir murid-murid berandalan dari sekolah waktu selesai upacara penerimaan siswa baru. Saat lo berkelahi sama Riga. Lo gak inget?" Gadis itu mencoba membuat Asta mengingat.
Asta terdiam sesaat. Pikirannya malah melambung ke masa tiga tahun lalu. Dan ia tersontak. Ah! Ia ingat. Apa dia bener-bener cewek yang selalu ngelihat ulah gue? Asta mengamati Chia dengan saksama. Dipikir bagaimanapun, gadis itu memang terlihat tak asing.
Asta tertawa pelan. Pantas saja ia merasa nyaman berada di dekat gadis itu. Rupanya mereka pernah bertemu jauh sebelum semuanya jadi seperti saat ini. Ya! Ia tahu Chia. Satu-satunya murid yang tak melakukan apapun saat terjadi perkelahian antara dirinya dengan Riga. Tak mengoloknya atau berpihak pada siapapun. Hanya terdiam. Menonton di kejauhan.
Begitu pun saat Asta mengusir siswa laki-laki yang berusaha mendekati Mara. Yang mendekati Mara dengan maksud lain. Yang hanya ingin menyakiti Mara. Dan Asta ingat, selalu ada gadis yang sama yang selalu melihatnya di kejauhan saat ia melakukan aksinya. Asta tak pernah menyangka jika gadis itu Chia.
Tadinya ia hanya ingin mengabaikan gadis itu. Masa bodoh jika gadis itu selalu melihatnya. Toh gadis itu tak pernah mengusiknya. Makanya Asta melupakan gadis itu. Dan justru jadi sungguh terlupakan olehnya.
Asta tertawa. "Lo emang adek gue!" aku Asta dengan mata berbinar.
Ia tahu gadis itu terperangah. Matanya menatap tajam ke arah Asta. "Hei! Sejak kapan gue jadi adek lo? Kita bahkan beda garis keturunan. Dan kalo dilihat dari tanggal lahir, gue lebih tua beberapa bulan dari lo!"
Asta menarik garis tipis di sudut bibirnya. "Lo tau? Gue itu orangnya pemaksa. Dan gue gak mau denger protesan dari lo. Buat gue, lo adek gue. Titik."
"Atas dasar apa gue harus terima lo ngaku-ngaku kakak gue?" Chia masih melancarkan protesnya, membuat Asta mendengus.
"Gue gak punya orang tua. Lo juga. Ini semacam ikatan antar anak-anak yang kehilangan orang tuanya sewaktu kecil. Bisa dianggap saling menggantungkan."
Asta melihat gadis itu menyeringai sambil mencibirnya. Namun Asta tak terlalu peduli dengan hal itu.
"Hei! Lo juga bisa tinggal di rumah gue. Kita bisa tinggal bertiga bareng Renata. Berempat kalau kakek gue diitung."
"Gak tertarik buat tinggal bareng cowok sinting kayak lo," jawab Chia cepat.
"Cowok sinting? Mara bahkan nyebut gue psikopat gila, raja iblis, raja kingkong, yah julukan-julukan semacam itu."
Gadis itu mengulum senyum. "Mara emang bener. Semua julukan itu cocok buat lo."
__ADS_1
"Sialan!" Asta tertawa. Gadis itu ikut tertawa bersamanya.
● ● ●