
"Lo ... Asta 'kan? Lo Semesta Udaraja 'kan?" tanya Chia lagi sambil menatap lamat-lamat pada netra lelaki di hadapannya itu.
Bukannya menjawab, laki-laki itu justru memandangi Chia dengan aneh. Melempar tatapan seribu makna yang tak bisa Chia pahami. Dia menaruh helmnya kembali di atas motor. Lalu mengulurkan tangan kanannya pada Chia. "Sepertinya lo salah orang. Kenalin, nama gue Baruna Andromeda. Lo bisa panggil gue Andra," ucap lelaki itu dengan datar.
Chia tak ingin meraih jabatan itu. Wajahnya mungkin terlihat seperti orang lain yang tak Chia kenal. Namun, cara laki-laki itu menatap, cara dia bicara, cara dia bersikap, semuanya sama persis. Dia adalah Asta yang asli. Semesta Udaraja yang dikenalnya. Chia yakin.
Jangan tanya, dari mana Chia seyakin itu. Chia saja tidak tahu apa yang membisikkan hatinya. Apa yg membuatnya ngotot bahwa laki-laki itu adalah Asta. Namun, feeling Chia terus mengatakan hal yang sama. Pikirannya menyimpulkan dialah Asta. Hati Chia pun mendukung cara kerja pikirannya.
Yang tidak bisa Chia pahami adalah perubahan pada diri Asta. Chia tidak tahu apa yang terjadi pada lelaki itu hingga membuat wajahnya berubah total. Mata yang lebih lebar. Hidung yang lebih mancung. Bibir yang cukup tebal. Fisiknya, jauh lebih kurus dibanding 8 tahun lalu. Gaya rambutnya disesuaikan dengan wajah yang baru. Juga, cara jalannya yang sedikit aneh menurut Chia. Terlihat agak pincang. Mungkin kakinya terluka. Entahlah.
Yang pasti, wajah baru itu jauh lebih tampan dari wajah Asta yang dulu. Siapapun, tak akan mengira jika dia adalah Asta. Karena memang, keduanya tak ada kemiripan. Jika Chia seyakin itu, anggap saja instingnya yang mengatakan demikian.
"Gue, Andra. Bukan Asta. Berapa kali gue harus bilang?" tanya lelaki bernama Andra itu sambil menatap Chia dingin. Dia sudah tak ingin berbasa-basi lagi. Dia segera menaiki motornya.
Lagi-lagi Chia menahan gerakan tubuh Andra. "Lo bilang kita itu sama. Sama-sama sebatang kara, membuat kita saling memahami. Lo gak bisa bohong sama gue, Asta."
Andra menghela napas. Dia masih tak berekspresi ketika saling bertatapan dengan Chia. Namun, senyum miring tercetak di bibirnya ketika seseorang berdiri tepat di belakang Chia.
"Ngapain sih lo berdua? Kenapa lo mencegah dia pergi. Suruh dia pulang!"
"Jun?" panggil Chia sambil mengerjap-ngerjapkan mata. "Dia ...."
Yang dipanggil rupanya tak melihat ke arah Chia dari tadi. Lelaki berjas hitam itu, sambil memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana, memandang Andra sinis.
"Buruan pulang sana!" seru Jun.
Andra melipat kedua tangannya di depan dada. Dia sedikit mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai. Senyum miring tercetak jelas di wajah. Jika seperti itu, Chia benar-benar bisa melihat sosok Asta di dalam diri orang bernama Andra ini.
"Karena Chia udah ada di sini, gue rasa lo udah gak bisa nolak, Pak Pengacara Jun," kekeh Andra.
Sebentar! Barusan lelaki bernama Andra ini menyebut nama siapa? Chia 'kan? Chia jelas tidak salah dengan. Tadi Andra menyebut namanya. Bagaimana Andra bisa tahu nama dirinya, bahkan Chia sejak awal belum memperkenalkan diri. Kecuali, kecurigaan Chia benar. Lelaki bernama Andra ini adalah Asta.
Chia melangkah maju. Dia ingin menginterogasi lelaki di hadapannya itu. Namun, lengan Jun yang diulurkan di depan Chia membuat dia tertahan. "Ada Chia atau engga, jawaban gue tetep sama. Gue gak akan menerima permintaan gila lo," ujar Jun dengan bicara non formal.
Ya, Jun hanya akan memakai panggilan 'saya' ketika dia berada di dalam kantor, berbicara dengan klien atau di ruang persidangan.
__ADS_1
Andra menyalakan mesin motornya. "Kalo gitu, lo harus siap sama resikonya. Bye, Chia." Setelah itu Andra pergi begitu saja.
Membiarkan Chia semakin kebingungan. Sementara Jun dibuat jengkel tak karuan. "Apa?" tanya Jun ketika Chia menatapnya intens tanpa berkedip.
"Gue rasa lo tau sesuatu."
∆ ∆ ∆
Mara baru saja memasuki gedung kantornya. Namun, beberapa mata justru terlihat sinis saat dirinya melewati lobby. Beberapa orang yang sedang mengantri di depan lift, berbisik-bisik setelah Chia menaiki undakan tangga.
Ada apa sih sama mereka? dengus Mara sebal dan juga heran. Terserah. Mara tak peduli. Langkahnya terhenti di depan ruangan departemen bagian design. Mara terpaku di depan pintu. Rupanya, pagi ini bukan hanya orang-orang di luar departemennya yang membicarakan dia. Di dalam sana jauh lebih mengerikan dengan adanya Sera yang sedang bergosip dengan rekan kerja Mara.
Ck! Perempuan itu. Mara sungguh sudah muak. Untung saja, dia sudah kebal dibicarakan dan dihindari orang-orang seperti itu. Jadi, begitu dia memasuki ruangan dan langsung dihujani tatapan tajam, Mara membalasnya dengan senyum santai.
Dia justru duduk dengan manis di balik sebuah komputer. Tak peduli pada Sera yang sedang mengepalkan tangan. Juga memandang Mara dengan iri. Namun, perempuan 'luar biasa' itu mendekati meja Mara.
"Udah denger gosip belum?" tanya Sera dengan senyuman manis di wajahnya. Senyuman palsu yang membuat Mara merasa mual seketika.
Dasar manusia bertopeng. Untung bukan power ranger. Mara mendengus. "Gosip apaan?" tanya Mara ikut berpura-pura ramah.
Ck! Mara mencoba sabar menghadapi perempuan bertele-tele itu. Kalau tidak, komputer di depannya sudah Mara lempar ke atas kepala Sera saking menahan dongkol di dalam hati.
"Lo tau, kemaren Pak Gusti marah besar. Dia kehilangan satu projek gara-gara satu orang, dan denger-denger sih ... orang itu bakalan di buang dari sini. Di mutasi ke anak perusahaan ini."
Salah satu alis Mara terangkat satu. Dia mencoba mencerna perkataan Sera barusan. Pak Gusti, atasannya itu marah adalah hal yang sudah biasa. Namun, sampai di membuat anak buahnya di mutasi, rasanya itu tidak pernah terjadi.
Mata Mara menyipit melihat tingkah Sera yang masih tersenyum palsu padanya. "Mungkinkah? Jangan-jangan orang yang di mutasi itu gue?" gumam Mara dalam hati.
Bertepatan itu Pak Gusti datang dengan wajah sangar. Pria bertubuh gempal itu sudah bermuka masam pagi-pagi seperti ini. Mara sukses terperangah begitu atasannya itu memberi kode padanya agar masuk ke dalam ruangan.
Oh My God! Mara tamat hari ini.
∆ ∆ ∆
Chia mencari ke sekeliling ruangan di dalam apartemennya. Biasanya masih ada beberapa file dokumen milik Jun yang sengaja laki-laki itu tinggalkan di sana. Seluruh meja, laci, lemari, celah-celah yang sebenarnya tak mungkin tetap menjadi incaran pencarian Chia. Namun, sejak kemarin hasilnya tetap nihil. Sudah dua hari Chia mencari. Selama itu pula dia belum mendapat info soal laki-laki bernama Baruna Andromeda.
__ADS_1
Jangan usulkan internet atau jaringan sosial media. Nyatanya, Chia tidak mendapatkan info apa pun soal Asta maupun Andra di sana. Sejak pertemuan hari itu dengan Andra, dan Chia mencoba mengorek informasi dari Jun tapi tak mendapatkan apa pun, Chia segera mencari berita soal Asta. Sayangnya, berita soal keluarga Asta sudah dihapuskan. Keluarga konglomerat itu seolah-olah hilang dari mesin pencarian. Satu-satunya berita yang masih ada hanya penjelasan soal kebangkrutan keluarga itu.
"Apa yang membuat keluarga Asta bangkrut?" gumam Chia pada dirinya sendiri.
"Masih penasaran sama cowok kemaren?"
Suara berat yang berasal dari dapur membuat Chia menoleh. Seorang lelaki baru saja menyembulkan kepalanya dari pintu dapur. Kini dia berjalan sambil membawa sebuah panci kecil dan menaruhnya di atas meja makan. Asap putih yang terbang mengudara menandakan bahwa panci itu baru saja diangkat dari atas kompor.
Astaga! Hampir saja dia lupa jika Jun masih berada di apartemennya. Lelaki itu tadi pamit ke dapur untuk memasak dan Chia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari info di apartemennya.
"Gak coba cari nama cowok kemaren di internet? Kali aja lo dapet info," sindir Jun sambil bolak-balik ke dapur membawa satu per satu piring yang berisi makanan.
Berapa banyak yang dia masak sih? Ck!
Chia mengernyitkan alis dan berdecak sebal. Cih! Jangankan mencari lelaki misterius bernama Andra, lelaki kaya seperti Asta saja beritanya dihapuskan. Jadi, Chia sudah tak berharap banyak pada jaringan itu. Chia sudah mencarinya ... dan gagal.
Satu-satunya harapan Chia adalah dokumen yang disimpan Jun entah di mana. Chia yakin Jun memilikinya. Sayangnya, Chia belum mengecek apartemen lelaki itu maupun ruang kerja di kantornya.Tapi, lupakanlah soal dua kemungkinan itu. Jun sangat menjaga ketat jaringan informasinya. Chia hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk menemukan jawaban. Kecuali, Jun dengan suka rela memberitahukan apa yang Chia cari.
"Gue gak yakin sanggup ngabisin seluruh makanan itu," komentar Chia begitu Jun menaruh piring kelimanya di atas meja. Piring yang berisi ayam goreng itu memang tampak menggoda. Namun, Chia bukan tipe orang yang makan dengan banyak. "Kita hanya berdua. Kenapa lo masak sebanyak itu?"
Jun tidak menjawab. Dia hanya tersenyum lalu menyalakan televisi. Chia diam saja sambil mengamati gerakan jemari Jun di atas remote. Beberapa kali lelaki itu memindahkan acara televisi sampai akhirnya muncul sebuah berita.
"Setelah dipertemukan dan dipasangkan menjadi sepasang kekasih di dalam beberapa film, kemarin aktor berbakat Sunshine dan Aktris cantik Freya menghadiri acara premier film bersama di salah satu bioskop. Namun, ada yang melihat bahwa mereka berkencan setelah acara itu selesai. Beberapa hasil jepretan amatir berhasil di publikasikan. Inilah beritanya."
Setelah pembawa berita itu selesai bicara, munculah foto-foto yang mengindikasikan wajah seorang artis dan aktor yang baru saja dibicarakan. Hasil gambar memang menunjukkan kemesraan. Namun, wajah yang terlihat tidak terlalu jelas karena kemungkinan foto diambil dengan jarak yang cukup jauh.
Tok ... tok ... tok ....
Ketukan pintu membuat Chia dan Jun saling beradu pandang. Chia tak berekspresi apapun, sementara Jun tersenyum penuh arti.
"Kita kedatangan tamu!" seru Jun seraya menghampiri pintu dan membukanya.
Tanpa perlu bertanya, Chia paham dengan maksud senyuman Jun barusan. Juga Chia mengerti mengapa Jun memasak banyak hari ini. Pagi itu, mereka kedatangan tamu tak biasa. Tamu yang selalu memancarkan aura cerah. Terang benderang layaknya matahari.
∆ ∆ ∆
__ADS_1