Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 31 : Us (2)


__ADS_3

Riga melihatnya. Sejak tadi ia menunggu kedatangan Chia yang baru saja tiba di rumah gadis itu sendiri. Riga menegakkan tubuhnya yang disandarkan ke pagar rumah. Ia ingin menatap lebih intens ke dalam bola mata gadis itu yang kian mendekatkan jaraknya.


Hatinya semakin berdesir dan tak karuan. Mengingat kebodohannya yang tak berkutik saat melihat Chia bersama Asta tadi, membuat emosinya memuncak. Namun Riga menahan perasaannya. Ia tak bisa marah pada gadis itu sekarang, dan untuk seterusnya.


Sudah cukup dengan rasa sakit yang diterima Chia atas perlakuannya selama ini. Riga tak berhak menuntut lebih. Bisa memandangnya sedekat ini saja ia sudah sangat bersyukur.


Riga berjalan dua langkah ke depan. Mendekatkan dirinya dengan Chia yang masih menatapnya datar. Meski terlihat ada keterkejutan disorot mata gadis itu.


Riga mengulurkan tangannya. Membuka kacamata yang menutupi mata gadis itu. Dielusnya perlahan kelopak mata Chia yang masih membengkak. Rasa sakit mulai menjalar di relung hati Riga.


Berapa lama Chia nangis sampai dia kayak gini? Riga merutuki dirinya di dalam hati. Ah! Ini terlalu menyakitkan untuk Riga. Tak seharusnya ia menyakiti gadisnya itu hingga seperti sekarang ini.


Riga menurunkan tangannya hingga tertahan di pipi gadis itu. Ia mengelusnya lembut. Dilihatnya Chia masih terpaku dan tak melakukan perlawanan. Riga memaksa bibirnya untuk tersenyum.


"Lo udah pulang," lirih Riga tanpa melepas senyumnya.


"Hmm," Chia menjawab pelan.


"Cepet masuk ke dalem rumah gih. Udah malem, lo harus tidur." Riga masih berkata dengan nada lembut. Meski saat ini sebenarnya perasaannya terlalu campur aduk.


Riga menurunkan tangannya. Mundur beberapa langkah untuk memberi ruang lebih agar Chia bisa bernapas. Dilihatnya gadis itu mengangguk pelan. Namun tak beranjak sedikit pun dari tempatnya.


"Hari Senin dan seterusnya, lo bareng sama gue," ujar Riga membuat Chia mengerutkan keningnya.


● ● ●


Banyak hal yang tak pernah bisa diduga. Seperti saat ini. Sudah berapa kali Chia menerima kejutan. Bahkan dari dua orang sekaligus yang tak pernah ia bayangkan. Hanya saja, kali ini Chia hampir berhenti bernapas saat kesadarannya telah kembali.


Riga. Laki-laki itu masih berdiri di hadapannya ... dan tersenyum? Sungguh hal ini membuat jantung Chia makin berdetak tak karuan.


"Keluarin ponsel lo," perintah Riga dengan nada datar.


"Buat apa?" tanya Chia gelagapan.


"Lakuin aja."

__ADS_1


Chia tak berkomentar lagi. Tangannya merogoh ke dalam saku rok. Diraihnya sebuah benda persegi panjang. Dengan ragu diulurkannya ponsel itu ke hadapan Riga. Yang langsung direnggut oleh lelaki itu.


Mata Chia memerhatikan setiap gerak-gerik Riga yang sedang mengutak-atik ponselnya. Sekilas ia melihat Riga tersenyum samar sebelum menunjukkan layar ponselnya ke arah Chia.


"Bukannya kita pacaran? Kayaknya gak adil karena cuma gue yang gak punya nomer lo."


Chia menatap miris layar ponselnya, yang sedang menunjukkan nomor kontak milik laki-laki di hadapannya. "Kalau gitu gue hapus nomer lo."


Sebelum Chia merebut kembali ponselnya, matanya terarah pada ponsel lain yang sedang berbunyi. Yang sedang digenggam Riga di tangan satunya lagi.


"Sekarang kita adil," tukas laki-laki itu sambil mengembalikan ponsel milik Chia. Sedang Chia menerimanya dengan mata yang masih terpaku pada panggilan tak terjawab di layar ponsel milik Riga. Panggilan yang berasal dari ponselnya.


Ia beralih menatap Riga yang masih tersenyum. "Jangan lupa, hari Senin dan seterusnya gue jemput lo yah," kata lelaki itu mengingatkan sebelum berjalan melewati Chia yang masih terpaku di tempat.


● ● ●


Hari Minggu. Namun Chia masih tak ingin bangkit dari kasurnya. Tangannya menggapai-gapai mencari ponsel yang diletakkannya di samping bantal.


Matanya menyipit. Memandang nanar pada sebuah pesan yang belum dibalasnya sejak malam pertemuannya dengan seorang lelaki yang diam-diam menunggunya di depan rumah. Siapa lagi?


Hanya satu orang laki-laki yang bisa membuat Chia jatuh bangun. Membolak-balikan hatinya. Utaraka Meteoriga, dan pesannya yang berisi : *G**oodnight. Nice dream*.


● ● ●


Mara masih berdiri di depan jendela kamarnya. Hatinya berdesir saat memandangi seorang laki-laki yang duduk di atas motornya, yang terparkir di depan rumahnya.


Ia masih ragu untuk menemuinya. Laki-laki yang untuk pertama kalinya tak menghujani Mara dengan missed call atau ribuan pesan singkat, hanya untuk sekedar memberitahu jika laki-laki itu sedang menunggunya saat ini.


Hatinya masih sakit. Lebih parahnya, Mara belum bisa menerima perubahan sikap lelaki itu terhadapnya. Namun, tubuhnya justru bergerak sendiri. Membuka pintu depan rumahnya. Berjalan melewati pagar, dan di sinilah ia. Di depan Asta. Memandangi lelaki itu dengan wajah muram.


Tatapan Mara tak berubah meski kini Asta tersenyum ke arahnya.


"Tumben lo nyamperin gue? Biasanya lo harus gue teror dulu baru lo mau turun," kata Asta tanpa menghapus senyumnya.


Mara tak menjawab. Lebih tepatnya enggan menjawab. Sekedar membalas senyumnya pun tidak. Ah, biarlah. Toh lelaki itu juga yang membuatnya cemberut seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Temenin gue yuk," ajak Asta dengan nada lembut setelah memasangkan helm di kepala Mara tanpa menunggu persetujuannya.


"Mau kemana?" tanya Mara jutek.


Lelaki itu tak menjawab. Asta malah menarik tubuh Mara untuk lebih mendekat dengan motor yang sedang ditumpanginya.


Mara mendengus sambil berusaha melepaskan helm di kepalanya. "Gue gak mau ikut," lirihnya ketika Asta memasangkan kembali helm itu di kepala Mara.


"Ayo naik," perintah Asta lagi dengan tatapan tajamnya. Mara terpaksa naik dengan wajah cemberut. Ia terperangah saat Asta menarik tangannya dan melingkarkan di perut lelaki itu. "Gue gak mau lo jatoh!"


"Terserah lo deh." Mara malas berdebat.


● ● ●


Malam ini Riga terlihat berbeda. Wajahnya tak bisa menyembunyikan senyuman yang sejak tadi tersungging. Matanya berbinar menikmati aliran sungai yang mengalir di bawah jembatan tempat ia berdiri sekarang.


Sesekali Riga melirik ke arah jalan. Kosong. Ah! Sepertinya seseorang yang ditunggunya datang terlambat. Riga tersenyum. Tak merasa kecewa sama sekali. Toh ia yakin orang itu pasti datang. Bukankah orang itu yang meminta bertemu dengan Riga?


"Riga!"


Ah suara itu. Senyum di wajah Riga makin mengembang. Memutar badan, ia melemparkan tatapan teduhnya pada orang yang balas tersenyum ke arahnya.


"Gue tau lo pasti datang," ujar Riga pada orang itu.


● ● ●


Mara mengangkat salah satu alisnya. Ini beneran gak salah? Matanya masih mengamati bangunan yang sedang dimasukinya. Bahkan ia tak sadar jika Asta telah membawa motornya ke area basement.


"Lo gak mau turun?"


Pertanyaan Asta membuat Mara tersadar. Matanya mengerjap melihat Asta yang menatapnya tajam. "Turun!" perintah lelaki itu.


"Gue mau parkir," tambahnya yang langsung dimengerti oleh Mara.


Sambil mendengus Mara turun dari motor Asta. Kendaraan yang bahkan baru pertama kali ditunjukkan lelaki itu kepadanya. Setelah melepas helm dan menggantungnya di motor, tangan Mara langsung digandeng lelaki itu keluar dari area parkir.

__ADS_1


"Lo serius mau masuk ke dalem mall?" Mara ikut menghentikan langkahnya saat ia tahu jika Asta tiba-tiba berhenti berjalan. Tatapan herannya masih terarah pada lelaki yang menatapnya penuh arti.


● ● ●


__ADS_2