
"Aaaah capenyaaaa!" gumam Chia sambil merebahkan dirinya di atas kursi panjang.
Berjam-jam ia membersihkan ruangan itu. Belum ada separuh, ia sudah sangat kelelahan. Butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Ia menghela napas. Ia berharap, semua penghuninya datang terlambat ke ruangan itu. Ia hanya ingin meninggalkan ruangan kosong ketika mereka kembali. Ia hanya tidak ingin bertemu seseorang.
"Gue harus beresin ini semua secepatnya!" Chia bangkit.
Rasa lelahnya ia tekan sedemikian rupa. Ia tak peduli dengan tubuhnya yang mulai berpeluh. Ia mulai membersihkan ruangan itu lagi.
● ● ●
"Masalah gue? Gue cuma pengen lihat lo jatoh di depan mata gue!" Asta menatap seseorang yang dibencinya itu lekat-lekat. Ia menyeringai. Senyuman piciknya tersungging dengan jelas di matanya.
"Jangan ganggu Riga!"
Asta mengalihkan pandangannya. Ia tersenyum simpul ketika laki-laki bernama Fachri berdiri untuk menghalanginya.
"Ini bukan urusan lo! Jangan ikut campur!"
Asta melirik Dimas yang mendorong tubuh Fachri agar menjauh darinya.
"Apa mau lo semua?" Fajar terlihat geram.
Asta tersenyum tipis sambil melirik Damar yang sedang berjalan santai ke pinggir lapangan. Sahabatnya itu merebut sebuah bola basket yang dijaga Rezky, salah satu anggota klub basket. Ia lalu memutar-mutar bola itu dengan satu jarinya. Ia lalu menyunggingkan senyum.
"Ayo kita tanding! Utaraka Meteoriga!" tantang Damar.
● ● ●
"Kenapa gue harus piket kelas di jam pulang kayak gini sih?" Mara memandang kelasnya yang sepi itu.
"Dan kenapa gue harus sendiriaaaan?"
Mara menepuk dahinya. "Ah! Gue inget! Gue kan gak punya temen!" Mara mencelos. Ia menghela napas.
Mau tidak mau ia harus membersihkan ruangan kelasnya. Ia mengembuskan napas pasrah lalu mulai menyapu. Baru lima menit, Mara berhenti menyapu lantai. Ia termenung ketika berdiri di samping bangku Fachri.
Ia memandangi bangku itu. Ia meraba setiap bagian meja Fachri. Tangannya terhenti pada sebuah titik berwarna coklat. Titik yang tidak terlalu besar. Namun ia tahu titik apa itu. Itu bekas noda darah. Darah milik Fachri yang telah mengering. Mara meneteskan air matanya. Lagi.
__ADS_1
Ia duduk di kursi yang selalu diduduki Fachri. Masih ada bau khas Fachri tertinggal di sana. Mara menunduk. Ia menangis. Bayangan Fachri masih terekam jelas di pikirannya. Fachri yang penuh dengan darah. Fachri yang penuh luka memar. Fachri yang mulai berjalan meninggalkannya. Bahkan sampai sekarang pun laki-laki itu masih tidak bicara padanya. Mara sadar ia sudah kehilangan Fachri. Selamanya. Sahabatnya itu pergi dan tak akan kembali meraih tangannya yang kesepian.
"Gue kangen sama lo, Ri!" Mara menangis sekeras-kerasnya. "Gue kangen sama lo!"
Mara frustrasi. Sangat frustrasi. Ia merebahkan kepalanya di atas meja Fachri. Ia masih menangis dengan mengelus bekas noda darah Fachri yang telah mengering.
"Gue kangen lo! Kalo waktu bisa gue putar, gue gak akan biarin lo terluka dan pergi. Gue pengen lo balik, Fachri!"
● ● ●
Denting jam yang berbunyi di dinding mengingatkannya. Pukul lima sore. Namun belum ada seorangpun yang kembali. Sementara Chia masih berusaha membersihkan ruangan itu. Masih ada satu pekerjaan lagi yang tersisa untuknya. Ia belum membersihkan lantai yang sangat kotor itu. Ia menghela napas sebelum berjalan meninggalkan ruangan. Ia berjalan ke belakang ruang klub basket itu untuk mengambil air.
● ● ●
Mara mengelap air matanya. Ia tersadar. Ia harus membersihkan ruangan kelasnya. Ini bukan waktunya untuk bersedih dan meratapi kepergian Fachri dari hidupnya. Ia harus segera mulai membersihkan ruangan itu. jika tidak, ia akan pulang terlambat. Sangat terlambat.
Satu jam. Waktu yang cukup lama untuk Mara membersihkan kelasnya sendirian. Ia melihat jam di dinding. Pukul lima sore. Ia benar-benar terlambat pulang ke rumah. Buru-buru di raihnya tas ransel kesayangannya.
Dengan langkah panjang ia menuruni tangga. Sesampainya di koridor, ia melihat mobil Asta masih terparkir di parkiran sekolahnya. Namun sang empunya tidak ada di sekitar mobil itu.
"Jangan-jangan Asta belom pulang? Apa dia nungguin gue? Kalo emang dia nungguin gue, kok dia gak ada di sini kayak biasanya? Kemana tuh orang paling rese sedunia?" Mara termenung.
"Belakang sekolah! Gue harus cari dia di sana!"
Mara berlari secepat yang ia bisa. Ia tidak ingin melihat korban kejahatan Asta lagi. Firasatnya buruk. Mendadak ia teringat Riga. Perasaannya semakin buruk. Meskipun ia sendiri tidak terlalu yakin, jika Asta berkelahi dengan Riga untuk memperebutkannya, karena memang tak ada kedekatan antara Mara dan Riga. Namun Ia harus segera menemukan Asta dan mencegah ia berbuat sesukanya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Riga nanti. Bagaimana pun juga Asta adalah orang yang nekat.
Tak peduli aturan apa pun, jika ia sudah dimakan kecemburuannya, semuanya akan terasa masuk akal bagi Asta. Tak peduli apakah itu akan menyakitkan atau tidak. Jika Asta sudah seperti itu, ia akan benar-benar terlihat seperti raja iblis. Asta memang sesadis itu.
Mara mengerutkan dahinya. Tiba-tiba ia mendengar suara elukan yang cukup keras.
"Riga! Riga! Riga!"
Suara itu ... dari arah lapangan basket! Ucap Mara dalam hati.
Gadis itu berhenti tidak jauh dari lapangan basket. Ia bisa mendengar dengan jelas suara siswa laki-laki yang menyerukan nama Riga. Mara semakin mengerutkan dahinya.
"Bukannya itu wajar? Riga kan kapten basket. Dia pasti lagi tanding sama sekolah lain." Mara berkata pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Ia sedikit lega karena Riga sedang bertanding di lapangan basket. Tidak sedang dibuli di belakang sekolah seperti yang dibayangkannya. Meski memang rasanya mustahil jika Riga menjadi korban bulian Asta.
Mara mengembuskan napas lega. Ia lalu memutuskan untuk berbalik. Ia kembali pada tujuannya semula. Ia ingin mencari laki-laki yang selalu membuat keributan di sekolahnya.
Gue bersyukur, Riga ga bareng sama ....
"Asta! Asta! Asta! Asta!"
Mulut Mara menganga. Ia mengerutkan dahinya. Matanya terbelalak. Ia berbalik badan. Kembali menatap lapangan basket dari kejauhan.
"Gue gak salah denger kan? Tadi itu?"
"Asta! Asta!"
Mara mulai cemas. Jantungnya berdegup sangat cepat. "Jangan ... jangan ...." Mara berlari secepatnya menuju lapangan basket.
Tak butuh waktu lama untuknya sampai di sana. Ia menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan satu tangan. Seperti apa yang ia bayangkan. Apa yang ditakutinya sekarang terjadi. Mendadak kaki Mara kehilangan tenaganya. Ia terduduk di pinggir lapangan dengan lemas.
● ● ●
Chia kembali sambil membawa satu ember penuh air. Disimpannya ember yang terisi penuh itu di lantai ketika ia masuk ke dalam ruangan.
Namun ia tak segera mengepel lantai seperti harapannya. Ia meregangkan otot-ototnya yang tegang. Ia benar-benar kelelahan. Badannya sudah tak sanggup lagi. Tapi ia harus segera menyelesaikannya. Jika tidak, ia akan bertemu seseorang. Seseorang yang paling tidak ingin ia temui saat ini.
Buru-buru diambilnya kain pel. Namun ia masih terdiam. Bukan karena ia ingin menghilangkan lelahnya seperti tadi. Tetapi ada sesuatu yang didengarnya. Suara-suara gemuruh orang-orang dari lapangan basket.
Chia mengernyitkan alisnya. Ia tak segera membersihkan lantai seperti keinginannya. Ia justru berjalan menuju jendela yang menghadap tepat ke arah lapangan di belakang sekolah. Lapangan yang tidak jauh dari ruangan itu sendiri.
Ia membuka jendela. Sorak sorai yang samar-samar didengarnya, kini jelas terdengar. Ia mengamati dengan saksama. Rame banget? herannya.
Mendadak Chia terpaku. Ia menatap dingin ke arah lapangan. Pandangannya tertuju tepat pada kedua orang yang sedang berebut bola di tengah lapang.
"Riga dan Asta?" kejutnya.
Ia lalu memalingkan wajahnya dari jendela. Ia menggenggam erat-erat alat pembersih lantai di tangannya. Ia mulai merasa gelisah. Kejadian itu, kejadian yang membuat ingatannya kembali berlayar ke masa lalu.
Kejadian yang selalu ia lihat sewaktu ia masih beberapa bulan duduk di bangku SMA. Seperti sedang mengembalikan lembaran-lembaran usang yang sempat hilang. Kejadian itu ....
__ADS_1
"Terjadi lagi," gumamnya pelan dengan nada bergetar.
● ● ●