
"Tebak-tebakan?" Mara menyipitkan matanya. Fokus memerhatikan Asta yang kini telah duduk bersila tepat di hadapannya.
"Iya," jawab Asta singkat sambil tersenyum.
Mara terkesiap saat ia merasakan Asta mengelus lembut helaian rambutnya hingga ke ujung. Ia tak berkata. Matanya fokus pada Asta yang telah menaruh tangannya di atas pangkuan dan menjadikannya topangan untuk kepalanya.
"Lo cuma tinggal pilih jawaban yang bener di antara dua hal yang gue sebutin." Asta berkata lagi dengan ekspresi datar.
Kok perasaan gue gak enak. Ya tentu saja. Ini pertama kalinya laki-laki itu mengajak Mara bermain. Meski hanya sekedar bermain tebak-tebakan. Yang jelas ini bukan gaya Asta. Jauh sekali.
Menghilangkan firasat buruknya. Mara memandang Asta dalam diam. Menunggu lanjutan perkataan laki-laki itu. Yang terlihat sudah tak sabar ingin segera memulai permainan.
"Pilih warna pink atau gue?" tanya Asta.
Mara terdiam. Agaknya ia terkejut sesaat. "Pertanyaan macam apa itu?" sergah Mara memutar kedua bola matanya sambil tersenyum tipis. Mengejek Asta.
Namun, ia langsung terdiam kembali saat melihat Asta tak terpengaruh dengan sikapnya. Laki-laki itu tetap menatapnya datar.
"Jawab aja. Gue hitung! Lima ... Empat ... Tiga ...."
"Apaan sih?" protes Mara sambil menautkan kedua alisnya menjadi satu garis. Ia tak tahu jika Asta menginginkan jawabannya secepat mungkin.
Alih-alih mendapatkan kesempatan mengulur waktu. Mara malah menerima seringaian khas dari laki-laki itu. "Dihitungan kesatu lo gak jawab, lo harus nyium gue!"
Mata Mara membulat. Tak percaya dengan yang didengarnya barusan. "Gila lo yah?"
"Dua ...."
Ih apaan sih nih cowok satu! Sinting! Mara mulai berdebar. Bukan apa-apa. Ia hanya masih belum mengerti dengan situasi saat ini, dan Asta tidak memberinya kesempatan untuk mencerna maksud dari sikap lelaki itu yang tiba-tiba menanyakan pertanyaan konyol. Sungguh pertanyaan bodoh!
"Sa ...."
"Warna pink lah!" jawab Mara dengan panik. Ia mendengus saat melihat Asta tak segera berkata. "Tukang batagor di kantin juga tau jawabannya! Dasar bego!"
"Salah!"
"Hah?" Mara membuka mulutnya. Kesal! Baru saja ia berusaha meredam panik, sekarang laki-laki itu malah mengatakan jawabannya salah.
__ADS_1
"Kenapa salah? Gue kan suka warna pink!"
"Harusnya jawaban lo itu pilih gue." Asta berkata dengan santai sambil mengendikan bahu.
"Atas dasar apa pilih jawaban lo adalah jawaban yang bener?"
"Inget? Gue yang bikin permainan ini."
Cih! Mara mencibir Asta sambil berusaha memukul lelaki di hadapannya itu. Hanya saja gerakan Asta lebih cekatan hingga pukulan Mara berhasil ditepis. Mara hanya bisa pasrah menatap tangannya yang telah berada di genggaman Asta.
"Jawab lagi! Pilih es krim atau gue?"
Mara mendelik sebal. "Es krim!" jawabnya cepat sebelum Asta menghitung mundur. Ia tersenyum melihat Asta yang terlihat tertegun.
Pasti jawaban gue bener sekarang.
"Salah!" Asta mencubit pipi Mara. Mara menampiknya sambil membuka mulutnya lebar-lebar.
"Lo harusnya pilih gue!" Asta langsung menjawab saat Mara hampir melakukan protes.
"Pilih latihan basket atau pilih gue?"
Masih berlanjut? Mara mendengus sambil memutar kedua bola matanya. "Latihan basket lah!"
"Lo bego yah? Kan gue udah bilang ...."
"Terserah gue! Suka-suka gue mau jawab apa!" potong Mara yang membuat Asta menghembuskan napas panjang.
"Pilih Fachri atau gue?"
Mara tersenyum tipis. Asta sepertinya tak belajar dari pengalaman. "Jawabannya jelas Fachri lah! Dia jauh lebih baik dari lo! Bahkan kalo di dunia ini cowok tinggal lo berdua, gue pasti milih Fachri!"
"Salah! Harusnya jawaban lo itu gue!"
"Maksa banget sih lo!"
"Terakhir."
__ADS_1
"Udahan nih? Lo nyerah gitu aja? Bagus deh. Gue males ngikutin permainan aneh lo!" Mara tersenyum senang. Namun tidak dengan Asta yang terlihat lebih serius dari sebelumnya.
"Pilih mana, Riga atau Asta?"
Deg! Senyuman Mara langsung menghilang seketika dari wajahnya. Hatinya berdesir. Keningnya berkerut. Matanya lurus memandang bola mata Asta yang masih serius menatapnya.
Ada apa dengan tatapan lelaki itu? Hati Mara mulai resah. Takut. Ah pertanyaan dan sikap Asta sangat mengganggunya. Tubuh Mara bahkan membeku. Tak bergerak meski kini Asta menyelipkan jari-jemarinya di antara helaian rambut Mara.
"Lima ... Empat ...."
Sial! Asta mulai menghitung mundur. Namun Mara tak dapat menggerakkan lidahnya hanya untuk sekedar menjawab. Atau mungkin ada hal lain yang mengusiknya. Membuatnya enggan menjawab pertanyaan mudah seperti ini.
"Kalo gak jawab juga, gue yang bakal nyium lo."
Mara tetap bergeming. Sungguh! Semuanya terasa kaku untuk digerakkan. Satu-satunya yang bergerak bahkan lebih cepat dari pergerakan detik jam di ponselnya hanyalah jantungnya. Mara bahkan hampir berhenti bernapas saat Asta makin mendekatkan wajahnya sambil tetap menghitung.
"Satu!"
Berakhir. Hitungan Asta berakhir, dan Mara tak memberikan jawaban apapun untuk lelaki itu. Yang kini terus mendekatkan jaraknya dengan wajah Mara.
Mara memejamkan mata. Menahan napas. Pasrah. Tubuhnya terlalu lemas untuk melawan. Pertanyaan Asta sukses membuatnya tak berkutik. Firasat buruknya sejak awal memang benar terjadi.
Mara menghela napas berat. Satu menit, dua menit, tak ada yang terjadi. Mara memaksa untuk membuka matanya. Ia terperangah saat menatap hamparan luas lautan yang mulai tenggelam di untaian warna jingga kebiruan di kejauhan.
Kepalanya berputar ke kanan dan kiri. Mencari sosok Asta yang telah menghilang dari penglihatannya. Mara tertegun saat mendapati Asta tengah berjalan menuju mobilnya. Kenapa?
Mara berdiri. Matanya masih memandang nanar ke arah punggung Asta yang makin menjauh. "Asta? Lo mau kemana?" Mara setengah berteriak.
Perasaannya tak karuan. Berharap Asta tersenyum saat menoleh. Namun hatinya malah merasakan perasaan bersalah saat melihat Asta berbalik dan menunjukkan ekspresi wajahnya.
Mara sudah terbiasa ditatap tajam atau melihat tatapan dingin dari lelaki itu. Namun tidak dengan hari ini. Ada rasa getir yang menyelusup hatinya saat bola matanya beradu dengan tatapan datar Asta. Merasa bersalah. Pasti karena Mara tak menjawab pertanyaan Asta barusan. Hingga ia merasa ada kemarahan besar dibalik tatapan datar Asta.
"Ayo pulang. Udah malem," kata Asta cuek sambil berbalik badan.
Mara tertegun. Kakinya tak lantas mengekor laki-laki yang makin menjauh darinya. Mara malah menggigit bibir bagian bawahnya sambil menunduk. Menahan tangis. Entah mengapa hatinya mulai dipenuhi rasa sesak yang menyakitkan.
● ● ●
__ADS_1