
"Taman bermain?" ulang Chia tak percaya dengan pemandangan di hadapannya.
Chia menyapukan pandangan ke sebuah area luas dengan berbagai macam wahana permainan yang menanti untuk dinaikinya. Namun, bagi Chia yang belum pernah sekali pun berkunjung ke tempat ramai itu, kepalanya mendadak berputar-putar. Antara cemas, takut, bingung, dan tidak karuan. Dia sungguh tak tahu harus berekspresi seperti apa. Entah senang atau tidak ketika Riga membawanya ke tempat itu.
Riga mengangguk. "Terakhir gue ke sini waktu masih sekolah dasar. Gue udah lupa rasanya naik wahana-wahana itu. Gue pengen mengenang euforia sewaktu kecil ... dan itu sama lo."
Kemudian, tanpa menunggu jawaban Chia, Riga menggenggam tangan perempuan itu lalu menariknya pelan. Membuat Chia mengikuti langkah Riga kemanapun lelaki itu berjalan. Dari komidi putar, arung jeram, roller coaster, istana boneka, rumah kaca, hingga bianglala. Tak ada satu pun wahana yang dilewatkan oleh Riga.
Sementara Riga asyik bermain dengan wahana-wahana itu, Chia hanya menjadi penonton ketika berhadapan dengan wahana ekstrem dan yang memerlukan ketinggian. Chia masih takut untuk melawan rasa trauma pada ketinggian atau mencoba memacu adrenalin dirinya sendiri. Dia lebih suka menikmati wajah Riga yang terlihat sangat antusias dan beberapa kali tersenyum padanya.
Huek!
Ini adalah kali ketiga Riga muntah. Sementara Chia hanya terkikik geli melihat reaksi Riga yang seperti itu. Masalahnya, Riga muntah bukan karena habis diputar-putar di atas ketinggian, atau merasa mual karena terjun dari atas hingga ke bawah dalam hitungan sekian detik. Riga mual karena baru saja mencoba wahana rumah hantu. Iya, rumah hantu.
Begitu melihat sosok boneka atau pun hantu palsu di dalam ruangan yang gelap dan sempit itu, ekspresi Riga berubah total. Wajahnya pucat pasi setelah keluar. Lalu berakhir muntah-muntah yang justru membuat Chia tersenyum-senyum sendiri.
"Gue baru lihat ada orang muntah karena lihat hantu," komentar Chia disela tawanya sambil memberikan sebotol air mineral pada lelaki yang masih berwajah pucat itu.
Riga hanya mendengus lalu mulai meminum air pemberian Chia. "Mereka yang gak nyata, jauh lebih nakutin dari pada wahana ekstrim sekalipun."
"Tapi mereka cuma palsu, Riga."
"Asli atau palsu, mereka udah masuk daftar hitam gue, dan gue menolak garis keras apapun bentuk mereka," jawab Riga datar dan semakin membuat tawa Chia pecah. Ya, hari itu Chia sungguh bahagia. Sejak tadi bibirnya terus tertarik ke samping hingga terasa pegal sendiri.
Riga menjulurkan jari telunjuknya. Lalu menempelkan pada pipi Chia. Riga menarik garis di kedua sudut bibirnya. "Gue suka senyum dan tawa lo. Dua-duanya adalah obat penyembuh gue. Thanks."
Setelah Riga berkata begitu. Perlahan senyum Chia memudar. Terganti rasa canggung yang menyeruak ke permukaan. "Ayo!" ajak Riga.
"Ke mana?" tanya Chia dengan mengernyitkan alisnya. Tak menyangka, jika saat ini Riga berjalan dengan begitu semangat. Seperti lupa bahwa lelaki itu tadi terlihat lemas karena muntah beberapa kali.
"Ayo. Kalo lo diem di situ terus, nanti gue tinggal," ujar Riga tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Chia menyeret langkah untuk mengejar Riga yang jaraknya sudah cukup jauh di depan. Sementara Riga sengaja berjalan lambat-lambat agar Chia bisa menyusulnya. Begitu langkah keduanya sejajar, Riga menautkan kembali tangannya dengan milik Chia begitu saja, hingga membuat perempuan itu menghentikan langkah dan menoleh ke arah dua tangan yang saling tergenggam.
"Orang lain bisa salah paham. Mereka bakal ngira kita itu pasangan," protes Chia dengan pandangan tertunduk. Perlahan Chia memutus kaitan itu. Meski sejujurnya hati Chia terasa berat. Chia harus sadar, dia tidak boleh melewati batas.
Seolah tak peduli, Riga justru meraih tangan Chia lagi dan menautkannya kembali. "Justru itu yang gue mau."
"Tapi kita bukan lagi pasangan," sanggah Chia. Bola matanya memandang lurus ke arah Riga. "Hubungan kita ... udah berakhir lama."
Riga tersenyum simpul. "Itu menurut lo. Lo yang tiba-tiba memutuskan secara sepihak tanpa menunggu persetujuan gue. Jadi, karena gue belum setuju, berarti lo masih milik gue."
"Tapi ...." Chia tak sempat menyelesaikan perkataannya, karena tiba-tiba saja Riga membungkam mulut Chia dengan mulut lelaki itu.
__ADS_1
Perasaan berdesir menyelusup di dadanya. Chia merasa waktu seolah berhenti berputar. Tidak, waktu justru berputar terbalik. Kembali menjelajahi ruang dan kembali ke masa lalu. Tepat saat pertama kali Riga mencium Chia seperti saat ini. Perasaan yang tercipta di benak Chia, persis sama seperti saat itu. Rasa hangat ketika kedua bibir mereka saling bersentuhan. Entah kenapa Chia merasakan rindu yang sangat dalam.
Tiba-tiba Chia tersentak. Dia lupa jika saat ini mereka berada di tempat ramai. Dia segera mendorong tubuh Riga untuk menjauh. Buru-buru Chia menyapu pandangan ke sekeliling. Ada perasaan lega begitu tahu tempat itu ternyata sepi. Tak ada orang yang melintas atau berada di sekitarnya saat ini. Syukurlah. Kalau tidak, Chia akan merasa malu yang teramat sangat.
Chia menghela napas pelan. Tak berani menatap bola mata coklat milik Riga yang pasti saat ini sedang menghujaninya dengan pandangan seribu arti. Kepala Chia makin merosot ke bawah, tanpa sadar bahwa senyum cerah terbit di wajah Riga saat melihat pipi perempuan itu bersemu merah. Hampir menyamai warna buah ceri.
"Lo bilang, lo bakal kasih tahu gue soal Asta," ucap Chia pelan masih takut untuk mengangkat wajah. Malu.
"Gue gak lupa kok." Riga menggenggam jari jemari yang entah kenapa kali ini terasa lebih penurut dari sebelumnya. "Gue ceritain sambil kita makan. Ada tempat makan yang pengen gue datangin bareng lo."
∆ ∆ ∆
Tidak percaya!
Itulah yang dipikirkan Chia sepanjang malam. Chia bahkan tak bisa tidur. Chia tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan Riga kemarin. Apakah kenyataan atau bukan. Chia juga tidak percaya dengan cerita Riga bahwa Asta telah meninggal. Tidak! Firasatnya tidak mengatakan demikian.
Maka, dengan kantung hitam di bawah matanya akibat begadang, pagi ini Chia memutuskan untuk pergi ke apartemen milik Jun yang berada satu lantai di bawah apartemen Chia. Setelah mandi dan merapikan diri. Memoleskan sedikit pelembab agar kantung matanya hilang. Tanpa sarapan dahulu, Chia bergegas menuruni tangga.
Tangannya menekan bel beberapa kali, tapi tak kunjung ada sahutan dari dalam. Hingga Chia beralih dan ingin mengetuk saja, tapi tiba-tiba pintu pun terbuka dan Chia menjerit setelahnya.
"Kak Suuuuun!" teriak Chia sambil terpejam dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Yang diteriaki justru melongo seperti orang bodoh. Sambil mengucek matanya yang masih enggan terbuka, Sun mencoba bersuara, "Kamu kenapa pagi-pagi udah teri ...."
"... Baju Kak Sun mana?" potong Chia tanpa membuka mata.
Di belakang Sun, rupanya Jun baru saja keluar dari dapur. Dia menatap jengah ke arah dua orang yang sedang berdiri di ambang pintu. "Pake baju lo!" seru Jun setelah menepuk kepala Sun pelan. Lalu membuat bintang film itu segera berlari ke kamar sambil nyengir.
Andai para fans fanatik Sunshine tahu, Juna Mandala pasti tak akan pernah bisa hidup aman dan damai lagi setelah hari ini. Karena pengacara itu telah melakukan penyiksaan terhadap bintang kesayangannya. Sayang, apartemen Jun dijaga dengan ketat. Mata-matanya sangat banyak. Jun sungguh terlihat seperti orang yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup bangsa dan negara. Padahal dia hanya seorang pengacara. Ah, sudahlah.
Fokus Chia kembali pada semula. Setelah membuka mata. Dia tak melihat lelaki bertubuh tinggi yang hobi memasak itu ada di depannya. Tanpa menunggu persetujuan sang pemilik, Chia melenggang santai masuk ke dalam.
Dilihatnya Jun sedang berkutat di depan kompor. Sedangkan Sun baru saja keluar dari kamar Jun setelah berganti baju. Melihat kaos berwarna biru navy yang sedang dipakai Sun, rasanya Chia ingin berkomentar. Namun, niatnya diurungkan karena Sun telah berdiri di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Sun dengan senyuman yang secerah mata hari pagi. Hanya perempuan bodoh yang tak terpesona oleh pesona seorang Sun, dan Chia termasuk di dalam daftar itu. Entahlah. Chia tak tahu harus melabuhkan hatinya ke mana lagi.
"I-itu. Ada yang mau gue tanyain sama Jun. Ah ... enggak. Tepatnya, ada yang mau gue omongin sama dia," jawab Chia sambil memandang lurus ke arah Jun yang kini balas menatapnya.
Keadaan dua orang tersebut yang sama-sama hening, dan kondisi yang berubah aura, membuat posisi Sun menjadi serba salah. Sepertinya, situasi pagi itu sedang tidak membutuhkan kehadirannya. "Apa kalian mau bicara berdua? Apa gue harus keluar dulu?" tanya Sun.
"Lo di sini aja. Gak usah ke mana-mana," ujar Jun pada Sun. Kemudian dia beralih menatap Chia lagi. "Lo mau ngomong apa?"
Melihat Jun berekspresi seperti saat ini, sejujurnya Chia agak menciut. Namun, Chia tak akan menyerah. Dia sudah tahu soal Asta, apa yang terjadi pada teman masa SMA nya dulu itu, dan nasib yang sekarang dialami oleh keluarga besarnya. Jika feeling Chia benar mengenai Andra adalah Asta, maka harusnya Jun mau menerima permintaan tolong lelaki itu.
__ADS_1
"Apa Andra adalah Asta?" tanya Chia dengan mata berkilat. Dia sudah tak bisa mundur lagi. Kali ini Chia harus meyakinkan firasatnya.
Seketika, Jun menaruh sendok di tangannya dengan asal di atas meja. Lelaki itu menatap Chia lurus-lurus. Terlihat sekali menahan emosi. "Gue udah bilang, ini bukan urusan lo, Chia. Mau sampai kapan lo tanya hal ini sama gue? Tolong, stop bertanya hal ini. Oke?" jawab Jun berusaha tenang.
Lelaki itu mematikan kompor. Lalu melangkah sambil membuang napas kasar dan melewati Chia begitu saja.
"Ini akan menjadi urusan gue juga, Jun." Chia memandang punggung Jun dengan dingin. "Asta adalah temen gue. Jika Andra adalah Asta, maka Andra juga adalah temen gue. Apa yang membuat lo berat untuk gak mau nolong dia?"
Langkah Jun terhenti. Lelaki itu menatap kosong pada dinding bercat abu di hadapannya. Tangannya terkepal lemah. Jun memejamkan matanya. Teringat lagi bagaimana kejadian tiga tahun lalu. Juga bagaimana seorang lelaki bernama Andra tiba-tiba menerornya setiap hari belakangan ini.
Sun mencoba melangkah maju mendekati Chia. Dia mencoba mencairkan suasana tegang saat itu. Ditepuknya pundak Chia lembut. "Gue emang gak paham apa yang sebenernya sedang kalian bahas. Tapi, Chia. Sebagai orang luar, gue cuma mau bilang, lo tahu sendiri 'kan Jun orang yang seperti apa. Coba lo pahami posisi Jun dulu. Mungkin dia punya pemikiran sendiri soal keputusannya."
Masih berusaha tenang, Chia hanya menggigit bibir bawahnya. "Karena gue mengenal baik Jun, makanya gue mau tau alasan Jun yang sebenernya."
Alasan sebenernya? Cih! Jun berdecih. Kenapa juga dia harus menjelaskan alasan yang sudah sangat kentara terlihat di dahinya. Tanpa perlu dia beri tahu pada Chia, harusnya perempuan itu tahu apa alasan Jun yang sebenarnya. Jun tersenyum tipis. Dia berbalik dan menatap Chia tajam.
"Apa lo udah ketemu dia? Apa lo udah ngobrol berdua dengan cowok yang namanya Andra itu?"
Deg! Mata Chia berkedip cepat. Tak bisa dipungkiri, pertanyaan Jun tepat mengenai sasaran. Ya, pada hari yang sama ketika dirinya bertemu dengan Riga, malam harinya Chia bertemu dengan lelaki bernama Andra itu.
"Pencuri! Pencuri!"
Bersamaan dengan teriakan yang muncul entah dari siapa itu, seorang pria yang tengah berlari kencang, tak sengaja menubruk bahu Chia dengan keras. Chia yang baru saja keluar dari minimarket dan sedang fokus memeriksa barang belanjaannya, kehilangan keseimbangan hingga terjatuh. Beruntung Chia tidak membentur apapun.
Chia menoleh ke belakang ketika mendengar suara berdebam tidak jauh darinya. Ternyata pria yang menabraknya tadi, baru saja mendapat pukulan dari lelaki berjaket hoodie hitam, yang entah dari mana datangnya. Tiba-tiba saja, dalam hitungan detik perkelahian tak bisa dielakkan ketika si pria pencuri membalas pukulan lelaki berhoodie hitam. Keduanya saling beradu tinju dan melempar pukulan.
Lelaki berhoodie oleng ketika pria pencuri menendang kaki kirinya dengan keras. Yang membuat mulut Chia menganga adalah kaki itu terlepas begitu saja dan terhempas hingga membentur pintu kaca minimarket di sekitar. Untung tidak sampai membuat pintu kaca menjadi pecah.
Chia bangun. Buru-buru dirinya berlari untuk mengambil kaki palsu yang tergeletak itu. Dan entah apa yang membisikkannya, Chia mendadak memiliki keberanian lebih untuk masuk ke arena perkelahian lalu memukul pria pencuri dari belakang dengan kaki palsu.
Seketika pria pencuri itu ambruk di dekat kaki lawannya. Sementara Chia tersengal-sengal sambil bernapas lega karena perkelahian dapat berakhir juga. Sesungguhnya dia sudah jengah melihat perkelahian yang tiada akhir itu.
Kemudian fokus Chia teralih. Dilihatnya lelaki berhoodie hitam itu menggeser tubuh dan mencoba untuk bangun. Chia segera berinisiatif untuk menolongnya dengan mengulurkan tangan. Namun, begitu kedua tatapan mereka saling beradu, dua-duanya tampak syok dengan pikiran masing-masing.
"Asta?"
"Chia?"
∆ ∆ ∆
aku mau curcol apa yah? hmm.. curhat kalo sebenernya aku tuh lagi cukit gengs 🤧🤧🤣🤣
jadi selain gegara hape error, alasan lainnya adalah itu... makanga kemaren cuma sempet update 1 bab dan itu dikit. 🤧🤧
__ADS_1
hape sakit, yang nulis sakit, lengkap sudah 🤣🤣
#oke stop curcol, stop beralasan. untuk permohonan maaf, aku kasih bab bonus. tapi upnya agak maleman yah ❤️❤️❤️❤️