Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Lima Puluh


__ADS_3

Mara menyembulkan kepalanya dari balik tembok. Bola matanya di arahkan ke kanan dan ke kiri. Bangunan berbentuk rumah di depannya itu terlihat agak menyeramkan. Karena lampu-lampu yang biasanya dinyalakan, kini mati dan meninggalkan kesan gelap pekat. Sementara halamannya, dibiarkan terkena cahaya kerlap-kerlip dari papan nama, sehingga bagian itu menjadi lumayan terang. Setidaknya tidak terlalu terlihat horor seperti bayangan Mara.


Mara agak ragu-ragu. Sebelum masuk, dia mengedarkan pandangan di sekitar trotoar. Barangkali barang yang dicarinya terjatuh di sekitar situ. Sehingga Mara tidak perlu melewati pintu pagar untuk memasuki halaman. Namun, beberapa kali mencari gelangnya tetap tidak ditemukan. Mara mendengus.


Setelah memastikan tidak ada siapa pun di dalam restoran, dengan sangat berat hati Mara mengendap-endap memasuki halaman. Badannya menunduk. Kepalanya melihat ke bawah. Mencari-cari benda yang dimaksud dalam remang-remang cahaya.


"Ah elah, kalau gelap gini mana kelihatan," sebal Mara sambil mengeluarkan ponselnya. Dia menyalakan senter dari ponsel itu. Mencoba sekali lagi.


Mara ingat, saat keluar dari restoran tadi, dia sempat bertabrakan dengan pengunjung yang baru datang. Sekelompok anak muda yang menyebalkan karena datang dengan ricuh. Bercanda dan tertawa-tawa tanpa melihat sekeliling. Mara sempat terjatuh. Menyebalkannya, Mara diabaikan. Tidak ditolong sama sekali. Sekelompok anak muda itu berlalu begitu saja dan masuk ke dalam restoran.


"Pasti saat itu sih! Gue yakin. Waktu gue jatuh, gelang gue lepas. Pasti ada di sekitar sini," gumam Mara mencoba memindai tempat dia terjatuh tadi.


Tiba-tiba Mara dikejutkan oleh sebuah suara motor dari arah samping restoran. Sebuah lampu tepat menyorot ke arahnya. Dengan mata memicing, Mara menengok ke arah cahaya silau itu berasal. Dia terkejut begitu tahu cahaya itu makin lama makin mendekat. Sial! Kok gue gak sadar kalau masih ada orang, dengkus Mara di dalam hati.


"Lagi ngapain lo tengah malem ada di sini?" tanya suara datar yang Mara sendiri tak asing. Si pengendara motor mematikan lampu depan yang tadi sengaja disorotkan ke arah Mara. Orang itu turun dan berjalan mendekat.


Bola mata Mara melebar begitu mendapati orang yang berdiri di hadapannya itu adalah Andra. Lelaki itu melemparkan tatapan dingin yang penuh rasa curiga. Wajar curiga, lagi pula salah Mara sendiri yang datang mengendap-endap layaknya pencuri.


"L-Lo sendiri, ke-kenapa lo masih di sini? Bukannya lo juga harusnya udah pulang? Men-mencurigakan," ucap Mara dengan gugup.


Lelaki itu pasti akan berpikir yang tidak-tidak. Lalu segera mengusir Mara dari sana. Ah sial! Jika benar seperti itu, Mara belum siap untuk pergi dan meninggalkan restoran. Gelang berharganya masih belum ketemu.


Dengan takut-takut, Mara melirik ke arah lelaki di hadapannya. Lelaki itu tersenyum miring. Seperti sedang mengejek Mara dalam diam. Menyebalkan.


"Kalau pun gue dicurigai, gue punya alibi yang kuat. Gue masih karyawan di sini, dan gue cukup dekat sama yang punya restoran." Asta mendekatkan wajahnya ke arah Mara. Asta tersenyum di matanya. Apalagi melihat Mara yang terlihat gugup, Asta semakin ingin menggoda perempuan itu. "Menurut lo, siapa di antara kita yang lebih patut untuk dicurigai?"


Mara menelan salivanya. "Gak ada yang lebih, dua-duanya sama-sama mencurigakan," seru Mara tak mau kalah. Padahal dia tahu kalau perkataan lelaki itu benar. Mara yang lebih patut dicurigai.


"Oh ya? coba lo sebutin alasan lo kenapa ada di sini, sebelum gue lapor polisi."


"Apaan sih lo bawa-bawa polisi. Emangnya gue bakal takut? Gak usah ngancem. Gak mempan. Meski lo ngancem mau bunuh gue juga, ogah gue ngasih tau alasan kenapa gue ada di sini," sewot Mara.


Asta mengulum senyum. Rasanya lucu melihat tingkah Mara saat ini. Perempuan di depannya itu belum berubah. "Pulang sana!"


"Lo aja sana yang pulang." Mata Mara mengamati setelan Asta yang terlihat samar-samar karena pantulan cahaya remang dari papan nama. Namun, dilihat dari atas ke bawah, lelaki itu pasti tengah bersiap untuk pergi meninggalkan restoran. "Lo tadi udah jalanin motor karena lo mau pulang 'kan? Sana lanjutin. Pulang gih!"

__ADS_1


"Terus membiarkan lo berbuat sesuatu dengan restoran ini? Jangan harap gue mau." Asta melepas helmnya dan menaruh benda berwarna hitam legam itu di atas motor milik Raja. Dia bersandar pada motor itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Silakan lanjutkan."


"Apaan sih!"


"Lo tadi lagi melakukan sesuatu 'kan? Lanjutin aja lagi. Gue tunggu sampai lo selesai baru setelah itu gue pulang," ujar Asta sambil tersenyum miring. Dia dapat menebak kalau Mara saat ini begitu kesal dengannya. "Ah, tenang. Gue gak bakalan berisik. Lo bisa berpura-pura dan menganggap gue gak ada di sini."


Ya ampun! Demi para setan penunggu restoran juga pepohonan di sekitarnya, Mara jengkel setengah mati. Mara berharap para makhluk halus itu menculik lelaki di depannya dan jangan dibawa kembali. Lelaki itu sangat mengesalkan. Mara menyesal pernah berpikiran bahwa lelaki itu adalah orang yang baik.


∆ ∆ ∆


"Gue gak suka cowok tadi!" seru Riga begitu dia telah memarkirkan mobilnya di halaman gedung apartemen Chia.


Perempuan yang duduk di sampingnya menoleh. Memandang datar ke arah Riga. "Gue gak peduli," jawab Chia datar. Dia membuka pintu dan menurunkan satu kakinya. "Makasih buat tumpangannya. Gue masuk duluan."


Setelah itu, Chia keluar. Menutup pintu mobil lalu berjalan meninggalkan Riga yang masih memandanginya dari balik kaca jendela. Riga menggeram kesal. Buru-buru dia keluar. Kemudian berjalan cepat menyusul Chia.


"Kenapa? Ada barang gue yang ketinggalan?" tanya Chia dengan alis bertaut. Terkejut karena tak menyangkan Riga akan menyusulnya.


Riga menekan tombol lift. Kepalanya mendongak memerhatikan angka berwarna merah yang berubah-ubah. "Gak ada. Gue cuma mau nganterin lo sampai depan pintu apartemen lo."


Riga tersenyum bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Dia mengulurkan tangan dan menggenggam jari-jemari milik Chia. "Gue udah berjanji untuk memastikan lo aman."


Kemudian dia menarik Chia agar masuk ke dalam lift. Chia hanya diam saja hingga lift berjalan dan berhenti di lantai dua. Chia yang pertama melangkahkan kaki keluar. Dengan tangan yang masih saling menggenggam, Chia dan Riga sama-sama terkejut.


Di depan pintu lift, seorang lelaki berdiri dengan membelakanginya. Meski begitu, baik Chia maupun Riga, keduanya sama-sama tahu siapa lelaki yang sedang berdiri itu. Setelan yang menjadi ciri khasnya, membuat Chia yakin siapa lelaki yang kini tengah berbalik badan, yang kemudian menyunggingkan senyuman ke arah Chia.


"Ah lo ternyata baru sampai?" seru Sun sambil berjalan menghampiri Chia. Lelaki itu belum sadar dengan kehadiran Riga di sana.


"Kak Sun kenapa ada di sini?" tanya Chia setelah melepaskan tautan tangannya dari tangan Riga.


"Jun minta tolong gue buat nyari lo. Katanya ponsel lo susah dihubungin. Dia takut lo kenapa-napa. Jun gak bisa jemput lo karena dia masih sibuk. Tapi, waktu gue datang ke restoran milik Raja, lo gak ada di sana. Restoran itu udah tutup. Makanya gue buru-buru ke sini," jelas Sun sambil tersenyum cerah. Ada perasaan lega ketika akhirnya dia bisa melihat Chia. Juga rasa syukur karena perempuan itu nyatanya baik-baik saja.


Sun hampir seperti orang gila begitu Jun mengabari kalau Chia tak bisa dihubungi. Rasa takutnya semakin memuncak ketika tak menemukan Chia di tempat yang diberitahu Jun. Barusan, hampir saja Sun mendobrak pintu kamar Chia. Barangkali perempuan itu terkunci di dalam dan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.


"Ponsel lo kenapa gak bisa dihubungin?" tanya Sun.

__ADS_1


Chia merogoh dan mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia mengecek ponsel itu. Tangannya berusaha menyalakan layar ponsel yang mati. "Kayaknya lowbat Kak. Maaf udah bikin Kak Sun khawatir."


Sun menggeleng lemah. "Yang penting lo gak kenapa-napa. Lo pulang dengan utuh dan selamat aja, gue udah bahagia," ucap Sun dengan senyum terkembang. "Lo pulang sama siapa?"


Chia menaikkan salah satu alisnya lalu melirik ke arah Riga. Lelaki itu terlihat geram karena kehadiran dia masih belum disadari oleh kakak kandungnya sendiri itu. Namun, ada hal yang lebih mengganjal dari pada kehadirannya tidak disadari.


Riga baru tahu, Sun dan Chia ternyata cukup deket setelah kepergiannya selama ini. Bahkan lelaki itu sampai dihubungi Jun dan juga tahu letak kamar Chia. Sementara, selama ini Sun tak pernah bercerita tentang Chia, apalagi kedekatannya dengan perempuan itu. Sebuah tanda tanya besar bersarang di kepala Riga. Dia ingin tahu ada apa di antara Chia juga kakaknya itu. Padahal rasa penasarannya soal Andra saja belum terjawab. Kini ditambah dengan kakaknya.


"Chia pulang bareng gue," jawab Riga datar berusaha mengesampingkan rasa penasarannya.


Sun menoleh ke arah lelaki di samping Chia. Lelaki itu tampak terkejut, namun. berusaha menutupinya dengan tersenyum. "Oh, sorry, gue baru nyadar ada lo. Thanks brother udah nganterin dia," ucap Sun tulus sambil menepuk pelan bahu adiknya.


"Kalau gitu gue pamit dulu. Lo cepet istirahat yah, Chia." Sun mendekatkan bibirnya ke telinga perempuan yang menatapnya datar itu. Lalu mulai berbisik, "Lain kali, hubungi gue untuk jemput lo, bukan dia. Lo gak lupa 'kan sama janji lo?"


Chia tersenyum getir. Langit-langit apartemen rasanya runtuh saat itu juga dan menimpanya. Hampir, hampir saja dia melupakan janjinya pada Sun, dan yang menyedihkan janji itu harus diingatkan lagi oleh lelaki yang menjadi kakak dari seseorang yang namanya masih terpahat di hati Chia.


"Gue duluan!" pamit Sun pada Riga. Lalu meninggalkan keduanya tanpa menoleh lagi ke belakang.


Chia yang mulai gemetaran, menundukkan kepalanya. Dia takut, air mata yang tanpa ijin telah terkumpul di pelupuk itu akan lolos lagi ke pipi dan diketahui Riga. Chia tak mau itu terjadi. Buru-buru dia membuka pintu apartemen. Tapi gerakan tangan Chia terhenti oleh Riga yang mencengkeram pergelangannya pelan.


"Gue mau istirahat Riga. Udah malem. Dan gue cape," ujar Chia masih dengan kepala tertunduk.


"Kenapa lo mendadak berubah di depan Sun? Apa yang dia bisikin barusan?" Jujur Riga tak dapat mencuri dengar. Bisikan Sun di telinga Chia begitu pelan. Sun begitu pintar hingga membuat bisikannya hanya dapat didengar dirinya dan Chia.


"Berubah gimana? Dari tadi gue biasa aja."


Riga menarik Chia hingga perempuan itu berputar dan kini menghadap ke arahnya. "Apa yang kakak gue bisikin sampai lo nangis kayak gini?"


Ah sial! Air mata Chia memang tidak bisa diajak berkompromi. Kenapa harus lolos begitu cepat dan tidak menunggu hingga Chia berada di dalam kamarnya? Dengan gerakan tergesa, Chia mengelap air matanya. "Bukan apa-apa. Gue mau masuk ke dalem. Please, jangan halangin gue, Riga," ucap Chia lemah.


Melihat Chia yang seperti itu, hati Riga menjadi luluh. Dia tidak bisa memaksa perempuan itu untuk memberitahunya lebih jauh. Maka Riga melepaskan cekalannya dengan sangat berat hati. Matanya sendu ketika melihat Chia buru-buru masuk ke kamar dan menutup pintu tanpa mengatakan sepatah kata pun.


∆ ∆ ∆


kalau sempet, nnti malem aku up juga 🙊🤕

__ADS_1


__ADS_2