
"Emang kenapa?"
Mara tersenyum tipis. Memandang remeh ke arah Asta. "Gue pikir lo mau ngajak gue ke pantai. Tempat favorit lo."
Entah apa yang dilihat Asta di wajah Mara. Yang jelas Mara sangat terganggu dengan tatapan aneh lelaki itu. Jika ia sedang tidak berada di tempat umum, mungkin sudah dari tadi ia mencongkel bola mata milik Asta.
Mengejutkan! Lelaki itu tak terlihat marah sama sekali. Mara justru mendapati senyuman lebar yang membuat bulu kuduknya berdiri seketika. Mara makin menegang saat Asta mendekatkan wajahnya ke telinganya.
"Pantai tempat terakhir yang kita kunjungin nanti," bisiknya lalu mengedipkan sebelah mata.
Ya ampun! Mata gue masih normal kan? Mara masih terkejut. Tak bisa menepis bayangan sikap Asta yang berubah total. Berkedip? Cowok gila ini ngedipin satu mata? Mara berkomat-kamit sendiri.
Hingga tanpa sadar, Asta menarik tangan Mara lagi yang masih digenggam lelaki itu, dan membuat tubuh Mara terhuyung lalu mengekor di belakang laki-laki itu.
"Mau kemana kita?" Mara masih membulatkan matanya. Mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Nonton," jawab Asta singkat.
Nonton? Tumben amat! Ya! Mengingat Asta tak pernah mengajaknya menonton di bioskop saat 'kencan', Mara makin terperangah. Kenapa sih semuanya jadi tiba-tiba gini?
Mara tiba-tiba menghentikan langkahnya lagi. Mengerutkan dahi, menatap penuh menyelidik ke dalam bola mata milik Asta yang balas menatapnya penuh tanya.
"Lo nyogok gue? Ini strategi lo minta maaf ke gue? Sorry! Gak mempan!" Mara mendengus.
Tapi tidak dengan Asta yang tersenyum tipis lalu berjalan kembali tanpa sepatah katapun sambil tetap menggandeng tangannya. Membuat Mara mengumpat sepanjang perjalanan menuju bioskop.
__ADS_1
● ● ●
Jujur saja, hari ini hari kencan yang penuh warna yang dirasakan Mara. Dari menonton, jalan-jalan berkeliling kota, membeli barang yang penting hingga yang tidak penting, foto bersama di taman bunga, makan di restoran kesukaannya, berjalan bergandengan sambil memakan es krim, pergi ke taman bermain meski hanya naik satu wahana, terakhir bersepeda sambil berboncengan di pantai.
Jika Mara mengatakan bahwa usaha Asta ini tidak mempan kepadanya, itu hanya sebuah kebohongan. Nyatanya wajah Mara semringah sejak tadi. Ia bahkan tertawa bersama dengan Asta selama berkencan tadi.
Dan saat ini, di hadapan air laut yang membentang luas, Mara tak kuasa menyembunyikan senyuman yang tersungging di wajahnya. Ia melirik tangannya yang masih digenggam Asta. Senyumnya semakin melebar.
Apa gak masalah, kalau gue sebahagia ini sekarang?
Ia menoleh. Matanya berbinar memandangi wajah Asta yang masih serius menatap lurus ke arah lautan. Ya! Memang pemandangan sore ini dengan langit lembayungnya terlihat sangat indah.
Mara malah berdebar sendiri menunggu matahari kembali ke peraduannya. Sungguh! Ini pertama kalinya Mara melihat matahari terbenam bersama Asta. Sebelumnya ia selalu datang terlambat, atau pulang terlalu cepat sebelum melihatnya. Ini kenangan berharga yang akan Mara ingat sepanjang hidupnya.
"Asta!" panggilnya membuat lelaki di sebelahnya menoleh. "Apa yang bikin lo berubah gini? Maksud gue, hari ini, lo berbeda. Lebih hangat dan lebih banyak tersenyum. Gak kayak dulu yang cuma ada kemarahan dan kesedihan disorot mata lo."
"Gue cuma pengen berubah," jawab Asta datar sedatar tatapannya memandangi hamparan laut di kejauhan. "Sebentar lagi gue lulus. Gue gak mungkin bersikap kayak kemaren-kemaren sampai gue dewasa."
Mara mengulum senyum. Lalu tertawa dengan keras sambil memegangi perutnya. "Insaf lo? Akhirnya lo sadar juga sama kelakuan lo yang gak waras itu. Kejedot apaan lo sampai lo kepikiran berubah?"
Mara masih tertawa. Asta mendelik sambil mendengus sebal. Laki-laki itu tak menjawab candaan Mara. Asta masih terlihat serius. Mara berdecak. Berusaha menghentikan tawanya. Memerhatikan lelaki itu dengan saksama dan penuh pertanyaan.
"Seperti gue yang memutuskan berubah, memulai semuanya dari awal lagi, gue ... mau lupain tempat ini. Tempat persembunyian gue. Dan hari ini, hari terakhir gue datang ke sini. Dan itu bareng lo," jelas lelaki itu sambil menoleh dan tersenyum penuh arti.
Mara meringis di dalam hati, mendapati perasaan tak enak yang makin meruah menyelubungi hatinya. "Maksud lo?"
__ADS_1
Mara mengabaikan Asta yang sedang mengelus kepalanya dengan lembut tanpa melepas senyum. Sedang ia cemberut karena perasaannya mulai tak nyaman. Tak tenang. Khawatir. Menunggu perkataan selanjutnya laki-laki itu.
"Lo inget tentang taruhan kita waktu penutupan kelas dua dulu?"
Mara mencibir. "Kenapa? Lo pengen nyuruh gue bilang nyerah?" sewotnya sambil melotot ke arah Asta yang dibalas gelengan pelan dari laki-laki itu.
"Bukan lo. Tapi gue."
Deg! Jika diibaratkan hati Mara adalah kaca. Mungkin sejak tadi hati itu telah hancur berkeping-keping. Mara bahkan hampir runtuh karena kakinya yang mulai lemas menahan berat tubuhnya.
"Gue nyerah. Dan lo menang. Sekarang lo bebas dari gue. Lo bebas bersama orang yang lo sayangi. Gue janji, gue bakal ngilang dan gak akan ganggu kehidupan lo lagi."
Mara menggigit bibir bagian bawahnya. Menahan tangis. Masih syok mendengar perkataan lelaki brengsek di hadapannya. Bukan seperti ini penutupan acara kencan manisnya dengan Asta hari ini. Bukan seperti yang ia harapkan. Jadi ini alasan lo bersikap manis dari pagi sama gue?
Tess! Air mata Mara mulai mengalir. Plakk!
Mara berhasil menyematkan sebuah tamparan penuh nafsu amarah pada pipi laki-laki yang berdiri di hadapannya. Matanya masih berkaca-kaca. Tatapannya begitu tajam. Ia tak peduli pada tapak merah yang terlukis di wajah Asta yang saat ini menatapnya dengan bingung. Toh memang Asta pantas mendapatkannya, pikirnya.
Suruh siapa jadi cowok kelewatan brengseknya? Idiot! Bego! Rasain! Emang enak! Maki Mara di dalam hatinya.
Mara berbalik badan dan hendak meninggalkan lelaki brengsek yang masih mengelus-elus bekas tamparan di pipinya itu. Hanya saja pergerakannya kalah cepat karena Asta telah mencengkeram tangannya dengan kuat.
Mara menatap tajam padanya, mengisyaratkan agar Asta melepaskan genggamannya. Namun, lelaki brengsek itu lebih keras kepala dari Mara. Dari tatapannya yang sendu, ia mengisyaratkan Mara untuk tetap tinggal dan menjelaskan maksud dari tamparannya itu.
Ini keadaan yang paling menyebalkan untuk Mara. Baginya tatapan Asta sangat mengintimidasinya. Bagaimana tidak? Setiap melihat tatapan itu, pada akhirnya ia harus luluh dan menurut akan kemauan lelaki di hadapannya itu.
__ADS_1
Mara menarik napas sedalam mungkin. Ia mengumpulkan oksigen sebanyak yang ia bisa, sebelum ia mulai melontarkan apa yang sedang dipikirkannya saat ini.