Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 20 : Us and Pain (1)


__ADS_3

"Lo kemana aja sih, Chika?" Mara membetulkan posisi ponsel yang masih menempel di telinganya.


"Sorry, Ra. Belakangan ini selalu ada Asta di sekitar lo. Lo tau kan gue korban penindasan sepupunya. Gue takut. Tiap mau nyamperin lo, Asta natap gue sinis."


Mara menghela napas sambil bersandar pada bantalnya. Ia masih malas untuk turun dari atas kasur. Badannya terlalu lemas untuk berdiri.


"Gimana kondisi lo? Lo gak apa-apa? Lo gak masuk sekolah lagi dari kemaren."


"Hmm. Gue baik-baik aja." Mara bergumam pelan.


"Gue ke rumah lo yah sepulang sekolah."


Mara melirik kaca jendela yang berada tepat di samping kanannya. Matanya masih memindai seseorang yang sedang berdiri dan mengawasinya di depan pagar rumah.


"Gak perlu, Ka. Ada raja iblis di depan rumah gue."


"Ya ampun! Tuh orang gak waras kali yah sampe ngikutin lo ke rumah segala!"


Mara mendengus. Ia tersenyum miris. Ia sendiri memang tak tahu sejak kapan Asta mengintainya seperti itu. Yang jelas Mara sangat sebal dengan sikap berlebihan laki-laki itu.


"Besok lo masuk sekolah kan?"


"Hmm." Mara mengangguk.


"Besok lo pulang bareng gue aja! Gak baik buat kesehatan lo deket-deket sama cowok itu! Entar gue kasih tau tempat janjian rahasianya lewat pesan. Ok?"


"Ok!"


Mara menghela napas sambil menutup panggilan di ponselnya. Ia membanting ponsel itu di atas kasur. Seenggaknya gue masih punya satu orang untuk bertopang.


● ● ●


Mara sudah menunggu Chika dibalik sebuah mobil berwarna putih di parkiran sekolah hingga lima belas menit berlalu. Sesekali ia mendongakkan kepalanya mencari sosok gadis mungil berambut pendek dengan kaca mata itu.


Chika kemana sih ah! Mara tampak harap-harap cemas. Uh, menyebalkan rasanya saat ia harus bersembunyi dari Asta seperti ini.


"Ngapain lo disitu?"


"Hah?" Mara menoleh dan mendapati Riga berdiri tepat di belakangnya. Ia bangkit berdiri sambil tersenyum getir menatap laki-laki itu.


Gue lupa kalo mobil ini punya Riga! Kenapa gue sembunyi di sini sih?

__ADS_1


"Gue anter lo pulang!"


"Eh?" Mara membulatkan matanya saat Riga membukakan pintu untuknya.


"Kenapa? Gak mau?" tanya Riga saat mendapati Mara masih terdiam di tempatnya.


"Bukan gitu." Mara tergagap. "Gue lagi nunggu Chika di sini."


Laki-laki itu terdiam sejenak sambil mengamati Mara. "Sampai kapan? Sampai lo pingsan?"


Mara tersenyum kecut. Ia termenung sejenak. Ah, mungkin pulang bersama Riga bukan pilihan yang buruk untuknya, tapi bagaimana dengan Chika? Ya terserahlah! Lagi pula gadis itu dari tadi tak menunjukkan batang hidungnya juga. Tak tahu apa jika Mara bersusah payah kabur melepaskan diri dari pengawasan Asta?


Mara memandang Riga dan mengangguk setuju. Ia pun menundukkan tubuhnya untuk masuk ke dalam mobil Riga. Namun Mara terlonjak sebelum ia sempat duduk di atas kursi mobil itu. Seseorang tiba-tiba saja telah menggenggam tangannya dari belakang.


"Asta?" Mara membulatkan matanya saat melihat seseorang yang tadi menggenggam tangannya.


Ayo pulang!" tegas laki-laki itu.


"Gak!" Mara langsung menarik tangannya dengan kasar dari cengkeraman Asta sambil melotot.


● ● ●


"Gue gak mau!" Gadis itu meronta lagi.


Keras kepala! Dengus Asta di dalam hati sambil menarik tubuh gadis itu ke arahnya.


"Jangan dipaksa kalo dia gak mau!"


Cih! Asta menatap tajam pada laki-laki yang menggenggam tangannya. Jika tadi ia tak melihat Mara sedang bersama laki-laki paling menyebalkan di dunia itu, mungkin Asta akan tetap diam dibalik pepohonan di dekat tempat parkir, berpura-pura tak tahu jika gadis itu sedang bersembunyi darinya.


"Gue gak ngomong sama lo!" Asta ketus.


"Lepasin!" Riga menatap serius padanya. Bisa dirasakan tangan laki-laki itu meremas pergelangan tangan Asta.


"Ini bukan urusan lo! Dia pacar gue! Bukan pacar lo!"


"Lo gak lihat mukanya pucet gitu? Lo mau dia pingsan di sini karena dengerin perdebatan kita?"


Asta mengamati Mara sejenak, lalu beralih menatap ke dalam manik mata Riga. Ah, ia benar-benar benci lelaki itu! Selalu saja bersikap seolah-olah laki-laki itu pahlawan di depan orang lain, dan menempatkan Asta sebagai penjahat yang harus diperangi. Ia benci perangai lelaki yang selalu ikut campur urusannya itu.


"Lepas Asta!" pinta Mara dengan suara lirih, yang membuat Asta luluh seketika.

__ADS_1


Asta melepaskan tangan Mara dari genggamannya. Matanya sedih menatap Mara yang beranjak duduk di dalam mobil milik ketua OSIS-nya itu. Ah, sebagian hatinya merasa sakit, menolak untuk melihat gadis itu bersama dengan laki-laki lain.


Namun kali ini Asta harus menurunkan sikap egoisnya. Ia harus memberi ruang gadis itu agar bisa berpikir jernih dan memaafkannya.


Asta berjalan mundur dua langkah saat Riga menutup pintu mobilnya. Mata Asta masih menatap tajam pada laki-laki itu.


"Gue peringatin sama lo! Berani lo nyentuh cewek gue, bahkan sedikit aja dia lecet karena lo, gue gak akan ngebiarin lo hidup tenang!" bisik Asta.


Riga menyeringai sambil berjalan melewati Asta. Tatapan keduanya saling beradu saat Riga hampir membuka pintu mobilnya.


"Gak salah? Lo lupa siapa yang bikin dia kayak gini? Ngaca sana!" Riga masuk ke dalam mobil diikuti tatapan tajam dari Asta.


Asta hanya bisa mengumpat sambil meremas jari-jarinya saat mobil Riga melaju meninggalkannya.


● ● ●


Mara sedikit merasa lega. Sudah tiga hari sejak ia pulang bersama Riga, Asta tiba-tiba menghilang dari hadapannya. Di kelas, kantin dan dimana pun Asta tak menampakkan diri di depan Mara.


Bagus deh!


Mara melirik ponselnya yang bergetar. Ia membaca pesan dari Riga :


Sorry gue gak bisa nganter lo pulang. Gue ada rapat OSIS. Lo gak apa-apa sendirian? Gue suruh Fajar nganterin lo yah?


Mara langsung memainkan jari-jemarinya pada ponselnya. Ia membalas pesan laki-laki itu :


Gue gak apa-apa. Gue pulang bareng Chika kok 😊


Mara kembali memasukkan benda persegi panjang itu ke dalam saku baju. Ia berjalan dengan pelan menuju gerbang sekolah, menghampiri Chika yang sudah menunggunya di sana.


● ● ●


Chia mengayuh sepedanya keluar dari parkiran sekolah. Ia terkejut saat menarik remnya di jalan menurun menuju gerbang sekolah. Sial! Kenapa remnya rusak?


Chia mendengus saat laju sepedanya tak bisa terkontrol. Dari arah berlawanan ia melihat Mara berjalan sambil tertunduk menuju ke arahnya. Chia mulai panik saat jarak keduanya semakin dekat.


Chia mendesis saat ia membelokkan laju sepedanya dengan paksa saat Mara tepat berada di depannya. Sesaat Chia melihat Mara panik hingga terjatuh di aspal, sebelum akhirnya sepeda Chia menabrak pohon besar dan membuatnya terjatuh.


Nyaris aja gue nyerempet cewek itu! Leganya sambil mengamati Mara yang masih berbaring di aspal.


● ● ●

__ADS_1


__ADS_2