Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 26 : U and The Memories of Us (3)


__ADS_3

Riga menatap kesal pada rumah yang tampak gelap semua dari luar. Berkali-kali mengetuk pintu, namun tak ada balasan sedikit pun. Ia hampir frustrasi. Sungguh perasaannya tak enak mengenai gadis itu.


Riga mengecek ponselnya. Sial! Mencoba berapa kali pun, tetap saja ia tak memiliki nomor ponsel gadis itu. Rei memang brengsek. Laki-laki itu tak mau memberikan nomor ponsel Chia meski Riga sudah memintanya berkali-kali.


Riga meninju pagar rumahnya. Ia sangat marah. Kesal. Frustrasi. Dan menyesal.


"Lo ke mana sih, Chia?"


● ● ●


Chia berdiri di depan pintu rumah sanak saudaranya yang tinggal di pesisir pantai. Keputusannya terlalu mendadak soal berkunjung malam-malam seperti itu. Namun ia sedang tak ingin sendirian seperti biasanya.


Chia tersenyum saat Paman Aldi membukakan pintu. Sahabat baik dari ayahnya, yang telah dianggap sebagai saudara kandungnya sendiri, yang memberi Chia rumah untuk ditinggali dan menyokong biaya hidupnya selama ini, terlihat senang melihat kehadirannya yang tiba-tiba itu.


Istrinya langsung memeluk Chia dan menariknya untuk masuk ke dalam. Seperti pemandangan saat pertama kali Chia datang ke sana. Rumah itu selalu ramai. Ada Arby dan Arga, si kembar yang masih duduk di bangku SD, yang langsung melompat ke arahnya. Ada Kakek Ari yang tersenyum ke arahnya sambil duduk di kursi goyang. Dan Jun, seorang pengacara yang pernah membebaskan ibu Chika dari penjara karena permintaan Chia. Chia tersenyum padanya. Namun lelaki yang lebih tua sepuluh tahun itu justru mengabaikannya.


Chia beralih pada keluarga yang masih terbangun saat keluarga lain sedang pulas-pulasnya tertidur. Wajar saja. Mereka memang sengaja belum memejamkan mata untuk menunggu kedatangannya. Beberapa jam yang lalu, Chia memang mengirimkan pesan akan berkunjung malam ini juga. Jadi tak heran jika banyak makanan sudah tersaji di atas meja.

__ADS_1


"Lo yakin bakal tinggal di rumah temen baik bokap lo itu? Saudara kandung lo aja bersikap buruk sama lo, apalagi Paman Aldi yang cuma sahabat bokap lo."


Chia mendengus. Dari semua orang yang telah mendengar keputusannya untuk pindah ke rumah pemberian Paman Aldi, hanya Riga satu-satunya yang terus bertanya pertanyaan yang sama, mencegah Chia untuk melanjutkan niatnya.


"Gue yakin. Paman Aldi baik banget. Gue yakin dia tulus sama gue," jawab Chia malas.


"Gue tetep gak mau lo pindah. Kenapa lo gak tetep tinggal di rumah gue? Apa keluarga gue bersikap buruk sama lo?"


Chia mendelik kesal. "Lo lihat sendiri kan sikap keluarga lo gimana." Ah, Chia sangat sebal pada laki-laki yang duduk di sebelahnya itu.


"Gue gak mau lihat lo terluka lagi."


Riga tak menjawab lagi. Begitu pun Chia yang malas bicara. Keadaan begitu hening.


"Kita harus pulang. Nyokap lo pasti nyariin," tukas Chia sambil bangkit berdiri. Namun terduduk kembali karena Riga menarik tangannya.


Kening Chia berkerut, menatap penuh tanya pada Riga yang memandangnya dalam diam. Chia menahan napasnya saat Riga mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


Perasaan Chia semakin berdesir saat jarak wajahnya hanya beberapa sentimeter dari Riga. Chia meremas buku-buku jarinya. Menegang. Gugup setengah mati saat bibir Riga hampir menyentuh bibirnya.


Chia buru-buru bangkit berdiri dengan degupan jantung yang makin tak karuan. Menggagalkan usaha Riga yang berniat menciumnya. Uh sial, kaki Chia gemetar karena menahan rasa gugup di dadanya.


"Kita harus pulang. Nyokap dan bokap lo udah nungguin kan?" dalihnya menyembunyikan rasa malu.


Chia bergegas berjalan tanpa menunggu persetujuan dari Riga. Ah kacau! Perasaannya makin tak karuan. Jantungnya tak mau berhenti berdetak dengan cepat. Chia hanya takut jantungnya terlepas dari tempatnya.


"Gue serius sama lo. Gue bener-bener tulus sayang sama lo!"


Perkataan Riga barusan berhasil membuat Chia menghentikan langkahnya. Chia tertegun. Tak tahu harus berkata apa.


Tiba-tiba tangannya ditarik ke belakang. Membuat tubuhnya berputar seratus delapan puluh derajat. Chia tertegun saat rasa hangat menjalar di bibirnya. Rasa hangat saat Riga mengecup bibirnya. Riga menyelipkan jari jemarinya di antara helaian rambut Chia dan sukses makin membuat jantung Chia berdetak makin cepat. Laki-laki itu dengan lembut mendorong kepala Chia agar semakin mendekat dengan wajahnya.


Chia membuka matanya. Ia bangun dan berjalan keluar dari rumah. Tak bisa. Ia tetap tak bisa menjernihkan pikirannya lagi. Bayang-bayang dan kenangan Riga malah semakin berseliweran di kepalanya. Dan itu menyakitkan.


Sudah cukup dengan rasa sakit yang diterimanya. Ia sudah tak sanggup bahkan hanya untuk sekedar bertahan sejenak. Ia lelah. Tak memiliki harapan apa pun lagi. Chia menatap deburan ombak di hadapannya yang sejak tadi menerpa kakinya yang tak beralas apa pun. Ia terdiam. Sebelum akhirnya berjalan lagi.

__ADS_1


"Tuhan, aku sudah menyerah."


● ● ●


__ADS_2