
"Emang iya yah? Kok gue gak inget?" Mara buru-buru mengecek ponselnya. Mencari pesan dari salah satu rekan kerjanya itu.
Benar saja, pada sebuah obrolan di dalam grup chat, mereka sempat membahas soal rencana kejutan untuk hari ulang tahun Selo. Astaga! Lagi-lagi Mara lupa. Apalagi sejak pagi tadi Mara terus-menerus merasa mengantuk. "Sorry, Mbak Gita. Mara lupa."
"Ya udah, ya udah. Kuenya masih aman 'kan Mas Andra?" tanya Gita was-was.
Asta yang masih merasakan denyut ngilu di kakinya hanya mengangguk pelan. Dengan gerakan kecil dari kepalanya, Asta menunjuk sebuah kotak yang dia taruh di atas meja porselen.
Mara membantu Gita mengecek isi dari kotak tersebut. Untung saja kue di dalamnya masih aman dan baik-baik saja. Mara dibantu Gita segera mengeluarkan kue tersebut. Kemudian Gita menaruh lilin di atasnya dan mulai menyalakan api.
"Ini Mas, tolong dibawain ya. Nanti saya kasih kode dengan ketukan tiga kali." Gita menyerahkan kue berhias buah-buahan segar itu ke tangan Asta. Kemudian perempuan itu menoleh ke arah Mara. "Nanti lo yang bantu bukain pintunya buat Mas Andra yah."
"Iya, Mbak." Mara mengangguk.
Setelah itu, Gita meninggalkan Mara dan Asta berdua lagi di dalam toilet. Sambil menunggu Gita datang, kedua orang itu sama-sama memilih diam. Hingga, terdengar ketukan pelan dari pintu sebanyak tiga kali. Mara segera membuka pintu.
Begitu di buka, pemandangan Selo sedang dimarahi atasannya tepat di depan semua orang, menjadi pemandangan pertama bagi keduanya. Mara memilih mundur untuk memberi Asta jalan. Dia memang sengaja membuat lelaki itu berjalan duluan.
Begitu Asta keluar, Selo langsung berteriak dan kegaduhan tawa pun terdengar. Dengan berkaca-kaca Selo memeluk Amel dan Gita secara bergantian. Dia pun segera menjabat tangan atasannya yang tersenyum sambil meminta maaf atas setingan untuk memarahinya.
Mara menjadi orang terakhir yang dipeluk Selo karena posisinya berada di paling belakang. "Selamat ulang tahun yah Selo."
"Thank you," seru Selo dengan tangis haru.
"Tiup lilinnya dong," teriak Amel. "Kasian tuh Mas-Mas Gantengnya pegel. Kalau tangan Masnya pegel, nanti siapa yang gandeng tangan Amel."
Sorakan 'hu' langsung terdengar ke seluruh ruangan. Disusul riuh ricuh permintaan untuk meniup lilin. Asta yang sejak tadi hanya diam pun maju mendekati Selo. Perempuan yang berulang tahun itu segera meniupnya dan menimbulkan kegaduhan suara tepuk tangan.
"Selamat ulang tahun yah," ucap Asta berbasa-basi.
Selo dan Amel berteriak senang. Padahal ucapan itu ditujukan kepada si Ratu Sehari sore itu. Namun, entah kenapa Amel juga ikut berteriak histeris. "Dasar para fangirling," gumam Mara sambil geleng-geleng kepala.
Dia tidak tahu saja, sejak tadi, diam-diam ada mata yang terus mencuri-curi pandang untuk melihatnya. Mengamatinya yang tersenyum. Memandang ekspresi bahagia yang ditunjukkan Mara. Mengingat cara Mara yang tertawa.
"Gue bahagia melihat lo kayak gitu, Mar. Setidaknya, lo harus tetep bahagia seperti itu meski tanpa gue, dan ... gue yakin lo mampu."
∆ ∆ ∆
__ADS_1
Sekali lagi Riga memandangi ponselnya. Sejak hari itu, belum ada lagi pesannya yang dibalas oleh Chia. Satu-satunya balasan dari Chia adalah saat mereka bertemu di perpustakaan kota. Setelah itu, berbagai pesan dari Riga kirim, tak ada satu pun lagi yang dibalasnya. Riga menghela napas panjang.
Pencarian mengenai Sun juga belum selesai. Riga masih belum tahu tinggal di mana kah kakaknya itu sekarang. Setelah mengetikkan pesan, Riga menjejalkan ponselnya ke dalam saku jaket. Dia hanya bisa berharap, kali ini kakaknya akan membaca info yang dikirimnya lewat pesan singkat di ponsel. Lagi pula, kenapa juga sih kakaknya mematikan ponsel? Riga jadi sungguh kesulitan untuk mengetahui keberadaannya.
Riga hampir saja menaiki motornya ketika dia melihat ke arah sebuah lapangan yang cukup luas. Sekelompok anak yang sepertinya masih remaja tampak sedang berlarian berebutan bola di tengah lapang. Teriakan dan tawa dari mereka terdengar samar di telinga Riga.
Namun, bukan hal itu yang menjadi perhatian Riga sejak tadi. Matanya terkunci pada sosok perempuan yang baru saja tiba dan kini duduk-duduk di pinggir lapangan. Perempuan itu mengeluarkan sebuah buku dan pulpen. Atau ... pensil? Ah entahlah. Yang jelas, buku di pangkuan perempuan itu mulai dicoret-coret sambil sesekali dia memandang ke arah lapang.
Riga yang penasaran, segera menghampiri perempuan yang masih sibuk dengan buku di tangannya. Riga tak segera duduk di sebelah perempuan itu yang memang masih kosong. Dia sengaja berdiri di belakang bangku. Mengintip apa yang sedang dikerjakan perempuan itu. Menulis kah? Ah tidak! Perempuan itu sedang membuat sketsa dari anak-anak yang sedang bermain bola di tengah lapang.
Riga tersenyum. Lantas duduk di sebelah perempuan yang dia ketahui adalah Chia itu, dan sontak membuat perempuan itu terkejut seketika. "Apa selain nulis, membuat sketsa adalah aktifitas lo?" tanya Riga datar dengan pandangan terarah lurus ke depan.
Kening Chia berkerut. Dia heran kenapa Riga dapat mengetahui kalau saat ini dirinya sedang menggambar sketsa. Juga, bagaimana Riga bisa tahu kalau saat ini dirinya sedang berada di sebuah lapangan. Ah, sudahlah. Chia tak ingin tahu.
"Terkadang. Kalau saat gue lagi suntuk dan jenuh aja. Gue mencoba untuk berjalan-jalan. Berkeliling mencari tempat baru, supaya otak gue fresh lagi. Tapi dibanding hanya sekedar jalan-jalan, gue mencoba mengabadikan apa yang gue lihat dengan menggambar sketsa," jelas Chia panjang lebar.
Perhatian Chia dan Riga teralih ke lapangan. Teriakan gol entah dari kubu mana, membuat kedua orang itu diam-diam tersenyum. Kemudian, mereka melihat bola melambung tinggi yang baru saja ditendang oleh salah satu kiper gawang. Perebutan bola jauh di depan sana pun terjadi lagi.
"Apa aja yang lo gambar?" tanya Riga tanpa melepas pandangan dari tengah lapang.
Chia memandang ke segala arah. Tampak berpikir. Dengan punggung pensil menempel di dagunya, dia bicara, "Apapun. Yang menarik aja di mata gue."
Riga mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia beralih dan menoleh ke arah Chia yang terlihat sedang serius. Riga juga punya banyak hal menarik di matanya. Mungkin memang tak sebanyak yang Chia miliki. Riga hanya punya satu hal menarik yang selalu bisa menyedot seluruh perhatiannya.
Ya, itu adalah perempuan yang sedang duduk di sebelah Riga. Chia ... sangat menarik dengan segala hal yang sedang dilakukannya. Chia yang sangat menarik dengan segala ekspresi yang dikeluarkannya.
Chia yang tengah serius menulis. Chia yang sedang fokus dan berkonsentrasi ketika menggambar sketsa. Chia yang menunjukkan banyak ekspresi ketika sedang membaca. Juga, tawanya yang mampu menyebar jutaan kupu-kupu terbang di hatinya. Riga sangat menyukai semua hal itu.
"Kalau gitu, mulai sekarang, gue juga akan mengabadikan apa yang gue lihat dan menarik di mata gue," ujar Riga tiba-tiba. Dia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Lalu memfoto Chia tiba-tiba. Ekspresi terkejut dari Chia lah yang berhasil dijepret dan diabadikan oleh kamera handphonenya. Riga tersenyum.
"Kenapa lo foto gue?" tanya Chia yang tak terima fotonya tiba-tiba diambil tanpa persetujuan.
"Lo mengabadikan hal menarik dengan menggambar sketsa. Gue pun sama. Gue mengabadikan apa yang menarik buat gue lewat foto," jawab Riga datar kemudian memfoto Chia sekali lagi.
Chia mendengus. Dia tak ingin melakukan protes. Meminta Riga menghapus foto hasil jepretannya pun percuma. Riga pasti tidak akan mau. Chia kembali memusatkan perhatiannya pada buku sketsa. Tinggal sedikit lagi hasil gambarnya akan selesai.
Namun, tiba-tiba setetes air jatuh di atas bukunya. Membuat lingkaran kecil yang basah karena air. Gambar pun menjadi bias karenanya. Perlahan, tetesan-tetesan itu semakin banyak ketika Chia mendongakkan kepalanya ke atas.
__ADS_1
"Hujan?" gumam Chia yang rupanya terdengar oleh Riga.
"Ayo!" ajak lelaki itu tiba-tiba.
"Kemana?"
"Berteduhlah."
Ah! Kenapa pertanyaan seperti itu ditanyakan oleh Chia. Buru-buru Chia menutup bukunya. Menjejalkan benda itu ke dalam tas bersama dengan pensil yang telah masuk duluan. Di depan sana, para remaja yang tadi bermain bola berhamburan ke pinggir lapangan. Mereka berlarian untuk segera mencari tempat teduh, ketika hujan yang mengguyur bumi semakin deras.
Riga menarik tangan Chia. Dia membuat perempuan itu berlari mengekor di belakangnya. Tadinya dia akan membawa Chia berteduh di sebuah tempat makan atau minimarket di seberang sana. Namun, hujan yang semakin deras membuat langkah mereka terhenti di bawah sebuah pohon besar yang tak jauh dari lapangan. Keduanya berteduh di sana.
Chia dan Riga nyaris kebasahan. Untung hanya sedikit dari pakaian mereka yang terkena rintikan air. "Baju lo gak basah?" tanya Riga untuk memastikan.
Chia menggeleng. "Enggak. Lo sendiri?"
"Gue gak apa-apa."
Chia pun mengangguk. Dia memundurkan langkahnya karena cipratan air di atas tanah terus menghantam kakinya dan membuat Chia kebasahan. Riga yang melihat itu, maju di depan Chia. Dia berdiri tepat di depan perempuan itu dengan jarak sekitar 10 sentimeter. Menghadap ke arah perempuan itu, hingga kedua bola mata mereka saling beradu tatap.
"Lo lagi ngapain?" tanya Chia berusaha tenang untuk menutupi rasa kegugupannya. Menutupi debaran jantungnya yang mulai berpacu dengan tidak normal. Namun, sorot datar dan dingin dari bola mata berwarna coklat itu justru semakin mempercepat aliran darahnya dan membuat jantung Chia memompa begitu kencang. Buru-buru Chia membuang muka ketika Riga tersenyum penuh arti.
"Menurut lo, gue lagi apa?" jawab Riga dengan balik bertanya. Kedua matanya terus mengunci wajah perempuan yang masih membuang muka itu. Dengan jarak yang sedekat itu, entah kenapa Chia terlihat begitu manis. Apalagi ketika sedang malu-malu sambil membuang muka seperti itu. Garis lengkung terbit di wajah Riga.
∆ ∆ ∆
**belum kelar gengs. doakan siang atau sore atau malam, aku bisa up bab selanjutnya 🤧🤧
makasih untuk kalian yang selalu dukung cerita ini ❤️❤️
tanpa kalian aku mah apa tuh 🤧**
btw, bab sebelumnya kan mereka ketuker ketemunya, sekarang udah aku balikin..
tapi bersyukur sih gak ada yang protes, dengan pertukaran itu.
wohohohohohoho 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
aku pikir aku masih bakal dikata otor jahat 🤣🤣🤣
padahal niat hati ingin jahat jahat lagi #eh.. atut ah diprotes. bubay ❤️❤️❤️❤️