
"Lo gila?" Mara menyipitkan matanya pada Dipa yang telah berdiri di sampingnya. "Lo yakin gue harus pake baju kayak gini?"
Laki-laki itu menoleh dan mengamati gaun selutut berwarna merah muda yang sedang dikenakan Mara.
"Ini permintaan Asta," jawabnya 'cuek' dan membuat Mara mendecakkan lidah.
Asta emang stres kali yah? Ngapain juga gue harus didandanin kayak gini cuma buat ketemu sama dia? Dan apa-apaan sama yang gue lihat ini?
Mata Mara masih menyapu pemandangan di hadapannya. Pantai tempat favorit Asta disulap sedemikian rupa. Ada karpet merah yang menjuntai di hadapan Mara menuju sebuah meja berbentuk lingkaran tepat di tengah pantai. Sepanjang perjalanan menuju meja itu, mata Mara dimanjakan dengan bunga mawar berwarna merah muda dan lilin-lilin yang sengaja ditaruh di atas pasir pantai.
Harusnya itu menjadi momen termanis yang didapat Mara dari Asta. Tapi dengan emosi yang masih membuncah di dada, Mara sama sekali merasa tidak terharu. Ia justru berpikiran untuk mengacak-ngacak semua yang sudah tertata rapi di hadapannya.
Mara langsung duduk saat Asta menggeser kursi untuknya sambil tersenyum. Sementara Mara hanya mengerutkan dahinya sambil menatap aneh ke arah lelaki itu.
"Apaan nih? Lo mau ngelamar gue?" Mara jutek sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalo iya, gue tolak!"
"Kepedean lo! Gue cuma mau ngajakin lo makan malam."
Mara mengangkat salah satu alisnya dan menatap sinis pada laki-laki yang masih memasang wajah datarnya.
"Gue udah bilang kan? Gue pasti bikin lo nangis setelah acara festival selesai. Dan buktinya, lo emang nangis, bahkan sampe gak masuk sekolah seminggu."
Mara melongo, membuka mulutnya lebar-lebar. Apa tadi yang dia bilang? Mara menatap tajam laki-laki di hadapannya. Ia lalu tersenyum simpul sambil bangkit berdiri.
Byur!
Mara menumpahkan air minum dari dalam gelasnya tepat ke wajah Asta. Mara menarik ujung bibirnya sambil melotot ke arah laki-laki itu.
"Lo mau ngehibur gue setelah apa yang udah lo lakuin ke gue kemaren-kemaren?" Mara membentak lelaki itu.
Dengan cepat ia menarik kain penutup meja ke bawah, membuat piring yang berisi makanan dan gelas berjatuhan di atas pasir.
"Coba lo pikir ulang!" Mara mengulang perkataan Asta kepadanya saat di Festival Topeng.
Setelah merusak bunga mawar merah muda di sekitarnya, ia kembali menatap lelaki yang tampak terperangah dengan tindakannya itu.
"Dulu gue suka sama warna pink. Sekarang, berkat lo, gue benci banget sama warna itu!"
Asta tak berkomentar. Laki-laki itu masih duduk tenang sambil menatap Mara datar.
"Lo pikir, dengan ngasih apa yang gue suka, gue bakal maafin lo? GAK! Gue gak akan pernah maafin lo! Dan satu lagi! Catet di kepala lo baik-baik! Gue pasti bikin lo bilang nyerah duluan! Inget itu!"
Mara langsung memalingkan wajahnya dan berjalan dengan cepat meninggalkan lelaki yang bahkan masih membisu di tempatnya.
__ADS_1
● ● ●
Mara menatap sinis pada laki-laki yang telah duduk di samping bangkunya. Lebih tepatnya, lelaki itu duduk di bangku yang ditempati Fachri sebelumnya.
"Keluar gak?" bentak Mara.
"Gak! Muka lo pucet gitu. Gue mau jagain lo. Gue gak mau lo kenapa-napa," jawab laki-laki itu santai sambil membetulkan posisi duduknya.
"Sejak kapan lo sok perhatian sama gue?"
"Asta? Sedang apa kamu di kelas 11-D?" Bu Shinta, guru biologi, yang mengajar jam pelajaran pertama telah berjalan memasuki kelas.
"Saya cuma pengen coba belajar di kelas biasa, Bu."
Mara mendelik pada laki-laki yang menjawab pertanyaan gurunya barusan.
"Cepat kembali ke kelasmu, Asta. Kamu tidak bisa bersikap seenaknya di ...."
"Saya disuruh Pak Kepala Sekolah," potong Asta membuat Bu Shinta terdiam sejenak.
"Ya udah, buka buku pelajaran kalian anak-anak." Guru itu mulai menulis sesuatu di papan tulis.
Mara mendengus. Ia memalingkan wajahnya dari Asta yang masih memerhatikannya dalam diam.
● ● ●
Mara mendecakkan lidah. Menyebalkan rasanya saat orang yang paling tidak ingin dilihatnya, rupanya terus-terusan mengikutinya ke mana pun ia pergi. Bahkan saat Mara ke kamar mandi pun, laki-laki itu berdiri di luar menunggunya.
Sudah seminggu sejak Asta diam dan belajar di dalam kelasnya. Mara bahkan telah kehabisan kesabaran untuk menghadapi laki-laki itu. Ia bahkan malas untuk pergi ke mana pun sejak lelaki itu terus melakukan tindakan gilanya.
"Makan!"
Mara melirik sesaat pada semangkuk nasi soto yang disodorkan Asta di atas mejanya. Mara menatap lelaki itu dengan malas, lalu kembali menatap keluar jendela sambil meringkuk di bangkunya.
"Apa?" Mara menatap galak saat Asta telah mencolek punggungnya dua kali.
Mara tertegun saat menatap sebuah sendok berisi nasi telah melayang di dekat mulutnya.
"Makan!"
"Gak!" jawab Mara sambil menepis tangan Asta yang akan menyuapi nasi soto ke dalam mulutnya.
"Lo mau pingsan di sini, hah? Pikirin kondisi tubuh lo. Lo gak pernah makan selama seminggu. Lo egois, kalo lo pikir orang tua lo gak khawatir lihat lo yang kayak gini!"
__ADS_1
"Apa peduli lo, hah? Jangan ngomong tentang keluarga gue, kalo di otak lo cuma mikirin tentang kecemburuan lo yang gak jelas!" Mara membentak lelaki di hadapannya sambil menjatuhkan mangkok di atas mejanya ke lantai.
Mara memicingkan matanya, menatap tajam pada lelaki itu. "Lo puas kan lihat gue kayak gini?"
Mata Mara berkaca-kaca. Buru-buru ia berlari keluar kelas sambil membawa tasnya. Ah, masa bodoh jika ia harus membolos dua buah mata pelajaran setelah jam istirahat. Ia hanya ingin pulang. Ia hanya ingin berdiam di dalam kamarnya, satu-satunya tempat yang tak bisa dijangkau laki-laki paling menyebalkan itu.
"Gue anter lo!"
Mara menoleh saat Asta telah menggenggam tangannya dan menariknya menuju parkiran sekolah.
"Gue gak mau! Lepas!" Mara berusaha meronta. Namun laki-laki itu justru mempererat genggamannya.
"Masuk!" perintah Asta saat pintu mobilnya telah terbuka.
"Gak!"
Mara menatap kesal saat Asta mendorong tubuhnya dengan paksa hingga terduduk di dalam mobil.
"Gue bilang gak mau!"
Brakk! Asta membanting pintu mobilnya tepat di depan wajah Mara. Dengan wajah terperangah, mata Mara masih mengikuti gerakan lelaki itu yang telah duduk dibalik kemudi.
"Pake sabuk pengaman lo!"
Mara tak bergeming. Ia masih menatap tajam lelaki yang telah menggerakkan tangannya dan memasangkan sabuk pengaman padanya.
"Apa lo harus selalu ngelakuin pemaksaan dan bersikap kasar supaya keinginan lo terpenuhi?" bentak Mara sambil terisak.
"Karena lo gak mau gue halusin!" jawab Asta cepat sambil melajukan mobilnya.
Mara memalingkan wajah sambil terperangah. Uh, rasanya ia kesal sekali.
● ● ●
Mara membuka pintu rumahnya dengan kasar. Buru-buru ia berlari ke dalam kamar, mengabaikan tatapan teduh ibunya yang memerhatikannya dari dapur.
Mara membanting tubuhnya di atas kasur. Ia membenamkan wajahnya di atas kasur, menangis sekeras-kerasnya. Pertahanannya telah runtuh semua. Ia sudah tak tahan.
Mara tak tahu mengapa ia jadi selemah ini. Ia bahkan lebih sering menangis dibanding tersenyum sejak ia mengenal Semesta Udaraja.
Brengsek lo Asta! Sampai kapan pun gue gak akan pernah maafin lo!
● ● ●
__ADS_1