Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 7 : U Just Watch Me and See (2)


__ADS_3

"Kenapa?"


Suara Riga berhasil membuat kesadaran Mara kembali. Menyebalkan ketika Mara menyadari bahwa ia telah berdiri terlalu dekat dengan laki-laki itu.


Sial! Sial! Sial! Umpatnya di dalam hati. Kalo gue punya jurus teleportasi, gue pasti udah kabur dari tadi deh!


"Duduk!"


"Hah?" Mara mengernyitkan alisnya.


"Duduk! Lo mau berdiri terus kayak gitu?"


"Hah? Oh i-iya," ia masih sangat gugup.


Dengan ragu Mara duduk di sebelah Riga. Kakinya masih gemetaran. Ia berharap dalam hati agar lelaki itu tak melihat dan merasakan reaksi tubuhnya yang berlebihan. Mara mendengus sambil memalingkan wajahnya.


Apa yang harus gue lakuin sekarang?


Mara menoleh ke arah Riga. Tertegun sejenak, lalu beralih menatap kotak makan siangnya. Ia pun mengambilnya.


"Kenapa?"


"Mmmh ...." Mara ragu.


"Gue lihat kemaren lo gak makan apa-apa. Hari ini juga. Nih buat lo!" Mara menyodorkan kotak makan siangnya pada laki-laki itu.


Namun Riga tak menanggapi. Sekedar meliriknya pun tidak dilakukannya.


"Anggep aja ini ucapan terima kasih gue buat pertolongan lo kemaren. Ya emang sih gue punya utang nyawa sama lo. Tapi gue belum bisa kasih itu sekarang. Mau kan?"


Mara menatap Riga penuh harap. Kotak makannya pun telah dibuka. Lelaki itu menoleh dan menatap kotak makan milik Mara yang berisikan beberapa potong sandwich berukuran besar. Lalu ia memalingkan wajah lagi.


"Kenapa? Lo gak suka?" tanya Mara.


Laki-laki itu tak menjawab.


Mara merengut. Ia menarik kembali kotak makannya. Ia lalu menutup kotak makan itu. Ia mulai berdiri dan beranjak untuk pergi.


"Maaf yah," sesal Mara. "Sorry gue udah ganggu jam istirahat lo."


Tiba-tiba pergelangan tangan Mara terasa hangat. Ia menoleh dan menatap heran Riga yang sedang memegang pergelangan tangannya itu.


"Lo niat ngasih gak sih? Belum juga gue ambil udah lo tarik."


"Hah?" Mara kebingungan.


Mara duduk kembali di sebelah Riga dengan ragu. Ia mulai membuka kotak makannya lalu mengulurkan lagi pada laki-laki itu.


Mara memandang tangan Riga yang bergerak dan mengambil satu potong sandwich-nya. Laki-laki itu mulai memasukkannya ke dalam mulut dan mulai mengunyah. Riga lalu melirik Mara yang menatapnya dengan polos. Ia berhenti mengunyah.


"Makan!" perintahnya. "Gue gak mungkin abis makan sebanyak ini."

__ADS_1


"Hah? Oh iya." Mara gugup.


Ia menarik senyum. Lalu mengulurkan tangannya. Diambilnya satu buah potongan sandwich kesukaannya. Sandwich istimewa yang selalu dibuatkan oleh ibunya.


Mara melirik laki-laki yang sedang menikmati sandwich miliknya itu. Ia tersenyum lagi sambil mengunyah makanannya.


"Lo masih punya utang sama gue!" Riga berkata setelah menghabiskan potongan sandwich pertamanya.


"Hah? Utang?" Mara mengerutkan dahinya.


Mara segera menelan sandwich yang ada di dalam mulutnya. "Utang apaan?"


Riga tampak menghela napas sejenak. "Lo pikir utang nyawa cuma bisa dibayar pake sandwich doang?"


"Eh? Jadi gue harus korbanin nyawa gue sama lo?"


"Gak!" Jawabnya singkat. Riga mulai mengambil potongan sandwich dari kotak makan Mara lagi.


"Lo harus bikinin bekel makan siang gue setiap hari. Inget! Setiap hari!" Sambungnya sambil mulai memakan sandwich di tangannya.


"Setiap hari?" Mara termenung sejenak.


Lalu sebuah senyuman kecil tersungging dari bibirnya. Ia sedikit senang. Namun, ada sedikit rasa bimbang, takut dan khawatir hinggap di benaknya juga. Entahlah, perasaannya bercampur aduk.


"Oke!" Mara menyetujui dengan senyuman yang masih tersungging di bibirnya.


"Tapi lo jangan minta nyawa gue yah?" goda Mara sambil terkekeh.


● ● ●


"Pinjem buku catatan fisika lo dong. Please. Gue lupa nih kalo ada tugas fisika," pinta Hana dengan wajah memelas saat Chia baru menaruh tas di bangkunya.


"Nih," ucap Chia, setelah mengeluarkan buku catatan fisikanya dari dalam tas sambil tersenyum.


Tanpa basa-basi, Hana langsung menyambar buku Chia dengan semringah.


"Thanks Chia! Lo emang dewi penyelamat gue!" ucap Hana sambil tersenyum dan berlari ke bangkunya.


"Lo tuh udah kayak nenek-nenek aja pikun segala!" Sani berkomentar saat ia duduk di bangkunya sambil tertawa geli.


"Biarin!" Hana menjulurkan lidah. Sementara Chia hanya tersenyum.


"Itu apaan Chia?" Gadis bernama Krisha melemparkan tatapan menyelidik ke arah tas Chia. Tepat pada sesuatu yang tersimpan di dalam tas Chia.


Chia melirik tasnya sebentar tanpa berkata apapun. Ia pasrah. Sebentar lagi, pasti ketiga sahabatnya akan mengomelinya tanpa henti. Lihat saja wajah-wajah yang menatap Chia dengan kesal itu.


"Ini apaan Chia?" Hana meraih kotak misterius di dalam tas Chia tanpa seizinnya.


Gadis itu memutar-mutar sebuah kotak berwarna merah dengan heran. Ia terpaku ketika menatap sebuah tulisan di sudut atas kotak itu : dari Renata.


"Dari Renata?" Hana mengerutkan dahinya sambil menatap Chia. "Renata?"

__ADS_1


Chia tak menjawab apapun. Ia bahkan tak mencegah Sani yang telah merebut tasnya dan menumpahkan seluruh isinya di atas meja. Chia menghela napas ketika melihat kotak-kotak lain berserakan di atas meja.


Ya udahlah! Siap-siap dimarahin aja! Ucapnya dengan tenang.


"Maksudnya apaan nih Chia?" Sani memelototi Chia.


"Gak ada apa-apa kok," jawab Chia santai. Ia menatap Sani datar.


Keadaan hening sejenak. Menyebalkan ketika keadaan berubah menjadi tegang seperti saat ini.


"Gue harus ngomong sama Renata dan temen-temennya!" Sani tiba-tiba berjalan, mengejutkan Chia dan kedua sahabatnya.


"Gak perlu!" jawab Chia dengan cepat. Ah ia hanya berharap Sani mau mendengarkannya dan tak pergi ke manapun.


"Ini bukan apa-apa San!" Chia berusaha meyakinkan.


"Bukan apa-apa gimana? Mereka udah keterlaluan sama lo! Lo lupa apa yang mereka lakuin waktu kelas satu dulu? Waktu lo pertama kali masuk sekolah? Waktu mereka belum tau kalo lo pacarnya Riga?" Sani mulai meninggikan suaranya.


"San!" panggil Krisha. Ia berusaha untuk menengahi kedua temannya yang sedang panas itu.


"Engga Kris! Han! Gue gak mau tinggal diem aja! Chia tuh harus tegas! Renata sama temen-temennya tuh udah keterlaluan. Mereka manfaatin keadaan Riga yang lagi kayak gini."


"Ya tapi lo gak harus marah-marah kayak gini juga!" protes Krisha.


"Gue marah lah! Sahabat gue diginiin! Emang mereka pikir Chia apaan? Tukang pos? Tukang kirim paket kilat? Tukang nganter kado gitu?"


"Kita ngerti kok apa yang lo rasain!" Hana ikut menengahi. "Tapi lo harus tenang."


"Gue gak mau tinggal diem gitu aja! Gue harus ngomong sama mereka!"


"Ini bukan apa-apa San!" Chia mulai gemas. Salah satu sahabatnya itu memang sedikit keras kepala.


"Percaya sama gue. Ini cuma kado ucapan selamat karena Riga udah balik lagi ke sekolah," dalih Chia. Padahal ia sendiri tak tahu arti dari kado-kado itu. Ya bodo amatlah!


"Gue tau lo bohong Chia!" Sani berjalan mendekati pintu.


"Kalo lo gak mau ngomong dan tegas sama mereka, biar gue yang ngomong! Mau sampai kapan lo ditindas sama mereka?" sambungnya.


"Sani!" Hana dan Krisha tampak berjalan mendekati gadis itu.


Chia hanya terdiam sambil menatap kedua sahabatnya yang telah berdiri di depan pintu, mencoba menghalangi Sani.


"Apaan sih lo berdua? Minggir gak?" protes Sani.


"Gue baik-baik aja San!" ucap Chia sambil menatap gadis itu dengan serius.


"Terserah lo deh!" Akhirnya Sani menyerah, setelah beberapa saat ia terdiam sejenak.


Mata Chia mengikuti gadis yang mulai berjalan ke bangkunya itu. Ah, Sani langsung duduk dengan muka masam. Ya, Chia tahu gadis itu pasti sangat kesal padanya. Ia menghela napas, pasrah.


● ● ●

__ADS_1


__ADS_2