Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Lima


__ADS_3

Mara mengerucutkan bibirnya setelah jarak dia dengan pemuda di depannya itu hanya terpisah beberapa sentimeter. Mara berdecak sebal saat mendapati pria itu menatapnya lurus-lurus ke dalam manik mata.


"Ish! Lihat guenya gitu amat sih. Awas aja kesambet setan. Terus lo kesurupan. Lalu mendadak berubah jadi jatuh cinta sama gue," dumel Mara.


"Mana ada orang kesambet setan terus berubah jadi jatuh cinta?"


"Ya ... kali aja. Lo terpesona sama kecantikan gue gitu. Secara, gue udah susah-susah buat dandan secantik ini buat ketemu sama lo. Kalo lo masih gak terpesona, berarti mata lo juling." Mara tersenyum lebar.


Yang diberi senyuman oleh Mara justru mendengus sambil tersenyum miring. "Kalo yang model begini disebut cantik, terus yang jeleknya, bentuknya kayak apa?"


"Iiiiiihhhh ... FACHRIIIIIII!!! LO NYEBELIN BANGET SIH AAAHH," jerit Mara kesal. Kalau sudah dongkol begitu, boro-boro Mara tahu tempat. Yang ada, dia akan bersikap tidak tahu malu. Seperti barusan, yang berteriak dengan kencang tanpa ingat dirinya sedang berada di mana.


Bahkan Fachri yang menutup kedua telinganya dengan tangan, harus rela dihujani cubitan membabi buta dari Mara. "Sekali aja ... bisa gak sih lo gak bikin gue sebel!"


"Lebih menyebalkan mana antara gue sama lo?" protes Fachri yang masih memasang posisi bertahan karena Mara terus mencoba mencubitinya tanpa ampun. "Lo cuma diledek gitu doang aja udah kesel. Bayangin deh sama nasib kaki gue yang pegelnya udah sebesar apa, gara-gara nungguin jemputan yang gak dateng-dateng selama berjam-jam."


Mara terkesiap. Gerakan tangannya mendadak terhenti. Mara mematung layaknya patung manekin. Mara dan Fachri saling menatap. Kemudian Mara terkekeh sambil melepaskan tangannya agar tidak mencoba mencubiti Fachri lagi. Mara buru-buru merubah sikapnya menjadi seramah mungkin. Bahkan dia sok-sokan merapikan pakaian Fachri yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali.


"Senyum dong senyum. 'Kan kalo lo senyum, lo jadi tambah ganteng. Nanti yang ada di sini mendadak jadi fans fanatik lo," kekeh Mara sambil mengedipkan matanya dan tersenyum lebar hingga gigi-giginya terlihat.


"Lo pikir, setelah lo berubah jadi ramah kayak gini, gue bakal maafin lo semudah itu gitu? Dan lo bakalan terbebas dari hukuman gue, gitu?" Fachri memandang Mara penuh keheranan. Tatapan sadisnya tepat menusuk ke dalam manik mata Mara.


Bersamaan dengan itu, mendadak suara perut Mara berbunyi dengan keras. Beberapa orang yang melintas di sekitar Mara saja dapat mendengarnya. Astaga! Mara malu bukan main. Dia meringis sambil melemparkan tatapan memohon pada Fachri.


"Udah deh jangan sok ngambek-ngambekan. Mendingan kita makan. Gue laper banget. Belum makan dari pagi tau," rengek Mara.


"Derita lo," sewot Fachri yang masih sebal pada gadis di hadapannya itu.


"Aih! Kalo cemberut kayak gitu terus, lama-lama lo bakal punya banyak keriput. Ih horor. Belum nikah tapi udah tua duluan. Gak mau 'kan lo?"


"Gue heran. Lo tuh sebenernya mau ngebujuk gue, atau mau ngeledekin gue?"


Mara tertawa lebar. "Iya, iya. Ya udah buruan. Ayo cabut. Kita makan. Gue yang traktir deh. Tenang. Tapi ... lo yang nyetir yah?" gelak Mara sambil menyerahkan kunci mobilnya dengan paksa pada Fachri.


"Lo tau gak sih seberapa capenya gue hari ini? Dan seberapa suntuknya gue sekarang?"


"Iya tau. Tau banget malah. Tapi 'kan di dunia ini gak ada yang gratis. Lo kalo mau gue traktir, harus kerja dulu. Keluar keringet dulu istilahnya," tawa Mara menggema lagi dan berhasil membuat Fachri sebal setengah mati.


"Mending gue naik taksi aja deh." Fachri berbalik badan, mencoba kabur dan mencari taksi.

__ADS_1


Mara buru-buru merangkul bahu sahabatnya itu untuk mengunci agar tidak kabur kemana-mana. "Ish, jangan dong. Gue traktir makanan mahal. Udah ayo."


"Sahabat durhaka tukang maksa emang," cerocos Fachri yang akhirnya memilih pasrah begitu saja, saat dirinya digiring Mara berjalan menuju tempat mobil milik gadis itu di parkir.


"Tapi 'kan lo sayang sama gue," jawab Mara santai tanpa melepas tawanya.


∆ ∆ ∆


"Hai, Dit. Gue seneng banget ketemu sama lo lagi," tutur Chia tulus dengan mata yang berkaca-kaca.


Adit tersenyum simpul dan menyentil dahi Chia pelan. "Ish suka lebay deh. Sejak kapan Chia gue jadi suka berlinang air mata?"


"Ehem!" Adam pura-pura berdehem.


Jo lebih parah. Dia terbatuk-batuk dan membuat yang lainnya tersenyum masam. "Udah gapapa. Lanjut aja. Anggap dunia milik lo berdua. Kita mah sih woles aja. Paling siap-siap aja pulang dari sini lo dibegal di pengkolan."


"Sama siapa?" tanya Adit.


"Tuh! Si Manusia Kanebo. Yang hatinya serapuh kapur tulis," ledek Jo puas. Yang diledek santai-santai saja menanggapi. Jun malah mengulurkan tangan pada Adit.


"Kenalin, gue Jun," ujar Jun sambil tersenyum tipis. Dia benar-benar sesuai dengan julukannya. Bahkan untuk tersenyum saja Jun terlihat sangat kaku.


Jun tersenyum miring. "Gue tahu. Gue penjaga Chia dari dia masih kecil."


Adit terdiam. Dia terlihat mencoba mencerna perkataan Jun barusan. Chia mendadak canggung dengan perkenalan dadakan itu. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan untuk mencairkan suasana. Untung saja ada Jo. Cowok itu lantas bersiul jenaka.


"Ceileh. Ada yang saling bersaing nih. Saling gak mau ngalah. Adam lo pasang siapa, Dam?" seru Jo.


"Gue Adit deh. Dia sohib gue jaman kuliah. Gue jamin dia gak sekaku Jun," timpal Adam sambil terpingkal.


"Ya udah gue Jun deh. Secara ... dari penerawangan gue, doi lebih terlihat lebih ngebet pengen nyusul lo Dam."


"Udah deh, Sayangku Adam dan elo Jo. Udah jangan godain mereka. Biar aja sih Chia yang nanti milih mau sama siapa." Irene menimpali.


Chia memilih bungkam sambil sesekali melempar senyum bingung. Dia melirik ke arah Jun. "Gue ambil minum yah. Lo mau gak?" tawar Chia pada Jun.


"Gak usah, nanti gue ngambil sendiri," jawab Jun santai. Chia pun mengangguk dan segera pamit meninggalkan sekelompok orang itu.


Chia berjalan menghampiri meja yang penuh dengan makanan. Dia mendekat kebarisan gelas yang telah terisi berbagai macam minuman. Chia memilih yang berwarna merah muda. Tepat saat dia akan mengambil, sebuah uluran tangan mendadak muncul dari arah belakangnya.

__ADS_1


"Lo gak mau coba yang ini?" tanya Adit setelah mengambil gelas yang berisi minuman berwarna merah.


Chia menggeleng. "Enggak deh. Makasih." Chia menenggak minumannya. Lalu menatap ke arah Adit yang terlihat tidak terlalu berubah. Yang berubah hanya kadar kemachoannya. Adit tampak lebih maskulin dan dewasa.


"Gimana kabar lo? Sekarang lo jadi pengacara?"


Adit mengangguk. "Belum sih. Tepatnya gue baru mau memulai. Gue baru aja keterima di kantor orang itu." Adit menunjuk seseorang dengan dagunya.


"Lo kerja di kantornya Jun?" tanya Chia tidak percaya.


"Yap! Besok gue baru mulai kerja."


"Selamat! Gue seneng banget dengernya. Semoga lancar yah dan lo bisa menangin kasus yang nanti lo tanganin."


"Thanks." Adit menenggak minumannya lagi. Sementara Chia mengalihkan pandangan, manik mata Adit justru terus tertuju pada gadis yang dulu pernah mengisi relung hatinya.


Ah, tidak. Mungkin sampai detik ini, nama gadis itu tidak pernah terhapus setitik pun. Masih tersimpan rapi di tempatnya. Adit tidak pernah mengira bahwa ternyata Tuhan Maha Baik. Disela rasa putus-asanya untuk memilih menyerah dan melupakan Chia, sepertinya takdir punya jalan lain. Buktinya, Adit masih bisa dipertemukan dengan gadis itu. Bahkan Chia yang sekarang jauh lebih cantik dan menawan dibanding yang dulu. Adit tidak bisa berbohong bahwa kali ini jantungnya mulai berdetak tak karuan lagi.


"Mmh ... ngomong-ngomong. Lo sejak kapan kenal sama Kak Jun? Kayaknya tadi dia bilang dia penjaga lo sejak kecil? Kok gue dulu gak kenal dia sih?" tanya Adit penasaran.


"Ceritanya panjang, Dit. Tapi yap ... seperti penjelasannya. Sekarang, Jun adalah penjaga gue," jawab Chia sambil tersenyum. "Karena nanti lo bakal kerja bareng dia, gue berharap lo gak canggung sama sikapnya yang kaku. Terlepas dari sikapnya yang begitu, nyatanya Jun lebih peduli dari siapapun."


Adit tersenyum sambil mengangguk setuju. "Gue sih percaya. Lo emang dijamin aman, kalau di samping lo ada pengacara sukses kayak Kak Jun."


"Ish! Apaan sih. Gak usah mikir yang aneh-aneh deh." Chia cemberut. Tapi sedetik kemudian dia dan Adit tertawa bersama.


Di sisi lain, diam-diam Jun mengamati Chia dari sudut matanya. Dia melihat Chia dapat tertawa lepas bersama Adit. Ada sisi di mana Jun ikut merasa senang dan lega. Pelan-pelan salah satu sudut bibirnya tertarik ke samping.


"Dasar yang begonya gak tau kapan tobat," gumam Jun pelan sambil menahan tawa.


"Eh, lo ngomong sama siapa Jun?" tanya Adam yang rupanya mendengar gumaman Jun barusan.


"Kepo!"


∆ ∆ ∆


**gimana gimana? ada yang tebakannya bener gak? tuh udah aku jawab dua duanya langsung yah di bab ini.


jangan lupa untuk terus pantengin ceritanya. ❤️❤️❤️**

__ADS_1


__ADS_2