
Sebenarnya tak ada yang menahan Mara hingga ia masih berdiam diri di dalam kamar dengan terbalut gaun selutut berwarna merah muda, dengan wajahnya yang sudah dirias make up dan rambutnya yang digulung setengah.
Bagus! Gara-gara lo berdua sekarang gue sendirian! Mara melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap sebal pada ponselnya. Ini sudah kesekian kalinya Mara membaca ulang pesan Fachri dan Chika.
*Pesan dari Fachri :
Sorry gue gak bisa angkat telepon dari lo.
Gue lagi di jalan ke bandara nih.
Gue mau ke Singapura. Gue harus ngehadirin acara penting sama ortu.
Gue gak bisa nemenin lo datang ke acara sekolah.
Lo mau dibawain oleh-oleh apa buat permintaan maaf dari gue*?
Pesan singkat dari Chika :
Sorry, Ra. Gue harus bantuin nyokap gue di rumah.
Nyokap gue lagi sibuk nih.
Gue gak bisa datang ke acara sekolah sama lo kayaknya. Sorry yah 😢😢
Mara hanya bisa melongo menatap dua pesan yang hinggap di layar ponsel miliknya satu jam yang lalu itu. Dasar pengkhianat lo berdua! Uh ia kesal! Ingin rasanya ia memukul kedua orang yang telah melanggar janjinya itu.
Sebagai imbas kekesalannya, ia melempar ponselnya hingga benda kecil itu membentur meja riasnya. Bodo amat deh kalo tuh hape rusak! Lagian itu bukan gue yang beli!
Mara mendengus. Nyatanya sejak pertama kali ia menerima ponsel itu dengan paksa dari Asta, Mara selalu merasa sebal, karena laki-laki itu jadi mudah untuk mengganggunya setiap saat.
Lo pikir gue bakal ngajak lo buat datang bareng ke acara itu? Coba lo pikir ulang!
Ah! Tiba-tiba perkataan lelaki menyebalkan itu terngiang lagi dibenaknya. Jika saja Mara tak ingat bahwa ibunya telah mendandaninya, mungkin saja sejak tadi ia telah mengacak rambut dan riasan di wajahnya.
Mara lalu melirik ponselnya yang masih tergeletak di lantai. Ia bangkit berdiri dan menatap ponsel yang terlihat hening itu. Tak ada tanda-tanda adanya pesan singkat atau panggilan masuk pada ponselnya.
__ADS_1
"Siapa juga yang peduli lo mau ngajak gue atau engga! Gue juga ogah jadi pasangan lo di acara itu!" Mara nyaris berteriak sambil memelototi ponselnya.
● ● ●
Chia masih berdiri mematung di sebuah jembatan di dekat pusat kota. Jika saja ia tak membaca dua buah pesan dari Fachri yang memintanya untuk bertemu di jembatan itu, mungkin Chia tak akan berdiam diri di sana saat ini.
Chia menatap layar ponselnya. Rasanya percuma ketika pesan-pesan yang dikirimnya tak mendapat balasan satu pun. Chia menghela napas sambil memandangi aliran sungai yang mengalir di bawahnya.
Ah, perasaan khawatirnya sama sekali tak menghilang. Mengingat bagaimana ia menemukan kondisi Fachri kemarin di belakang sekolah, tentu saja membuat Chia cemas.
Bagaimana tidak? Ini sudah kedua kalinya Chia melihat Fachri dipukuli dan babak belur di depan matanya sendiri, meski sebenarnya Chia tak sengaja hadir di saat laki-laki itu sedang dihajar seorang siswa yang sebaya dengannya. Chia menghembuskan napas pelan saat rekaman ulang kejadian itu berlarian lagi di pikirannya.
"Apa yang lo lakuin di sini?"
Chia mengangkat salah satu alisnya. Ah, kenapa disaat seperti ini suara seseorang yang tak disukainya mendadak hadir. Chia mendengus. Ia lupa saat ini ia sedang berdiri di jembatan dekat kompleks perumahan lelaki yang bertanya padanya tadi. Hal yang wajar jika Chia bertemu lelaki itu di sana malam ini.
"Gue lagi nunggu seseorang," jawab Chia malas sambil berbalik badan.
Chia menatap lelaki bertubuh jangkung itu sesaat. Ah, penampilan lelaki itu malam ini cukup berantakan. Dua kancing kemeja bagian atasnya terbuka dan kaitan dasi seragam sekolahnya telah melonggar.
"Siapa? Cowok yang ngaku pacar lo? Atau Adit?"
Deg! Chia terpaku sesaat. Ah, ia tak tahu bagaimana mengekspresikan keterkejutannya saat ini. Masa bodoh dengan Rei yang disebut Riga barusan dengan sebutan 'cowok yang ngaku pacarnya'. Tapi Adit? Kenapa Adit? Apa dia tahu kalo gue mau pergi ke pesta bareng Adit?
"Fachri," jawab Chia singkat sambil mengalihkan pandangan.
"Fachri?"
Chia mendengar ada nada keterkejutan pada pertanyaan lelaki itu barusan. Namun ia tetap bersikap 'cuek' di hadapan lelaki itu.
"Cowok itu, Adit dan sekarang Fachri. Apa masih ada cowok yang lain lagi?"
Chia mendelik sesaat.
"Kenapa lo nunggu Fachri di sini? Lo takut ketauan sama Adit, karena lo janjian ketemu sama Fachri,sebelum lo pergi sama dia?"
__ADS_1
Chia menoleh pada lelaki itu dan menatapnya tajam.
"Gue denger waktu Adit ngajak lo buat jadi pasangannya malam ini kemaren." Riga menjelaskan dengan datar, seolah laki-laki itu mengerti arti tatapan Chia padanya barusan.
Chia tersenyum tipis. "Gak ada hubungannya sama Adit. Fachri yang minta ketemu di sini." Chia menjelaskan dengan santai.
"Buat apa dia ketemu sama lo? Dia mau nyatain perasaannya kayak Adit waktu itu? Atau dia juga pacar lo sama kayak cowok yang waktu itu?"
Chia tak menjawab. Ia justru memerhatikan Riga dengan datar. Chia menarik ujung bibirnya sesaat.
"Mendingan lo pulang dan siap-siap gih! Lo ketua pelaksana acara di sekolah kan? Gak lucu kalo lo gak datang."
Chia mendapati laki-laki itu menatapnya tajam setelah mendengar perkataannya barusan. Uh! Ia sungguh tak menyukai tatapan sarat amarah dari kedua bola mata berwarna coklat itu.
Chia mendecakkan lidah dan berbalik badan. Baru saja melangkah, tiba-tiba tubuhnya tertarik ke belakang. Belum sempat Chia memberontak dan melepaskan cengkeraman orang yang menariknya tadi, sebuah kecupan telah mendarat tepat di bibir Chia. Ya, Riga menciumnya.
Chia tertegun. Matanya terpaku menatap wajah lelaki yang kini berada sangat dekat dengannya. Ah, perasaan Chia tak menentu. Mendadak pikirannya ditarik untuk kembali ke masa lalu, saat pertama kali lelaki di hadapannya itu menciumnya untuk pertama kali. Ya, Riga dulu pernah menciumnya, saat Riga belum kehilangan ingatannya seperti sekarang.
Uh, perasaan Chia mulai sesak. Buru-buru ia mendorong tubuh lelaki itu agar menjauh darinya saat kesadarannya kembali.
Chia menatap tajam ke arah Riga. Sungguh, ia tak suka dengan tindakan tiba-tiba lelaki itu yang menciumnya tanpa alasan yang jelas.
"Apa yang lo lakuin?" Chia menyipitkan matanya, berharap lelaki itu sadar bahwa Chia sangat marah padanya.
Namun apa yang dilakukan lelaki di hadapannya? Alih-alih menyesal, Riga justru tersenyum tipis. Tatapannya terlihat datar sambil menatap Chia.
"Kenapa? Lo bilang lo pacar gue. Gue berhak ngelakuin apapun dong sama lo. Termasuk nyium lo."
Plakk!
Ah! Chia sudah tak tahan. Ia muak melihat tatapan dan nada datar dari laki-laki itu. Sebuah tamparan keras dari Chia pada lelaki itu rasanya belum sebanding dengan apa yang diterimanya barusan.
"Brengsek lo!" umpat Chia sambil berbalik badan dan berjalan meninggalkan lelaki itu.
● ● ●
__ADS_1