
Mara berdiri di ruang keluarga, tepat di antara kursi sofa berwarna hitam dan meja panjang yang terbuat dari kaca. Ia mengambil sebuah remote di atas meja itu. Dinyalakannya televisi yang ada di hadapannya. Ia menekan tombol penambah suara berkali-kali hingga seluruh ruangan digaduhkan oleh suara dari televisi. Bodo amat!
Mara menjatuhkan berbagai macam cemilan di tangannya ke atas meja di ruang keluarga. Ia pun membanting tubuhnya itu di atas sofa. Mata Mara terpaku pada cemilan-cemilan itu. Enaknya makan apa dulu yah?
Mara meraih sekantung keripik kentang berukuran besar yang masih terkemas dengan rapat. Ia lalu membukanya. Sambil memakan keripik itu satu per satu, matanya berusaha fokus menatap layar kaca.
Bosen! Ujarnya ketika melirik sebagian cemilan di atas meja telah habis dimakannya. Mara melirik ke arah ponsel yang ditaruhnya tepat di sebelahnya di atas sofa. Layarnya tak menunjukkan adanya tanda-tanda pesan atau telepon masuk dari siapa pun.
Fachri bahkan belum ngehubungin gue, meski udah gue sms semalem. Dan psikopat gila itu juga tumben gak neror gue. Aneh!
Mara mengambil ponselnya yang masih tergeletak di atas sofa itu. Ia menatap layar kaca. Diutak-atiknya setiap menu dan folder yang ada di sana. Entah apa yang sedang dilakukannya. Cukup lama ia seperti itu. Hingga akhirnya ia abaikan begitu saja ponselnya tergeletak di atas sofa. Ia pergi meninggalkan ruang keluarga dengan wajah kesal.
Cowok nyebelin! Lo seneng-seneng di pesta lo, sedangkan gue galau gak jelas gini. Mara menghela napas sambil terdiam di pinggir kolam ikan yang berukuran mungil di belakang rumahnya.
Mara menatap ikan-ikannya. Tangannya masih fokus menyebarkan makanan ikan di atas permukaan air.
"Orang gak penting?" serunya tiba-tiba dengan suara keras, mengagetkan setiap ikan yang sedang makan makanan yang masih dilemparkannya ke kolam.
Mara terdiam sejenak, lalu menghela napas.
"Jadi menurut lo gue orang gak penting? Sampe gue gak boleh tau hari ulang tahun lo? Dan gue gak diundang ke sana gitu? Lo malu punya pacar kayak gue?" Ia masih berkata pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Mara terdiam cukup lama. Mencerna setiap perkataan yang terlontar dari mulutnya. Kayaknya ada yang salah deh sama ucapan gue. Mara menggeleng-gelengkan kepalanya. Ditepuknya dahinya seolah-olah ia hampir kehilangan kesadaran.
"Apa sih yang gue pikirin? Ngapain juga gue galau gak jelas kayak gini? Ngapain gue ngungkit-ngungkit status gue sama tuh orang? Kayak bukan gue yang biasanya. Apa yang terjadi sama gue?" sambungnya.
"Kenapa gue harus galau, setelah tahu kalau Asta ulang tahun hari ini dan gue gak diundang? Ada yang gak beres nih sama gue!"
"Hei ikan!" panggil Mara sambil menatap ikan-ikannya di kolam. Ikan-ikan yang bahkan tak menanggapi panggilannya.
"Lo semua kan udah cukup kenal gue, lo harusnya tahu kenapa gue kayak gini?" Mara menghela napas sambil memalingkan wajah.
Ia tahu, tak mungkin mendapatkan jawaban dari ikan-ikannya, yang jelas-jelas ia sendiri tak akan mengerti bahasa hewan yang hanya bisa hidup di air itu. Kecuali jika ia rela berubah jadi putri duyung, yang sudah jelas hanya khayalannya saja.
● ● ●
Malam itu pukul 7 tepat. Setelah beberapa saat lalu Chia melihat jam di layar ponselnya, sambil berdiri di depan sebuah pintu perpustakaan kota, ia mulai bergerak melangkahkan kaki. Berjalan dengan santai sambil menyusuri beberapa anak tangga.
Sepanjang hari ini Chia sibuk membantu menjaga perpustakaan kota, memandu orang-orang yang kesulitan menemukan buku yang dicarinya. Ia juga membantu beberapa orang yang ingin meminjam buku di sana. Meski lelah, Chia tetap senang dengan kerja sambilannya itu.
Ya, menghabiskan waktu luang di tengah keramaian, lebih baik dari pada sendirian di dalam rumah.
Langkah Chia terhenti di undakan terakhir anak tangga ketika ponselnya bergetar dan berdering. Ia memasukkan tangannya ke dalam tas. Diraihnya ponsel berwarna putih itu yang masih berdering tanpa henti. Ditatapnya dengan wajah datar angka-angka yang tak dikenalinya di atas layar. Lalu ia menekan tombol berwarna hijau sambil menempelkan ponsel itu ke telinganya. Baru saja Chia akan mengucapkan kata pembuka, ponsel itu tiba-tiba saja berhenti berdering.
__ADS_1
● ● ●
Mara menatap kotak persegi berwarna merah muda yang berhiaskan pita dengan warna senada di atas meja makan dengan senang. Senyumnya merekah dari wajah cantiknya itu. Ia telah menyelesaikan pekerjaan yang menyita waktunya beberapa jam lalu.
Setelah mencuci piring dan membereskan dapurnya, Mara duduk di meja makan sembari bersandar untuk menghilangkan lelahnya. Ia meraih segelas air putih di atas meja, lalu menenggaknya dengan cepat.
Mara terdiam sambil meletakkan gelasnya yang telah kosong di atas meja. Ah, gue harus pergi sekarang! Buru-buru ia bangkit, lalu berlari meninggalkan dapur. Ia mengambil ponselnya yang sejak siang dibiarkan tergeletak di atas sofa, kemudian masuk ke dalam kamarnya.
● ● ●
Chia menatap layar ponselnya cukup lama. Sudah dua kali ponsel itu berdering. Namun, lagi-lagi deringnya hilang ketika gadis manis itu menempatkan ponsel di telinganya.
Iseng banget! Komentarnya sambil menyelipkan ponselnya ke dalam tas.
Chia menyusuri kembali jalanan yang masih ramai itu. Matanya menikmati berbagai macam barang yang dijajakan di etalase-etalase toko sepanjang jalan. Ia berhenti tepat di depan sebuah toko kue. Toko yang menjajakan kue tart cantik itu sangat menarik perhatiannya.
Cokelat! Matanya berbinar-binar sambil memandangi kue berbentuk lingkaran yang berhiaskan coklat di atasnya dari balik kaca. Ia sangat menyukai cokelat. Dan kue tart di hadapannya bukanlah pengecualian. Semua makanan yang mengandung cokelat selalu menarik minatnya.
Ups! Lagi-lagi ia dikejutkan oleh getaran dari dalam tasnya. Chia mengeluarkan ponselnya dengan cepat. Ia menatap layar, masih nomor yang sama, yang telah meneleponnya dua kali itu. Kali ini nomor itu tak meneleponnya, justru ada pesan singkat dari nomor itu. Siapa?
lo pikir, lo bisa kabur setelah ganti nomer?
__ADS_1
Hah? Chia mengerutkan dahinya. Ia menatap nomor ponsel yang tak dikenalnya itu, barangkali ia bisa mengingat sesuatu. Mungkin.
● ● ●