
Sudah hampir lima belas menit Chia berdiri di sana, berdiri dibalik tembok memerhatikan dengan tenang Renata dan teman-temannya sedang menindas seorang gadis.
Ah, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Berbalik arah dan pura-pura tak peduli? Rasanya ia tak sejahat itu. Ia tahu dengan jelas rasanya jadi korban penindasan, dan ia salah satu korban Renata dan teman-temannya di kelas satu dulu. Namun, tetap berjalan melewati belakang sekolah seperti tujuan awalnya untuk memotong jalan menuju klub basket, akan mengganggu kegiatan gadis-gadis itu. Lagi pula kehadirannya tak diterima di sana. Bersikap seperti pahlawan pun rasanya percuma.
Lihat saja sikap gadis-gadis itu saat melihat Chia keluar dari tempat persembunyian. Tatapan sinis dan galak terarah padanya. Mereka mengumpat sambil berjalan melewati Chia. Bahkan Renata, pemimpin kelompok itu, sengaja mengadukan bahu mereka sambil menatap penuh kebencian pada Chia.
"Ganggu aja lo!" Bisik sepupu Asta itu tepat di telinganya.
Lihat kan? Gue cuma dianggap pengganggu sama mereka. Chia mengambil badge name yang tak sengaja terinjak olehnya. Ada nama Chika Angela pada badge name itu. Ya, pasti milik gadis yang ditindas tadi.
Chia menghampiri gadis yang masih jongkok sambil menangis dan memunguti makanannya yang berceceran di tanah. Chia tampak prihatin melihat rambutnya yang kotor dan baju seragamnya berantakan. Ia jadi teringat dirinya sendiri dulu. Bahkan kondisi Chia lebih parah dari gadis itu.
"Lo gak apa-apa?" tanya Chia datar sambil mengulurkan badge name pada gadis itu.
Alih-alih mendapatkan jawaban, gadis yang baru ditindas itu justru melotot ke arah Chia. Chika langsung merebut badge name-nya dengan satu gerakan.
"Jangan ikut campur urusan orang!"
serunya sembari menatap tajam ke arah Chia. Chika melenggang begitu saja meninggalkannya.
Harusnya tadi gue puter balik aja. Chia mengendikan bahunya sambil menatap dingin kepergian Chika.
● ● ●
"Chia tangkap!"
Chia yang baru kembali dari ruang klub basket sambil membawa peralatan bersih-bersih, sontak kaget melihat sebuah botol air mineral melayang ke arahnya. Buru-buru ia menjatuhkan peralatan yang dipegangnya. Lalu menangkap botol air mineral itu. Sedikit saja tadi ia terlambat, botol air mineral itu pasti mengenainya.
__ADS_1
"Woi pelan-pelan dong!" Seseorang tiba-tiba berdiri di belakang Chia dan langsung menaruh handuk di wajah manisnya.
Chia segera mengambil handuk itu dari wajahnya. Ia menatap Fachri yang telah berdiri di sampingnya sambil terkekeh. Chia sedikit terkejut. Karena ia terlalu fokus pada botol air mineral tadi, ia tak menyadari bahwa Fachri tengah berjalan ke arahnya.
"Suami lo aki-aki yah? Dia lupa lagi ngambil handuk sama airnya tuh!" Kali ini Fajar, laki-laki yang tadi melemparkan botol minuman ke arah Chia, berseru dari tengah lapang sambil tersenyum menggoda ke arahnya.
"Oi! Jangan sebut Riga suaminya Chia dong!" Lagi-lagi Fachri protes pada tindakan Fajar, sedangkan Fajar hanya terkekeh.
"Anterin gih!" perintah Fachri sambil menatap lembut ke arah Chia.
Chia terdiam sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk pelan dan beranjak pergi.
Brukk! Tiba-tiba Chia mendengar suara botol yang jatuh lagi. Ia menoleh ke belakang sesaat dan mendapati Fachri mengelus-elus kepalanya. Chia berjalan kembali dan mengabaikan Fachri yang tersenyum samar ke arahnya.
Sesaat kemudian ia mendengar suara Fajar yang berteriak sambil tertawa.
● ● ●
Riga tersontak dari lamunannya. Seseorang tiba-tiba saja datang dan mengulurkan handuk padanya. Ia terdiam. Ia mulai mengingat sesuatu. Ia benar-benar melupakan handuk dan botol air mineralnya yang sudah ditaruh pengurus klub basketnya di pinggir lapangan.
Riga menghela napas. Bagaimana ia bisa jadi pelupa seperti ini. Hal kecil seperti handuk pun bisa ia lupakan. Ia menghela napas lagi. Ia tahu seseorang yang mengulurkan handuk padanya adalah Chia, pengurus klub basketnya, atau barangkali asisten pribadinya. Ah entahlah. Masa bodoh dengan status gadis itu.
Riga mengeluarkan kepalanya dari dalam aliran air. Ia mengangkat kepalanya yang masih basah itu sembari menegakkan badannya yang tadi membungkuk. Ia terkejut ketika menatap seseorang di sebelahnya.
Gue pikir Chia. Komentar Riga saat melihat gadis bernama Mara tersenyum ke arahnya.
"Lo lupa bawa handuk lo kan? Nih pake punya gue dulu. Kebetulan gue selalu bawa handuk kecil di tas gue," jelas gadis itu masih menyunggingkan senyumannya.
__ADS_1
"Thanks!" Riga meraih handuk itu dan menaruhnya di atas rambutnya yang basah.
"Ada apa?" tanya Riga datar.
Gadis itu tertawa pelan. "Lo tau aja gue ada perlu. Gue mau bayar utang sama lo."
Gadis itu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ia lalu menunjukkan sebuah kotak makan padanya. Riga tersenyum.
"Gue pikir lo gak bakal turutin permintaan gue, mengingat seberapa kerasnya lo ngehindar dari gue." Riga mengendikan bahu. Gadis itu tersenyum getir.
"Sorry deh gue punya alasan sendiri kenapa gue kayak gitu, dan gue gak pengen lo nanya alasan itu apaan." Gadis itu terkekeh.
"Ok!" Riga mengangguk pelan.
Ah, sebenarnya sejak tadi perhatiannya terbagi. Sejak tadi Riga memerhatikan gerak-gerik seorang gadis yang bersembunyi dibalik pohon di depan sana. Ya, sejujurnya Riga tak terlalu peduli jika pengurus klub basketnya itu bersembunyi di sana.
"Kalo gitu gue pergi dulu yah. Besok gue ambil kotak makannya lagi." Gadis di hadapan Riga kembali menyita perhatiannya.
"Lo gak perlu pergi ke mana-mana," ucap Riga cepat, membuat Mara bertanya-tanya.
"Temenin gue makan! Lo pikir gue bakal habis makan ini semua?" dalih Riga.
Mara tertawa, lalu mengekor di belakang Riga dan duduk di sampingnya di sebuah kursi di dekat pancuran. Riga mulai membuka kotak makannya dan mulai memakan sosis yang berbentuk gurita. Namun, matanya masih fokus menatap gadis yang bersembunyi di belakang pohon.
Kalo lo gak mau ngasih tau hubungan lo sama cowok itu, biar gue yang cari tau! Kalo lo emang pacar gue, lo harusnya cemburu. Riga langsung menepis pikiran itu dari kepalanya ketika melihat Chia yang bersembunyi tadi melenggang pergi dengan cepat. Riga terperangah sesaat.
Apanya yang pacar! Dengusnya.
__ADS_1
● ● ●