Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 18 : U Can’t Leave Me (2)


__ADS_3

"Hei anak kecil yang lagi ngurung diri di kamar! Buka pintunya!"


Mara mendongakkan kepalanya, ketika suara ketukan pintu diiringi suara familier seseorang. Namun, ia tak beranjak sedikit pun, bahkan sekedar untuk menjawab seruan seseorang di balik pintu kamarnya pun, tidak dilakukannya.


Ah, ia malu. Rasanya keadaan di sekitarnya menjadi gila seketika, ketika Mara mengingat-ingat kembali apa yang dilakukannya kemarin siang. Perilakunya yang tidak terkontrol ketika sedang marah itu, membuatnya merasa sangat malu.


Pasti Fachri bakal bilang gue cewek aneh, karena tiba-tiba bikin heboh di ruang guru, nampar dia berkali-kali, dan marah-marah gak jelas kayak orang kesurupan!


Mara menundukkan kepalanya kembali. Ia menenggelamkan wajahnya lagi pada boneka beruang merah muda kesayangannya, yang sejak tadi dipeluknya. Dasar Mara bego! Umpatnya di dalam hati.


"Kalo gak dibuka, gue dobrak yah!"


Mara mendengus, ketika suara sahabatnya itu terdengar kembali. Namun ia tak ingin keluar sekarang. Tidak dengan kondisinya saat ini yang sedang kacau balau.


"Ya udah kalo beneran mau didobrak!"


"Terserah! Lagian gue udah megang ponsel di tangan, dengan jari di posisi tombol hijau, siap nelpon polisi. Lo dobrak pintu kamar gue, saat itu juga polisi bakal dateng nangkap lo, dengan tuduhan cowok psikopat gila yang dateng buat gangguin gue!" Mara berbohong. Nyatanya ia masih meringkuk di atas kasur sambil memeluk boneka kesayangannya.


"Yang psikopat itu Asta! Bukan gue!"


"Dulu sih iya! Sekarang lo sama aja sama raja iblis itu!" Mara tak mau kalah.


"Ya udah kalo lo gak mau ketemu gue. Tadinya gue mau ngajak lo makan es krim. Terus mau minta maaf dan jelasin semua, karena gue udah bohong sama lo."


"Akhirnya lo sadar juga! Harus yah sadarnya karena lo ngobrol sama tengkorak dulu?" Mara memutar kedua bola matanya.


"Enggak tuh! Gue habis semedi di kawah gunung Tangkuban Perahu. Nyari tahu setan apa yang udah bikin lo kesambet!"


Mara melongo. Kali ini Ia telah melepaskan pelukannya pada boneka beruang. Ia duduk di atas kasurnya. Matanya masih memandangi bayangan seseorang yang berdiri di balik pintu kamarnya.


"Iya! Setannya kan elo!" Mara masih berkata dengan nada ketus.

__ADS_1


"Terserah! Jadi mau ikut gak nih?"


"Enggak!"


"Ya udah! Jangan nangis kalo lo gak ketemu gue lagi."


Mara tertegun. Ucapan laki-laki itu barusan, membuatnya teringat kembali dengan berita yang kemarin didengarnya. Sebuah kabar berita yang membuatnya lepas kendali seperti kemarin. Bahkan perkataan Fajar, ketua kelasnya, masih terngiang-ngiang dengan jelas di kepalanya.


"Hei! Gue lihat Fachri datang sama bokapnya ke sekolah!"


Mara memutar kedua bola matanya, ketika Fajar tiba-tiba berdiri di depan kelas, dan mengambil seluruh perhatian teman-temannya di menit terakhir menuju bel masuk.


Yang membuat Mara bersikap seperti itu adalah karena ucapan Fajar tak berarti sama sekali.


Emangnya apa yang salah kalo Fachri bawa bokapnya ke sekolah? Tiap semester juga gitu kan? Paling-paling ngobrolin soal nilai Fachri yang diluar ekspektasi bokapnya doang. Pikir Mara di dalam hati.


"Lihat kondisi Fachri gak lo semua? Dia babak belur lagi. Ada yang bilang ke gue, kalo dia habis dipukulin sama Asta cs. Tapi gue gak tahu kenapa. Yang gue tahu, saat ini Fachri dan bokapnya lagi ngurusin surat-surat kepindahannya dari sekolah."


Tentu saja hal itu membuat seluruh perhatian tercurahkan kepadanya.


Dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Fajar, tubuhnya bergerak lurus menuju tempat laki-laki itu berdiri. Ia bahkan mengabaikan perhatian setiap pasang mata yang memandangnya dengan bingung.


"Siapa yang sebarin berita gak jelas kayak gini?" Mara nyaris membentak Fajar ketika ia berdiri tepat di hadapannya.


"Mmh ... Itu ... Itu ...." Fajar terlihat kikuk.


Mara tahu ia bersikap berlebihan saat ini. Namun, ia juga harus mengetahui hal yang membuat jantungnya berhenti berdetak selama dua detik tadi. Siapa pun akan merasa syok mendengar sahabat baiknya akan pergi meninggalkannya, meski bukan untuk selamanya.


"Sorry, Ra. Gue bohong dikit tadi," Fajar terlihat bingung. Sepertinya ia merasa bersalah.


"Maksud lo?"

__ADS_1


"I-iya sebenernya gak ada yang ngomong langsung hal ini ke gue. Gue tadi gak sengaja denger obrolan Dipa cs di kantin, dan yang tadi gue sebutin itu, yang lagi diobrolin sama mereka," jelas Fajar panjang lebar.


"Brengsek!!" Umpat Mara dengan keras ketika pikirannya telah kembali.


Buru-buru ia turun dari kasurnya dan berlari menuju pintu kamarnya. Dibukanya pintu itu dengan satu gerakan. Tanpa basa-basi Mara langsung memeluk laki-laki yang berdiri memunggunginya.


"Ngapain lo?" Fachri tampak terkejut.


"Diem! Jangan balik badan! Nengok sedikit, gue colok mata lo!" Mara mendengus.


Mara mempererat pelukannya, meski ia tahu laki-laki itu sedang meronta dan berusaha melepaskan diri. Namun, akan lebih baik seperti itu saat ini. Mara tak ingin laki-laki itu melihatnya menangis seperti sekarang. Bukankah akan sia-sia usahanya untuk menekan suara isakannya sendiri, jika akhirnya laki-laki itu melihatnya?


"Please jangan pergi! Jangan pergi kemana pun! Gue gak mau ditinggalin sama lo! Gak masalah lo mengabaikan gue kayak waktu itu. Gak masalah lo cuekin gue kayak sebelumnya. Asal lo tetep di sini. Gue pengen lo tetep di sini."


Ah, air mata Mara semakin deras. Meski bersusah payah ia menahan agar suaranya tak terdengar seperti suara rintihan orang menangis, tapi tetap saja yang keluar suara isakannya. Menyebalkan!


Mara terkejut ketika pergelangan tangannya digenggam laki-laki yang sedang dipeluknya. Dengan gerakan pelan dan lembut, laki-laki itu melepaskan pelukan Mara. Ketika pelukannya benar-benar terlepas, Mara langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Meski ia tak bisa melihat apa pun saat ini, ia bisa merasakan pelukan hangat dari sahabatnya itu. Walau hanya beberapa menit saja. Lalu kini rasa hangat menjalar di kepalanya. Ya, ia tahu tangan lelaki itu sedang mengusap puncak kepalanya dengan lembut, dan yang dilakukannya itu justru membuat tangis Mara semakin keras.


"Pantesan lo gak mau keluar kamar. Ternyata lo belum siap buat makan es krim bareng gue."


Mara makin terisak saat mendengar suara lembut yang keluar dari mulut sahabatnya itu. Suara yang dulu selalu menenangkan dan menghiburnya saat ia sedang kacau balau seperti saat ini.


"Gue pulang dulu yah. Besok gue janji bakal bawain es krim yang banyak buat lo."


Mara mengintip sedikit dari celah-celah tangannya. Meski kepalanya tertunduk dan pandangannya terbatas, ia tahu laki-laki itu telah berjalan meninggalkannya.


Tanpa berbasa-basi, Mara langsung masuk ke dalam kamarnya. Setelah mengunci pintu rapat-rapat, ia pun membanting tubuhnya di atas kasurnya. Ia menangis sekeras-kerasnya, tak peduli dengan ketukan serta seruan khawatir dari ayah, ibu dan kedua adiknya.


● ● ●

__ADS_1


__ADS_2