Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Tujuh


__ADS_3

Gue meninggalkan sebuah amplop coklat berisi file di apartemen lo. Anterin. Bawa ke kantor. Gue tunggu sampai 30 menit.


Chia berdecak saat mendapati chat dari Jun. Mentang-mentang kerjaan Chia hanya di rumah saja, pria itu dengan seenak jidat menyuruhnya tanpa memberi kompensasi waktu.


Chia kembali menatap layar laptop. Setelah menyimpan hasil pekerjaannya, Chia segera mematikan benda elektronik itu dan bersiap menuju kantor pengacara tempat Jun bekerja.


∆ ∆ ∆


Mara baru saja keluar dari ruangan kerjanya. Dia hendak pergi ke kantin kantor di lantai 1 karena sekarang sudah waktunya jam istirahat. Siapa yang mengira jika orang yang paling dihindarinya, justru telah menunggu di dekat tangga. Orang yang paling paham jika Mara tidak akan menaiki lift kecuali kepepet. Mara lebih suka menggunakan tangga.


"Mara," panggil Sera dengan senyuman yang tercetak di wajahnya.


"Kamu kapan bakal bilang sama Mara?"


Lidah Mara kelu. Tenggorokannya tercekat. Siapa yang mengira jika perempuan yang barusan dicium kekasihnya itu adalah Sera? Sahabat baiknya? Sahabat yang selalu Mara percaya sejak mereka duduk di bangku perkuliahan. Sahabat tempat Mara bersandar. Sahabat yang tahu betul apa yang membuat Mara berubah seperti sekarang ini. Sahabat, yang Mara pikir akan selalu mendukungnya dikala suka dan duka. Nyatanya, dia telah menjadi orang yang berada di paling depan untuk menusukkan pedang. Hidup memang terkadang selucu itu.


"Iya, Sayang. Secepatnya. Kamu harus sabar. Ini aku juga lagi berusaha menjaga jarak. Kamu tahu 'kan, aku udah menganggap dia kayak adik aku. Kalau pun nanti kami putus, aku ingin kami putus dalam keadaan baik. Aku gak mau ke depannya, setelah dia tahu kita pacaran, dia malah nganggap kita yang enggak-enggak." Gamma mengelus puncak kepala Sera dengan sayang.


"Tapi aku berasa jadi orang jahat, Gam. Aku jadi berasa sebagai orang ketiga di antara kalian."


Mara tersenyum miring begitu seluruh rekam jejak dua hari lalu terputar lagi di kepalanya. 'Aku-Kamu?' Cih! Menjijikkan. Mara bahkan tidak pernah memakai panggilan itu selama 6 bulan pacaran dengan Gamma.


"Gam? Pernah gak sih lo kepikiran kalau selama ini gue gak beneran sayang sama lo?"


"Eh? Kok gitu sih Sayang ngomongnya? Coba deh sini cerita sama gue, lo kenapa Sayang?"


"Gak usah basa basi busuk deh lo."


"Mara? Lo kenapa sih, Sayang? Lagi PMS?"


"Enggak. Gue cuma lagi memudahkan jalan supaya lo sama Sera gak usah backstreet lagi. Lo gak perlu cape-cape cari alasan mutusin gue."


"Sayang, kok lo ngomong gitu. Lo salah paham. Sera yang godain gue duluan. Gue udah nolak dia berkali-kali. Percaya sama gue. Gue gak mau putus sama lo. Gue sayang sama lo."

__ADS_1


'Dasar cowok brengsek!' umpat Mara dalam hati. Sejujurnya dia kecewa karena Gamma tidak mengelak saat dirinya menyinggung nama Sera. Bodohnya lagi, Gamma berusaha mengadu domba antara dirinya dengan sahabatnya itu?


Ck! Tanpa perlu Gamma adu domba pun, sekarang Mara sudah tahu bagaimana kebusukkan sahabat tersayangnya itu. Terlebih lagi, bagaimana sikap asli seorang Sera di belakangnya. Mara sudah tahu.


"Gue minta maaf Mar. Gue gak ada niat mau ngerebut Gamma dari lo," ucap Sera dengan wajah penuh penyesalan.


Mara tersenyum miring. Sesungguhnya, perkara soal perselingkuhan antara Sera dan Gamma, tidak pernah benar-benar membuat Mara frustrasi dan kecewa malam itu. Namun ada hal lain yang tak bisa Mara maafkan dari seorang perempuan bernama Sera.


Hei! Ayolah! Bagaimana bisa Mara terpuruk hanya gara-gara kekasihnya selingkuh? Sementara Mara adalah pemilik julukan 'Wanita Penakluk Lelaki' dari sahabatnya tersebut. Sera memberikan julukan itu karena Mara telah memiliki mantan kekasih sebanyak 30 orang dalam 3 tahun saja.


Jadi, lupakan apa itu kata sakit hati. Mara tidak pernah memakai hati saat bersama dengan para kekasihnya itu. Ya, hati Mara sudah mati. Begitu pun emosi di dalam dirinya. Semuanya pergi bersama dengan sebuah nama yang memilih hilang dan tak akan pernah kembali. Tepatnya, tak akan bisa kembali bagaimana pun caranya.


"Gue lapar." Mara memilih berjalan melewati Sera begitu saja. "Ah, yah. Tolong jangan pernah nyapa gue di mana pun dan kapan pun lo lihat gue. Bahkan dalam situasi apapun. Jangan pernah. Bagi gue ... nama lo, udah terhapus dari daftar kehidupan gue."


"Oh satu lagi! Congrats buat hubungan lo sama Gamma. Lo paling tahu soal gue 'kan? Lo tahu gue gak bakalan galau apalagi gara-gara putus cinta. Jadi lupain deh permintaan maaf lo yang cuma basa-basi itu." Mara tertawa.


"Semoga langgeng sama mantan gue yang ke tiga puluh satu," lanjut Mara sambil melenggang santai menuruni tangga. Tanpa Mara sadari, Sera terus memandangi punggung Mara yang kian menjauh dengan sorotan tajam sambil mengepalkan tangan.


∆ ∆ ∆


"Lo gak berubah yah? Dari dulu doyannya naik sepeda," ujar Adit sambil tersenyum.


Beberapa orang yang melintas di depan kantor itu--terutama kaum hawa--tampak terpukau dengan Adit. Mereka sesekali meliriknya sambil berbisik-bisik sumringah sendiri. Chia menahan senyum mendekati Adit.


"Lo juga gak berubah. Lo selalu punya daya tarik sendiri yang bikin cewek-cewek jadi heboh gak jelas. Padahal baru lihat senyum lo doang," kekeh Chia.


"Sayangnya ... yang di depan gue gak pernah heboh, meski lihat senyum gue doang," balas Adit tanpa melepas senyumannya.


"Gue udah terlalu sering lihat."


"Tapi gak pernah jatuh hati?"


Gerakan tangan Chia yang sedang memegang stang sepeda mendadak terhenti. Dia terpaku. Tak pernah terpikirkan bahwa Adit akan menanyakan hal seperti itu. Meski pertanyaan itu bukanlah yang pertama kali.

__ADS_1


"Lo lagi apa di sini? Gak kerja?" tanya Chia sambil mengalihkan pandangan.


"Enggak. 'Kan lagi istirahat," jawab Adit santai. Bukan perkara lagi baginya jika seorang Cometta Fuschiara selalu mengalihkan topik pembicaraan.


"Oiya, gue lupa."


"Gue mau makan siang. Gue pengen bareng sama lo. Lo wajib mau dan gak boleh nolak. Ya?"


Mata Chia mengerjap sambil melihat ke arah Adit. Dia tampak berpikir. Teringat lagi pekerjaan menulisnya di rumah. Untung saja belum jatuh tempo deadline. Kepala Chia mengangguk, menandakan setuju.


"Sepeda lo tinggal di sini aja. Kita ke tempat makan pake motor gue aja yah?" tawar Adit.


Chia mengangguk lagi. "Ya udah deh. Yuk."


"Lo tunggu di sini. Gue ambil motor dulu."


Chia mengiyakan sambil mengamati Adit yang mulai berlari ke belakang gedung, karena parkiran khusus karyawan terpisah. Ada tempat khusus yang telah disediakan di belakang bangunan setinggi tiga lantai itu.


Disela menunggu, sebuah motor hitam besar memasuki pekarangan gedung kantor. Pengemudinya memarkirkan di seberang. Area lain yang ada di sisi kanan bangunan. Mata Chia masih mengamati setiap gerak orang yang mengenakan jaket jeans hitam itu.


Pengemudi itu turun lalu menaruh helm di atas motor. Tanpa peduli dengan rambutnya yang agak berantakan, pengemudi yang rupanya seorang lelaki itu berjalan santai menuju pintu masuk kantor.


Entah kenapa Chia merasakan hal aneh begitu melihat lelaki itu. Ada firasat yang tiba-tiba terbesit dibenaknya. Chia merasa mengenali orang itu. Tadinya dia hampir mendekati si pengemudi, namun niat Chia urung begitu melihat wajah juga perawakan fisiknya. Pengemudi itu orang yang berbeda. Bukan orang yang Chia pikir kenal.


Chia menelan salivanya lalu menghela napas. "Mungkin cuma pikiran gue aja."


∆ ∆ ∆


**Ada olang balu lagi gengs. Dia siapa yah? Atau cuma olang lewat? 😫😫


udah ada yang sadar belum asta kemana?


eh baru ngeuh juga ternyata riga sama aja gak nongol nongol 🤭🤭**

__ADS_1


__ADS_2