Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 13 : U’r Feeling (2)


__ADS_3

"Huh!"


Mara membanting tubuhnya di atas kursi kantin, tepat di samping seorang gadis yang sedang melongo menatapnya. Mara menatap lurus ke depan sambil melipat kedua tangannya di depan dada, mengabaikan tatapan murid-murid lain yang sejak tadi memperhatikannya di sudut-sudut kantin di lantai dua.


"Kenapa lo?"


Mara mendelik sebentar pada temannya itu lalu mendengus kesal.


"Bayangin deh, Chik! Dicuekin, gak diajak ngobrol, apalagi digangguin mister psikopat itu adalah impian gue. Tapi kok bisa-bisanya gue kesel kayak gini, waktu papasan sama dia di koridor tadi, dan dia nyuekin gue. Bener-bener tuh cowok! Maunya apa sih?!" Mara mulai bicara dengan emosi yang meledak-ledak.


Gadis di samping Mara tak berkomentar, ia justru tertawa, membuat Mara semakin cemberut. "Lo suka kali sama dia." Gadis itu menjawab dengan enteng sambil menyinduk nasi goreng di atas meja.


"Gue? Sama raja iblis itu?" Mara menatap gadis yang sedang memakan nasi gorengnya itu dengan kening yang berkerut sesaat.


"No way!" Mara memutar kedua bola matanya.


"Kalo lo gak suka, ngapain lo masih pacaran sama dia?"


"Gue gak pernah nganggap dia pacar gue yah. Ih amit-amit deh!"


"Gak nganggep pacar, tapi lo berkeliaran terus di sekitar dia setiap hari."


"Apaan sih! Di mata gue, dia cuma psikopat sinting! Bukan pacar gue! Titik." Mara mulai sewot saat gadis bernama Chika menggodanya.


"Trus kenapa lo ngomel-ngomel soal dia cuekin lo? Ini udah pasti karena lo suka sama dia. Dan pastinya, karena lo beneran nganggap dia pacar lo."


Uh, Mara sangat kesal, saat menatap senyuman jahil dari gadis yang telah menjadi temannya selama satu bulan itu.


"Kalo lo gak suka dia, lo cuek aja lagi dengan sikapnya saat ini. Justru bagus kan kalo dia cuekin lo?" Gadis itu dengan santai menyeruput es teh manis di hadapannya.

__ADS_1


Mara tak menjawab. Ia menarik pandangannya, lalu menatap sekeliling. "Bukan itu yang jadi masalah buat gue!" Mara mendengus.


"Lo inget kan kejadian waktu Asta sama Riga berkelahi di lapangan?"


Gadis di sampingnya itu menganggukkan kepala sambil mengunyah nasi goreng di dalam mulutnya.


"Sejak kejadian itu, sampai sekarang mister psikopat itu belum ngomong-ngomong lagi sama gue. Ketemu sama gue aja engga. Nganter jemput gue apalagi. Waktu gue obatin aja, dia diem terus kayak mayat hidup. Sekarang dia ngilang gak jelas gitu aja. Kayak lagi ngehindar dari gue gitu."


"Cieee ... Yang lagi dicuekin ... Cieee ... Yang lagi kekurangan perhatian. Sini gue aja yang merhatiin lo!" Mara melongo saat Chika menertawainya.


"Iih nih anak! Lo bukannya tolongin gue." Mara mendelik sebentar ke arah Chika. "Gue lagi takut nih. Tuh orang kan udah kayak tsunami. Yang tiba-tiba aja ada gempa. Terus air di laut mulai surut. Terus gak lama tsunami datang deh. Sama banget kayak mister psikopat itu!"


"Tiba-tiba aja berkelahi sama Riga. Terus sekarang ngilang gak jelas. Dan gue harus siap-siap nunggu bencana dari dia gitu?" Mara mulai frustasi.


Ia menjatuhkan kepalanya di atas meja. Lalu digaruk-garuknya kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Ia pun menginjak-injakan kakinya ke lantai. Ia tampak merajuk saat gadis di sebelahnya itu cekikikan melihat tingkahnya.


"Lo harusnya seneng lagi, Ra. Dicintai sama cowok paling berkuasa di sekolah ini itu amazing banget. Dijamin lo gak bakal diganggu siapapun deh. Gak kayak gue. Nothing. Dan pernah jadi korban penindasan Renata cs."


"Lo cewek tangguh, Chika. Gue yakin lo pasti dapetin cowok yang jauh lebih baik dari gue. Percaya deh, ada di posisi gue tuh gak enak." Mara tertawa, berusaha menghibur gadis di sebelahnya itu.


"Emang! Gue pasti dapet yang lebih dari lo!" Gadis itu tertawa.


"Yee lo mah!" Mara pura-pura cemberut sambil melepaskan genggamannya.


"Kalo lo segitunya ketakutan sama dia. Menurut gue, dari pada lo nunggu kapan tuh bencana datang. Mendingan lo samperin aja tuh sumber bencana. Cegah biar gak banyak orang lain kena imbasnya."


Mara terdiam. Ia termenung sesaat. Tiba-tiba ia bangun dan membetulkan posisi duduknya. Ia menatap temannya sejenak lalu beranjak pergi.


"Mau kemana?" Gadis itu mengerutkan dahinya.

__ADS_1


Mara melirik sebentar ke arah gadis itu yang masih duduk sambil menatapnya dengan polos.


"Mau cari biang bencana. Mau gue sumpel mulutnya pake sendal biar gak berulah lagi!" seru Mara ketus sambil berlalu pergi.


"Emang lo punya sendal?"


"Mau pinjem dulu sama mang-mang penjaga sekolah!"


Gadis itu tertawa. "Terus ini siomay mau diapain? Belom dimakan sama sekali. Udah gue pesenin dari tadi!"


Mara menghentikan langkahnya sesaat. Ia berbalik badan dan menatap temannya itu.


"Kemanain aja suka-suka lo. Mau lo lemparin ke mukanya dedemit ballerina juga boleh deh. Terserah lo!"


"Beres!" Gadis itu tertawa lagi sambil menatap Mara dan mengacungkan jempolnya.


Mara tersenyum lebar lalu berjalan meninggalkan kantin lantai dua setelah melambaikan tangannya.


● ● ●


Sejak tadi mata Chia masih memandangi kedua gadis yang sedang asyik mengobrol di kejauhan. Sejak kapan mereka sedeket itu? Terus terang Chia tak suka dengan kedekatan pacar Semesta Udaraja dengan gadis yang duduk di sebelahnya. Chia meremas sendok yang sejak tadi dipegangnya. Ah, perasaannya tak menentu.


"Chia?"


Chia menoleh pada Sani, gadis yang memanggilnya tadi.


"Lo gak makan? Ntar keburu dingin loh!"


Chia beralih menatap nasi goreng di hadapannya. Ia hampir saja lupa. Alasannya datang ke kantin lantai dua ialah untuk mencicipi nasi goreng yang paling enak menurut Sani dari ketiga kantin yang ada. Chia mengangguk dan menyinduk nasi gorengnya tanpa berkata apapun.

__ADS_1


● ● ●


__ADS_2