Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Delapan Belas


__ADS_3

Mara turun dari dalam mobil. Kemudian Fachri mengikutinya. Ada perasaan bingung yang singgah di benak Fachri. Ketika, lelaki itu melihat wajah Mara kian memucat dengan ekspresi tenangnya. Mara melempar senyum getir sebelum akhirnya melangkah lambat-lambat.


"Ayo!" ajak Mara lirih ketika mendapati Fachri masih bergeming. Terdiam di tempat. Tak bergerak sama sekali.


Dengan berat, Fachri berjalan mengekor di belakang sahabatnya itu. Keduanya terhenti di depan sebuah gundukan tanah, di antara gundukan-gundukan yang lain. Ah tidak, gundukan di depan Mara itu sudah dilapisi marmer mewah sekarang. Tidak seperti dulu, saat pertama kali Mara ke sana.


Fachri mengedarkan pandangan. Menatap lamat-lamat dalam keheningan. Mengamati marmer berwarna abu-abu dan batu nisan yang serupa. Ada sebuah nama dan tanggal yang tertera di sana. Nama seseorang yang Fachri kenal.


"Seperti yang lo lihat ... ini tempat tinggal Asta sekarang. Asta ada di sini ... selama ini," ucap Mara lirih dengan bahu bergetar.


Fachri buru-buru memeluk tubuh lemah gadis di sampingnya itu. Detik itu juga, suara isak tangis yang menyayat hati Fachri terdengar hampir ke seluruh sudut area pemakaman. Hati Fachri ikut perih. Ikut merasa pilu mendengar kerapuhan sahabatnya itu.


Ya, hari itu Mara membawanya menuju ke sebuah kawasan pemakaman. Pemakaman itu tidak terlalu besar. Sepertinya pemakaman untuk sebuah keluarga saja, dan Fachri bisa menebak kalau tanah pemakaman di sana memang khusus untuk keluarga besarnya Semesta Udaraja.


Fachri tidak menyangka, bahwa misteri kepergian Asta justru berakhir seperti ini. Fachri tidak pernah menduga kalau ternyata Asta telah pergi untuk selama-lamanya. Asta benar-benar meninggalkan Maranya seorang diri. Sekarang, Fachri sungguh sadar alasan Mara serapuh ini.


Mara belum bisa menerima kepergian Asta. Mara masih belum rela ditinggal pergi Asta. Mara tidak percaya bahwa kini dia sendirian tanpa seorang Asta di sisinya. Mara yang tegar berusaha menahan rasa sakit di dadanya setiap hari. Maranya, sungguh telah menjadi wanita yang kuat.


Meski dia rapuh, dia tetap berusaha menjalani hidupnya dengan baik. Berusaha tidak membuat khawatir orang tuanya. Berusaha tersenyum meski hatinya hampa dan hampir gila. Maranya ternyata memang gadis yang tegar. Meski dengan kepura-puraan. Itulah cara Mara mencoba mempertahankan diri agar tidak terjatuh ke dalam lubang kegelapan.


Fachri bangga dan merasa bersalah sekaligus. Beberapa hari ke belakang, Fachri sempat menuduh Mara yang tidak-tidak. Fachri menilai Mara terlalu egois. Fachri menilai Mara adalah gadis yang bodoh. Nyatanya, dirinyalah yang bodoh. Fachri yang bodoh karena tidak tahu apa-apa justru menilai Mara seperti itu. Fachri yang bodoh karena tidak berusaha menguatkan Mara yang sedang terluka.


Bodoh! Bodoh! Bodoh! umpat Fachri di dalam hati.


∆ ∆ ∆


Hari ini, Riga sengaja melajukan mobil sport putihnya membelah jalan tol menuju ke Bandung dengan kecepatan sedang. Ada tempat yang ingin dikunjunginya. Sekalian, dia akan mengurus bisnis perusahaan ayahnya di sana.


"Jadi, kasih tau gue, Ren. Ada apa dengan Asta?"


Perempuan di depan Riga itu menyesap capucchinonya dengan perlahan. Riga menanti Renata sabar dalam diam. Kedua mata mereka saling beradu. Namun, ada yang berbeda dengan sorot yang dipancarkan oleh sepupunya itu. Manik mata Renata terlihat sedih dan sendu.


"Tiga tahun lalu, Asta ... mengalami kecelakaan tragis. Saat itu, dia lagi mau nolongin gue. Tapi di jalan, entah gimana ceritanya Asta kecelakaan. Mobil Asta meledak dan terbakar. Waktu itu ... Asta ... Asta ...." Kata-kata Renata tiba-tiba tercekat di tenggorokan. Rasanya sulit sekali untuk lolos. Hanya air mata yang berhasil bebas dan menjatuhkan dirinya dengan bebas di pipi perempuan cantik itu.


Riga tampak tercengang. "Asta ... masih ada di dalam mobil waktu kebakaran itu?" tanya Riga menerka-nerka.


Dalam linangan air mata, kepala Renata mengangguk lemah. Bahunya naik turun. Terdengar suara sesenggukan yang membuat Riga merasa ikut prihatin. "Tubuhnya udah hangus kebakar waktu ditemukan."


"Kalo aja waktu itu Asta gak pergi buat nolong gue. Kalo aja waktu itu gue gak ngehubungin Asta. Semua itu gak akan kejadian. Mungkin Asta masih di sini. Mungkin gue gak akan pernah kehilangan dia," jelas Renata dengan tersedu-sedu.


"Jangan salahin diri sendiri, Ren. Hidup dan mati udah ada yang ngatur. Mungkin memang udah takdirnya Asta mengalami kejadian seperti itu. Lo harus sabar yah," ucap Riga mencoba menguatkan.


Padahal hatinya ikut merasa getir. Apalagi mendengar tangisan Renata. Seketika itu Riga membayangkan bagaimana kondisi Asta saat ditemukan. Mendadak Tubuh Riga ikut merasa lemas. Punggungnya merosot dari sandaran kursi cafe yang tidak jauh dari toko kue tempat dirinya bertemu Renata tadi. Pikiran Riga benar-benar kosong. Dia masih tak percaya saat Renata mengabarkan kabar duka tersebut.


Beep ... beep ... beep ....

__ADS_1


Suara dering ponsel membuat pikiran Riga kembali ke jalanan tol yang saat itu cukup lengang. Riga melirik ponselnya yang masih berdering. Dia meraih headset dengan tangan kirinya. Lalu memasangkan benda itu di telinga.


"Ya, halo," sapa Riga datar. Sambil menyetir dirinya membagi fokus untuk mendengarkan seseorang yang berbicara di balik ponselnya. "Ya, katakan kepada mereka bahwa aku akan sampai dalam waktu setengah jam lagi. Ya. Oke."


Kemudian, Riga menutup telepon dan mempercepat laju mobilnya.


∆ ∆ ∆


"Minum dulu, Mar."


Mara menoleh dan mendapati sebuah gelas berisi es cendol yang disodorkan Fachri di depannya. "Thanks," ucap Mara.


"Sama-sama," jawab Fachri lembut kemudian duduk di kursi panjang tempat Mara duduk.


Keduanya terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Baik Mara maupun Fachri belum ada yang menyentuh es cendol di tangan. Fokus Mara masih memandangi pintu makam keluarga besar Asta di seberang sana. Sementara Fachri, sibuk mengamati sahabat kecilnya itu.


Tiba-tiba, kaki Fachri merasa kedinginan. Saat dilihat, sebagian isi es cendolnya tumpah di atas celana jeans yang dikenakan Fachri. "Yaaaah ...," sesal Fachri. "Es batunya meleleh. Doi udah gak sabar buat diminum. Lo buruan minum es cendol lo gih. Entar nasib lo kayak gue."


"Apaan sih lo," dengus Mara. Senyum tipis tercetak di wajah jelita gadis itu.


Melihat Mara tersenyum, Fachri jadi makin gencar menggodanya. "Cie yang senyum-senyum. Gitu dong. Itu baru Mara gue."


"Apaan sih, Fachriiii!" seru Mara gemas sambil menghujani Fachri dengan cubitan.


Hanya saja, gelas yang berisi penuh dengan cendol di tangan Mara itu, membuatnya agak kesulitan bergerak. Takut es cendolnya bernasib seperti Fachri, Mara menghentikan serangannya. Mara mendengus lalu mulai meminum es cendol itu. Rasa legit gula aren langsung menyebar di tenggorokan.


Garis lengkung simetris tercetak di wajah Fachri. Laki-laki itu mengulurkan tangan lalu mengacak rambut Mara pelan. "Sama-sama bawelku!"


Mara menghindar sambil cemberut. "Ih lo mah rese! Gak tau apa rambut gue di tata hampir setengah jam."


Fachri tertawa. "Lo mah mau ngajak gue ke sini aja dandannya udah kayak gitu. Gimana kalo lo mau ngajak gue ke pelaminan?"


"Gak akan ada yang ngajakin lo ke pelaminan. Dasar lo! Kelamaan jones sih," cibir Mara lalu meminum es cendol yang tinggal separuh dengan cepat. Mara menghabiskannya dengan satu tegukan. Dia terbatuk-batuk di akhir akibat tersedak.


"Yee ... makanya minum tuh pelan-pelan." Fachri menepuk-nepuk punggung Mara pelan sambil tertawa.


"Gue janji, gue bakal balikin lagi senyum Mara yang dulu," ucap Fachri setelah batuk Mara mereda.


"Caranya?"


"Ra-ha-si-a."


"Ih lo mah rese! Nyebelin!" jerit Mara sambil menghujani Fachri dengan berbagai macam serangan.


∆ ∆ ∆

__ADS_1


Chia tidak segera pulang. Dia bahkan mengabaikan ajakan Adit. Mood makannya tiba-tiba saja lenyap. Sejak tadi, dia berdiri di depan pintu masuk kantor pengacara milik Jun layaknya patung 'selamat datang'. Tidak bergerak. Tidak bicara. Mirip seperti patung. Chia ingin memastikan sesuatu. Dia sengaja menunggu seseorang keluar.


Hampir dua jam Chia berada di posisi seperti itu. Kakinya mulai terasa pegal. Chia penasaran dengan apa yang membuat seseorang yang ditunggunya itu begitu lama keluar. Mungkinkah orang itu sudah memiliki firasat bahwa Chia sedang menunggunya? Ah, lupakan. Rasanya tidak mungkin.


Baru satu detik yang lalu Chia memikirkan orang itu, yang ditunggu baru saja muncul. Saat ini dia sedang berjalan menuju ke arah Chia yang masih mematung di dekat pintu keluar. Sekali lagi, tatapan keduanya bertemu. Chia merasa tersihir lagi. Perasaan dan instingnya makin menguat begitu jarak mereka hilang selama dua detik.


Ketika orang itu telah melewatinya, Chia justru terdiam. Bergulat dengan pemikirannya sendiri. Antara syok. Antara terkesima. Antara tak percaya. Chia berlari menyusul orang yang telah bersiap menaiki motor besar berwarna hitam di parkiran. Namun tangan Chia, membuat gerakan orang itu terhenti.


"Gue gak mungkin salah orang," ujar Chia dengan suara lemah. Maniknya menelisik dalam bola mata yang sedang menatapnya balik. "Firasat gue mengatakan ... kalo lo ... adalah kakak gue."


Seseorang yang rupanya laki-laki bertubuh tinggi itu, mengernyitkan dahi sambil tersenyum getir. "Kakak?" tanyanya dengan heran.


Chia mengangguk mantap. "Iya. Kakak. Lo gak inget?"


Laki-laki itu menggeleng pelan.


"Delapan tahun lalu. Di halte bis. Saat itu, seorang pemuda meminta gue untuk menjadi adiknya. Seorang pemuda yang meminta gue tinggal bersama di rumahnya sebagai saudara. Seorang pemuda ... yang meminta gue untuk gak pergi meninggalkan dia, dan gue yakin ... orang itu lo."


Laki-laki itu tersenyum tipis sambil melepaskan cengkraman Chia dari lengannya. "Lo salah orang. Gue bukan orang itu."


"Tapi gue yakin!" seru Chia dan membuat gerakan tangan lelaki yang sempat kena arah Jun itu berhenti. Helm yang hampir digunakannya, kini masih tergantung digenggam di tangan dan tergantung di udara.


Chia mengamati lelaki itu dari atas ke bawah. "Meskipun dengan wajah berbeda. Meskipun penampilan lo berubah. Gue masih tetep bisa ngenalin lo. Gue tau, lo itu Asta. Semesta Udaraja. Iya 'kan?"


∆ ∆ ∆


tentang Asta udah yah gengs. Jangan tanyain lagi Asta kemana. doain aja biar amal ibadahnya diterima 🤧🤧🤧


tapi, siapa orang yg lagi diinterogasi Chia? beneran Asta kah?


semoga, dengan terbukanya fakta soal Asta, kalian masih betah buat baca cerita ini yah gengs 🤧🤧🤧


jangan lupa tetap dukung cerita ini dengan klik like.


biar aku makin semangat.


❤️❤️❤️❤️ NB : Untuk Mara yang asli, aku sejujurnya gak niat bikin alur season dua seperti ini. niat awalnya bikin cerita romance yang ringan ringan aja. tapi, tau kan aku seperti apa? penulis nyeleneh yang tadinya ingin membuat kisah romantis tapi malah berakhir tragis.. mau bikin komedi tapi malah jadi tragedi.


aku bisa apa? 😭😭 season dua ini beneran dibikin tanpa outline, tanpa sketsa, tanpa bayangan. semua murni aku serahkan kepada para tokoh alurnya akan dibawa seperti apa. dan saat jadi, bener bener di luar ekspektasi. tapi di samping itu, aku cukup puas dengan apa yg kutulis. mksudnya, meski aku beneran gak ada bayangan, tapi aku masih bisa lanjut sampai sejauh ini. biasanya stuck.. kayak cerita yg lain yg belum aku lanjut wkwkwk


beneran deh bukan ingin membuatmu merana dengan alur cerita yang diluar ekspektasi 🤭🤭 tapi aku berharap kamu akan menikmati cerita ini sampai selesai. 🤭🤭


semoga suka, terlepas dari cerita yang emang jauh dari bayangan 🤣🤣


Ps : love love untuk Maraku yang tercintah ❤️❤️

__ADS_1


dari Chia yang sekarang berbalik ingin menyiksamu (ketawa jahat 🤣🤣🤣)


__ADS_2