
Kok ke sini?" tanya Mara.
Mara melirik ke arah Asta yang telah melepas sabuk pengamannya. Lalu tanpa berkata apapun laki-laki itu keluar dari dalam mobil.
Ih! Dicuekin? Mara merengut. Kesal. Ia melepas sabuk pengaman sambil menatap Asta yang berjalan menghampiri pantai. Ia membuka pintu dan keluar dari mobil. Kemudian berjalan mengekor di belakang 'kekasih terpaksa'-nya itu.
Mara berdiri di samping laki-laki itu. Ia memerhatikan Asta yang bertelanjang kaki. Di tangan kirinya, laki-laki itu menjinjing sepasang sepatu kesayangannya. Sedangkan kaki Asta sibuk menikmati deburan ombak yang membasahinya.
"Lo gak perlu ngeliatin gue kayak gitu!"
Mara ternganga seketika. Ia membuka lebar mulutnya sambil memalingkan wajah. "Siapa yang ngelihatin lo? Pede banget sih lo!" dalih Mara.
"Pokoknya gue gak mau di sini! Lo ngapain sih bawa-bawa gue ke pantai? Lo pikir gue mau apa? Gue pengen pulang. Titik!" Mara memelototi Asta.
"Ssst!" Laki-laki itu mengacungkan telunjuknya di depan bibir sesaat, lalu beralih menatap hamparan laut yang luas lagi.
Mara mengepalkan tangannya. Betapa marahnya ia saat ini. Tanpa bicara, ia berbalik badan lalu berjalan meninggalkan laki-laki itu. Mara membuka pintu mobil. Ia terpaku sambil menatap lelaki itu lekat-lekat. Gue udah bikin kesalahan apa sih? Sampe bisa ketemu orang aneh kayak dia!
Mara mendecakkan lidah. Dengan keras dibantingnya pintu mobil milik Asta hingga tertutup rapat kembali. Ia tak jadi masuk ke dalam mobil itu. Ia justru berjalan meninggalkan Asta sendirian di pantai.
● ● ●
Angin semilir menyibakkan sedikit poni rambut Asta. Ah, sore itu terasa sangat tenang, persis seperti yang diharapkannya. Tak heran jika Asta menjadikan pantai sebagai pelariannya ketika ia ingin sendiri, melepaskan diri sejenak dari kepenatan aktivitas sehari-hari.
Tuh cewek sekarang pasti lagi komat-kamit gak jelas. Asta tersenyum geli ketika ia teringat bahwa ia tak datang sendirian ke pantai.
Ia berbalik badan. Ia ingin melihat wajah cemberut dan tatapan melotot dari gadis itu. Sayangnya, Asta justru terkejut ketika melihat mobilnya kosong. Gadis itu tak ada di sana seperti yang dipikirkannya.
"Nyari apa lo?"
Asta mengerutkan dahinya. Ia berbalik dengan cepat. Gadis yang dipikir hilang, tiba-tiba berdiri tepat di belakangnya. Gadis itu menatap polos ke arah Asta sambil membawa dua buah es krim di kedua tangannya.
"Sejak kapan lo di situ?"
__ADS_1
"Lo nya aja yang buta. Sampe gak sadar gue ada di sini." Mara mendengus.
"Apaan itu?" Asta menatap es krim dengan tatapan sinis. "Kayak anak kecil!"
"Emang! Lo kan anak kecilnya! Nih makan!"
Dengan cepat es krim vanila mendarat di mulut Asta ketika ia menganga.
"Sini! Sini! Ah!" Asta merebut es krim yang disodorkan Mara dengan kesal. Ia membersihkan mulutnya dengan tisu yang diberikan gadis itu.
"Repot banget makan es krim aja! Belepotan kayak anak kecil!" cibir Mara sambil terkekeh.
"Lo pikir, yang bikin belepotan kayak gini tuh siapa?" Asta geram.
Sementara Mara tertawa puas.
"Udah! Udah! Gue beliin es krim buat lo, bukan buat dimarahin."
"Terus?"
"Gue suka aja makan es krim. Kalo gue lagi kesel dan marah, gue pasti makan es krim. Biar pikiran gue dingin lagi," sambungnya.
Asta tertawa sambil memakan es krimnya, "Es krim murah gini, mana bisa bikin pikiran gue dingin."
"Enak aja lo! Biar pun murah ini tuh belinya pake perjuangan."
"Perjuangan? Kayak lagi perang di jaman penjajahan aja!"
"Enak aja! Denger yah, gue tuh beli ini harus jalan dulu satu kilo. Mana harganya ngehabisin sisa uang saku gue hari ini. Lagian lo tuh bawa gue ke pelosok. Susah kan cari yang beginian. Makanya es krim ini tuh mahal!"
Asta tertawa lebar. "Emangnya gue minta dibeliin es krim? Itu sih salah lo sendiri."
"Hah?" Gadis itu terlihat kesal sambil melahap es krimnya.
__ADS_1
"Dasar manusia kejam! Gue cape-cape gini beliin lo es krim, tapi malah diketawain! Kalo gue gak inget lo lagi galau, ogah gue cape-cape beliin lo es krim!"
Asta justru semakin mengeraskan suara tawanya.
"Tau ah!"
Asta berusaha menahan tawanya. Ia melirik Mara yang berdiri di sebelahnya itu. Ah, gadis itu masih cemberut. Jika saja Asta tidak menahan dirinya, mungkin ia sudah mencium Mara tepat di bibirnya sejak tadi. Siapa juga yang gak kegoda lihat bibir yang dimanyunin gitu! Eh!
Asta mengulurkan tangannya. Ia menggenggam erat tangan Mara. Ah, gadis itu pasti terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba. Bodo amat deh!
"Apa?" Mara menatap Asta dengan polos, meski wajahnya masih terlihat sedikit kesal.
Uh, Asta menelan ludah. Menyebalkan memang jika harus menahan diri seperti ini. Jangan natap gue kayak gitu! Kesalnya di dalam hati. Tatapan polos milik Mara memang selalu membuat adrenalin Asta berontak, dan itu sangat mengesalkan.
"Lo mau janji sama gue?" dalih Asta, membuang pikiran-pikiran aneh yang terlintas dibenaknya. Ia menatap gadis itu dengan serius.
"Janji sama gue, lo ga akan pernah ninggalin gue. Mau kan?"
Lihat? Mara terperangah. Wajahnya memerah. Gadis itu terlihat lucu dengan ekspresi anehnya saat ini. Apa gue terlalu cepet ngomong hal ini yah? Asta mengendikan bahu. Nyatanya ia memang ingin mengatakan hal itu sejak dulu.
Asta terpaku ketika merasakan kakinya yang tiba-tiba kedinginan. Ia lalu menatap ke bawah, memandangi kakinya yang penuh dengan es krim. Uh, es krim milik gadis itu jatuh semua dan tepat mengenai kakinya. Segitunya lo salting? Asta menatap gadis itu sejenak. Lalu dipukulnya dengan lembut kepala gadis itu.
"Aww!" jerit Mara sambil mengelus-elus kepalanya. "Apaan sih?"
"Lo tuh!" Asta menatap kesal kepadanya.
Asta mengembuskan napas panjang. "Gue gak mau tau yah! Lo emang wajib janji sama gue! Lo emang gak boleh ninggalin gue! Titik!"
"Hah?" Mara masih mengelus-elus kepalanya yang sakit.
Menyebalkan, ketika Asta bersikeras menahan diri, namun gadis itu terus-terusan melemparkan tatapan polosnya padanya. Asta pun tiba-tiba mencium kening gadis itu. Jangan protes! Itu salah lo sendiri!
"Thanks!" Asta menatap gadis itu dengan wajah tanpa berdosa. Melihat gadis itu semakin salah tingkah, Asta justru tersenyum padanya. Sebuah senyuman yang penuh dengan kehangatan.
__ADS_1
● ● ●