Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 30 : U Come Back (2)


__ADS_3

"Lo yakin pulang bareng gue?"


Chia melirik Adit yang berusaha menyejajari langkahnya ketika hampir melewati gerbang sekolah. "Kenapa emangnya?"


Belum sempat Chia mendengar jawaban Adit, seseorang telah menarik tangannya dengan satu kali hentakan.


"Lepasin dia, Asta! Lo lupa apa yang udah lo lakuin sama dia?" Adit berusaha melepaskan tangan Chia. Chia tak berkomentar saat melihat sorot mata Adit yang penuh amarah. Ia beralih melihat lelaki yang masih mencengkeram tangannya.


"Ini bukan urusan lo!" Asta mendorong tubuh Adit menjauh. Chia terhuyung karena Asta tiba-tiba menariknya lagi.


Chia menghela napas saat Asta mengisyaratkan lewat matanya agar ia masuk ke dalam mobil laki-laki itu. Chia mendengus saat Asta menutup pintu lalu berjalan memutari bagian depan mobilnya. Dasar gila! Maki Chia.


Dari sudut matanya, Chia melihat seorang gadis sedang memandang ke arahnya. Berdiri dengan tatapan sedih di koridor utama. Bahkan hingga mobil Asta telah melewati gerbang, Chia tahu jika Mara masih melihat ke arahnya.


● ● ●


"Jangan bilang alasan lo ngajak gue ke restoran ini karena lo pengen bikin cewek lo cemburu."


Asta tersenyum tipis. Matanya melirik ke arah gadis yang sedang duduk di hadapannya. "Kenapa lo ngomong kayak gitu?"


"Gue gak tau lo sadar atau engga. Gue cuma mau bilang kalo tadi Mara ngelihat kita, dan cewek lo kelihatan sedih."


Deg! Jantung Asta berdebar cepat. Sungguh! Hal yang tak terduga. Asta tak pernah memperhitungkan jika Mara akan melihatnya membawa gadis ini bersamanya.


Uh! Asta merutuki dirinya sendiri. Merasa bodoh atas tindakannya barusan. Jika benar, mungkin Mara sedang bersedih saat ini. Apa dia sedih karena gue bawa Chia? Mara cemburu?


Asta tersenyum miris. Hal yang mustahil. Mara tak akan pernah cemburu padanya. Bahkan ketika Asta bertanya pertanyaan mudah waktu itu, Mara tak bisa menjawabnya. Ini menandakan Mara memang menyukai Riga selama ini. Bukan dirinya.


"Oh," jawab Asta singkat ketika perasaannya tenang kembali.


"Cuma itu tanggapan lo?"


Asta mendelik.


"Lo nyerah dan biarin cewek lo diambil Riga?" Chia masih berkata dengan datar. Namun sorot matanya terlihat menyudutkan. Asta hampir tak bisa berkutik jika pikirannya tak sejernih seperti saat ini.


"Lo sendiri? Bahkan sampai mata lo ditutupin kacamata, lo tetep gak merjuangin cowok lo?"

__ADS_1


Chia mengendikan bahu dengan cuek. Asta tersenyum tipis. Tak mau peduli. "Makan!" perintahnya.


"Hah?"


"Gue bawa lo ke restoran keluarga gue ini buat ngajak lo makan, bukan ngebahas hal lain."


Asta memerhatikan Chia yang tampak termenung sejenak. Matanya beralih menatap tangan Chia yang mulai bergerak mengambil sendok.


"Persis seperti lo," katanya pelan.


Asta masih tampak tenang. "Maksud lo?"


"Yah. Lo emang selalu kayak gini. Bikin ulah, terus minta maaf dengan cara lo. Cuma ..."


"Cuma?"


"Gue gak ngerti aja lo nraktir gue dalam rangka apa?"


Asta terperangah sejenak. Ia mengulum senyum. Menahan tawa. "Gak ada alasan apa-apa. Gue cuma pengen mengenal lo lebih baik."


Sebenarnya alasan utama Asta memang ingin mengucapkan terima kasih. Ingat? Terakhir kali, Chia menolongnya sebelum gadis itu menghilang tanpa jejak, dan nembuat Asta kalang kabut hingga mencabut hukuman yang sudah ditetapkannya pada gadis itu.


"Hah?"


Keterkejutan Chia mengembalikan Asta dari lamunannya. "Kenapa? Bukannya lo juga nyari tau tentang gue. Gak adil kalau gue juga gak tau tentang lo."


Asta melihat Chia tertegun. Gerakannya berhenti di atas piring. "Gak tertarik," ujar gadis itu cuek sambil memasukan kembali potongan daging steak ke dalam mulutnya.


"Gak peduli. Lagian gue udah tau semua tentang lo."


Chia tak menanggapi. Sibuk menyantap daging steak-nya yang tinggal separuh.


Asta membiarkan kepalanya bertumpu pada tangan kanannya. Matanya masih sibuk memerhatikan gadis di hadapannya. Sesekali Asta bahkan menarik garis halus di ujung bibirnya.


Tiba-tiba ia bangkit berdiri. Membanting tubuhnya di samping gadis itu. Lalu menjulurkan tangannya. Menghentikan pergerakan tangan Chia yang hampir menyuapkan daging ke dalam mulutnya.


"Berhenti bersikap cuek ke gue," ujar Asta sambil membebaskan kembali tangan Chia.

__ADS_1


Alih-alih mendapatkan jawaban, Asta malah mendapat tatapan sinis dari gadis itu.


"Sebagai orang yang sama-sama gak punya orang tua, kita pasti bisa berteman dengan baik," jelas Asta dengan santai.


Matanya menangkap Chia tertegun. Gadis itu menoleh dan menatapnya penuh arti.


"Kenapa? Lo pengen hubungan kita lebih dari seorang teman?"


Chia tersenyum tipis. "Dasar gila!"


Asta mengulum senyum. Gadis di sampingnya itu memang lucu seperti dugaannya.


● ● ●


Chia menghela napas. Melirik sebentar ke arah laki-laki yang berjalan di sampingnya itu. Asta tampak tenang-tenang saja. Berbeda dengan Chia yang terlihat kebingungan dengan situasinya saat ini.


Chia terkejut saat Asta tiba-tiba menghentikan langkahnya. Mata laki-laki itu menatap lurus ke depan. Kena ... pa? Chia ikut terperangah. Jantungnya mendadak berdegup cepat.


Pasti karena dua orang yang berdiri tak jauh dari posisinya sekarang. Riga dan Mara. Mereka berdiri berlawanan arah dengan Chia.


Dengan cepat Chia menoleh ke arah Asta. Laki-laki itu masih tak berkata apa pun. Sial! Chia merasa situasinya terlihat rumit saat ini.


"Apa yang lo lakuin sama dia?" Mara, gadis itu bertanya pada Asta dengan sorot mata penuh amarah. Sedang Chia masih terpaku. Tenggelam dalam bola mata coklat yang sedang menatapnya dengan dingin. Riga.


"Kenapa? Lo gak seharusnya tertarik dengan apa yang gue lakuin saat lo lagi sama pangeran lo itu." Asta menjawabnya dengan seringaian khasnya. Membuat Chia memijat pelipisnya.


Chia mengamati Mara lagi. Gadis itu menggigit bibir bagian bawahnya. Ada butiran air di pelupuk matanya. Gadis itu tiba-tiba berlari melewati Chia dan Asta. Sementara Asta malah menarik tangannya. Berjalan melewati Riga yang hampir saja melancarkan pukulan ke arah Asta.


"Lo gak mau ngejar dia?" tanya Chia sambil berusaha melepaskan tangannya. Namun hasilnya nihil. Buktinya Asta masih menggenggam tangannya.


"Siapa?" Asta balik bertanya tanpa menatap ke arahnya.


"Cewek lo. Mara," jawab Chia datar.


Ia melirik tangannya yang tiba-tiba saja dilepaskan oleh Asta. Laki-laki itu berbalik badan dan menatap serius ke arahnya.


"Gue anterin lo pulang."

__ADS_1


Chia sukses dibuat terperangah dengan pernyataan lelaki itu.


● ● ●


__ADS_2