Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 8 : U Bothering Me (1)


__ADS_3

Sudah satu jam Mara berdiri di sana. Di depan pintu sebuah toko buku. Sebuah toko di dekat perempatan yang tak jauh dari sekolahnya, yang berbentuk persegi dengan dinding yang terbuat dari kaca.


Kenapa gue harus masuk ke sana? Mara mengembuskan napas panjang. Seperti ada lem yang menempel di kakinya, sehingga ia enggan melangkah sedikit pun.


Mata Mara kembali menangkap tatapan penjaga toko yang beberapa kali melirik ke arahnya. Sudah pasti penjaga itu mengawasinya, menganggapnya sebagai orang aneh, yang mengganggu jalannya masuk para pelanggan toko itu.


Masuk gak yah? Ah! Gue bingung!


Mara teringat kembali tugas dari Bu Ratih, guru bahasanya. Jika saja ia tak memiliki tugas mereferensi buku karya gurunya sendiri itu, yang hanya dijual di toko buku dekat sekolahnya, Mara tak mungkin mengorbankan hari minggunya untuk berkunjung ke sana.


Tuh guru rese banget sih ah! Kayak gak ada toko buku lain aja! Umpat Mara pasrah ketika ia mulai menggerakkan kakinya.


Penjaga toko melirik sesaat ke arah Mara yang sedang membuka pintu. Masa bodoh dengan penjaga toko itu, Mara menyeret langkahnya menuju rak paling belakang, tempat buku karya Bu Ratih disimpan.


Syukur deh masih sisa tiga lagi. Leganya sambil mengambil salah satu buku dengan sampul bernuansa putih itu. Entahlah, Mara bahkan tak tahu isi dari buku itu.


Kalo bukan karena tugas, ogah deh gue baca buku ini! Mara mendecakkan lidahnya.


"Oh ya guys, lo gak lupa kan sama kado buat Asta?"


Mara merengut. Sebuah kalimat yang dikatakan dengan keras, mampu mengusik lamunannya. Kenapa tiga dedemit itu ada di sini? Komentar Mara saat ia menoleh pada gadis yang berbicara dengan keras di pojok kanan toko itu.


Lo munggungin gue kayak gitu juga, gue tahu siapa lo semua! Dengusnya sambil menatap kesal pada gadis yang ia yakini sebagai Renata, Wendy dan Ri An. Siapa lagi coba kalo bukan tiga nenek sihir itu yang doyan bikin ribut di tempat umum? Mara memutar kedua bola matanya.


"Oh iya, habis ini kan kita mau beli kado buat Asta." Salah satu dari ketiga gadis itu berkata lagi.


Mara tak peduli siapa yang berbicara barusan. Pikirannya terpusat pada nama seseorang yang sedang diperbincangkan ketiga gadis itu.

__ADS_1


"Duh kasih kado apaan yah buat Asta?"


Asta? Tuh kan disebut lagi. Kenapa tuh sama cowok gila itu? Mara melebarkan telinganya, berusaha mendengar lebih banyak perbincangan ketiga gadis menyebalkan itu.


Kali aja gue bisa dapet kelemahan tuh cowok aneh, jadi gue bisa bales perbuatannya. Mara mengendikkan bahunya, tak yakin.


"Enaknya kita cari kado dimana yah? Mall? Atau ke distro-distro?"


"Kita ke mall bokap gue aja. Disana kan banyak barang limited edition. Barang yang langsung diambil dari luar negeri lengkap di sana." Suara 'centil' Renata membuat Mara memutar kedua bola matanya.


Terus kalo bokap lo punya barang limited edition, emangnya kenapa? Dengus Mara di dalam hati. Sumpah pengen jatuhin nih lemari, biar mereka kegencet aja sekalian! Huh!


"Pesta ultah Asta kan besok malem. Kita juga harus dandan yang cantik nih."


"Yap betul banget!"


"Secara, yang datang ke pesta ultah Asta kan orang-orang penting. Bukan orang-orang gak jelas, kayak ... lo berdua tau lah siapa."


Ia semakin gemas. Mara meremas buku yang dipegangnya untuk menahan emosi. Boleh jatuhin lemarinya sekarang gak?


"Ups lupa! Kita gak boleh ngomong terlalu keras. Entar ada orang yang gak penting denger lagi. Males kan?"


"Lo bener juga, Ren. Cabut yuk. Gue pengen cepet-cepet shopping nih." Ri An menyahut.


Orang yang gak penting tuh lo bertiga! Ngegosip di tempat umum! Dasar nenek sihir! Komentar Mara dengan mata yang masih mengikuti ketiga gadis yang berjalan keluar dari toko itu.


Uh, rasanya Mara sangat kesal. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya berjalan menuju kasir dengan wajah cemberut. Dibayarnya buku itu, lalu segera pergi keluar. Di depan toko, Mara mengedarkan pandangannya ke segala arah. Setiap sudut jalan diperhatikannya. Syukur deh mobilnya nenek sihir udah gak ada, leganya.

__ADS_1


"Kok gue bisa gak tau kalo itu dedemit bertiga ada di sini? Padahal mobilnya jelas-jelas di parkir di depan toko. Kalo gue sadar tuh dedemit ada di dalem, ogah gue masuk ke sana. Mending dimarahin deh sekalian sama Bu Ratih," keluhnya sambil menghela napas.


"Ngomong sama siapa lo?"


Mara menoleh. Ia mendapati sebuah mobil mewah berwarna hitam parkir tepat di depannya. Tadi nenek sihir, sekarang gue ketemu psikopat gila. Nasib gue gini-gini amat! Mara mendecakkan lidah sambil memalingkan wajah sesaat.


"Lama-lama gue hubungin rumah sakit jiwa, kalo lo masih ngomong sendirian kayak gitu." Laki-laki itu menyeringai. Sebuah senyuman di matanya tampak jelas terlihat.


Mara merengut sambil melirik laki-laki itu. Ia menatap tajam padanya.


"Heh Asta! Lo bakal gue laporin ke polisi, kalo lo masih nguntit gue kayak gini. Darimana lo tau gue ke sini?" Mara ketus.


"Bukan urusan lo! Cepet masuk! Gue bukan supir taksi yang lagi nunggu penumpangnya."


"Ogah!"


"Mau ditarik paksa atau masuk sendiri?" tantang Asta.


Mara terdiam sejenak. Ia tahu Asta sangat keras kepala. Bersikukuh untuk tidak masuk ke dalam mobil, hanya akan membuat lelaki itu terus membuntutinya. Mara mendengus, lalu masuk ke dalam mobil dengan wajah cemberut.


● ● ●


Untuk pertama kalinya gue benci hari minggu! Huh! Umpatnya kesal sambil berjalan keluar dari kamar.


Mara berdiri di depan pintu kulkasnya. Mulutnya menganga sambil menatap selembar kertas yang ditempel di pintu kulkas. Sebuah pesan singkat ditujukan kepadanya. Pesan dari seluruh keluarganya. Pesan yang menjelaskan bahwa ia akan sendirian hari ini.


Uh selalu aja ditinggal sendirian! Gak tau apa ini lagi situasi gawat darurat! Gimana kalo tuh raja iblis datang ke rumah dan ngamuk terus jadi perang? Mara menggeleng-gelengkan kepala sambil mencabut secarik kertas, yang berisi pesan singkat padanya itu, dengan kesal.

__ADS_1


"Kenapa Alfa harus kemah hari ini sih? Tuh anak masih kelas 1 SMP malah udah keluyuran kemah-kemahan! Ini lagi Alya. Pake acara cerdas cermat antar SD segala. Udah gitu ngeborong nyokap sama bokap segala ke sana lagi. Lo bawa salah satu aja udah cukup kali. Nih anak kelas dua SD, enaknya gue apain udah pulang nanti? Awas aja tuh kalo lo gak menang!" Mara berkata dengan kesal.


Ah, ia tahu semua perkataannya tak ada yang benar. Ia tak akan melakukan sesuatu yang jahat pada kedua adik kesayangannya itu. Ia hanya sedang kesal. Ia tidak tahu cara yang tepat mengekspresikan ketidakingin-sendiriannya hari ini. Mara menghela napas sambil berjalan meninggalkan dapur.


__ADS_2