Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Tiga


__ADS_3

Beep ...


Beep ...


Beep ...


Entah berapa kali ponsel milik Mara berdering. Namun, tidak ada keinginan bagi Mara untung satu kali saja menengok apa yang membuat benda pipih itu terus saja berbunyi.


Kepala Mara terasa berat. Sakit sekali. Juga pusing. Pandangannya masih kabur ketika dia membuka mata. Alhasil Mara tetap berada di posisi yang sama sejak semalam. Terkapar di atas kasur bagaikan sebuah mayat. Seperti tidak ada tenaga dan nyawa sama sekali.


Namun, suara berisik dari ponsel itu benar-benar sangat mengganggunya. Tidak bisakah telinga Mara dibuat tentram meski hanya sebentar? Kenapa berisik sekali dari tadi? Bahkan hari ini adalah hari Minggu. Sudah selayaknya Mara mendapatkan hari liburnya dengan ketenangan.


Tapi, boro-boro ketenangan. Dia bahkan sulit sekali untuk dapat tidur dengan nyenyak.


Ah! Benar-benar terkutuk entah siapapun yang telah membunyikan ponsel di hari liburnya itu. Apa mereka tidak tahu kalau Mara yang sekarang benar-benar berbeda dengan Mara 8 tahun lalu? Yang bahkan meski dirinya tomboy, tetap saja Mara masih cengeng dan tidak ingin ada orang lain membencinya. Huh!


Sekarang, jangan pernah berharap ada air mata mengalir dari pelupuk matanya. Jangan!


Air mata adalah sesuatu yang sangat tabu baginya saat ini. Alias mustahil. Mara sudah membuang semuanya bersama dengan kenangan yang ingin dilupakan. Kenangan yang pernah membuat hatinya remuk redam. Kenangan yang telah membuatnya bagaikan zombi di tengah lautan manusia-manusia yang berbahagia. Biarlah. Mara yang dulu sudah sirna. Terganti Mara baru dengan segala hal baru darinya.


"Ah elah! Gak bisa apa tenang sebentar?" dongkol Mara sambil berusaha mengulurkan tangan. Menggapai-gapai mencari benda yang sejak tadi mengganggu kenyamanan tidurnya.


Karena tidak segera menemukan benda elektronik itu, dengan amat sangat terpaksa, Mara membuka matanya. Dia memicing, untuk memindai dimana letak benda persegi panjang itu berada. Tak butuh waktu lama bagi Mara menemukan ponsel yang bernuansa serba merah muda itu. Ah, yah ... satu-satunya yang tidak berubah adalah warna favoritnya.


Pink. Merah jambu. Merah muda. Sepertinya warna itu sudah menjadi ikon, ciri khas dan identitas dirinya. Pink dan Mara tidak dapat terpisahkan.


Mara membuka ponselnya. Ada puluhan missed call dari sahabat tersayangnya, Sera. Juga ratusan chat entah dari siapa. Ah, Mara malas sekali untuk membaca chat yang bahkan dari jumlahnya saja tak ingin dilirik. Yang membuat keningnya berkerut adalah sebuah panggilan yang baru saja tidak terjawab oleh Mara.


Mata Mara buru-buru mengerjap. Kesadaran yang semula entah hinggap kemana, kini tiba-tiba sudah kembali dengan sendirinya. Mara terduduk dengan memasang wajah seperti orang bodoh. Mulutnya menganga sambil menatap ponsel yang masih tergenggam erat di tangan kanan.


Matanya terpaku pada tanggal yang tertera di ponselnya. 30 April. "OMAYGAT!!! MAMPUUUUUS GUUEEEEE!"

__ADS_1


"KOK BISA-BISANYA GUE LUPA HARI YANG PENTING INI? ASTAGA!" jerit Mara sambil turun dari ranjang dengan tergesa.


Mara berlarian tak tentu arah di dalam kamar. Dia tak berani untuk menengok jam di dinding. Tidak. Dia sudah tahu bahwa dirinya terlambat. Sangat. Tanpa pikir panjang, Mara bergegas menuju pintu kamar. Dia membuka pintu itu dengan satu kali gerakkan. Langkahnya terhenti karena Alya berdiri di depan ambang pintu kamarnya.


"Kak Mara?" heran Alya yang mendapati Mara penuh kepanikkan.


"Mau ngapain lo?" sewot Mara.


"Eh? I-itu ... Alya disuruh Bunda bangunin Kak Mara."


Mara mendengus. "Gue udah bangun 'kan? Sekarang minggir. Gue mau lewat. Lo ngehalangin gue. Awas! Awas!" seru Mara yang mulai tidak sabar.


Takut terkena semprotan Mara, Alya buru-buru melangkah ke pinggir untuk memberi jalan kepada kakak sulungnya itu. Mara yang tak mau ambil pusing, dengan secepat kilat berlari ke dalam kamar mandi yang ada di lantai dua.


Mara segera membersihkan diri. Mandi alakadarnya, alias tidak ada acara berendam dalam air hangat di bathup seperti biasanya. Apalagi mandi dengan berhiaskan bunga. Ah! Buang jauh-jauh dulu keinginan seperti itu. Mana mungkin dia masih sibuk memikirkan perawatan kulit, sementara di luar sana ada orang yang ingin menerkamnya hidup-hidup.


Astaga!


"Makan dulu, Sayang. Kamu dari pagi belum makan," sahut Bunda sambil menghampiri Mara yang sedang mengenakan sepatu kets kesayangannya.


Ah, ya pantas saja dari tadi Mara mendengar suara protesan dari perutnya. Dia benar-benar lupa untuk makan hari ini. "Nanti aja deh, Bunda. Mara bener-bener telat."


"Kamu mau kemana sih emangnya? Kok buru-buru banget?" tanya Bunda penasaran.


"Ke Bandara, Bunda."


"Eh memang sekarang udah tanggalnya dia pulang?"


"Tuh 'kan Bunda aja lupa," dengus Mara. Harusnya Mara tidak disalahkan untuk kekhilafannya hari ini. Masalahnya, gen pelupa memang sudah mengalir di setiap urat-urat nadinya. "Ya udah deh, Bunda, Mara mau cepet-cepet yah. Takut yang nungguin ngamuk."


"Emangnya kamu udah bikin dia nunggu berapa lama?" tanya Bunda sambil membiarkan punggung tangannya dicium Mara.

__ADS_1


Mara melirik jam tangannya. Pukul 15.30. Dengan jarinya dia berpura-pura menghitung. Mara terkekeh pelan. "Tujuh ...."


"Menit?"


"No. Yang bener tujuh jam lebih." Mara menghela napas pelan.


"Ya wajar dong dia marah. Kamu kelamaan bikin orang nunggu, Sayang."


"Iya, makanya Bunda. Tapi, salah dia sendiri sih ah. Lagian jadi cowok kok manja amat. Masa kudu Mara yang jemput dia. Gak mau pulang kalo Mara belum nongol di Bandara. Heran. Padahal udah gede juga. Udah tahu jalan pulang ke rumahnya sendiri," keluh Mara jengkel. "Ya udahlah, Bunda. Mara mau cepet-cepet. Bye, Bunda."


"Hati-hati ya, Sayang."


"Iya, Bunda."


∆ ∆ ∆


Mara berlarian ke dalam bandara begitu mobilnya telah diparkir. Tapi belum sampai di lobby, bola matanya terkunci pada sosok seorang pemuda berjaket abu yang berdiri tidak jauh darinya. Tubuhnya yang jauh lebih tinggi serta potongan rambutnya yang berubah, membuat Mara hampir salah mengenali orang.


Ehem ... istilahnya, Mara terpukau dengan banyak perubahan pada pemuda itu. Mara bahkan sempat berhenti mengedipkan matanya karena rasa kagum yang tiba-tiba menyeruak keluar.


Namun, kesadarannya segera kembali. Dengan perasaan bersalah campur canggung, Mara mendekatinya. Yang didekati menyilangkan ke dua tangan di dada sambil melempar tatapan sinis. Lebih tepatnya, menuntut penjelasan. Alias, kalau Mara sampai tidak memberikan alasan yang logis, maka bersiaplah untuk pembalasan yang lebih kejam dari pemuda itu.


"Hai! Udah lama yah gak ketemu."


∆ ∆ ∆


**yang kepo, yang kepo 🤭


siapa coba yang dijemput Mara di bandara?


ayo tebak-tebak berhadiah doa di kolom komentar yah ❤️❤️**

__ADS_1


__ADS_2