Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 15 : U’r Mission (1)


__ADS_3

Jalan yuk? Udah lama gue gak jalan sama lo!


Mara masih terpaku menatap layar ponselnya. Keningnya sedikit berkerut. Sebuah pesan singkat membuat Mara kehilangan kata-katanya dalam waktu hampir setengah jam. Gue gak salah baca kan?


Ia pun menggerakkan jari-jari mungilnya pada ponsel itu, lalu menekan tombol kirim. Beberapa menit kemudian ponsel Mara berdering lagi. Buru-buru Mara membuka pesan singkat yang baru saja hinggap di layar ponselnya.


Lo pikir gue bohong?


Gue tunggu sepuluh menit lagi.


Gak turun-turun gue tinggal!


Sontak Mara langsung meloncat dari atas kasurnya. Ia menyambar jaket berwarna merah muda yang diletakkan di atas kasurnya. Ia pun lari terbirit-birit menuruni tangga. Lalu segera membuka pintu depan rumahnya dengan tergesa-gesa. Ia menatap seseorang di balik pintu sambil terengah-engah.


Fachri berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melempar tatapan yang mengintimidasi. Mara mendengus saat Fachri memperhatikan penampilannya dari atas kepala hingga ujung kuku jari kakinya.


"Iya tau-tau penampilan gue berantakan dan semuanya serba pink." Mara mendengus sambil menyisir rambutnya yang tergerai dengan jari-jarinya.


"Jangan protes karena gue cuma pake kaos dan celana training, terus pake jaket pink ini!"


Fachri tersenyum menahan tawanya. "Lo masih pake jaket hadiah ultah dari gue setahun lalu?"


"Iya karena gue punya sahabat stres yang belom ngasih kado ultah gue tahun ini yang udah kelewat jauh!"


Fachri tertawa. Mara sebal.


"Lo ngapain sih ngajakin gue jalan dadakan gini? Gue kan gak ada persiapan."


"Gue udah sms dari setengah jam yang lalu kali."


"Itu ...itu ...." Mara tergagap. Ia tahu ini salahnya karena mendadak menjadi patung selama setengah jam ke belakang.


"Tetep aja ini salah lo! Suruh siapa ngajak gue dadakan!" Mara tetap keras kepala.


"Ya udah. Terserah lo. Jadi jalan gak?"

__ADS_1


"Jadi dong! Ini hadiah buat gue karena udah dicuekin sama lo berbulan-bulan! Udah gitu lo juga harus beliin gue kado ulang tahun!" Mara mendengus.


Fachri tertawa sambil mengacak-acak rambut Mara. "Lebay lo! Baru juga dua bulan lebih."


"Tetep aja lebih dari sebulan!"


"Hahaha! Iya deh terserah lo. Jadi mau kemana kita?" tanya laki-laki itu.


"Lo kan yang ngajak gue! Lo gak so sweet amat sih! Siapin kek rencana nge-date kita. Pake candle light dinner kek. Apa kek! Ini malah mau pergi kemana aja lo gak tau!" keluh Mara sambil memajukan bibirnya beberapa sentimeter.


"Mau kencan gimana? Penampilan lo aja kayak begitu!"


Mara terkekeh. Ia tersipu malu.


"Gue tau kita mau kemana!" Mara tersenyum lebar.


"Kemana?"


"Ke tempat kencan favorit kita."


"Perasaan gue mulai gak enak!"


"Es krim! Es krim! Es krim!" seru Mara sambil berdemo layaknya seorang buruh yang sedang meminta kenaikan gajinya. Hanya saja pedemo yang satu ini memasang wajah tersenyumnya yang menggoda.


"Tuh kan! Dasar anak kecil! Seleranya gak berubah! Warna pink sama es krim! Katanya lo tomboi, tapi sukanya yang begituan!" tutur Fachri sambil mengacak-acak rambut Mara lagi.


Mara menjulurkan lidahnya. "Biarin! Tomboi-tomboi juga gue kan cewek tulen!"


"Es krim! Es krim! Es krim!" lanjutnya.


"Iya bawel!" gerutu Fachri. "Cepet pake sepatu lo! Mana ada mau ke kafe tapi nyeker!"


"Bodo!" Mara terkekeh. Ia pun berlari ke dalam rumah. Lalu beberapa menit kemudian ia telah berdiri kembali di depan sahabatnya itu.


"Es krim! Es krim! Es krim!" Mara masih melakukan aksi demonya dengan semringah.

__ADS_1


"Ckckck!" Fachri menggelengkan kepala ketika menatap sepatu sport berwarna merah muda yang sedang dikenakan Mara.


"Gak sekalian aja tuh muka di cat warna pink juga?"


Mara tak memedulikan sindiran sahabatnya itu. Ia melesat dengan cepat menuju motor hitam Fachri yang terparkir di dekat pintu pagar sambil berdemo.


Mara tersenyum ketika berdiri di samping motor sahabatnya itu. Ia memasang wajah penuh isyarat agar Fachri segera menghampirinya dan membawanya pergi dengan cepat.


● ● ●


Chia menatap gadis itu sejak tadi dengan tatapan dinginnya. Sejak bel istirahat berbunyi, Chia buru-buru keluar dari kelasnya. Ia berjalan menuju kelas gadis itu. Lalu secara diam-diam ia mengekor gadis yang saat ini masih berjalan beberapa meter di depannya.


Chia ikut berbelok saat gadis yang sedang diikutinya itu masuk ke dalam perpustakaan. Matanya masih terpusat pada gadis yang sedang menelusuri jajaran rak-rak buku.


Langkah Chia terhenti saat gadis itu diam di depan sebuah rak sambil mengamati beberapa buku. Chia menyandarkan tubuhnya pada rak yang berlawanan. Matanya masih memandangi punggung gadis yang bahkan tak tahu keberadaan Chia yang sedang berdiri di belakangnya.


"Jauhin Mara, Chika!" Chia akhirnya angkat bicara.


Chia memerhatikan gadis yang sedang berbalik dan menatapnya dengan heran.


"Lo ngomong sama gue barusan?" tanya gadis itu sambil menatap polos dan tersenyum ke arah Chia.


Sementara Chia tak menjawab. Matanya menatap dingin pada gadis di hadapannya.


"Jauhin Mara? Maksudnya?"


"Gue udah peringatin lo!" Chia berbalik badan sambil berjalan pergi. "Jauhin Mara!"


● ● ●


Yes! Beres! Mara menyimpan tas jinjing berisi tiga kotak makan di sampingnya. Matanya masih terpusat pada selembar kertas yang sedang dicoret-coretnya. Mara memberi tanda silang pada tulisan : Strategi Kedua Penyelamatan Fachri! Baikkan dan Bikin bekel buat Asta!


Mara senyum-senyum sendiri. Ia sangat yakin misi kali ini berhasil. Setelah misi berbaikan dengan Fachri berjalan lancar. Sekarang ia harus menjalankan misi keduanya.


Sebenernya gue ogah deketin Asta. Tapi karena cowok gila itu akhir-akhir ini sering berkeliaran di sekitar Fachri, gue jadi gak tenang! Bener-bener tuh cowok! Maunya apa sih!

__ADS_1


Mara mendengus sambil berjalan menuju kamarnya. Ah, ia mengantuk. "Tidur sebentar sebelum siap-siap berangkat sekolah bisa kali yah!" Mara menguap. Setelah memasang alarm ia berbaring dan memejamkan matanya di atas kasur.


● ● ●


__ADS_2