
Berkali-kali Chia menguap. Dengan kepala yang bertopang pada tangan kanannya, ia masih mengetuk-ngetuk pelan pulpen yang digenggam di tangan kirinya di atas sebuah buku catatan kecil di atas meja. Sesekali diliriknya dengan malas jam dinding yang terpampang tepat di atas papan tulis yang masih dicoret-coret oleh ketua OSIS di sekolahnya.
Hampir dua jam Chia duduk di sudut ruangan, tepat di depan sebuah meja kosong di pojok kanan ruang OSIS. Sebenarnya ia sangat malas mendengarkan rapat seperti ini. Apalagi mendengar perdebatan yang sejak tadi tak mendapat titik temu sama sekali.
Kenapa gue harus ikut juga? Gue cuma asisten pribadi, bukan anggota resmi OSIS. Hal yang selalu dikeluhkannya setiap ia terjebak di dalam ruang rapat. Chia menghela napas pelan.
Brukk! Benda sepanjang telapak tangan berbentuk balok hampir mengenainya jika saja ia tak menghindar. Chia melirik seseorang yang berjalan menghampirinya, yang baru saja melemparkan penghapus papan tulis ke arahnya.
Chia menghela napas. Lagi-lagi matanya bertemu dengan bola mata berwarna coklat yang selalu menatapnya dingin. Riga. Chia balas menatap dingin lelaki itu.
Chia memerhatikan tangan lelaki itu terulur ke wajahnya. Lalu dengan kasar lelaki itu melepas headset yang terpasang di telinga Chia. Kenapa? Chia menatap polos pada headset-nya yang terhempas di udara.
"Kalo lo gak suka di sini, pergi aja sana!" Laki-laki bernama Riga itu nyaris membentaknya. "Tempat ini bukan ajang menguap, ngelamun gak jelas atau bahkan ngedengerin lagu seenaknya."
"Jadi gue udah boleh keluar?" tanya Chia santai sambil menatap wajah-wajah anggota OSIS lainnya yang tampak tegang.
Chia bangkit berdiri. Masih dengan tatapan tenangnya, ia memasang kembali headset-nya ke telinga, kemudian berjalan. Masa bodoh dengan tatapan-tatapan yang sedang memerhatikannya.
Langkah Chia terhenti tepat di depan pintu. Ia menoleh ke belakang dan membuat sebagian wajahnya terlihat.
"Gue gak bermaksud ngajarin atau mencela kalian." Chia mengendikan bahu dengan 'cuek'. Ia ingin mengatakan sesuatu yang mengganggunya sejak rapat tadi.
"Menurut gue, pesta topeng itu gak menarik sama sekali. Kalau kalian ingin buat acara yang spesial, buat acara yang benar-benar berbeda dan spesial. Buat acara yang sangat besar dan meriah. Dah itu aja. Gue pergi."
Chia melambaikan tangan sesaat sebelum menutup pintu.
● ● ●
"Jadi ada di sini si pembuat gempar seantero sekolah?"
Chia menoleh ke belakang, menatap datar lelaki yang sedang tersenyum, berdiri di depan pintu beranda lantai tiga.
"Tapi, kayaknya dia tenang-tenang aja," ujar Adit, laki-laki yang kini telah berdiri tepat di samping Chia.
Chia melirik lelaki yang sedang membungkukkan badan dan mencondongkan wajahnya ke depan sambil menoleh padanya. Chia tersenyum tipis sebelum kembali mengalihkan pandangan.
"Maaf deh," ucap Chia singkat.
Laki-laki itu tertawa.
Chia bisa merasakan tangan lelaki itu berada di atas kepalanya. Chia mendengus.
"Hei berhenti ngacak-ngacak rambut gue," protes Chia dengan nada datar khasnya. Ia sedikit menggerakkan kepalanya untuk menghindari tangan laki-laki itu yang siap mengacak-acak rambutnya kembali.
"Tapi gue suka!"
Chia hanya bisa pasrah ketika tangan lelaki itu mengelus kepalanya kembali. Bahkan sekarang tangannya berpindah. Lelaki itu mencubit pipinya sambil terkekeh.
"Aaaah," erang Chia kesakitan sambil mengelus-elus pipinya.
Lelaki itu tertawa kembali sambil duduk di atas tembok pembatas beranda lantai tiga, tepat di depan Chia. Tubuhnya yang tinggi kini hampir sepadan dengan Chia yang masih berdiri sambil menatap lelaki itu dengan polos.
Lelaki bernama Adit itu tersenyum pada Chia. Sebuah senyuman yang jika saja Chia lebih peka sedikit, ia pasti akan meleleh dibuatnya. Meskipun lelaki itu tidak seterkenal Riga, namun penggemarnya cukup banyak. Hampir setiap hari siswi-siswi berkeliaran di dekat ruang OSIS untuk melihatnya.
"Jadi? Apa yang lo lakuin di sini? Mikirin Riga? Atau ... mikirin gue?" goda lelaki itu.
__ADS_1
"Pengennya?"
"Mmmh ...." laki-laki itu berpura-pura berpikir. "... Pengennya lo mikirin orang yang selalu nunggu lo. Orang yang udah suka sama lo sejak pertama kali ketemu. Orang yang mengenal lo jauh sebelum lo kenal Riga."
"Itu sih Rei!" Jawab Chia dengan cepat dengan sikap 'cuek'nya.
Laki-laki itu memukul kepala Chia pelan. Chia tersenyum samar saat melihat lelaki itu menatapnya sambil merajuk.
"Masih ada satu orang lagi. Tengah-tengah antara Rei dan Riga."
Chia tersenyum lagi. "Emang ada?"
"Ah lo mah rese!" Laki-laki itu tersenyum kecut.
Sementara Chia tertawa pelan melihat ekspresi wajah lelaki itu.
"Orang itu Adit Pratama Putra 'kan?"
"Binggo!"
"Berhenti ngacak-ngacak rambut gue!" pekik Chia sambil menjauhkan kepalanya.
Sementara lelaki itu tak memedulikan permohonan Chia sekali lagi. Ia dengan sengaja terus mengusap rambut panjangnya. Tiba-tiba gerakan tangannya berhenti. Dengan tangan yang masih berada di atas kepala Chia, lelaki itu menatapnya dengan serius.
"Sampai kapan lo bakal bertahan sendirian? Gue selalu lihat lo berdiri sendiri di dalam lorong gelap yang gak berujung. Lo gak mau menggapai tangan gue yang selalu terulur buat lo?" tanyanya dengan kata-kata kiasan yang membuat Chia terdiam.
Chia menatapnya dingin, lalu tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Lo terlalu baik," jawab Chia singkat.
Chia tak berkomentar saat melihat lelaki itu kecewa dengan jawabannya. Ya, ini bukan pertama kali ia menolak lelaki itu dengan alasan yang sama.
"Apa perasaan lo cuma buat Riga?"
"Enggak," jawab Chia cepat.
"Apa karena lo takut gue gak bisa bahagiain lo? Apa cuma Riga yang bisa bikin lo bahagia?"
"Gue yang takut gak bisa bikin lo bahagia."
"Gue lebih nyaman dengan hubungan kita yang sekarang, Dit. Bisa kan kita gak ngerubah hal itu?"
"Gak janji deh!" Lelaki itu memalingkan wajahnya.
Chia menghela napas pelan. Ia tahu sikapnya ini keterlaluan. Ia selalu menolak perasaan Adit dengan dingin sejak lelaki itu menyatakan perasaannya pertama kali sewaktu SMP dulu. Ah, ia terlalu bodoh. Ia bahkan tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
"Ngomong-ngomong tentang perkataan lo waktu di ruang OSIS seminggu yang lalu ...."
Chia kembali menatap lelaki yang sedang menggantungkan perkataannya.
"... Kenapa lo bilang pesta dansa topeng itu gak menarik?" Lelaki itu tersenyum. Meski pun Chia tahu lelaki itu hanya memaksakan diri untuk tersenyum.
"Gue gak suka aja sama acara pesta. Apalagi pesta dansa." jawab Chia santai sambil menatap lelaki itu dengan polos.
"Cuma itu?"
__ADS_1
"Iya."
"Lo sadar gak sih sama yang barusan lo omongin?"
Chia mengendikan bahu.
"Lo tau apa yang barusan lo omongin itu fatal banget? Lo sadar gak apa reaksi seluruh murid di sekolah ini kalo denger alesan lo nolak ide pesta itu?"
Chia mengangkat bahunya ke atas dengan 'cuek'. "Gak tau tuh!"
Lelaki itu menghela napas setelah terdiam cukup lama. "Chia!" Lelaki itu menatap Chia dengan serius.
"Berhenti bersikap kayak gini. Lo harus sadar dengan posisi lo yang lagi gak aman. Cepat atau lambat mereka bakal bertindak. Berita hilang ingatannya Riga bikin celah antara mereka sama lo."
Chia tak menjawab.
"Lo tau kan Renata sama temen-temennya. Mereka pasti bakal ngusik lo. Lo gak inget apa yang mereka lakuin waktu di kelas satu dulu."
Chia tampak tenang-tenang saja menanggapi ocehan panjang lelaki itu. Berbeda dengan lelaki yang ada di hadapannya. Ah, lelaki itu tampak gusar dan cemas. Lo gak perlu depresi gitu kali Dit. Keluh Chia di dalam hati.
"Ada satu acara yang pengen gue lihat," seru Chia tiba-tiba.
"Apa?"
"Festival."
Lelaki itu terdiam.
"Tempat dimana banyak orang berkumpul. Banyak stand-stand makanan. Kostum-kostum unik. Terus ada kembang api gitu--"
Plak.
Tiba-tiba saja lelaki itu menepuk pelan pipi Chia dengan kedua tangannya. Ia pun menekan sedikit kedua pipi Chia, membuat wajah Chia tampak terlihat 'lucu'.
"Apa?" Chia sambil mengerutkan dahinya.
"Kenapa lo gak ngomong dari tadi? Ide lo bagus juga," pekik laki-laki itu sambil tersenyum senang.
"Good job! Good job!" Ia menepuk-nepuk pelan pipi Chia. Sementara Chia hanya diam dan pasrah saja.
Ada apa? Chia menatap Adit yang terdiam sesaat. Tatapan lelaki itu tidak lagi terarah padanya. Ada apa di belakang gue? Chia makin penasaran saat laki-laki itu melepaskan tangan dari pipinya.
"Riga!"
Deg! Tubuh Chia menegang sesaat saat lelaki itu melambaikan tangannya pada seseorang di belakangnya. Chia melirik sebentar Adit yang tersenyum, lalu berbalik badan.
Ya, sekarang Chia bisa melihat lelaki yang tengah berdiri di depan pintu beranda lantai tiga. Lelaki yang selalu memasang wajah datar dengan tatapan dinginnya.
"Kok lo gak manggil gue kalo lo ada di sini. Sejak kapan lo ada disitu?"
Chia tak berkomentar saat Adit masih berbicara dengan lelaki itu. Matanya menatap lurus memandang lelaki di kejauhan yang juga sedang menatapnya.
"Sejak lo ada di sini."
Deg! Jantung Chia berdetak lebih cepat mendengar jawaban lelaki itu yang tak melepas pandangan darinya. Chia melirik Adit yang terlihat gelisah. Chia tak berkomentar saat Adit mulai tersenyum dan berjalan meninggalkan Chia, menghampiri lelaki di depan pintu itu.
__ADS_1
● ● ●