Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Tiga Puluh


__ADS_3

Hujan deras sudah mengguyur kota sejak tadi pagi hingga siang. Chia terjebak di sebuah halte bus yang kala itu dipenuhi oleh orang-orang yang berteduh. Salah satu ibu-ibu yang berdiri di depan Chia, terus saja mundur sedikit demi sedikit. Chia bahkan sampai ikut mundur ke belakang dan nyaris kehilangan tempat berteduh. Karena bagian belakang halte sejujurnya tidak tertutup rapat. Ada sedikit lubang berukuran sedang menganga di atas yang mengakibatkan kebocoran. Kalau mundur satu langkah lagi, Chia pasti basah terkena air hujan.


Untung saja, bis kota segera tiba. Orang-orang yang tadi berdiri di depan Chia mulai berhamburan masuk ke dalam angkutan umum itu. Menyisakan Chia seorang diri di sana. Tak apa. Chia justru dapat lebih leluasa untuk berteduh dari guyuran hujan.


Kepalanya menoleh ke samping kanan. Perkiraan dirinya tertinggal sendiri ternyata salah. Ada orang lain di sana, yang juga ikut berteduh di dalam halte. Seorang lelaki yang kini sedang menatap Chia dengan rambutnya yang sedikit basah.


"Asta ...." gumam Chia. Lagi-lagi dia menyebutkan nama itu begitu melihat sosok Andra di sekitarnya.


Andra tersenyum tipis sambil melangkah maju. Mempersempit jarak antara dia dan Chia berdiri sekarang. "Dua kali kita ketemu secara kebetulan," gumam lelaki itu yang terdengar sangat jelas di telinga Chia. "Menurut lo, ini kebetulan semata ... atau


... memang takdir?"


Chia tidak menjawab. Matanya sibuk mengamati motor Andra yang terparkir di bahu jalan. Suara air yang jatuh di atas kotak aluminium itu membuat suara hujan terdengar semakin keras dan nyaring. "Lo, baru mau nganter pesanan atau udah dalam perjalanan balik ke resto?" tanya Mara penasaran.


Sejujurnya dia agak mengkhawatirkan isi di dalam kotak. Jika di dalam sana masih berisi makanan, maka Chia takut Andra akan terkena omelan dari pelanggan maupun atasannya. Karena mengantar makanan yang sudah menjadi dingin.


"Gue lagi dalam perjalanan mau balik ke resto," jawab Andra santai. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Mungkin lelaki itu kedinginan. Terlihat dari sebagian bajunya yang agak basah. Terutama pada bagian lengan, bahu, juga sekitaran lutut hingga ke tumit. Semua bagian itu yang paling parah terkena dampak air hujan. Basah.


Chia bernapas lega. Syukurlah rasa khawatirnya memang terlalu berlebihan. Chia menoleh saat mendapati Andra terbatuk-batuk pelan. Dengan menutup mulutnya menggunakan tangan, Andra terbatuk sekali lagi sambil memalingkan wajah.


"Lo ... lagi sakit?" tanya Chia.


"Gue gak apa-apa," jawab Andra datar kemudian terbatuk lagi.


Melihat Andra yang seperti itu, sekarang Chia paham kenapa kemarin lelaki itu tidak bekerja lembur seperti biasanya. Mungkin Andra memang sedang tidak enak badan. Makanya Andra memilih untuk beristirahat di rumah.


"Kemaren ada yang bilang sama gue. Katanya ada seorang perempuan nyari gue di resto. Menurut lo dia siapa?" tanya Andra setelah batuknya mulai mereda. Bola matanya menatap lurus ke arah Chia.


"Itu gue," jawab Chia jujur dengan datar.


Andra seketika mencelos. Meski sejujurnya dia sudah bisa menebak jika itu adalah Chia, tapi, sempat terbesit dibenaknya bahwa dia berharap perempuan itu adalah Mara. Astaga! Padahal sudah jelas-jelas harapannya itu tak mungkin. Mana mungkin Mara dapat mengenali wajah yang berbeda itu juga fisik yang tak lagi sempurna. Andra tersenyum tipis.


Harusnya dia tidak berharap seperti itu. Bukankah dia sangat ingin melupakan seorang Mara?


"Ada apa lo nyari gue?" tanya Andra ketika dia mulai bisa mengontrol emosinya kembali.


Chia menggeleng. "Bukan hal penting. Tadinya gue mau menanyakan beberapa hal sama lo. Tapi sepertinya, lebih baik pertanyaan itu gue simpen sendiri."


Andra terdiam. Begitu pun dengan Chia. Keduanya terlarut dalam keheningan yang cukup lama. Hanya suara air hujan yang membuat mereka sadar, bahwa saat ini mereka sedang tidak sendiri.


"Menurut lo ... kenapa gue bisa mengenal lo?" tanya Andra tiba-tiba.


Chia menoleh dan menatap lelaki itu lamat-lamat. "Karena lo udah kenal sama gue sebelumnya. Karena lo ... Asta." Hanya itu jawaban yang ada di dalam kepala Chia.

__ADS_1


Dipikirkan bagaimana pun, logika Chia tetap kalah. Firasatnya terus mengatakan bahwa Andra adalah Asta. Tak peduli dengan perbedaan yang kentara sekali terlihat. Baginya, mereka adalah orang yang sama.


Lelaki bernama Andra itu hanya tersenyum tipis. "Nama gue Andra. Setidaknya ... untuk saat ini, kenali gue sebagai Baruna Andromeda. Biarkan nama Semesta Udaraja menghilang. Seperti yang diinginkan mereka, dan yah ... jawaban lo bener. Karena gue udah mengenal lo sebelumnya."


Chia terpaku. Untuk waktu yang lama dia terdiam mematung. Mencerna dan meresapi kata demi kata yang baru saja keluar dari mulut seorang Andra. Bukankah barusan Andra tidak mengelak pertanyaan Chia? Bukankah barusan secara tidak langsung Andra mengakui dirinya adalah Asta? Atau ... biarkan saja Chia menganggapnya begitu.


"Gue harus segera pergi." Andra memandang langit. Rintik air terus menerus berjatuhan dari atas sana. Seolah sengaja meminta lelaki itu untuk beristirahat.


"Lo lagi sakit 'kan? Lo masih mau hujan-hujanan?" tanya Chia datar.


Andra tersenyum. "Daripada jatuh sakit, gue lebih takut dipecat ... dan dilupakan. Semoga pertemuan ketiga kita nanti, bukan lagi sebuah kebetulan. Bye, Chia."


Andra melambaikan tangan sebentar. Kemudian berlari menembus hujan untuk mendekati motornya. Lelaki itu memakai helm yang telah basah pada kepalanya, lalu menyalakan mesin dan pergi begitu saja.


Sementara Chia hanya memandang punggung lelaki itu yang semakin tak terlihat. Lalu beralih menatap rintikan air. "Ya, semoga pertemuan ketiga nanti, lo bakal ceritain semuanya sama gue, Asta." Chia berkata pada dirinya sendiri.


∆ ∆ ∆


"Sorry, yah. Gue jadi ngerepotin lo lagi hari ini," sesal Mara. "Fachri sih ada-ada aja. Pake acara nyuruh lo yang jemput gue segala lagi. Lo 'kan jadi basah begini."


Riga hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. "Gak apa-apa. Lo tenang aja. Lagian 'kan emang mobilnya mogok," jawab Riga datar dengan bibir yang terlihat gemetar.


Mara mendesah pelan. Merasa tak enak, Mara buru-buru membuka pintu apartemennya. Dia segera berlari ke dalam untuk mencari dua buah handuk. Satu dipakai untuk mengeringkan rambutnya. Satu lagi diberikan kepada Riga yang masih berdiri di depan pintu masuk.


Mara pamit menuju kamarnya begitu Riga telah berada di ruang tamu. Mara segera membersihkan diri dan berganti pakaian dengan yang bersih dan kering. Kemudian dia bergegas mencari baju lelaki yang Mara jemur di balkon belakang apartemennya.


Mara ingat, Fachri masih meninggalkan beberapa pakaian di apartemennya. Karena lelaki itu, dengan seenak jidat menitipkan pakaian kotornya untuk dicuci Mara. Sahabat durhaka bukan?


"Pake ini, Ga. Baju lo basah. Lo bisa masuk angin kalau gak buru-buru ganti." Mara menyerahkan satu setel pakaian milik Fachri pada Riga. Sudah begitu, baju yang diberikan adalah baju favoritnya Fachri yang tak boleh dikenakan siapapun.


Mara sudah tertawa-tawa di dalam hati. Membayangkan ekspresi Fachri nanti ketika melihat baju kesayangannya dipakai sahabat sendiri, pasti akan terlihat sangat lucu. Mara yakin, Fachri pasti menahan kekesalannya di dalam hati. Karena lelaki itu tak akan pernah bisa marah pada sahabatnya.


Sementara Riga sedang berganti pakaian, Mara membuatkan coklat panas. Dia memang tidak bisa memasak, tapi bukan berarti Mara tak bisa membuat secangkir coklat panas yang lezat. Dia sudah beberapa kali diajarkan oleh sahabatnya, Fachri. Jadi, Mara cukup pandai membuat minuman itu.


"Eh, lo udah selesai," seru Mara ketika melihat Riga telah bergabung dengannya di dapur.


Riga mengangguk lalu duduk di kursi meja makan. Mengikuti arahan dari mata Mara. Perempuan itu lalu menaruh secangkir coklat panas di atas meja. Tepat di depan Riga.


"Buat lo. Biar badan lo anget." Mara tersenyum ragu-ragu. "Ah, jangan khawatir sama rasanya. Barusan udah gue coba. Gak terlalu buruk kok."


Senyum Riga terkembang. Tanpa banyak berkomentar, Riga mengambil cangkir berwarna putih yang ditaruh Mara tadi. Pelan-pelan dia menyesap minuman yang masih penuh dengan kepulan asap itu. "Ini enak," komentar Riga setelah mencicipi coklat panas itu.


"Beneran?" tanya Mara dengan mata berkilat semangat. Rasanya begitu antusias ketika mendengar ada orang lain yang memuji untuk

__ADS_1


suatu hal buatannya. "Lo ... serius bilang enak 'kan? Lo gak lagi ngehibur gue dengan bilang pura-pura enak 'kan?"


"Ini beneran enak kok."


Senyum cerah terbit di wajah Mara. Kemudian dia menyesap kembali coklat panas dengan begitu riang. Dipuji begitu, rasa manis coklat di dalam gelas Mara jadi bertambah.


"Apa lo sekarang merasa baik-baik aja?" tanya Riga sambil mengamati wajah Mara.


Perempuan itu bertanya balik dengan berdehem.


"Asta."


Mendengar Riga bertanya begitu, jujur saja hati Mara berdesir. Seperti waktu yang tiba-tiba menghentikan segalanya, Mara terpaku cukup lama menatap netra Riga. Seolah kesulitan untuk menarik garis di sudut bibirnya, Mara mencoba tersenyum.


"Gue ... baik-baik aja. Setidaknya gue mencoba untuk tetap baik-baik aja."


"Gue pulaaaaang!" Suara teriakan dan pintu dibuka membuat keadaan hening di antara Mara dan Riga mendadak ramai. Di sana, di dekat pintu Fachri berdiri dengan cengiran khasnya dan kedua tangan yang terlentang lebar. "Sorry, mobil Mara emang ngajak ribut. Pake acara mogok segala lagi."


Mara yang masih duduk di tempat hanya memutar kedua bola matanya. Mogok apanya, jelas-jelas itu rencana busuk lo, dengus Mara di salam hati.


"Eh? Ada pengantin baru?" canda Fachri sambil berjalan ke dapur dan duduk di sebelah Riga tanpa permisi. "Cie ... couple-an. Eh? Ini 'kan kaos gue!"


Mara tertawa seketika melihat ekspresi Fachri yang begitu tercengang. Lelaki itu sampai melompat dari kursi. Memandang Riga tak percaya. Kemudian Fachri melotot ke arah Mara yang masih tertawa sendiri.


"Gak boleh marah Fachri," ucap Mara disela tawanya dan Fachri hanya bisa berakhir duduk pasrah kembali sambil mendengus sebal.


"Lo minum coklat panas buatan Mara?" tanya Fachri pada Riga.


Yang ditanya hanya mengangguk lemah.


Senyum jahil tersungging dari wajah Fachri. "Hati-hati loh. Awas kena pelet cinta."


"Ih apaan sih lo!" Mara menghujani sahabatnya itu dengan ribuan pukulan. Sementara Fachri mengerang kesakitan sambil sesekali berlari untuk menghindar.


Malam itu, suasana di dalam apartemen Mara kembali ramai dan hangat. Kehadiran Riga dan Fachri mampu membuat hati Mara yang kosong terasa penuh kembali. Meski itu hanya sesaat. Nyatanya, malam ini Mara tak bisa tidur. Sejak tadi dia terus memutar ulang sebuah video yang pernah dibuat oleh Asta. Video foto dirinya dengan tulisan bait puisi favoritnya.


Malam itu, Mara tetap saja merindu Astanya. Tetap saja menginginkan bertemu Astanya. Menginginkan lelaki itu kembali. Meski dalam sekian detik. Mata mara terpejam. Kelopaknya sudah terlalu berat untuk terbuka karena bengkak akibat air mata yang mengalir deras.


Malam itu, Mara tertidur pulas. Hingga ...


Gedebuk!


∆ ∆ ∆

__ADS_1


Mara kenapaaa? 🤧🤧🤧🤧


__ADS_2