
"Chia segalanya buat gue. Tanpa dia, gue gak mungkin bisa bertahan sampai saat ini."
Riga menatap dalam-dalam Rei yang sedang mengembuskan napas berat. Ia mengabaikan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar di dadanya saat mendengar pernyataan laki-laki itu barusan.
"Ini buat lo!"
Rei melirik gadis yang tadi mengancam orang-orang yang memukulinya untuk melepaskannya kalau tidak ia akan melapor pada Pak Budi, wakil kepala sekolah yang sudah terkenal akan ketegasannya.
Rei mengernyitkan alis, memandangi plester yang terulur padanya. Matanya masih mengikuti pergerakan gadis itu yang saat ini malah berjongkok di sebelahnya.
"Tadi gue minta ini ke UKS. Emang gak banyak. Tapi lumayan buat nutupin luka lo," katanya lagi, membuat dahi Rei berkerut.
"Kenapa lo tutup mata gitu?" tanya Rei sambil mencondongkan wajahnya, mengamati raut wajah gadis itu yang masih memejamkan mata.
Mata Rei mengikuti pergerakan tangan gadis itu yang entah menunjuk ke arah mana.
"Lo berdarah," ucapnya dengan nada bergetar.
"Lo takut darah?" heran Rei sambil meraih plester dari tangan gadis itu.
Gadis itu hanya mengangguk pelan. Mengerti, Rei bangkit berdiri dan berjalan menjauhi gadis yang masih terlihat ketakutan itu.
"Makasih yah," ucap Rei sambil berbalik badan, menutupi lukanya agar gadis itu bisa membuka matanya lagi.
"Siapa nama lo?" tanya Rei tanpa menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Chia," jawab gadis itu pelan.
"Gue Rei."
Rei tersenyum. "Saat itu gue seneng banget. Pertama kalinya seseorang ngedeketin gue tanpa rasa takut, di saat semua orang menghindar karena gue dianggap biang onar yang selalu bikin masalah di sekolah. Dan lucunya dia malah bilang takut sama darah."
"Dari pertemuan bodoh itu. Chia dan gue semakin deket. Kita punya keterikatan yang sama. Rasa kesepian dan rasa sakit saat mendapat penindasan dari orang lain. Rasa perih saat semua mata memandang dengan perasaan benci. Kita saling menguatkan. Menopang satu sama lain. Hingga akhirnya, dengan bodohnya gue malah berpaling sama cewek yang ternyata jatuh cinta sama lo."
Riga tak menanggapi apa pun.
Pikirannya menerawang, membayangkan setiap adegan yang diceritakan Rei. Ah, gadis itu sungguh keterlaluan. Selama ini ia menyimpan kesakitannya sendirian, dan ia malah bersikap sok kuat seperti itu.
"Saat gue masih deket sama dia, gue gak terlalu mikirin dari mana asal muasal cewek itu takut darah. Sampai suatu hari, saat ia gak sengaja kebawa dalam situasi berbahaya. Gue yang hampir ketusuk pisau dari berandalan sekolah lain, ngelihat Chia berjongkok di sudut tembok bangunan tua. Badannya gemetar. Dia nangis yang bikin gue gak tega dengernya. Disela-sela tangisnya, Chia tiba-tiba teriak. Dan saat itu gue sadar. Rasa takut Chia saat lihat darah, bukan cuma rasa takut biasa. Cewek itu pasti punya trauma mendalam."
Riga menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah Rei. "Trauma?"
Rei mengembuskan napas berat. Riga tahu. Pasti bercerita seperti ini bukan hal yang gampang untuk diungkapkan.
"Anak kecil. Umur lima tahun. Di depan mata kepalanya sendiri dia ngelihat ayahnya tertabrak mobil. Terbaring lemas. Terkapar di jalanan dan bersimbah darah. Menatap nanar pada anaknya yang tak berhenti menangis sekencang-kencangnya. Chia pasti sangat terluka. Mengingat ia hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Sampai sekarang, setiap ngelihat orang terluka dan berdarah, bayangan akan wajah dan tubuh ayahnya selalu terekam dengan jelas. Dan selalu berhasil menumbuhkan rasa sakit akan kehilangan yang ia coba kubur dalam-dalam."
"Lo tahu apa yang terjadi dengan gue? Sampe gue hilang ingatan kayak sekarang?" sahut Riga menatap dingin ke arah Rei dan dijawab langsung dengan anggukan.
"Gue gak tau detailnya kenapa lo tiba-tiba ada di tengah jalan. Gue yang lagi gak fokus nyetir mobil, nabrak lo saat itu."
Riga membelalakkan matanya. Terperangah. Syok. Otaknya berusaha mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut Rei. Ia bangkit berdiri.
__ADS_1
"BRENGSEK LO! LO YANG BIKIN GUE KAYAK GINI? LO GAK PIKIRIN AKIBATNYA SEKARANG KARENA ULAH LO?" Riga mencekal kerah baju Rei dengan geram.
Ah perasaannya sangat kacau. Emosinya sudah tak terkendali. Ia sangat ingin memukul wajah lelaki di hadapannya itu sejak tadi, jika saja lelaki itu tak memasang wajah sedih seperti saat ini.
"Bukan cuma lo yang kehilangan, Riga. Tapi gue juga kehilangan orang yang berharga. Anggap kita impas." Rei bicara dengan lirih yang membuat Riga makin ingin menghajarnya habis-habisan. Enak saja impas! Riga tak bisa terima. Tetap saja ia banyak kehilangan hanya karena ulah sembrono laki-laki di hadapannya.
"Gue gak tau lo sengaja atau engga tentang kecelakaan itu. Tapi gue mau lo jawab gue!" Riga memelototi laki-laki yang tampak pasrah, duduk lemas di tempatnya. "Apa Chia ada di sana saat gue kecelakaan?"
Mata Riga berkilat saat melihat Rei tak segera membuka mulutnya untuk menjawab. "Jawab gue! Apa Chia ada di sana waktu gue kecelakaan?"
Rei mengangguk pelan akhirnya. Riga hampir berhenti bernapas saat mendapat jawaban dari laki-laki itu. Riga melonggarkan cekalannya. Tidak. Ia melepaskan Rei dan terduduk lemas di sebelahnya lagi.
Sial! Ia sudah kecolongan semuanya! Membayangkan bagaimana reaksi gadis itu saat duduk di sebelahnya dan melihat tubuhnya penuh luka dan darah dimana-mana, membuat Riga makin terasa sesak. Tuhan, gadis itu lebih terluka dari yang ia bayangkan. Rasa sakitnya pasti melebihi rasa sakit saat dilupakan oleh Riga.
Riga menitikkan air matanya. Hatinya terasa sakit. Perih. Ia hampir membuat gadis itu kehilangan untuk kedua kalinya. Bahkan sikapnya terlalu kejam hingga ia begitu bodoh selalu mengabaikan gadis itu selama ini.
Pantas saja dadanya selalu merasa getaran nyeri saat melihat tatapan datar gadis itu. Riga selalu mengira ada luka yang sangat mendalam dibalik tatapan gadis itu. Dan bodohnya, Riga malah mengabaikan dan semakin membuat lubang besar di hatinya.
Ini semua salahnya. Ya, Adit benar! Semua yang terjadi dengan gadis itu adalah salahnya. Dan itu membuat Riga makin merasakan sesak yang teramat dalam. Sungguh.
Ia melirik Rei yang menepuk bahunya pelan. "Kasih tau alamat rumah cewek itu," pinta Riga lirih.
Rei membalas permintaan Riga dengan gelengan. "Udah cukup Riga. Gue gak bisa biarin lo ngelukain dia lebih dari ini. Gue gak bisa bikin lubang di hatinya makin menganga."
"Lo harus Rei! Lo harus ngasih alamat cewek itu. Gue punya firasat buruk. Lo harus bantu gue buat nyelamatin dia."
__ADS_1
● ● ●