
Malam itu, Fachri tidak bisa tidur dengan tenang. Dia terus terbayang Mara. Fachri masih belum paham apa yang membuat sahabatnya itu tiba-tiba berubah? Apa yang terjadi pada Mara dan Asta? Apa yang dilakukan Asta kepada Mara? Hingga, di mana keberadaan Asta sekarang? Semuanya masih menjadi misteri bagi Fachri.
Dia tidak tahu, dalam 9 tahun ke belakang, peristiwa apa saja yang telah terjadi. Dia bahkan tidak tahu perkembangan kisah asmara sahabatnya itu. Fachri memang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Fachri akui itu. Hingga dia tidak tahu, bahwa hati sahabatnya ternyata menggenggam luka dan akhirnya hancur tak bersisa.
Bagaimana pun caranya, Fachri harus tahu apa yang terjadi antara Mara dan Asta. Karena sejatinya, laki-laki brengsek itulah yang membuat Mara seperti sekarang ini.
Fachri mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Getaran yang baru saja terdengar membuat Fachri mengintip benda pipih itu. Sebuah pesan dari aplikasi chat masuk.
Alya : Kak? Udah tidur? 😶
"Alya?" Fachri mengerutkan dahinya saat membaca nama si pengirim. Buru-buru jari jemarinya mengetikkan balasan pada adik sahabatnya itu.
Fachri : Belum Alya, kenapa? 😁
Fachri memandangi layarnya tanpa berkedip. Menanti respon dari perempuan yang sudah dia anggap seperti adik sendiri. Tak lama, pesan dari Alya pun tiba. Tanpa basa-basi, Fachri pun segera membukanya.
Alya : Mmmh ... bisa ketemuan gak? 🤧
Alya : Ada yang harus Alya bilang sama kak Fachri. 🤧
Fachri : 😄 Bisa. Kapan?
Alya : Sekarang? 🤔
Fachri melirik jam yang tertera di ponselnya. Sudah jam 9 malam. Dia tampak berpikir sebelum akhirnya membalas chat dari gadis itu.
Fachri : 🤔 Besok aja gimana?
Fachri : Sekarang udah terlalu malem. Gak baik anak gadis keluar malem-malem. Besok lo sekolah 'kan? 🤧
Alya : Iya sih. Oke deh. Besok aja yah Kak. 😊
Fachri : Sip 👍 Sekarang lo tidur gih. Biar besok gak bangun kesiangan.
Alya : Iya Kak 👍
Fachri : Night Alya 😇
Alya : Malam Kak 😊
∆ ∆ ∆
__ADS_1
Fachri baru sampai ketika kerumunan siswa menghambur melewati gerbang setinggi 3 meter dan kini memenuhi trotoar jalan. Dari atas motor, mata elang Fachri terus memindai untuk mencari sosok yang dia kenal. Sudut bibirnya terangkat sebelah, ketika netranya mengunci seorang siswi yang baru saja keluar. Fachri melajukan motornya perlahan dan mendekati siswi itu.
"Eh? Kak Fachri?" kaget Alya. "Lagi apa di sini?"
"Lagi jualan! Ya jemput lo lah Alya. Masa Kakak udah dandan sekece ini mau jualan. Yang ada juga Kakak mau tebar pesona sama temen-temen kamu yang masih unyu-unyu itu. Kali aja ada yang nyangkut," canda Fachri yang masih duduk di atas motor.
Alya mendengus. "Kak Fachri sukanya sama daun muda. Gak inget umur."
"Kakak masih seumuran Kak Mara yah. Gak tua-tua amat. Apalagi muka Kakak yang baby face."
Alya tergelak. Tanpa disadari bahwa interaksi di antara keduanya telah menarik perhatian orang-orang di sekitar. "Ya udah deh, yuk Kak kita pulang."
Setelah adik dari Mara itu duduk manis di belakang Fachri, dia pun mulai melajukan motor besarnya. Membelah jalanan kota Bandung. Berbaur dengan kendaraan lain yang sedang berlalu lalang di jalanan juga. Tak butuh waktu lama hingga Fachri sampai di rumah gadis itu. Karena jarak sekolah Alya dan rumah memang tidak terlalu jauh.
Fachri memilih menunggu Alya berganti baju di dapur. Bercengkrama dengan bunda dari Mara, Alfa dan Alya adalah salah satu kesukaannya. Sejak kecil, Fachri memang sudah sedekat itu dengan bundanya Mara. Setiap bermain ke rumah itu, Fachri akan lebih sibuk berada di dapur. Hingga membuat Mara kecil mencak-mencak dan dongkol sendiri.
Soalnya, sahabat Mara itu lebih senang membantu Bunda meracik bumbu dan mengolah berbagai jenis bahan makanan, dari pada bermain dengannya. Karena kebiasaan itu juga, Fachri jadi sangat suka memasak, dan akhirnya membuat pria itu kini memiliki sebuah restoran sendiri.
"Wangi banget, Bunda. Fachri makin laper," kekeh Fachri sambil mengamati satu panci sup iga yang sedang diaduk Bunda. "Tau aja deh Bunda kalo Fachri mau ke sini. Bunda langsung cepet-cepet masak buat Fachri."
Bunda tersenyum sambil mencubit pipi Fachri pelan. "Jangan geer. Kayak gak tau aja jadwal masak Bunda. Kamu sengaja 'kan modus jemput Alya, biar bisa makan masakan Bunda?"
"Ah Bunda, buka kartu Fachri aja," dengus Fachri. Setelahnya Bunda dan Fachri tertawa bersama.
"Fachri," panggil Bunda lirih.
"Iya, Bunda?"
"Kamu jangan marah yah sama sikap Mara kemarin. Sejujurnya Mara gak bermaksud begitu," sesal Bunda sambil menatap nanar ke arah Fachri.
Fachri menarik garis di wajahnya. "Enggak kok Bunda. Bunda 'kan juga tahu kalau Fachri sama Mara udah sedeket apa. Kita udah kayak saudara kandung. Hal-hal kayak kemaren udah gak aneh. Lagian emang saat Mara jemput Fachri kemaren itu, sempet ada perselisihan kecil. Mungkin Mara masih marah sama Fachri. Bunda gak usah terlalu mikirin. Nanti juga Fachri sama Mara baikan lagi."
"Makasih yah Fachri. Kamu udah mau ngertiin anak Bunda."
"Ish Bunda! Kayak ke siapa aja. Fachri juga 'kan anak Bunda," rajuk Fachri sambil memasang puppy eyes dan wajah polos tanpa dosa. Dia sukses membuat Bunda mencubitnya lagi sambil tertawa.
"Oh iya, Bun. Calon mantu Bunda suka ke sini gak? Dia gak lebih deket ke Bunda kayak Fachri 'kan?" tanya Fachri sambil memakan buah apel yang baru saja diambilnya tanpa permisi di atas meja makan.
Kening Bunda mengerut. Dia mematikan kompor, lalu memindahkan sup dari dalam panci ke mangkuk besar. "Mantu? Yang mana?"
"Asta lah, Bun. Emangnya dia udah bukan calon mantu Bunda lagi?"
__ADS_1
Bruk!
Keterkejutan, tidak hanya ditunjukkan oleh Bunda seorang. Tapi Fachri jauh lebih syok karena kepalanya baru saja terkena hantaman bola basket yang tiba-tiba saja muncul. Fachri menoleh, lalu mendapati Alya berdiri di depan pintu dapur sambil berkacak pinggang.
"Alya! Kamu jangan main bola basket di rumah. Apalagi di dapur. Bahaya. Sampai kena Fachri 'kan?" tegur Bunda sambil memerhatikan Fachri dengan khawatir. "Kamu gak apa-apa?"
"Enggak, Bun. Kayak gini doang," kekeh Fachri
Alya berdecak sebal sambil memungut bola yang menggelinding ke arahnya. "Habisnya ... Kak Fachri lama. Katanya mau ngajarin Alya main basket. Alya udah nunggu lama di belakang rumah juga, eh ... taunya dia malah lagi sibuk pedekatein Bunda. Awas loh yah, Alya laporin ke Ayah. Biar dijewer."
Diomeli oleh anak gadis yang masih duduk di bangku SMA, jelas membuat Fachri melongo di tempat.
"Buruan! Alya tunggu sekarang juga di belakang!" Alya melangkah cepat-cepat meninggalkan Fachri dan bundanya. Kedua orang yang masih di dapur itu hanya saling beradu pandang.
Fachri sendiri tampak kebingungan. Dia sungguh tak ingat telah berjanji mengajarkan Alya bermain basket. Lagi pula, sejak kapan gadis itu berminat dengan bola basket? Ah sudahlah. Fachri memilih pamit pada Bunda dan segera menyusul Alya di belakang rumah gadis itu.
Halaman belakang rumah Mara memang cukup luas. Ada area perkebunan kecil-kecilan yang dirawat Bunda. Juga ada area khusus yang memang sengaja dibuat untuk bermain bola basket. Dulu, Fachri sering mengajari sahabatnya itu untuk bermain basket di sana.
Langkah Fachri terhenti di dekat Alya yang sedang mendribble bola. Gadis itu tampak memusatkan fokusnya pada ring sebelum akhirnya melempar bola di tangannya ke sana. Masuk! Wow!
Fachri terkejut. Dengan jarak sejauh itu, Alya sukses memasukkan bola basket ke dalam ringnya. Bukan sekali, tapi berkali-kali hingga membuat Fachri tampak takjub. Hal yang sangat tidak terduga memang.
"Sejak kapan lo suka dan bisa main basket?" tanya Fachri dengan menipiskan jarak berdirinya dengan Alya.
Yang ditanya tersenyum tipis sambil tetap fokus memainkan bola di tangannya. "Waktu bisa membuat seseorang berubah Kak. Apalagi sampai bertahun-tahun. Selama itu, sedikit orang yang sanggup bertahan dan masih tetap menjadi dirinya yang sama."
"Bisa aja lo. Wah ... gak nyangka. adik kecil gue, udah berubah banyak ternyata," seru Fachri sambil merebut bola basket dari Alya. Kemudian mendribblenya menjauh dari gadis itu.
"Sama dengan Kak Mara ... juga keluarga kecil kami."
Jawaban getir Alya membuat gerakan Fachri terhenti. Bola di tangannya tidak jadi dilempar. Fachri justru mengeratkan cengkeramannya pada bola oranye itu dan menoleh ke arah Alya. Menelisik manik mata yang jernih itu.
"Jadi ini alasan lo ngajak gue main basket? Lo meminta gue menjauh dari Bunda?"
"Bukan menjauh." Alya mendudukkan diri di pinggir lapangan kecil itu. Lelah berdiri di bawah sengatan terik matahari. "Tapi, ada beberapa hal yang gak boleh Kakak bahas di dalam keluarga kami."
Fachri menghela napas. Melempar bola di tangannya hingga masuk ke ring, lalu melangkah dan duduk di samping Alya. "Termasuk bahas soal Asta?"
Alya mengangguk. "Itu yang paling utama. Kakak ... dilarang keras menyebut nama itu di depan keluarga kami. Di depan Bunda. Apalagi di depan Kak Mara. Alya mohon jangan."
Cih! Apa-apaan ini? Hati kecil Fachri memberontak. Kesal. Larangan macam apa sih itu? Kemarin Mara memperingatinya, sekarang ... Alya juga. Astaga. Ada apa dengan keluarga yang dulu sangat Fachri kenal dengan kehangatannya?
__ADS_1
∆ ∆ ∆
Gantung banget yah emang, tapi nanti malam aku post lanjutannya. sabar sabarlah 🤭🤭