
"Hai," sapa lelaki yang baru saja muncul di depan pintu itu sambil merentangkan tangannya. Dia berjalan melewati Jun lalu memeluk Chia dengan lembut. "Gue kangen banget sama kalian. Maaf yah baru bisa nengok lo berdua sekarang. Maafin karena gue sibuk terus."
"Gak apa-apa, Kak. Chia ngerti." Chia tersenyum dan membalas pelukan itu. Ketika Jun sengaja berdehem dengan kencang, barulah Chia dan lelaki itu saling melepaskan pelukannya.
"Kalian? Tapi yang dipeluk Chia doang. Tolong ya dikondisikan. Dipikir dulu kalau mau mesra-mesraan," sindir Jun.
Lelaki yang memeluk Cia tadi tertawa lalu menepuk bahu Jun pelan. "Sorry, Bro. Lupa kalau masih ada lo di sini. Gak kelihatan sih."
"Modus," sahut Jun sebal lalu berjalan menuju meja makan. "Kalau kalian masih mau kangen-kangenan, di luar aja sana. Gue mau makan. Lapar."
Chia tersenyum tipis sementara lelaki yang berdiri di sebelahnya justru tertawa lagi. Dia mengajak Chia ke meja makan dan duduk saling bersebelahan. "Lo kalo ngomel terus cepet tua, Jun," kekeh pria itu sambil mengamati meja makan. "Ngomong-ngomong banyak banget makanannya? Sengaja buat nyambut gue?"
Jun mengabaikan perkataan orang itu. Dia menunjuk televisi dengan dagunya. Lalu sibuk mengunyah makanan yang tersaji di atas piringnya.
"Oh jadi kalian udah lihat berita itu. Thanks. Sekarang lo jauh lebih peka yah, Jun." Pria di samping Chia itu tersenyum kecut sebelum ikut memakan makanan yang sudah tersaji di atas piringnya.
"Bukan lebih peka. Cuma udah terlalu sering aja lo jadiin apartemen ini untuk tempat persembunyian lo setiap kali ada skandal."
Pria di samping Chia itu terkikik geli.
"Kali ini berapa lama para wartawan itu bakal ngikutin Kak Sun?" tanya Chia datar setelah selesai mengunyah.
Iya, lelaki yang dipanggil Sun itu adalah Sunshine. Aktor yang baru saja diberitakan di TV mengenai skandalnya bersama lawan main di film terbaru lelaki itu. Sun memandang Chia lamat-lamat. Lalu menarik napas panjang.
"Berdasarkan video amatir yang beredar, wartawan pasti bakalan lama ngikutin lo untuk klarifikasi. Lagian lo kenapa sih? Gak bosen bikin skandal terus sama Freya?" tanya Jun.
"Kejadian aslinya gak kayak gitu. Mereka aja yang terlalu berlebihan. Apa-apa diekspos. Kayak gak tau Freya aja," dengus Sun lalu menenggak jus jeruk di atas meja. "Lo percaya sama gue 'kan, Chia?"
"Eh i-iya." Chia terbata-bata. Sejujurnya, sejak tadi pikiran Chia tidak ada di sana. Dia masih memikirkan soal lelaki bernama Andra. Baik Asta maupun Andra benar-benar membuat seluruh perhatian Chia tertarik.
Tiba-tiba ponsel Chia dan Sun bersamaan berbunyi. Namun, Chia tidak segera mengambil ponsel di saku bajunya, perhatiannya tertuju pada nama yang tertera di layar ponsel Sun, karena ponsel pria itu memang sengaja diletakkan di atas meja.
Es batu calling. Tanpa perlu tebak-tebakan pun, Chia tahu siapa seseorang yang disebut Es Batu oleh Sun itu. Mendadak hatinya berdesir. Merasa bersalah. Entah kepada dirinya sendiri atau kepada keadaan.
__ADS_1
Chia mengangguk saat Sun pergi menuju balkon ruang tengah untuk mengangkat panggilannya. Chia sejenak mengamati sebelum akhirnya meraih ponsel dan membuka pesan yang masuk. Mata Chia terbelalak saat membaca isinya.
"Kenapa?" tanya Jun curiga disela makannya. Melihat Chia tak kunjung menjawab, Jun berdiri dan merampas pelan ponsel di tangan perempuan itu.
Sebuah pesan singkat berisi kata 'I Miss You' dari Riga membuat Jun terpaku seketika. Rupanya bukan hanya satu atau dua, seluruh isi pesan chat yang diterima Chia berisi kata-kata cinta yang tak pernah dibalas satu pun.
Jun mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya. Dia menepuk bahu Chia pelan. "Lakukan apa pun yang hati lo bilang. Hanya satu hal yang perlu lo inget, gue selalu ada di sisi lo."
Kepala Chia tertunduk. Mengamati isi pesan dari Riga yang belum dibalasnya satu pun. Chia bukan tidak ingin membalas pesan-pesan itu. Chia hanya tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Riga.
∆ ∆ ∆
Mara membolak-balikkan buku menu yang sedang dipegangnya. Entah kenapa rasanya gambar makanan di dalam daftar menu tidak membuatnya tergugah. Mara benar-benar merasa bad mood hari ini. Bagaimana bisa dia dimutasi hanya karena beberapa hari Mara cuti.
Mara menutup buku bersampul hitam itu dengan sekali hentakan. Tangannya melambai untuk memanggil pelayan. "Kasih gue apapun deh. Semua yang recommend aja. Gue mau makan banyak hari ini."
"Baik, Mba," sahut pelayan setelah mencatat pesanan lalu pergi meninggalkan Mara sendirian.
"Buset! Sekalinya mampir di restoran gue, pesennya udah kayak orang gak makan sebulan. Lo mau makan apa lagi kesurupan?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja merangkul bahu Mara dari belakang.
Lelaki pemilik restoran di salah satu Mall di Bandung itu tersenyum riang. Lalu duduk di sebelah sahabatnya. "Kenapa sih Mar? Perasaan tiap hari manyun terus. Ngomel terus. Nasib-nasib kamu telinga. Sabar yah kalau di sebelah Mara."
Mara mendelik sebal sambil meraih apapun yang ada di atas meja. Dia mengangkat kotak tisu ke udara. "Diem gak?"
Fachri terkekeh sebelum akhirnya berpantomim menutup mulut.
"Minggu depan gue bakal ke Jakarta," kata Mara tiba-tiba.
Dahi Fachri mengerut. Dia memutar kursi yang didudukinya hingga menghadap ke arah Mara. "Kenapa?"
"Gue dipindah tugaskan ke anak perusahaan yang emang baru merintis di sana," jawab Mara lesu. Dia menjatuhkan kepalanya di atas meja. Beberapa kali Mara mengembuskan napas panjang. "Ahhh ... karir gue. Apa yang harus gue bilang sama Bunda kalau anaknya punya masalah di tempat kerja, terus dipindahin ke kota lain."
"Ya udah sih terima aja. Hadapin," jawab Fachri santai sambil berpangku kaki.
__ADS_1
"Ish! Lo mah. Lihat sahabat lagi sedih tuh bukannya ikut berduka, malah begitu." Mara semakin kesal. Dia memalingkan wajah dari Fachri. Malah menatap teman yang sangat tidak pengertian itu.
"Gimana sih lo. Itu 'kan fakta. Lagian lo sendiri yang bikin gara-gara. Pakai acara gak mau ngumpulin dokumen sama bos lo padahal udah gue suruh. Katanya dokumen itu urgent. Terima nasib aja udah."
Mara meringis. Yang dikatakan Fachri barusan memang benar adanya. Nyatanya Maralah yang salah. Mara benar-benar sedang dalam kondisi tidak ingin menyentuh pekerjaan apa pun kala itu. Moodnya sedang turun drastis. Meskipun dia bisa saja tetap bekerja, tapi Mara tidak yakin akan melakukan pekerjaannya dengan baik. Maka, beberapa hari lalu dia membolos. Sengaja tak memberi kabar pada siapapun.
"Masa cuma gara-gara gitu doang gue dipindahin? Si Bos pasti punya dendam pribadi sama gue." Mara mendengus. Entah untuk ke berapa kalinya dia seperti itu. "Mendingan gue gak usah pindah. Gue kerja di sini aja deh. Jadi pelayan juga gapapa deh gue."
Fachri tercengang selama beberapa detik. Kemudian dia tertawa cukup keras hingga membuat beberapa pengunjung di restoran itu melirik ke arahnya. "Gak! Gak! Gak!" tolaknya.
"Kalau lo kerja di sini, nanti pelanggan gue kabur semua gara-gara lo omelin terus. Kasian mereka," lanjut Fachri disela tawanya.
Mara mengangkat kepalanya. Dengan sebal dia memukuli lelaki itu. "Udah deh. Dari pada lo bete, mending gue buatin martabak telor kesukaan lo. Mau gak?" tanya Fachri dan seketika itu menghentikan gerakan tangan Mara.
Mara terdiam. Tampak menimang-nimang tawaran dari sahabatnya itu. "Boleh deh. Yang spesial dan banyak. Eh, tapi nasib pesenan gue gimana? Mana gue pesen banyak lagi."
"Kasihin aja ke yang lain. Gue yang bayar. Anggap aja traktiran dari gue."
"Gitu dong, itu baru sahabat gue!" Mara berubah ceria. Senyum sumringah tersungging di wajahnya
"Kalau ada maunya aja lo bilang gitu." Fachri bersungut-sungut sambil berdiri. Namun, tiba-tiba tangannya dicekal Mara yang masih duduk. "Kenapa?"
Mars memandang Fachri penuh arti. Entah hal gila apa yang tiba-tiba terlintas di kepalanya. Dia merasa ingin melakukan suatu hal sekarang. "Gue mau ikut ke dapur. Gue mau bantu bikin."
"Ha? Jangan gila. Dapur gue kebakaran gimana? Belum lagi kalau mall ini meledak. Bisa bangkrut tujuh turunan gue buat bayar ganti rugi."
Mara tertawa lebar. Kali ini dia tidak kesal ataupun sebal. Fachri benar. Mara tidak bisa memasak. Dia pernah membuat dapur rumahnya sendiri berantakan. Itu ketika masih duduk di bangku SMA. Kalau saja tidak diminta untuk membuatkan bekal oleh Riga kala itu, Mara tidak akan terjun ke dapur. Mara bahkan menghentikan untuk membuat bekal makan karena bunda mengomelinya dan membuat tanda larangan keras untuk Mara ke dapur.
"Ya udah ayo!" ajak Mara bangkit berdiri dengan riang.
"Kemana?"
"Ke rumah lo. Bikin martabak." Mara berseru sambil menarik tangan Fachri untuk mengikuti langkahnya ke luar dari restoran.
__ADS_1
∆ ∆ ∆