Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 17 : Us and The Mask Festival (2)


__ADS_3

Mara mengerutkan dahinya. Nih cowok gak jelas maunya apa! Tadi muji, sekarang nantangin gue! Mara menatapnya lekat-lekat. Wajah Asta terlihat serius ketika memandangi kembang api di langit.


"Maksud lo?" Mara kembali pada mode ketusnya.


"Ayo kita taruhan. Syaratnya gampang kok, yang duluan bilang nyerah, dia yang kalah!"


Apa sih yang dipikirin cowok gila ini? Mendadak Mara memiliki firasat buruk.


"Lo pikir, dengan gue hadir di sini dan ngajak lo dansa, gue udah maafin lo?" Asta tersenyum simpul.


"Jadi lo mau ngajakin perang?" Mara menatap tajam laki-laki di sampingnya. Rasanya ia ingin memukuli Asta dengan sepatu haknya berkali-kali.


Lelaki itu tertawa pelan. "Gue gak bilang perang. Gue bilang taruhan!"


Mara terdiam.


"Gak sulit kan? Lo cuma gak perlu bilang nyerah aja."


"Kalau lo menang?" Mara menatap Asta dengan tatapan menyelidik.


Mara berusaha mencari tahu maksud Asta yang sebenarnya karena tiba-tiba saja mengajaknya bertaruh. Namun hasilnya nihil. Ini cowok abstrak banget! Bener-bener gak ketebak jalan pikirannya.


"Kalau gue menang, lo harus hapus semua cowok-cowok lain di pikiran lo, dan ganti semuanya dengan gue. Lo cuma boleh sayang sama gue. Lo cuma milik gue."


"Egois!" Mara protes sambil memutar kedua bola matanya. "Terus kalau gue yang menang?"


"Kalau lo yang menang, gue bakal berhenti ganggu lo. Gue bakal nyerah sama lo. Gue bakal pergi dari kehidupan lo. Itu berarti hubungan kita selesai. Simpel kan?"

__ADS_1


Mara tertegun mendengar penjelasan terakhir Asta. Perasaannya masih mengganjal. Ia tak tahu apa lagi yang harus dikatakannya. Apakah ia harus setuju atau tidak? Ia bingung. Ia resah.


"Tapi kayaknya lo bakal kalah deh! Gue bakal pastiin lo bakal sering nangis setelah ini. Siap-siap aja!" Asta tertawa.


Mara melongo. Buru-buru ia melepaskan sepasang sepatu haknya. Ia lalu menghujani pukulan pada laki-laki itu dengan sepatunya. Tak peduli bahwa Asta berteriak kesakitan karenanya.


Setelah puas, ia berjalan meninggalkan Asta dengan emosi yang masih menggebu-gebu. Ia berjalan secepat yang ia bisa.


Namun ia menghentikan langkahnya tiba-tiba. Sebelum jaraknya semakin menjauh, Mara pun berbalik badan. Ia menatap Asta yang masih datar menatapnya.


"Eh denger baik-baik! Gue gak akan pernah bilang nyerah meski lo bikin nangis berjuta-juta kali! Gue bakal bikin lo pergi selamanya dari hidup gue!"


Asta mengangkat salah satu alisnya. Tatapannya terlihat serius sekarang. "Oh ya? Kita lihat aja nanti!"


Mara terdiam. Rasanya ia ingin memukuli laki-laki itu lagi agar tak bersikap sombong. Sambil mendecakkan lidah, buru-buru ia berbalik badan lagi. Dengan langkah panjangnya ia pun pergi meninggalkan Asta yang masih terdiam di tempatnya.


"Gue gak yakin lo bisa bertahan, Mara!"


● ● ●


Riga masih duduk di dekat jendela ruang kelasnya sendiri. Ruangan yang gelap gulita dan hanya dihiasi cahaya dari kembang api yang masih mengudara di langit. Warna-warni cahayanya berkilat di atas sana. Letupannya pun sedikit jelas terdengar di telinganya.


Ia memandanginya dengan tatapan dingin khasnya. Ia mengabaikan sebuah ponsel yang sejak tadi bergetar di atas meja, tepat di samping tuxedo putihnya. Riga memang belum tergerak untuk berganti baju.


Sejak sebuah pesan hinggap di ponselnya beberapa waktu lalu, ia melupakan semuanya malam itu, tak terkecuali janjinya pada Mara. Pikirannya melambung jauh entah kemana. Ya, sejak sebuah pesan singkat mengusik pikirannya :


Lo masih inget gue? Gue pacar Chia, Rei.

__ADS_1


Gue denger lo amnesia yah? HAHAHAHAHA.


Gue gak mau basa-basi. Gue mau ngingetin lo, seperti janji gue, gue gak akan ngebiarin lo sama Chia hidup tenang. Inget baik-baik.


● ● ●


Chia duduk di samping jendela kamarnya dengan dagu yang bertopang pada kedua lengannya yang terlipat di atas lututnya, setelah membaca pesan singkat dari Adit. Ia bahkan tak berniat membalas, atau sekedar mengucapkan maaf karena tak menepati janji pada laki-laki itu.


Chia justru masih duduk sambil merenung. Matanya masih memandang jauh keluar sana, menatap letupan-letupan cahaya di kejauhan yang muncul dari arah sekolahnya.


Chia menghela napas. Ia memalingkan wajahnya dan menurunkan kakinya dari kursi, lalu berdiri. Ia meraih daun jendela dan menutup jendela kamarnya yang sedari tadi terbuka lebar.


Chia berjalan dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja riasnya, yang sejak tadi berdering. Ia pun menekan sebuah tombol pada ponsel itu. Rupanya ada sebuah pesan suara yang hinggap di sana :


Menyedihkan waktu lo gak mau angkat telepon dari gue. Ternyata lo dingin banget sama pacar lo sendiri.


Hahaha.


Suara berat yang tak asing baginya, yang terdengar dari ponselnya, membuatnya tertegun. Pacar? Gumam Chia pelan sambil menatap ke luar jendela. Memandangi kembang api di luar sana dengan telinga yang masih mendengarkan pesan suara di ponselnya itu.


Jangan lupa, gue gak akan ngelepas lo gitu aja. Gue bakal renggut kehidupan tenang lo di kelas dua. Gue bakal bikin kehidupan lo di kelas tiga menderita. Sama seperti dulu. Waktu lo masih kelas 3 SMP. Gue bakal bikin lo kehilangan semuanya. Sama seperti yang udah lo lakuin sama gue. Selamat tidur dengan tenang di hari terakhir di kelas dua lo, Chia.


Tut. Pesan suara itu berakhir.


"Rei!" Chia membalikkan ponselnya. Ia tersenyum tipis sambil berjalan menuju jendela kamarnya lagi. Ia lalu meraih tirai dan menutup jendela kamarnya.


Dengan langkah santai, ia mendekati kasurnya, lalu merebahkan diri di sana. Chia menarik selimut tipisnya karena udara malam itu terasa dingin.

__ADS_1


Ia melirik jendela kamarnya lagi yang telah tertutup tirai. Ia memandangi semburat cahaya di luar sana. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya memejamkan matanya.


● ● ●


__ADS_2