Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Empat


__ADS_3

Jun membukakan pintu mobilnya untuk Chia. Chia yang terbalut gaun cantik berwarna salem panjang itu, menurunkan kaki dan melangkah keluar. Dia melingkarkan tangan kanannya dengan tangan milik Jun. Lalu berjalan bersama memasuki sebuah hotel berbintang lima.


"Inget yah, hari ini kali terakhir gue jadi pasangan lo dalam acara kayak gini," bisik Chia dalam perjalanan menuju aula tempat acara pernikahan salah satu teman Jun berlangsung.


Jun, dengan ekspresi tegasnya menoleh ke arah Chia. "Emang kenapa? Takut ketauan sama pacar lo?"


Chia mendengus menanggapi ledekan Jun barusan.


"Pacar lo yang sekarang 'kan gak cemburuan kayak yang dulu," sindir Jun.


"Berisik ah. Gak usah bahas-bahas masa lalu," kesal Chia dan sukses membuat Jun mengulum senyum.


Chia dan Jun telah sampai di ruang utama. Ruang aula itu disulap sedemikian rupa. Hingga terlihat sangat mewah dan elegan dengan warna putih yang mendominan. Bunga-bunga mawar putih, ornamen-ornamen pernikahan yang serba putih, juga kostum tamu yang sebagian besar berwarna putih.


Deg! Lagi-lagi putih. Chia sempat terpaku sesaat. Kakinya mendadak kaku untuk melangkah lebih jauh masuk ke dalam ruangan tersebut. Sekarang Chia memang tak sedatar dan sedingin dulu. Dia jauh ekspresif dari yang dibayangkan. Terutama ketika mengekspresikan kesedihannya seperti sekarang.


Ya! Seiring perubahan segala aspek kehidupan di sekitar Chia dari tahun ke tahun, hidup Chia, kebiasaan Chia, tingkah Chia, perlahan ikut berubah pula. Dan warna putih, menjadi sebuah ketraumaan besar bagi perempuan berwajah manis berusia 26 tahun itu. Chia akan mendadak mematung, atau gemetaran, dan yang paling ekstrem menangis dalam diam lalu mengurung diri di kamar selama berhari-hari.


Ya, nyatanya melupakan cinta yang dulu pernah singgah tidak semudah itu. Tidak semudah saat kita mengedipkan mata. Tidak semudah saat kita menghirup dan mengembuskan kembali udara ketika bernapas. Nyatanya Chia memang masih seterpuruk itu.


Jun yang paham akan kondisi gadis di sampingnya itu, melepaskan tangan Chia yang melingkar. Jun justru meraih tangan Chia dan menggenggamnya dengan erat. Seketika itu pula, Chia pun sukses keluar dari jurang lamunan. Dia menatap Jun penuh arti. Jun yang ditatap seperti itu hanya tersenyum tipis sambil mengangguk.

__ADS_1


Chia membalas dengan anggukkan pelan. Dia tidak protes ketika tangannya digenggam erat oleh pria itu. Chia tahu, begitulah cara Juna Mandala melindunginya. Melindungi jiwa Chia agar tidak terjatuh lagi dalam keterpurukan. Melindungi Chia dari rasa trauma yang entah kapan akan hilangnya.


"Hai, Jun," sapa mempelai pria sambil melambaikan tangan begitu Chia dan Jun mendekatinya yang tengah berbincang dengan tamu lain. Ah, sepertinya mereka sama-sama teman satu profesi dengan Jun. Terlihat bagaimana cara mereka saling menyapa satu sama lain, membuat Chia paham seberapa dekat hubungan antara pria-pria itu.


"Hai, Nona Manis. Kita bertemu lagi," sapa mempelai pria kepada Chia dengan senyuman merekah.


Chia membalas senyuman itu. Dia juga tersenyum pada mempelai wanita yang berdiri di samping pangerannya. "Anda terlihat sangat cantik," puji Chia tulus.


"Ish! Kok panggilnya 'anda' sih. Kayak berasa orang asing aja. Lo temennya Kak Jun 'kan, berarti lo temen gue juga. Lagian kita seumuran. Panggil Irene aja yah," ujar si pengantin wanita dengan senyuman yang semakin mempercantiknya hari itu.


"Iya Irene. Lo beneran cantik banget malam ini. Selamat yah buat pernikahannya. Semoga kalian langgeng dan terus sama-sama sampai tua." Chia memberikan kotak hadiah yang dibawanya pada Irene. Sejujurnya, hadiah itu disiapkan sendiri oleh Jun. Chia, mana ingat soal kado. Jun saja mengajaknya baru siang tadi.


"Selamat yah, Dam," ucap Jun dengan kaku dan formal.


"Iya nih. Jadi, kapan nih kalian nyusul?" goda Adam, si pengantin pria. "Kalian udah cukup umur kok buat nikah. Apalagi lo Jun. Udah tua. Kudunya lo datang ke sini tuh sambil bawa 'buntut'."


Chia dan Jun secara naluriah saling menatap satu sama lain. Keduanya mengerutkan dahi bersamaan. Lalu tertawa getir.


"Gak usah nyuruh-nyuruh gue cepet nikah, Jo. Gue sih santai, udah ada pasangannya. Nah elo? Masih jones aja sampai sekarang," sahut Jun santai. Jun boleh dikata pria kaku. Tapi soal urusan ledek-meledek, dia memang jagonya.


Adam, Irene dan teman Jun lainnya sontak menertawakan pria yabg bernama Jo itu. Sementara Jun mengulum senang pertanda bahwa dia menang dalam urusan sindir-menyindir itu. Chia tersenyum tipis melihat bagaimana kehangatan interaksi Jun dan teman-temannya.

__ADS_1


Mendadak, Chia teringat kembali pada ketiga sahabatnya. Apa kabar ketika gadis itu? Sudah selama ini, Chia memang belum mendengar kabar dari ketiganya. Juga apa kabar dengan Fachri. Laki-laki itu sudah kembali ke Indonesia kah? Chia penasaran. Satu persatu orang di masa lalunya, kembali terngiang dibenak Chia.


Chia juga penasaran dengan kabar Semesta Udaraja. Masih kah laki-laki itu berbuat onar? Seharusnya laki-laki itu sudah menjadi direktur yang sah sekarang. Dilihat dari usianya yang sudah cukup dewasa, Pak Dan harusnya sudah pensi dan menikmati masa tuanya. Juga Renata yang seharusnya sekarang mungkin sudah menikah seperti Irene. Ah, Chia makin penasaran jika terus memikirkannya.


Chia tersenyum sendiri jika memikirkan hal itu. Dalam bayangannya terbesit skenario-skenario yang beragam. Banyak kemungkinan yang terjadi kepada teman-temannya di SMA dulu.


Duh, Mara juga apa kabar yah. Chia sadar dirinya keterlaluan. Baru juga dia berteman sebentar dengan pacar Asta itu, tapi Chia dengan sangat tega meninggalkan perempuan penyuka warna pink itu.


"Yah ... Mara pasti baik-baik aja sih selama di samping Asta. Cowok itu bakalan jadi satpam gratisan selama 24 jam. Cuma ... semoga Mara sabar-sabar aja deh ngehadapin Asta, kalau seandainya cowok itu masih bikin onar sih," pikir Chia di dalam hati. Dia masih tersenyum-senyum sendiri. Larut dalam bayangan imajinasinya.


Chia sampai tak sadar, bahwa ada seorang pria yang baru saja memasuki aula pernikahan itu. Laki-laki yang dalam sekali melangkah mampu membuat seluruh perhatian berporos kepadanya. Mampu menyihir dan menyita seluruh tatapan yang ada di dalam ruangan itu.


Pria itu berdiri tepat di belakang Chia. Dari balik punggung Chia, pria itu tersenyum pada Adam dan Irene. Dia mengulurkan tangan. Menjabat dua mempelai pengantin tersebut.


"Hai, Dam, Ren. Selamat yah buat pernikahan kalian."


Seiring perkataan pria itu berakhir. Senyum Chia seraya memudar. Berganti dengan kerutan di dahinya. Chia memberanikan diri menoleh ke belakang. Detik itu juga Chia terpana. Dia mendapati wajah yang tak asing itu menatapnya dalam diam. Selama sepersekian detik, Chia dan pria itu saling menatap dalam kebisuan. Sampai akhirnya pria itu tersenyum lebar pada Chia dan sukses membuat jantung Chia berdebar.


"Hai, Chia. Udah lama kita gak ketemu yah."


∆ ∆ ∆

__ADS_1


nah loh, tebak-tebak berhadiah doa lagi nih. Ayo ayo siapa laki-laki itu. Coba diingat ingat siapa aja cowok yang berhubungan sama Chia di season satu. Tuh udah aku kasih clue. Semoga sukses sama tebakannya 🤭🤭🤭


__ADS_2