Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

Asta membuka mata. Kepalanya masih berdenyut sakit. Sepertinya pandangan Asta masih kabur. Ada banyak kunang-kunang yang dilihatnya di dalam sebuah kamar berlangit-langit putih itu. Eh, kamar? Kamar siapa ini? tanya Asta di dalam hati.


Asta yakin tempat itu bukanlah kamar yang biasa ditinggalinya. Asta tahu dari segi luas. Kamar yang dilihat Asta saat ini cukup besar dan terlihat sekali banyak pernak-pernik barang mewah yang tidak dimiliki. Warna biru cerah yang mendominan membuat Asta yakin bahwa itu adalah kamar milik orang lain.


Asta berusaha bangun. Sambil memegangi kepalanya yang masih berdenyut, dia mencoba untuk turun dari kasur. Namun, sebuah jarum infus di tangan kirinya, membuat gerakan Asta tertahan. Dia mengamati tiang infusan yang dipasang di sebelah tempat tidur.


"Apa gue lagi di rumah sakit?" tanya Asta pada dirinya sendiri. Kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ada sebuah meja rias di dekat jendela. Lemari baju, televisi, kursi sofa yang terlihat empuk dan nyaman, serta rak buku kecil di sisi lain. Dilihat dari furnitur-furnitur di kamar itu, Asta yakin dia sedang tidak berada di rumah sakit. "Terus siapa yang nolongin gue?"


Asta sedang memikirkan sebuah nama di dalam benaknya. Menebak-nebak siapa saja yang mungkin bisa menjadi penolongnya. Karena Asta merasa tak asing dengan gaya simpel sang pemilik kamar. Ah cuma dugaan aja.


Ceklek!


Asta melemparkan pandangan ke arah pintu yang terbuka. Seseorang masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa sebuah mangkuk yang ditaruh di atas nampan. "Eh? Lo udah bangun? Kebetulan dong," seru seorang perempuan yang dilihat Asta itu sambil melangkah masuk.


Perempuan? kaget Asta di dalam hati. Gue pikir kamar ini milik seorang laki-laki.


Pelan-pelan perempuan itu melangkah. Mungkin takut sesuatu yang dibawanya akan tumpah begitu saja. "Tadinya gue mau iseng-iseng doang bawa bubur ini ke kamar. Gue cuma mau nengok kali aja lo udah bangun. Eh, taunya feeling gue ternyata bener," tambah perempuan itu lagi sambil terkekeh.


Asta terdiam. Mematung seperti orang bodoh. Mata Asta mengerjap. Masih tak percaya dengan wajah dan suara yang ada di hadapannya saat ini. Dia takut apa yang dilihatnya hanya sebuah ilusi. Namun, seiring perempuan yang sedang membawa mangkuk itu berjalan semakin mendekat, dia sadar ... kalau yang dilihatnya adalah nyata.


Perempuan yang Asta tahu adalah Mara itu menaruh nampan di atas nakas. Lalu Mara mendekatkan dirinya dengan lelaki yang sedang duduk di pinggir kasur itu. Mara membuat pandangan mereka sejajar. Kemudian dia menaruh punggung tangannya di dahi Asta.


"Masih panas," gumam perempuan penyuka warna pink itu. "Kepala lo masih pusing 'kan? Kok malah bangun? Buruan tidur lagi. Kata Mas Fero lo harus banyak istirahat."


"Mas Fero?" ulang Asta dengan dahi berkerut.


"Iya Mas Fero. Dia dokter kenalannya Fachri yang ngerawat lo tadi." Mara celingak-celinguk. Mencari sebuah kursi kecil untuk menjadi tempat duduknya. Akhirnya dia menarik kursi meja rias dan menaruhnya di samping tempat tidur. Dia duduk dan menghadap pada mangkuk bubur. Mengibas-ngibaskan tangannya di atas mangkuk agar bubur itu cepat dingin.


"Mas Fero bilang, lo kecapean. Lo terlalu memaksakan tubuh lo untuk bekerja. Juga lo gak terlalu boleh banyak pikiran. Demam lo tadi tinggi banget. Sekarang kayaknya belum turun. Coba gue cek." Mara membuka laci. Mengeluarkan sebuah termometer lalu mengacungkannya pada Asta. "Ini ambil. Gue mau tahu suhu badan lo sekarang berapa."


Asta memandang Mara dingin. "Siapa lo? Nyuruh-nyuruh gue," protes Asta.


Mara melotot. Kesal, dia menginjak kaki lelaki di hadapannya itu. "Kalau bukan perintahnya Mas Fero juga gak bakalan deh gue lakuin. Cepetan. Gak usah bawel."


Dengan sangat berat hati, Asta memasang termometer itu ke dalam baju tidurnya. Sebentar, baju tidur? "Lo diem-diem cari kesempatan dalam kesempitan yah?"


"Hah?"


Asta menunjuk ke arah baju tidur yang dikenakannya dan langsung dihujani pukulan pelan dari Mara.


"Gak paham gue sama pemikiran lo. Gue mau cari kesempatan juga mikir-mikir dulu kali. Yang gantiin baju lo itu Fachri. Bukan gue." Mara mendengus sebal. Entah kenapa orang di depannya itu sangat, sangat, sangat menyebalkan.


Asta mengeluarkan termometer ketika benda itu berbunyi. Mara buru-buru merebutnya. 39.1 derajat Celcius. Mara berdecak. "Demam lo masih tinggi. Udah cepetan sana naik ke kasur."


"Suka-suka gue. Gue gak suka diperintah," protes Asta. Namun diam-diam memundurkan badan dan menarik kaki ke atas kasur lalu berbaring.


"Sewot, tapi tetep dilakuin juga," ledek Mara sebal.


"Gak usah banyak protes."


"Nyebelin banget sih! Modal ganteng doang aja udah sombong," dumel Mara pelan sambil menatap kepulan asap dari bubur di dalam mangkuk putih di atas nakas.


Asta tersenyum miring. "Gue denger."


Mara mendelik sinis. Sudah dua kali gumamannya dapat terdengar oleh lelaki itu. Rasanya Mara dejavu. Seolah teringat kembali akan seseorang yang memiliki keisengan khusus untuk membaca setiap gumaman dan pergerakan bibirnya.

__ADS_1


Namun, meski diperhatikan selama dan sedetail apa pun, orang yang tengah berbaring di atas kasur itu jauh dari seseorang yang dimaksud Mara. Sama sekali tidak mirip. Yang mirip hanya sikap menyebalkannya saja. Ah, tidak! Mara rasa lelaki yang sedang berbaring itu memiliki satu kelebihan. Dia jauh lebih sewot dari seseorang yang selalu ada di dalam pikiran Mara.


"Eh, lo mau makan gak?" tanya Mara sinis. Siapa juga yang mau beramah tamah dengan lelaki yang dapat membuat emosinya memuncak setiap saat? Jangan harap Mara mau.


"Panggil gue yang bener. Nama gue bukan 'eh'. Nama gue Andra. Baruna Andromeda. Mau, gue tulis dijidat lo supaya lo inget?"


Kan? Seperti yang Mara bilang barusan. Belum apa-apa, lelaki itu sudah menaikkan tekanan darah Mara. Kalau tidak melihatnya sedang sakit, sudah dari tadi Mara melayangkan tinjunya pada lelaki itu. Mara lelah bersabar. Masa bodoh dengan aturan perempuan yang harus bersikap lemah lembut. Di luar sana, banyak perempuan-perempuan kuat yang jago meninju dan bela diri tapi tetap terlihat anggun. Tergantung persepsi masing-masing saja sebenarnya.


Mara mendengus. Kemudian mendelik sebal. "Jadi, Tuan Baruna Android ... eh, Andromeda. Lo mau makan apa enggak? Kasihan ini buburnya dianggurin. Keburu dingin. Nanti jadi gak enak."


Asta melirik ke arah mangkuk putih yang masih mengeluarkan asap tipis. Meski hampir memudar. Namun, Asta dapat menebak jika bubur itu setidaknya masih hangat. Dia beralih memandang Mara. Senyum miring tercipta di wajahnya. "Gue gak mempermasalahkan soal dingin atau enggaknya sih. Bagi gue, yang bikin bubur ini gak enak, ya ... pasti si pembuatnya aja yang gak bisa masak."


Astaga! Demi apa pun, Mara ingin sekali menjadikan lelaki itu sebesar nyamuk, lalu Mara geplak hingga tewas menggunakan raket listrik. Uh! Menyebalkan. "Ini obatnya. Diminum setelah lo makan buburnya. Jangan lupa harus sesuai petunjuk dokter."


Setelah itu Mara bangkit berdiri. Dia berjalan cepat-cepat meninggalkan kamar sambil menahan dongkol di dalam hati. Tak kuat berlama-lama berada di satu atmosfer yang sama dengan Asta. Bisa-bisa kepalanya pecah dan Mara mengalami penuaan dini. Tidak! Maka Mara kembali ke apartemennya sendiri. Masa bodoh dengan pasien sombong itu.


∆ ∆ ∆


Lagi-lagi Jun menghela napasnya. Mendengar berita dan membaca surat kabar tadi pagi, nyatanya membuat lelaki berumur 36 tahun itu tak bisa fokus bekerja. Jun kepikiran tentang suatu hal. Tentang permintaan Asta dan tentang pendirian Jun sendiri. Lelaki itu sedang mengalami pertentangan batin.


Jun melonggarkan dasi yang terpasang di kemeja. Membuka jas dan melemparnya di atas sofa, kemudian menyalakan lampu kamar. Jun menyalakan lampu kamar, menaruh tasnya di atas meja sebelum duduk di balik meja kerja sambil memijat pelipisnya. Pikiran Jun begitu kacau.


Setelah membaca berita itu, Jun yakin cepat atau lambat lelaki bernama Asta akan datang padanya lagi. Meneror Jun dengan segala permintaan hingga membuat dia kepayahan sendiri. Lelah mencari alasan untuk menolak. Namun, bukan itu yang membayangi pikiran Jun. Ada hal lain.


Mata Jun fokus pada sebuah bingkai foto di atas meja kerjanya. Sejak tadi dia memang memandangi hasil jepretan yang dia abadikan sendiri dan memajangnya dalam sebuah pigura. Jun merasa bersalah akan banyak hal. Terutama pada sikap dingin dan seluruh rasa kebimbangannya. Uh! Menyebalkan. Jun mengacak rambutnya frustrasi.


Ting tong ting tong ....


Suara bel pintu apartemennya, terdengar hingga ke dalam kamar. Namun Jun tak memiliki keinginan untuk membuka pintu itu. Dia masih bergeming di tempat. Hingga sebuah pesan dari Chia masuk ke ponselnya, Jun berdiri dan keluar kamar. "Ada apa?" tanya Jun ketika pintu sudah terbuka.


Jun membelalakkan matanya. Kaget karena rupanya Chia tidak sendiri. Di sebelah perempuan yang Jun anggap seperti adik sendiri itu, berdiri seorang lelaki dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya terlihat kemerahan dengan bibir yang pucat pasi. Butiran peluh membanjiri seluruh rambut dan wajahnya.


∆ ∆ ∆


Chia sedang memeras handuk kecil yang baru saja dia angkat dari dalam baskom berisi air hangat. Chia memasangkan handuk itu pada dahi lelaki yang sedang berbaring di kamar tamu apartemen Jun. Handuk sebelumnya diambil dan direndam lagi dengan air hangat.


"Berapa suhu badannya?" tanya Jun yang tiba-tiba telah berada di dalam kamar tamu itu, dan kini sedang berdiri di belakang Chia.


"Masih 39 derajat lebih," jawab Chia sambil memandangi wajah lelaki di hadapannya. Wajah lelaki yang masih memejamkan mata dan mampu membuat Chia merasa prihatin.


Jun mendesah dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Kita keluar dulu. Biarin dia istirahat."


Chia mengangguk pelan kemudian bangkit berdiri. Dia berjalan mengekor Jun di belakang. Pelan-pelan ditutupnya pintu agar tidak terdengar oleh seseorang di dalam sana.


"Di mana lo ketemu dia?" tanya Jun setelah keduanya berada di luar kamar. Kini mereka berada di dapur milik pengacara itu. Jun menuangkan segelas jus jeruk dan memberikannya pada Chia.


Chia mengambil gelas yang disodorkan Jun dengan pikiran menerawang. Teringat kembali pada kejadian ketika Chia pulang dari perpustakaan tadi.


Chia duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Kursi yang berada di dekat jendela sebelah kanan. Barisan ketiga dari belakang. Dia tercengang ketika melihat seseorang yang dikenalnya sedang berpangku tangan sambil memandang keluar jendela.


"Asta?" panggil Chia ketika dirinya telah duduk.


Lelaki yang dipanggil Asta oleh Chia itu seraya menoleh. Matanya membulat sebentar. Mungkin lelaki itu juga kaget seperti yang dirasakan Chia barusan. Lalu Asta tersenyum tipis pada Chia. "Kebetulan lagi?"


"Kayaknya gitu." Chia mengangguk sambil mengamati wajah Asta yang terlihat tidak seperti biasanya. Wajah Asta sangat pucat. Warna merah seperti kepiting rebusnya justru membuat dahi Chia mengerut. Chia menoleh ke arah tangannya yang tak sengaja bersentuhan dengan kulit lelaki itu ketika bus berguncang sebentar barusan. "Lo sakit? Badan lo panas banget."

__ADS_1


Lagi-lagi Asta tersenyum kemudian menggelengkan kepala. "Gue gak apa-apa. Gue baik-baik aja."


Chia tidak percaya. Melihat bagaimana Asta berkeringat begitu hebat, Chia yakin Asta sedang tidak baik-baik saja. "Lo mau kemana? Rumah lo di mana? Sebaiknya lo istirahat." Raut wajah Chia cemas.


Asta terdiam. Dia sedang mencoba menekan rasa sakit di kepalanya. Tadi, begitu Mara pergi dari kamar apartemen Fachri, Asta buru-buru memakan bubur buatan perempuan itu. Dia juga segera meminum obat yang ditunjukkan Mara lalu memasukkan sisanya ke dalam kantong saku celana. Asta kemudian berdiri. Berjalan tertatih-tatih dan pergi meninggalkan gedung apartemen itu begitu saja tanpa berpamitan pada Mara.


Asta sangat mengetahui perangai Mara. Perempuan itu pasti akan mencegah Asta pergi, lalu berakhir dengan mengomeli Asta seharian hingga puas. Dulu, Mara pernah menangis karena melihat Asta terjatuh dari tangga dan harus dirawat di rumah sakit. Padahal luka yang diterima Asta tidak terlalu parah, tapi perempuan tomboy yang cengeng itu selalu saja bereaksi berlebihan.


Asta tersenyum diam-diam. Dia jadi teringat kembali dengan masa lalunya. Masa ketika sikap Mara yang manis dan penuh perhatian saat merawatnya dulu. Begitu lucu. Ah, sayang sekali Asta tidak akan merasakan momen seperti itu lagi. Maranya kini mengenali Asta sebagai sosok bernama Andra. Lelaki pincang dan jutek yang bekerja sebagai pengantar Makanan di sebuah restoran lokal milik teman Jun.


"Gue mau pergi ke rumah, tapi bukan rumah gue. Ah, tepatnya, gue mau pergi ke sebuah apartemen," jawab Asta datar.


"Apartemen siapa?" tanya Chia penasaran.


"Apartemen lo." Asta menjawabnya dengan cepat. Kemudian tertawa kecil ketika melihat raut kebingungan di wajah Chia. "Gue mau ke apartemennya Jun tepatnya. Ada hal penting yang harus gue bicarain sama dia."


Chia mengamati wajah Asta yang masih tersenyum. Mencoba mencerna perkataan lelaki itu. "Lo ... tahu tempat tinggal gue dan Jun?"


Asta mengangguk lemah.


"Setelah itu, gue dan dia turun di halte yang sama. Gue dan Asta jalan bareng ke apartemen ini. Dia juga yang minta gue buat ngirim pesan supaya lo mau bukain pintunya," cerita Chia singkat.


Jun mengangguk-anggukan kepalanya. Mengerti. Dia menengguk jus jeruk yang tadi dituang ke dalam gelas untuk dirinya sendiri. Dia melirik ke arah pintu kamar yang sedang ditempati Asta. Tiba-tiba pikirannya kembali terpenuhi oleh suatu hal, dan Jun tampak merenung cukup lama hingga terdengar suara gelas pecah dari dalam kamar tamu.


Chia dan Jun saling beradu pandang. "Asta!" seru mereka bersamaan. Lalu berlari dengan tergesa-gesa ke dalam kamar setelah meninggalkan gelas berisi jus jeruknya masing-masing di atas meja.


∆ ∆ ∆


Mara dongkol setengah mati. Tangannya berkacak pinggang sambil melotot pada secarik kertas yang sedang dipegang Fachri. Lelaki itu sedang khidmat membaca beberapa kata yang tertulis di atas kertas.


Thanks buat bantuannya. Sorry gue pergi tanpa pamit.


"Nyebelin banget gak sih?" tanya Mara untuk ke sekian kalinya. "Gue kira dia gak akan kabur gitu aja."


Fachri mendesah pelan. Tangannya terulur. Kembali menaruh secarik kertas yang ditemukan di atas nakas di dalam kamar tamu apartemennya. Saat pulang tadi, Fachri yang sengaja buru-buru kembali dari restorannya, tidak menemukan lelaki yang harusnya berbaring di dalam kamar tamu apartemen itu.


Dia segera mencari Mara dan menemukan perempuan itu sedang tertidur di dalam kamar apartemennya sendiri. Fachri bernapas lega. Fachri hampir jantungan. Takut kalau terjadi apa-apa dengan sahabatnya itu. Untung ternyata si pasien hanya kabur sendiri setelah meninggalkan secarik kertas yang ditemukan Mara atas nakas.


"Gue malah lagi bersyukur. Gue bersyukur lo gak kenapa-napa," jujur Fachri sambil memandang wajah kesal sahabatnya. "Lagian dia pergi, mungkin karena dia udah merasa baik-baik aja. Biarin aja sih. Lo gak perlu ribet."


Mara mendesah frustasi. "Bukan gitu!" Mara menghempaskan diri di atas kasur dan duduk di sebelah Fachri.


"Gue sebel aja dia main pergi gitu aja. Mana udah bikin gue dongkol. Gak pamitan lagi sekarang? Pokoknya bodo amat kalau terjadi apa-apa sama dia. Gue gak mau tanggung jawab," kesal Mara dengan bibir yang maju ke depan beberapa sentimeter.


Melihat ekspresi sahabatnya itu, Fachri jadi memiliki keinginan untuk menggoda Mara. Senyumnya terbit. "Cieee .... Yang lagi ngambek ni, ye. Pengen minta dipamitin. Hati-hati lo, bisa-bisa lo jatuh cinta sama dia. Wajahnya sih lumayan ... ganteng. Kalo lo gak mau sama Riga, gue jodohin sama dia aja. Duh sayang gur belum tahu namanya."


"Apaan sih lo?" Mara menoyor dahi Fachri pelan. "Jodoh-jodohin. Mau lo jodohin gue sama dia sampai hari kiamat juga gak bakalan gue jatuh cinta sama dia. Ih enggak yah! Sorry, gak level."


"Gaya lo gak level. Entar kalau lo beneran jatuh cinta, bakal gue suruh lo joget 5 album di depan Patung Pancoran. Lo gak pernah denger apa kata pepatah emang? Cinta bisa datang dari mana aja. Dari mata turun ke hati. Dari benci menjadi cinta." Fachri tertawa-tawa sendiri


Mara mengambil bantal dan melemparkan benda itu ke wajah Fachri. Kesal. "Makan tuh cinta!" Setelah itu Mara pergi sambil mencak-mencak meninggalkan Fachri yang tertawa sendiri.


∆ ∆ ∆


Full mara asta nih gengs 🤧🤧🤧🤩🤩❤️❤️❤️

__ADS_1


Sedihnya, riga gak nongol.. 🤧🤧 chia nongol dikit.. ya udah sih yah.. frekuensi nongol tiap tokoh sesuai dengan kebutuhan cerita.. nnti ada masanya riga nongol banyak, atau chia juga.. yah mari tunggu aja.. pokoknya aku selali mencoba untuk adil untuk setiap anak-anakku.. gak ada yg aku anak emaskan.. kalian semua sama 🤧🤧🤧


lah kenapa aku malah curcol dan menghalu? yo wes semoga suka yah ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2