Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Tiga Puluh Enam


__ADS_3

Mara sedang duduk di balkon. Menikmati malam yang semakin larut dan langit yang muram karena hujan yang baru saja berlalu. Dibalut dengan selimut tipis dan secangkir teh jahe merah, angin dingin mencoba menerpa tubuh Mara.


Tiba-tiba kepulan asap menyembul dari balik tembok di sisi kanan Mara. Asap tipis itu menarik pandangan Mara untuk mengintip siapakah yang menimbulkannya. Namun, Mara sudah bisa menerka dari mana kepulan itu berasal.


"Lo belum tidur?" tanya Mara pada seseorang yang ada di balik dinding pembatas apartemennya.


Sementara Fachri yang berada di balkon apartemennya sendiri itu mengernyit bingung begitu mendengar suara Mara dari balik dinding. Ya, Fachri memang sengaja memilih apartemen yang tepat bersebelahan dengan milik Mara, agar dia mudah menjaga dan mengawasi perempuan itu.


Menyesap rokok yang masih diapit kedua jarinya, Fachri meniupkan sekumpulan asap dari dalam mulutnya. "Gue belum ngantuk."


"Baru selesai riset makanan baru lagi?" tanya Mara dengan mata yang terus memandangi kepulan asap tipis yang perlahan memudar tertiup angin.


Fachri menganggukkan kepala meski Mara tak bisa melihatnya. "Yap. Gue mau launching produk unlimited edition untuk restoran baru gue di kota ini. Tapi, sepertinya masih harus ditunda dulu."


"Kenapa?"


"Gue merasa belum pas aja dengan rasanya. Meski tampilannya udah lumayan oke. Mungkin perlu beberapa kali riset lagi."


Kali ini Mara yang menganggukkan kepalanya. Mengerti. Dia tahu kebiasaan sahabatnya itu. Fachri selalu menghabiskan waktu malamnya hanya untuk memasak, memasak dan memasak. Bahkan mungkin jam tidur Fachri jauh lebih sedikit dibanding Mara. Dia sampai pernah menemukan Fachri tertidur dalam keadaan berdiri di dapur apartemennya.


Ya ampun! Memangnya cowok itu gak pernah tidur? Mara memutar kedua bola mata.


"Lo sendiri, kenapa belum tidur?" tanya Fachri sambil terus menghisap rokoknya. Punggungnya disandarkan pada kursi, sedang kakinya ditumpangkan pada pagar pembatas balkon apartemen.


"Gue kepikiran sesuatu," jujur Mara.


"Apaan emang?"


Mara tampak berpikir. Dia mengusap-usap dagunya dengan jari telunjuk. Pandangannya menerawang ke depan entah kemana. "Menurut lo, Riga tau gak sih soal hubungan kakaknya dengan Chia? Kok feeling gue bilang, Riga belum tau yah? Kalau suatu saat nanti Riga tau, apa dia bakal baik-baik aja?"

__ADS_1


Fachri terdiam. "Kalau rasa sakit hati sih, pasti ada. Kecewa? Juga iya. Bahkan Riga juga berhak marah kok. Tapi balik lagi, tergantung masing-masing menyikapinya. Siap menerima keadaan apa enggak. Gue yakin juga sih, kalau Chia punya alasannya sendiri."


"Menurut lo apa?"


Fachri menghendikan bahunya. "Mana gue tau. Emang gue peramal?"


Mara berdecak sebal. "Gue takut suatu hari nanti, Riga jadi membenci kakaknya. Gue takut aja gitu kedua saudara kandung itu jadi musuhan hanya karena perempuan."


"Cieee ... perhatian amat sama Riga. Uhuy! Ada yang lagi kena panah asmara ceelbeka." Fachri tertawa.


Sedangkan Mara kesal setengah mati. Andai tembok pembatas itu tidak ada, sudah dari tadi Mara melompat dan mencekik Fachri saat itu juga. "Bukan gitu!"


"Hidup itu aneh yah? Ada dua orang yang saling mencinta, tapi belum sampai pada bagian akhir cerita, nyatanya keduanya tidak bisa bersama dan bersatu. Ada juga dua orang yang saling mencinta, tapi memilih untuk tidak bersatu, dan mengakhiri kisahnya bersama dengan cinta yang lain," lanjut Mara dengan bergumam pelan.


Fachri tak berkomentar. Pikirannya justru menerawang ke masa lalu. Saat dulu dia pernah merasakan yang namanya cinta. Euforia kupu-kupu terbang di dalam perutnya.


"Lo yakin gak merasakan sesuatu gitu saat lihat Chia tadi siang? Bahkan boneka-boneka gue lo jatohin secara tragis ke lantai. Pakai acara lo lupa ngedipin mata segala lagi. Bilang aja lo masih naksir dia," sindir Mara sambil mendengus. Andai senyum mengejeknya itu terlihat oleh Fachri, Mara akan merasa jauh lebih senang.


"Yakin gak cemburu?"


"Cemburu atau enggak, bukannya hati kita berhak memilih salah satu dari dua hal itu? Dan gue memilih untuk gak cemburu," jelas Fachri sambil menutup matanya. Merasakan terpaan angin di wajah dan lengan yang tak tertutup selembar kain pun. Merasakan hawa dingin dengan bayangan wajah Chia yang tiba-tiba muncul.


"Ada seseorang yang mencinta sendiri, tapi memilih mengakhiri kisahnya sebelum cintanya berbalas dari yang lain. Karena dia tahu, tidak ada gunanya dia menunggu. Cintanya akan tetap menjadi cinta yang dingin. Cintanya tidak akan pernah berubah menghangat dan bersambut," tutur Fachri dengan mata yang masih terpejam. Senyumnya mengembang. "Tapi gue gak pernah menyesal pernah mencintai seseorang. Sekarang, melihat dia bahagia, gue pun juga ikut merasa bahagia."


Mara tiba-tiba menarik garis lengkung di wajahnya. "Gue juga sama. Gue merasa bahagia karena pernah mencintai seseorang. Semoga orang itu juga bahagia di atas sana, dengan melihat gue yang perlahan bangkit untuk meraih kebahagiaan."


∆ ∆ ∆


Asta masih duduk di atas motornya. Sengaja berlama-lama untuk tidak segera pergi meninggalkan sebuah gedung perkantoran. Di tangannya, ada sebuah gulungan koran yang baru saja dibeli dari loper koran pinggir jalan. Koran itu diremasnya dengan kuat.

__ADS_1


Sebuah highlight berita yang terpampang jelas dengan huruf tebal dan besar di koran itu membuat hati Asta merasa panas. Lagi-lagi awak media memberitakan informasi palsu kepada masyarakat. Informasi pencitraan dari seorang lelaki bernama Darmawan Adhyaksa yang katanya telah memberikan sumbangan besar kepada jutaan warga tidak mampu di sebuah pemukiman kumuh tak terawat.


Cih! Jika mengingat kembali apa yang dilihatnya, Asta benar-benar ingin segera memusnahkan lelaki yang suka sekali membuat pencitraan itu.


"Kak Andra!" seru seorang gadis kecil dengan rambut dikepang dua berlari ke arah Asta. Gadis yang selalu ceria dan penuh tawa itu menyambut Asta dengan pelukan. Senyuman sumringah tidak terpampang jelas di wajah lugunya kali ini. Gadis kecil itu terlihat muram dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Asta berlutut agar tingginya dapat sejajar dengan gadis kecil bernama Lala itu. "Kok Lala cemberut? Biasanya Lala ketawa kalau Kakak berkunjung ke sini. Lala gak suka dengan kedatangan Kakak yah hari ini? Atau Lala lagi marah sama Kakak?"


Gadis bernama Lala itu menggeleng. Air matanya perlahan jatuh di pipi. Dengan bahu bergetar, gadis itu membuka mulutnya. "Lala sedih Kak Andra. Katanya satu minggu lagi saung tempat Lala belajar bakal dihancurin. Rumah Lala dan temen-temen juga bakal digusur. Lala sedih lihat ibu dan bapak nangis di rumah."


Perlahan mata Asta memandang saung kecil di depan sana yang biasa dipakai lelaki itu untuk mengajari anak-anak yang tak mampu bersekolah. Dulu Asta dibantu Jun yang mendirikan saung kecil-kecilan itu. Membuat sarana belajar alakadarnya dengan Asta sebagai gurunya. Jun sesekali membantu kalau dirinya sedang tidak sibuk.


Kini, Asta tak percaya jika tempat yang biasa ramai dengan tawa anak-anak itu akan dihancurkan begitu saja. Namun, begitu melihat anak-anak didiknya berdiri berjajar di depan saung dengan berurai air mata, hati Asta pun meradang.


"Siapa yang bilang, Lala?" tanya Asta lembut sambil mengusap air mata Lala yang tak kuasa berhenti. Padahal di dalam hatinya sedang bergejolak api amarah yang siap melahap apapun di depannya. Asta murka.


"Tadi ada orang rame-rame ke sini, Kak. Mereka marah-marah. Katanya nyuruh semua orang di desa ini buat cepet pindah. Kalau enggak, nanti kita semua diusir paksa dan rumah-rumah digusur bakal digusur," jelas Lala sambil sesenggukan. "Bapak aja tadi sempet kena pukul karena menolak pindah."


Asta memandang gadis kecil yang berusia 12 tahun itu dengan tatapan seribu makna. Pedih, terluka, marah, semua bercampur menjadi satu. "Boleh yah, Kakak tengok keadaan bapak kamu dulu?"


Dalam tangis Lala mengangguk lemah. Begitu Asta berdiri untuk pergi ke rumah gadis itu, tangannya tiba-tiba digenggam oleh Lala. "Kak Andra mau 'kan bantuin Lala? Lala gak mau saung itu dihancurin. Nanti Lala sekolah di mana kalau saung itu gak ada?"


Hati Asta terenyuh. Sakit. Andai dirinya masih seperti yang dulu. Ketika semuanya ada di genggaman tangan, Asta tak akan segan-segan untuk membantu seluruh warga desa yang memberikan kehangatan dan apa arti keluarga padanya itu. Bahkan dia akan melakukannya tanpa diminta sekali pun. Sekarang, dia yang tak memiliki apa-apa, justru hanya terpaku tak berdaya. Terdiam bagaikan patung karatan yang siap keropos kapan saja.


Asta tersenyum getir sambil mengusap kepala Lala dengan sayang. "Kakak akan usahakan. Kakak gak akan ngebiarin tempat belajar Lala dan temen-temen hilang. Lala sabar yah. Lala harus tetep semangat dan ceria. Kak Andra pergi dulu buat nengok bapaknya Lala dulu yah?"


Gadis kecil berkepang dua itu mengangguk. Lalu membiarkan Asta pergi menuju ke salah satu rumah di antara deretan pemukiman kumuh di hadapannya.


∆ ∆ ∆

__ADS_1


Segini dulu bonus dari aku gengs 🤧🤧🤧


__ADS_2