
Hampir tiga jam Mara 'diculik' ketiga temannya. Terjebak di dalam sebuah ruangan yang gelap gulita. Ah, tidak. Tepatnya ruangan yang sengaja di setel agar lampu utama mati. Lalu diganti dengan lampu kerlap-kerlip berwarna-warni yang selalu berganti mengikuti irama musik keras yang sedang diputar.
Mara masih asyik duduk di sebuah sofa yang memanjang dari ujung kanan hingga kirinya. Sofa panjang yang berwarna senada dengan warna cat tembok ruangan itu--Hitam-merah--hanya diduduki Mara seorang diri. Jangan tanya kemana ketiga temannya saat ini.
Di depan sana, Amel dan Selo sedang bernyanyi duet. Memamerkan bagaimana suara mereka dapat mengguncang seisi ruangan. Bahkan kalau bisa, gedung tempat mereka berkaraoke ria pun ikut menjadi gempar. Suara Selo yang tak disangka ternyata enak didengar itu, mampu menutupi cara bernyanyi Amel yang keluar jalur setiap saat. Alias fals. Setidaknya, telinga Mara masih diambang batas aman. Uh, kalau tidak, sudah dari tadi Mara minggat pulang ke apartemennya.
Sementara Gita yang Mara ketahui lebih kalem dan agak lebih 'waras' dari yang lainnya, ternyata sama saja error. Perempuan itu menjadi sosok orang lain ketika mendengar suara musik diputar. Gita asik sendiri menjadi penari latar. Yang kadang gerakannya tidak sesuai dengan musik yang terdengar.
Saat Amel dan Selo menyanyi lagu balad atau melow, Gita justru menari dengan semangat tanpa ritme. Namun, ketika lagu dengan tempo jauh lebih semangat, Gita malah menari ala-ala dansa. Atau malah berakhir seperti gerakan senam zumba. Untung hati Mara kuat menerima ketiga orang temannya itu. Baru pertama kali dia mendapati teman-teman yang ternyata gesrek semua. Semoga pikiran Mara tidak ikut konslet saja.
"Ayo dong, Mar! Giliran lo yang nyanyi. Capek gue. Tenggorokan sampe kering," protes Selo yang kemudian membanting pantatnya di atas sofa. Lalu duduk di sebelah Mara dengan dada naik turun dan mulut yang terbuka. Menghirup dan membuang oksigen banyak-banyak.
"Kok lo malah duduk sih, Sel. Ronde terakhir ini. Masa gue nyanyi sendirian? Gak seru ah. Mana pita suara gue udah ambyar," dengkus Amel dengan kaki terhentak di atas lantai. Matanya beralih pada Gita. "Mba Gita nyanyi yuk. Temenin Amel."
"Gak!" tolak Gita. "Gue udah capek juga. Mau istirahat."
Mara menengok ke arah suara Gita berasal. Ternyata perempuan itu tepar lebih dulu. Dia berbaring di ujung sofa. Dengan kedua tangan diluruskan melewati kepala. Persis pose orang mau berenang.
"Ah, Mbak Gita gak asik. Palingan juga bukan mau istirahat. Mba Gita mau benerin dandanan 'kan?" sindir Amel.
Yang disindir terkekeh sambil mengintip ke arah Amel yang masih berdiri. "Lo emang yang paling tau deh sedunia." Gita bangkit duduk. Melepas sepatunya ke sembarang arah. Lalu duduk bersila sambil mulai merogoh tas kecil yang dibawanya.
Gita mengeluarkan peralatan 'tempurnya'. Lipstik, bedak, maskara dan segala hal sejenis yang membuat Amel, Selo dan Mara geleng-geleng kepala.
"Ya elah, Mbak. Dari pada dandan, mendingan temenin Amel. Lagian habis ini bakalan pulang ke rumah. Buat apa juga benerin dandanan?" sebal Amel yang sedang memilih lagu.
"Eh, dandan itu perlu. Cantik itu wajib. Gue harus tetep tampil oke meski tujuan gue pulang ke rumah. Emangnya nanti di jalan gue gak bakalan ketemu sama orang lain gitu? Kali aja nanti gue ketemu pangeran berhelikopter putih. Terus diculik ke Paris. Terus tau-tau dilamar dan diajak nikah. Dibuatin istana megah dengan segudang fasilitas yang bikin gue cuma kipas-kipas cantik di rumah," jawab Gita dengan mata yang fokus mengamati wajahnya sendiri di dalam cermin kecil yang dia bawa. Tangannya terampil mengaplikasikan berbagai jenis peralatan make-up ke wajahnya.
"Halu aja teruuss!" cibir Amel. "Yang ada juga nanti ketemu cewek berbaju putih yang melayang-layang sambil cekikikan. Katanya, "lo mau nyaingin gue, hah?" gitu." Amel tertawa setelah meniru gaya bicara setan yang entah benar atau tidak.
Selo yang tadi sedang minum, seraya menyemprotkan air putih yang masih tertinggal di mulutnya. Untung Mara dan Amel segera menghindar. Mereka tidak jadi terkena semprotan dari mulut Selo.
"Eh gila lo malem-malem gini bahas begituan! Entar gue takut pulang sendiri gimana? Lo kudu wajib nemenin gue, Mel!" seru Selo sambil mendelik sebal.
Dengar-dengar Selo memang orang yang paling parno dengan segala hal berbau mistis. Makanya dia selalu merespon cepat, ehem, tepatnya orang yang paling pertama melakukan protes dan meminta untuk mengganti topik pembicaraan, ketika hal-hal seperti itu dibahas.
Selo yang sudah agak tenang, kemudian mencoba untuk meneguk air mineralnya kembali. "Tapi, lucu juga kalau Mba Gita yang ketemu. Gue mau ketawain sampai 3 albumnya Babang Exo kelar diputer semua."
"Sialan lo pada!" dengkus Gita tanpa mengalihkan perhatian. Amel menjawabnya dengan satu kata 'bodo' saja.
"Jadi, balik ke topik. Siapa yang mau nemenin gue nyanyi? Buruan tangan gue udah pegel megangin mic," seru Amel pada Mara dan Selo yang masih adem ayem. Duduk manis di sofa dengan pandangan ke arahnya.
__ADS_1
"Mara aja udah. Dari tadi dia belum nyanyi. Gue udah gak sanggup. Kalau besok suara gue ilang, nanti gue gak bisa godain Mas Andraku tersayang."
"Mas Andraku, Mas Andraku. Udah punya pacar kali! Jangan kebanyakan halu lo kayak Mba Gita," cibir Amel pada Selo.
Ah, Mara jadi ingat alasan mereka berada di tempat karaoke sejak tiga jam yang lalu hingga sekarang. Katanya Amel dan Selo patah hati. Tak sanggup melihat ada perempuan lain yang berjalan di samping Andra. Tepat di depan kedua mata mereka. Demi menjaga rasa solidaritas kepatah-hatian, Mara harus pasrah diseret dan ikut menemani ketiga temannya merayakan malam patah hati.
"Selama bendera kuning belum berkibar 'kan, masih ada waktu buat gue nikung." Selo menjawab santai
"Sebelum lo, gue yang nikung duluan," ujar Amel tidak mau kalah. "Udah ah! Balik ke topik lagi. Jadi siapa ini? Lo atau Mara yang mau nemenin gue?"
Selo mendesah pelan. Tangannya sedang fokus memainkan ponsel. Seperti sedang mengirim suatu pesan. Entah untuk siapa. "Udah Mara aja. Gue mau dengar suara dia."
"Setuju!" seru Gita setelah selesai dengan aktifitasnya sendiri. "Gimana, Mar?"
Mara tidak menjawab. Pikiran Mara sedang melayang dari tadi. Sejujurnya, ketiga teman Mara itu salah paham. Mara ingin bilang kepada mereka bahwa perempuan yang bersama Andra tadi adalah orang yang dia kenal. Perempuan itu teman Mara sendiri, Chia. Mara tahu Chia tidak ada hubungannya dengan Andra. Sebab, Chia sudah menjadi milik orang lain yang juga Mara kenal
Andai tadi tidak ada Riga yang ikut bergabung di mejanya, mungkin Mara sudah membahas soal Chia kepada ketiga temannya itu. Namun, Mara mengurungkan niat. Ada rasa tidak enak di hatinya. Ada perasaan bersalah yang menyeruak ketika melihat wajah Riga, diam-diam ketahuan beberapa kali sempat mencuri pandang ke arah Chia yang tengah berdiri di balik meja kasir. Setidaknya, Mara bisa menarik kesimpulan, bahwa Riga belum tahu soal hubungan Chia dengan kakak lelaki itu.
Mara serba salah. Tidak tahu harus berada di pihak yang mana. Dua-duanya teman baiknya, dan Mara tidak bisa memilih salah satu. Maka jalan satu-satunya adalah diam dan membiarkan waktu yang menuntun Riga untuk tahu sendiri. Hmm ... ngomong-ngomong, Mara jadi kepikiran Riga. Saat pamit pulang tadi, Riga bilang akan menunggu seseorang dulu. Mungkinkah Chia?
"Mar! Mara? Eh dia malah ngelamun. Jadi gimana?" tanya Selo yang ternyata sejak tadi mengguncang-guncang tangan Mara.
Mara menoleh dengan wajah bingung seperti orang yang baru saja kembali dari dimensi lain. Tidak tahu apa-apa. "Apanya?"
Amel berpura-pura menangis dengan mimik wajah yang dibuat sedramatis mungkin. Hanya Mara yang terkikik geli. Selo dan Gita sudah melempari perempuan itu dengan remahan keripik yang tak sengaja terjatuh di lantai.
"Ya udah gue nyanyi. Tapi, jangan protes kalau suara gue gak bagus-bagus banget," ujar Mara dan langsung diacungi jempol oleh ketiga temannya. Terutama Amel yang mengacungkan dua jempolnya untuk Mara.
"Lo tau 'kan yah lagu ini? Lo bait pertama, gue bait kedua. Nanti pas reff nya kita bareng," seru Amel antusias. Untuk pertama kalinya dia akan mendengar Mara bernyanyi.
Mata Mara fokus menatap layar. Dia tersenyum kecut saat mengetahui lagu yang dipilih Amel. Ku tetap Menanti milik Nikita Willy. Entah kenapa, rasanya Mara tersindir ketika melihat lirik bait pertama muncul.
Suara intro musik mulai mengalun. Mara bersiap. "Meski dirimu bukan milikku. Namun hatiku tetap untukmu. Berjuta pilihan di sisiku. Takkan bisa menggantikanmu~"
"Walau badai menerpa. Cintaku takkan ku lepas. Berikan kesempatan. Untuk membuktikan. Ku mampu jadi yang terbaik. Dan masih jadi yang terbaik~" Amel segera menyahut ketika gilirannya tiba. Jangan lupakan dengan nadanya yang masih lari-lari. Namun, tetap tak bisa membuyarkan fokus Mara. Mara masih menghayati lagu itu.
Kemudian Amel dan Mara saling menatap. Keduanya mengangguk dan menyanyikan bagian reff bersama. "Ku akan menanti. Meski harus penantian panjang. Ku akan tetap setia menunggumu. Ku tahu kau hanya untukku~"
Air mata Mara ternyata diam-diam meleleh di pipinya. Luruh begitu saja tanpa diminta. Entah karena liriknya. Entah karena Mara yang terlalu menjiwai ketika menyanyikan kalimat demi kalimat dari lagu tersebut. Namun, satu hal yang pasti. Rasa rindu Mara menyeruak lagi ke permukaan. Rasa sesak memenuhi dadanya. Mara merindukan Astanya lagi. Mara ingin bertemu dengan Asta lagi.
Ah andai waktu bisa diputar ulang. Atau, barangkali ada cara untuknya memutar ulang waktu. Misal, Mara harus menebus dengan mengorbankan semua kekayaan, prestasi atau salah satu bagian tubuhnya hilang. Itu semua tak apa. Asal Mara dapat kembali bertemu dengan Asta.
__ADS_1
Ah sial! Pikiran Mara mulai ngaco.
"Biarlah waktuku. Habis oleh penantian ini. Hingga kau percaya betapa besar. Cintaku padamu. Ku tetap menanti~" Amel dan Mara mengakhiri nyanyiannya. Selo dan Gita yang menjadi penonton bertepuk tangan. Tidak menyangkan duet Amel dan Mara barusan ternyata cukup membuat keduanya tercengang.
"Lo jago nyanyinya tadi," komentar Amel begitu mereka berempat telah berada di dalam mobil milik Gita.
Tadi, mereka sempat diusir karena sudah melebihi batas waktu. Padahal petugas sudah beberapa kali menegur. Namun, Selo dan Gita sengaja membiarkan Amel dan Mara tetap bernyanyi. Terutama Mara yang tadi terlihat sangat menghayati lagunya. Tidak enak 'kan Selo ataupun Gita menyuruh kedua temannya itu berhenti di tengah jalan.
"Next time, gue duetnya sama lo aja ya, Mar. Sama Amel gue pusing. Gak sinkron terus," canda Selo sambil tergelak. Gita yang sedang fokus menyetir ikut tertawa.
Amel hanya cemberut. Dia menoleh ke arah tangan Mara. Saat bernyanyi tadi, fokus Amel justru terpusat pada tangan kanan Mara yang memegang mic. "Oiya, tadi di restoran gue lihat lo pake gelang. Warnanya pink-item kalau gak salah. Dari tadi gue penasaran mau lihat itu."
"Eh? Gelang?" tanya Mara dengan alis berkerut.
"Eh gue juga pengen lihat dong!" seru Gita. "Dari pertama kali ketemu lo, gue udah tertarik sama gelang lo. Lucu aja kayaknya."
"Emangnya Mara pake gelang?" tanya Selo dengan wajah melongo.
"Ih lo ketinggalan jaman. Kemana aja baru sadar?" ejek Amel.
Selo terkekeh. "Sorry. Jarang merhatiin. Mata gue udah terlalu silau sama pesona Mas Andra. Jadi, yang lain gak kelihatan. Mana dong? Gue mau lihat juga, Mar."
"Gue gak nyangka kalian sadar gue pake gelang." Mara angkat bicara akhirnya.
"Warnanya mencolok. Terus bentuknya unik. Penasaran. Tapi belum berani tanya sama lo," sahut Amel. "Boleh lihat 'kan?"
Mara tersenyum. "Iya boleh lah. Apa coba yang bikin gak boleh?" tanya Mara tersenyum bingung. "Jangan berekspektasi lebih tapi yah. Soalnya menurut gue, gelang ini biasa aja."
Kemudian Mara sedikit menaikkan bagian lengan kemeja panjangnya yang sebelah kanan. Namun, Mara syok detik itu juga. Gelangnya tidak ada di tempat seharusnya. "Kok gelang gue gak ada?" tanya Mara yang berubah menjadi panik.
"Gak ada di tangan kiri lo?" tanya Amel polos. "Tadi pas nyanyi, gue kira gelang itu lo pindahin ke tangan satunya."
"Gue gak pernah pindah tempat. Bahkan gue gak pernah lepas gelang itu kecuali pas mau mandi," seru Mara yang mulai menggeledah tas kecilnya dengan raut khawatir. Wajahnya tegang. Cemas.
Amel yang duduk di belakang bersama Mara ikut membantu mencari.
"Apa jatuh di suatu tempat?" tanya Gita ikut khawatir.
"Coba diinget-inget lagi, Mar. Kapan terakhir lo lihat gelang itu." Selo tak kalah panik. Dia bisa merasakan perasaan Mara yang sedang ketakutan sendirian itu. Selo pernah mengalaminya. Kehilangan benda yang dianggap paling berharga dan berarti di hidup adalah hal yang paling mengerikan.
Mara mendongakkan wajah. Menatap ke sembarang arah sambil berusaha mengingat apa saja yang telah terjadi. Tapi, semakin dia mencoba berpikir, Mara tetap tak menemukan jawaban. Dia tidak ingat kapan gelang itu terlepas. Sejak di restoran, sejak di karaoke, sejak ... tunggu!
__ADS_1
Mara tersentak. Dia ingat kapan dan di mana gelang itu terjatuh. Astaga!
∆ ∆ ∆