Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 14 : U’r Promise (2)


__ADS_3

Sejak kejadian Mara yang menangis tiba-tiba di beranda lantai 3, selama seminggu ini gadis cantik yang sedikit tomboy itu terus mengikuti Fachri. Entah pagi, siang, sore atau pun malam gadis itu terus mengikutinya. Kemanapun dan dimanapun ia terus mengikuti laki-laki itu layaknya seorang penguntit.


Sejak pagi buta ia sudah tiba di rumah laki-laki itu. Alasannya sederhana, ia ingin pergi ke sekolah bersama lagi seperti dulu. Lalu saat jam istirahat, saat latihan basket, saat pulang pun, gadis itu berkeliaran di sekitar Fachri, mengajaknya makan bersama atau hanya sekedar mengobrol, lebih tepatnya menjadi 'kambing congek' karena ia sendiri sama sekali tidak diajak dalam obrolan laki-laki itu. Ah, masa bodoh! Yang jelas Mara tak akan melepaskan lelaki itu sedetik pun.


'Kan gue udah bilang, gue pengen kita kayak dulu lagi.'


Mara selalu meluncurkan alasan itu ketika sahabatnya mulai protes tentang sikapnya yang berlebihan itu.


Sebenarnya alasan itu tak sepenuhnya benar. Itu hanya akal-akalan Mara agar kehadirannya di sekitar Fachri tidak terlalu mencurigakan. Alasan sesungguhnya Mara adalah untuk memastikan bahwa kondisi Fachri baik-baik saja.


Selama semalaman ia terus berpikir berulang-ulang tentang apa yang akan dilakukannya. Ada dua hal yang terus terbesit di pikirannya. Tentang ia harus tetap menjauhi Fachri ataukah berusaha mendekatinya kembali.


Akhirnya pilihannya jatuh pada nomor dua yaitu, berusaha mendekati Fachri kembali. Sebuah pilihan dengan risiko yang cukup berat sebenarnya dibanding dengan pilihan pertamanya. Namun jika ia memutuskan untuk memilih pilihan pertamanya, tetap saja ia tak akan tahu hasilnya.


Yah, mau gimana lagi. Sorry aja kalo gue over sama lo. Lagian gak ada pilihan yang menjamin lo terbebas dari gangguan Asta.


Mara menatap Fachri yang tiba-tiba menghentikan langkah dan berbalik badan. Laki-laki itu menatapnya dengan santai. Sementara Mara sendiri justru kikuk karena tiba-tiba saja sahabatnya itu menatapnya, setelah seminggu ini ia terus tak diacuhkan olehnya.


"Kenapa lo ngikutin gue? Lo udah kayak penguntit tau gak."


Mara tak segera menjawab. Ia tersipu malu. Mengingat kejadian barusan ketika bel pulang sekolah berbunyi, gadis itu dengan tergesa-gesa segera berdiri di belakang Fachri. Dengan sigap ia pun mengekor laki-laki itu. Hingga keduanya sekarang telah berdiri di dekat perempatan jalan. Saling berdiri berhadapan dalam jarak yang begitu dekat. Saling beradu tatap, membenamkan kedua tatapannya dalam bola mata masing-masing.

__ADS_1


"Gue bukan penguntit! Mana ada penguntit terang-terang ngikutin orang yang dikuntitnya. Gue cuma ngikutin lo."


Fachri tak menjawab. Ah, Mara makin salah tingkah.


"Gue gak bisa kalo harus ngejauh dari lo lebih lama dari ini." Mara menatap Fachri dengan serius.


"Gue pengen kita deket lagi kayak dulu. Gue pengen kita sama-sama kayak dulu. Gue gak peduli lo gak ngacuhin gue. Gue cuma minta satu hal. Biarin gue tetep berada di sekitar lo."


Sial! Umpat Mara sambil menundukkan kepalanya, saat merasakan matanya mulai memanas dan berkaca-kaca. Jangan nangis Mara!


Mara melirik lelaki di hadapannya. Sialan Fachri malah diem aja lagi sambil ngelihatin gue! Ngomong kek! Apa gitu! Kesalnya.


"Eh! Fachri! Lo tau kan kita udah sahabatan dari kecil. Masa iya kita harus diem-dieman kayak gini. Emang kita punya masalah sebesar apa sih sampe kita harus saling gak peduli gini? Apa kita pernah bertengkar hebat? Gue bener-bener heran dan gak ngerti. Emang lo nyaman dengan keadaan kita yang kayak gini?"


Mara mendengus saat melihat Fachri tiba-tiba tertawa.


"Bagus! Sekarang gue jadi bahan tontonan karena lo ketawain! Fachri sialan!"


Tiba-tiba Mara mendapati Fachri mencubit pipinya saat tawa lelaki itu menghilang.


"Lo bener juga bawel!" Fachri tersenyum dengan tatapan teduhnya.

__ADS_1


"Hah?"


"Gue nyerah. Gue gak bisa dengerin ancaman Asta lagi. Gue emang gak bisa jauh-jauh dari lo. Maafin gue yang udah ngejauhin lo. Maafin atas perlakuan gue beberapa bulan ke belakang ini," tuturnya sambil melepaskan tangannya dari kedua pipi Mara.


Mara tertegun. Nah loh baru sadar lo sama kelakuan lo? Ia menatap Fachri dengan serius. Tiba-tiba saja pertahanannya luruh. Tetes demi tetes air matanya mulai jatuh di pipinya dengan sendirinya.


"Lo emang gak boleh jauh-jauh dari gue! Lo emang gak boleh ninggalin gue! Sialan lo!" umpat Mara sambil terisak. Ia meninju dada Fachri dengan pelan sebelum menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Gue gak akan ninggalin lo lagi." tutur Fachri bersamaan dengan elusan lembut yang dirasakan Mara di atas puncak kepalanya.


"Janji?"


"Janji!" ucap Fachri sambil mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Mara.


Mara menyeka air matanya dan tersenyum menatap Fachri.


"Jangan pernah tinggalin gue lagi, Fachri!"


"Iya bawel!" Fachri tertawa. Mara tersenyum dan tanpa sadar ia telah memeluk laki-laki itu.


● ● ●

__ADS_1


__ADS_2