Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 22 : U’r Family Secrets (1)


__ADS_3

Sudah hampir satu jam Chia duduk dibalik meja panjang bersama guru-guru di sekolahnya. Ia bahkan melewatkan jam pelajaran pertamanya hari ini. Guru-guru itu masih menginterogasinya dengan banyak hal, layaknya Chia seorang terdakwa yang sedang menghadapi sidang, meski sebenarnya Chia tahu ujung dari pembicaraan panjang ini.


"Ada pembelaan sebelum hukuman ditetapkan?" Pak Dan, kepala sekolahnya menatap serius pada Chia.


Chia mengedarkan pandangannya. Satu persatu wajah guru di dalam ruangan itu ditatapnya.


"Saya memang berada di dalam kelas saat itu, tetapi saya tidak melakukannya. Saya tidak menjatuhkan vas bunga itu," jelas Chia dengan nada datar khasnya.


"Lalu bagaimana dengan vas bunga kedua yang jatuh dari beranda lantai tiga, dan seluruh anak klub basket dan penonton di lapangan melihat kamu ada di sana, tepat saat vas itu jatuh hampir mengenai seorang siswi bernama Mara?" Kali ini wali kelas Chia bertanya padanya dengan tatapan sedih. Yah, bisa dibayangkan bagaimana perasaan guru itu saat mengetahui murid kesayangannya melakukan tindakan buruk.


"Kamu ingin mengelak?" Guru lain ikut menyahut.


"Tidak. Saya tidak akan mengelak. Saya memang berada di sana, di beranda lantai tiga saat itu. Vas itu memang tepat di depan saya, tapi bukan saya yang menjatuhkannya."


"Bohong! Mana ada vas bunga jatuh sendiri."


"Iya betul! Semua murid yang melihat, mengatakan tak ada orang lain selain Chia di sana." Guru-guru mulai membicarakannya lagi.


Chia menghela napas. Lihat? Percuma saja ia berbicara. Toh akhirnya tetap tak ada guru yang percaya dengan perkataannya.


"Jadi keputusan sudah ditetapkan. Siswi yang bernama lengkap Cometta Fuschiara ini akan di skorsing selama tiga bulan, beasiswanya dicabut dan tidak diizinkan untuk mengikuti ujian akhir semester. Selama masa skorsing ia harus membersihkan sekolah dari pagi hingga jam sekolah selesai, dan ia akan mengikuti ujian susulan saat hukuman skorsingnya berakhir." Pak Dan mengetuk palunya tiga kali dengan raut wajah tak terdefinisikan.


Ya, sedikit banyak Chia tahu perangai kepala sekolahnya itu. Dia tak akan secepat itu memutuskan perkara tanpa sungguh-sungguh diselidiki dengan benar. Namun sekarang? Rasanya keadilan sudah terhapus dari sekolah ini.


Chia menatap kepala sekolahnya dalam diam. Ia tetap bergeming saat tatapan kikuk Pak Dan bertemu dengan tatapannya. Bahkan Chia masih memandangnya saat kepala sekolahnya itu membuang muka sambil beranjak pergi.


● ● ●

__ADS_1


Chia membuka pintu setelah mengetuknya tiga kali. Ia tahu pria yang sedang duduk sambil menandatangani beberapa berkas itu tampak terkejut melihat kehadirannya.


"Kamu tahu, tak ada murid yang boleh masuk ke dalam ruangan kepala sekolah?" Suara berat pria itu terdengar gelisah meski tatapannya tetap tenang dan berwibawa.


"Iya," jawab Chia singkat sambil berdiri memandangi kepala sekolahnya itu dari seberang meja.


"Lalu apa yang kamu inginkan hingga kamu berani memasuki ruangan ini?"


Chia terdiam sejenak. "Soal hukuman," ujarnya tak yakin.


Pak Dan tampak merubah ekspresi wajahnya dan menyipitkan mata.


"Saya akan terima hukuman dari sekolah jika Pak Dan menjawab pertanyaan dari saya." Chia menatapnya serius.


Pria itu tersenyum sesaat. "Apa?"


Deg! Pak Dan tak lagi menyunggingkan senyumannya. Pria itu terlihat resah. Ia bahkan memainkan jari-jemarinya yang sejak tadi bertautan.


"Itu jelas keputusan dari sekolah ...."


"Tidak! Saya adalah pengagum Bapak dan saya tahu Bapak orang yang seperti apa." Chia berharap gurunya itu berkata jujur padanya. Ah tapi rasanya terlalu sulit.


Pria di hadapannya itu masih terdiam sambil membuang muka. Chia tahu Pak Dan berusaha menyembunyikan keresahan yang tertangkap jelas olehnya.


"Katakan yang sebenarnya Pak Dan Wisesa. Bukan. Lebih tepatnya Pak Danny Wirasena."


Pria itu memicingkan matanya, menatap tajam ke arah Chia dengan kening yang berkerut.

__ADS_1


"Saya tahu tentang Bapak, Asta dan apa yang terjadi di dalam keluarga Wisesa. Saya tahu bagaimana semua keputusan Asta itu mutlak di sekolah ini."


"Kamu mengancam?" Pak Dan menggebrak meja dan mencondongkan tubuhnya ke arah Chia, kesabarannya hampir hilang.


"Tidak! Saya hanya ingin tahu kebenarannya." Chia memandang pria itu penuh arti.


Chia melihat Pak Dan kembali memperbaiki posisi duduknya dan berusaha bersikap tenang. Ia berdeham dan menatap Chia lekat-lekat.


"Semua keputusan itu mutlak dari pihak sekolah," tegasnya membuat Chia merenung seketika.


Chia lalu mengeluarkan secarik kertas yang dilipat menjadi kecil yang dijejalkan di dalam saku roknya. Kertas yang pernah ditemukannya beberapa hari setelah upacara penerimaan siswa baru. Chia lalu menaruh kertas itu di atas meja.


"Jika benar ini adalah keputusan dari pihak sekolah, bagaimana Bapak menjelaskan daftar murid yang seharusnya duduk di kelas S, justru beralih menjadi Asta dan teman-temannya? Bagaimana dengan guru-guru yang tak pernah protes dengan tindakan Asta yang selalu seenaknya?"


"Saya yang mengubah daftarnya dan meminta guru-guru itu untuk tidak ikut campur dengan ulah Asta. Apakah jawaban itu belum puas untukmu? Semua keputusan tergantung pada keputusan Kepala Sekolah, bukan dari Asta, paham?"


Chia tersenyum tipis. Ia tak tahu akan sesulit ini rasanya ketika mengungkapkan hal yang selama ini diselidikinya. Ia menghela napas pelan. Kecewa.


"Ya, itu dulu, sebelum saya tahu jika Bapak hanya berpura-pura sebagai kakek dari Asta," ujarnya dengan raut wajah yang tak berubah.


Pria itu tertegun sejenak, kemudian tertawa dengan keras. "Bicara apa kamu?"


Lihat? Ah, usahanya sia-sia. Chia menghela napas sekali lagi. Sepertinya keputusannya salah untuk menemui kepala sekolahnya itu. Ia terlalu terburu-buru untuk mengungkapkan semuanya.


"Saya akan kembali jika Bapak siap menjelaskan kebenarannya," ujar Chia saat Pak Dan berhenti tertawa dan berubah memandangnya dengan serius.


● ● ●

__ADS_1


__ADS_2