
"Coba diinget-inget lagi, Mar. Kapan terakhir lo lihat gelang itu?" Selo tak kalah panik. Dia bisa merasakan perasaan Mara yang sedang ketakutan sendirian. Selo pernah mengalaminya. Kehilangan benda yang dianggap paling berharga dan berarti di hidup adalah hal yang paling mengerikan. Maka Selo juga ikut membantu dengan mencoba mencari di dalam mobil.
Mara mendongakkan wajah. Menatap ke sembarang arah sambil berusaha mengingat apa saja yang telah terjadi. Tapi, semakin dia mencoba berpikir, Mara tetap tak menemukan jawaban. Dia tidak ingat kapan gelang itu terlepas. Sejak di restoran, sejak di karaoke, sejak ... tunggu!
Mara tersentak. Sepertinya dia ingat kapan dan di mana gelang itu terjatuh. Buru-buru Mara meminta Gita menurunkannya di tengah jalan. Padahal Gita dan yang lain siap mengantar, kalau memang Mara sudah ingat. Namun, Mara menolak. Tak enak jika merepotkan teman-temannya terus.
Mara segera masuk ke dalam taxi online yang tadi di pesannya. Mobil Gita baru pergi setelah taxi yang ditumpangi Mara telah berbaur di jalanan.
∆ ∆ ∆
Derap langkah terdengar begitu sosok Asta telah menghilang dari pandangan Chia. Perempuan yang sedang duduk itu menoleh. Laki-laki bertubuh jangkung yang memakai kemeja putih dengan dua kancing atas terbuka adalah yang pertama kali Chia lihat. Tatapan dan ekspresi yang datar itu tengah balik menatap Chia.
Sepuluh menit yang lalu ....
Riga sudah bosan menunggu. Hampir 3 jam lelaki itu duduk di balik kemudi dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Dua bola mata coklatnya terus menerus memandang satu titik yang ada di balik kaca sebuah restoran. Menatap lamat-lamat ke arah perempuan yang tengah duduk di sebuah kursi sambil memainkan ponselnya.
Di kursi lain, seorang pria sedang duduk sambil menatap ke arah si perempuan. Dua kakinya terangkat di atas meja. Riga tidak suka gestur itu. Juga tidak suka dengan cara lelaki itu memandang ke arah Chia. Riga masih tak paham, kenapa Chia memilih berlama-lama dengan lelaki itu dari pada pulang.
Sama seperti saat di apartemen Chia waktu itu. Andai lewat tatapan saja dapat membunuh seseorang, maka Riga berharap waktu itu terjadi terhadap lelaki di depan sana. Ketika lelaki yang Riga tak kenal itu tiba-tiba saja muncul dari gedung apartemen, lalu dengan sengaja merangkulkan tangannya di bahu Chia, Riga meradang. Namun tak berani melakukan apapun karena dia belum tahu hubungan yang sebenarnya antara Chia dengan lelaki itu.
Saat ini pun, Riga masih ragu untuk menghampiri Chia. Dia hanya berani mengamati dari balik kaca mobilnya. Bukan takut, Riga hanya sedang membaca situasi. Chia terlihat sedang dalam mode pembicaraan serius dengan lelaki itu. Makanya, Riga mengamati dulu. Kalau sesuatu yang buruk terjadi, dengan sigap dia akan bertindak.
Namun nyatanya, lelaki yang dilihat Riga itu justru pergi meninggalkan Chia. Entah ke mana. Riga yang merasa ini adalah kesempatannya, segera turun. Kemudian melangkah dengan lebar menghampiri perempuan yang sedang menunggu sendirian di dalam restoran.
__ADS_1
"Siapa laki-laki tadi?" Itulah pertanyaan pertama yang lolos dari mulutnya.
Suara yang tidak berubah. Nada datar yang sama tapi mampu membuat hati Chia bergetar itu, melangkah semakin mendekat. Menipiskan jarak. Lelaki itu menunggu. Namun, jawaban Chia tak kunjung tiba.
"Dia Andra. Temen gue." Akhirnya Chia membuka mulut.
Jujur saja, Chia kaget dengan kehadiran Riga di sana. Yang Chia tahu, Riga sudah pulang dari tadi bersama dengan Mara. Lantas, bagaimana lelaki itu dapat berdiri di depannya sekarang? Gak mungkin 'kan dia nungguin gue? batin Chia.
"Ayo!" ajak Riga tiba-tiba. Lelaki itu mengulurkan tangannya di depan Chia.
"Kemana?" tanya Chia bingung.
"Pulang. Kecuali lo mau nginep di sini."
Pernyataan Riga barusan mampu membuat Chia mengerjap. Chia bingung. Tidak tahu harus menjawab apa.
Riga menuntun Chia menuju mobilnya yang terparkir di bahu jalan. Tepat di depan halaman restoran. Tempat yang pernah digunakan Sun untuk memarkirkan mobilnya juga. Chia tak mengira, dua kakak beradik itu punya sebuah kebiasaan yang sama.
"Riga!" panggil Chia ketika lelaki itu telah membukakan pintu mobilnya. "Gue gak bisa pulang bareng lo. Gue udah janji sama Andra. Gue gak enak kalau tiba-tiba gue gak ada. Andra pasti nyariin."
Riga terdiam. Bola mata berwarna coklatnya memandang Chia lurus-lurus. Dia tidak percaya Chia akan menolaknya demi lelaki yang Riga sendiri masih belum paham asal-usulnya itu. Jujur, Riga cemburu.
Tanpa Chia dan Riga sadari. Di depan pintu restoran, Asta baru saja keluar dengan ponsel yang menggantung. Lelaki itu berniat mencari Chia yang tidak ada di tempat semula. Namun, yang dicari nyatanya ada di depan sana dengan seseorang.
__ADS_1
Asta tidak jadi melakukan panggilan kepada Chia. Dia memilih untuk menghampiri kedua orang yang tengah berbincang itu, setelah menjejalkan ponselnya ke dalam saku celana. Lalu dengan santai berdiri di tengah-tengah. Di antara keduanya yang memandang kehadiran Asta dengan ekspresi berbeda. Chia tentu dengan ekspresi terkejut dan bingungnya, sementara lelaki yang Asta tahu ternyata Riga itu justru melihatnya dengan tatapan tak suka. Asta tersenyum. Asta tahu Riga pasti sedang cemburu dengannya.
"Lo mau pulang bareng dia? Gue gak masalah lo mau pulang sama siapa pun," ujar Asta tiba-tiba dengan pandangan lurus ke arah Chia. "Meski gue berharap lo balik bareng gue aja. Karena Jun udah nitipin lo sama gue. Bukan dia."
Riga yang di dalam hatinya masih meradang, mencoba untuk tetap tenang. Dengan kedua tangan di dalam saku celana, Riga berkata, "Gue bisa jauh lebih menjaga dia dari pada lo."
Asta tersenyum simpul. Dia menoleh ke arah Riga. "Menjaga? Kenapa sebelum lo mencoba menjaga dia, lo gak coba merebut dia lebih dulu?"
"Maksud lo?" tangan Riga terkepal. Untung dia bukan lelaki yang mudah terpancing emosinya. Sehingga kepalan tinjunya hanya berakhir dalam hitungan detik. Padahal, si balik tatapan datar yang terpancar, ada jiwa yang meronta dan siap menerkam lelaki di hadapannya itu. Namun, Riga mencoba sabar dan tetap menahan diri.
"Cari tahu jawabannya sendiri," seru Asta sambil memandang Chia lagi.
Riga refleks mengikuti arah pandang Asta. Didapatinya Chia sedang berdiri dengan kikuk. Kedua manik mata perempuan itu membalas tatapan Asta. Uh menyebalkan! Situasi malam itu sungguh membuat hati Riga makin panas. Padahal angin dingin baru saja menerpa wajahnya. Riga, sungguh tak suka dengan kedekatan mereka.
"Lo hati-hati di jalan," ucap Asta kepada Chia. Kemudian tersenyum miring ke arah Riga sambil berbisik setelah menepuk bahu lelaki itu pelan. "Gue titipin Chia sama lo. Jagain dia. Sampai dia kenapa-napa, lo orang pertama yang gue cari."
Dan gue, jadi orang pertama yang Jun cari, miris Asta di dalam hati. Kemudian melengos meninggalkan kedua orang yang sama-sama mematung itu.
Ya, Asta memilih mengalah. Lagi pula dia tak memiliki motif untuk menghalangi kedua sejoli itu untuk bersama. Apalagi, ketika dirinya menangkap basah kedua orang itu yang saling mencuri-curi pandang di restoran tadi. Ah! Benar-benar lucu sekaligus mengesalkan.
Maka, Asta sengaja menyatukan keduanya sekarang. Asta rasa pun, justru Chia memang butuh waktu yang lebih banyak untuk bersama dengan Riga. Sebelum lelaki itu, tahu semua apa yang disembunyikan Chia darinya.
"Kenapa lo lebih memilih untuk melepaskan sama seperti gue, Chia? Dasar ****!"
__ADS_1
∆ ∆ ∆
aku tau ini sedikit. tapi mood masih down 🤕 semoga gak kecewa. tenang gengs. mulai besok aku harus mulai kejar setoran. eaa kayak apaan aja 🤣