Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 20 : Us and Pain (2)


__ADS_3

"Lo gak apa-apa, Ra?"


Mara menatap Chika yang memekik keras tadi sambil membantunya berdiri.


"Aw!" Mara merasakan kakinya berdenyut. Ah, pasti karena tadi ia terkejut saat melihat sebuah sepeda nyaris membenturnya, sehingga ia salah melangkah dan terjatuh.


"Kenapa?" Chika terlihat cemas. Orang-orang mulai mengerumuni Mara yang masih terduduk.


"Kayaknya kaki gue terkilir," jelas Mara lirih.


"Lo harus ke UKS!"


"Gue gak apa-apa." Mara menggeleng sambil meminta Chika membantunya untuk berdiri dengan gerakan tangannya.


"Kening lo berdarah tau!"


Mara langsung mengusap keningnya dan mendapati noda warna merah di tangannya. "Mungkin kebentur aspal!" jawab Mara ringan.


"Minggir!"


"Asta?" Mara mengerutkan dahinya saat menatap lelaki itu telah menghampiri dan menggendong tubuhnya.


"Ngapain? Turunin gak?"


Laki-laki itu tak menjawab. Wajahnya terlihat panik sambil terus berlari membawa tubuh Mara entah kemana.


Mara melihat sekilas Riga sedang memerhatikannya dari jauh sebelum Mara berbelok menuju ruang UKS.


● ● ●


"Lo gak apa-apa?"


Chia menoleh pada Adit yang berlari ke arahnya. Satu-satunya orang yang melihat keadaan Chia yang sebenarnya, karena semua orang berlari ke arah Mara. Mata Chia sekilas menangkap Riga sedang mengamatinya di kejauhan, lalu lelaki itu memalingkan wajah dan berlalu begitu saja.


"Ada yang sakit? Apa yang terjadi?"


Chia tak segera menjawab. Matanya beralih menatap orang-orang yang tadi mengerumuni Mara, sekarang sedang menatap kesal ke arahnya. Terutama gadis bernama Chika yang menatapnya tajam penuh kebencian. Chia kembali menatap Adit yang telah memegangi sepeda tuanya.


"Gue nyaris nyerempet Mara," jawab Chia santai.


"Lo harus ke UKS!" Adit memandang ngeri pada Chia.


"Gue baik-baik aja."


"Tuh lihat kaki lo!"


Chia menunduk, mengamati darah yang keluar dari lutut kirinya mengalir hingga membasahi kaos kaki putihnya.


"Lutut lo ketusuk jari-jari sepeda gitu, gak mungkin lo baik-baik aja! Gue anter lo ke UKS!"


Chia tak menjawab. Matanya justru mengamati jari-jari sepedanya yang terbalut sedikit oli itu. Ah, Adit benar! Ada noda darah milik Chia yang masih segar di sana. Chia menghela napas sesaat.

__ADS_1


"Gue gak apa-apa. Gue bisa ke UKS sendiri." Chia tersenyum pada laki-laki itu. "Lo lagi rapat OSIS kan? Pergi gih! Nanti lo dicari sama mereka."


Adit tak menjawab. Ia menatap dalam diam ke dalam bola mata milik Chia.


"Lo yakin bisa jalan sendiri ke UKS?"


Chia mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Lo harus beneran pergi ke UKS yah?"


"Iya!" Chia mengibas-ngibaskan tangannya agar Adit segera meninggalkannya.


Chia mulai berjalan menuju UKS saat laki-laki itu telah menjauh darinya. Langkah Chia terhenti di koridor. Ia berdiri beberapa meter dari pintu ruang UKS.


Matanya mengamati laki-laki yang sedang menatap serius ke dalam ruang UKS dari balik kaca yang terpasang di pintu. Chia mengalihkan pandangan saat Riga menoleh ke arahnya. Buru-buru ia berbalik badan tanpa berkata apa pun pada laki-laki yang masih memerhatikannya.


● ● ●


"Gue gak apa-apa!" ketus Mara.


Ia menatap tajam laki-laki yang duduk di hadapannya. Apa tindakan gue berlebihan waktu ngediemin dia kemaren-kemaren?


Mara menggeleng-gelengkan kepalanya. Hampir saja ia luluh saat melihat Asta memijat kakinya dengan wajah khawatir dan sedih. Gue gak boleh ketipu sama ekspresinya saat ini!


"Gue bilang gue gak apa-apa! Denger gak sih!" Mara membentak lelaki itu. "Aw! Sakit!"


Asta tersenyum tipis. "Gak sakit tapi teriak keras gitu!"


"Luka di dahi lo sih gak apa-apa, cuma luka kecil. Nih kaki lo sampe terkilir gini!" Asta mengabaikan pertanyaan Mara.


"Gue udah biasa terkilir! Jadi kayak gini doang mah gak apa-apa, nanti juga sembuh! Lebay banget lo jadi cowok!"


Asta tak menjawab. Tangannya masih fokus memijat kaki Mara dengan hati-hati. Uh, Mara benar-benar sebal pada lelaki itu. Selalu saja akhirnya seperti ini. Setiap lelaki itu membuatnya kesal dan marah, lelaki itu pasti langsung berubah menjadi malaikat dan bersikap manis padanya. Siapa yang jadi tak luluh dan akhirnya memaafkan perbuatan kurang ajarnya itu?


"Siapa yang nabrak lo tadi?"


"Hah?" Mara membuka lebar-lebar mulutnya, terperangah pada ucapan laki-laki itu barusan. Apaan sih nih cowok! Baru juga gue mau maafin, udah mau bikin ulah lagi?


"Gak ada yang nabrak gue! Gue cuma salah jalan dan jatoh sendiri," dengus Mara sambil menyipitkan matanya.


"Gue lihat sendiri dari kejauhan. Jadi jangan bohong! Siapa cewek itu?"


Mara melotot ke arah Asta. Ia terkejut karena selama Asta menghilang, rupanya lelaki itu memerhatikannya dari jauh. Tadinya ia pikir laki-laki itu berhenti bersikap menyebalkan, rupanya dugaannya salah.


Tanpa aba-aba Mara meraih kotak P3K yang ditaruh di samping Asta. Dengan keras ia melayangkan kotak itu ke kepala lelaki di hadapannya berkali-kali.


Biarin! Biar geger otak sekalian!


Gerakan Mara terhenti saat Asta menggenggam tangannya dan menatap serius ke dalam bola matanya.


"Apa?" ketus Mara.

__ADS_1


"Siapa cewek itu?" Asta berbicara dengan datar.


Tapi tidak dengan Mara yang sudah meronta dan ingin memukulnya lagi. Ih nih cowok!


"Namanya Cometta Fuschiara, dari kelas 12-C." Bukan, ini bukan Mara yang menjawab.


Mara mengarahkan matanya pada gadis yang tiba-tiba telah masuk ke dalam UKS dan berdiri bersandar si dekat pintu. Gadis itu tersenyum miring ke arahnya.


Tuh nenek sihir kenapa di sini sih ah! Mara melotot ke arahnya, mengisyaratkan pada gadis yang masih tersenyum itu untuk diam dan tak berbicara lagi. Namun Mara yakin Renata tak akan mau menurutinya, terlihat dari senyuman yang terpancar dari matanya.


"Gue lihat cewek itu lagi jalan ke arah taman deket kantin lantai satu." Renata berkata lagi.


Tuh kan! Mara terperangah. Ia pasrah. Belum sempat ia berkata sepatah kata pun, Asta telah bertindak dan membuat Renata tersenyum senang sambil keluar dari UKS.


Mara menelan ludah. Ah, ia tak tahu harus berkata apa lagi untuk membuat Asta mempercayai kata-katanya. Toh semuanya sudah terlambat. Asta terlanjur percaya pada Renata dan telah meminta Dipa, Dimas dan Damar menghampiri Chia.


● ● ●


Chia masih terdiam sambil duduk di koridor yang menghadap taman di kantin lantai satu. Ia meluruskan kakinya, menatap dalam diam pada darah dari lututnya yang masih mengalir, menyisakan rasa ngilu untuknya.


Chia masih tak berniat untuk meraih peralatan yang biasa dibawanya di dalam tas untuk hal darurat seperti itu. Ah, ia memang selalu membawa obat-obatan dan perban di dalam tasnya sejak SMP, mengingat ia selalu terluka seperti itu dulu, hingga kebiasaan itu dibawanya hingga saat ini.


Chia menghela napas saat ia menggerakkan tangan dan meraih kapas yang ditaruh di sampingnya. Namun gerakannya terhenti tiba-tiba.


Mata Chia terarah pada tiga orang lelaki yang sedang berdiri di hadapannya sambil menatapnya tajam.


"Lo yang tadi nabrak Mara kan?" Salah seorang dari ketiga laki-laki itu mulai berbicara tanpa basa-basi.


Chia tak tahu jelas siapa saja nama ketiga lelaki yang sedang menatapnya garang saat ini. Ia hanya tahu bahwa ketiga orang itu adalah teman Asta. Ia cukup terkejut, selama dua tahun lebih tak pernah bersinggungan, sekarang mereka berdiri di hadapannya.


"Lo punya masalah apa sama Mara sampe lo berani nabrak cewek itu?" Kali ini laki-laki lain ikut menimpali.


"Hah?" Chia menatapnya polos. Tubuh mereka yang tinggi dan posisi Chia yang nyaris duduk di lantai, membuat ia harus mendongakkan kepala.


"Kali ini lo bebas karena lo cewek! Tapi gue peringatin, berani lo nyentuh dan macem-macem sama cewek temen gue, kita semua gak akan tinggal diem. Kita gak peduli lo cewek atau bukan!" Lelaki pertama berbicara lagi.


"Hei!" panggil Chia polos, sambil menatap ke dalam tasnya dengan tangan yang merogoh mencari sesuatu.


Ia lalu menjulurkan tangannya ke atas, ke hadapan tiga lelaki itu, dan menunjukan apa yang digenggamnya.


"Mau coklat?" tawar Chia dengan nada datar, membuat ketiga lelaki itu mengerutkan dahi sambil menatapnya heran.


"Gue biasa makan coklat kalo mood gue lagi jelek, kalo lagi kesel kayak kalian. Kalian mau?" jelas Chia polos.


Ketiganya menatap Chia dengan tatapan aneh, lalu bergidik sambil berlalu meninggalkannya dalam diam.


Chia mengendikan bahu sambil memasukkan kembali tiga bungkus permen coklat ke dalam tasnya. "Ya udah kalo gak mau," gumamnya.


Matanya kembali terarah pada lututnya setelah memandang kepergian ketiga lelaki itu. Ah, ia lupa dengan lukanya. Ia jadi malas mengobati luka itu. Setelah memasukkan kembali peralatan untuk mengobati lukanya, ia berdiri dan beranjak meninggalkan sekolah. Masa bodoh dengan kakinya yang masih berdenyut kesakitan.


● ● ●

__ADS_1


__ADS_2