Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 10 : U Will Get Hurt If You Try to Find Out (2)


__ADS_3

Riga memandang sekelilingnya. Tongkat bisbol berserakan di jalanan. Darah bercucuran di antara jalanan dan tongkat itu. Ia lalu menatap Rei dan kawanannya yang terkulai di tanah dengan napas yang tersengal-sengal. Luka memar dan darah menghiasi wajah dan tubuh mereka.


Riga memandang Rei yang mencoba bangkit berdiri sambil memegangi perutnya itu. Laki-laki itu mengelap darah di ujung bibirnya.


"Lo pikir lo udah menang?" kata Rei dengan nada ejekan.


"Ini baru permulaan Riga! Inget gue bakal balik lagi! Lo sama Chia gak akan hidup tenang! Gue bakal bales perbuatan lo berdua!" ancam laki-laki itu.


Riga tak menjawab. Matanya masih mengamati Rei yang sedang menatap gadis di belakangnya.


"Lo denger itu Chia?!" Kali ini Rei berbicara dengan Chia yang masih menundukkan kepalanya.


Riga buru-buru menghadang lelaki itu, ketika ia hendak mendekati Chia yang masih berdiri di belakangnya.


"Lo udah kalah. Berhenti ganggu dia." Riga menatap tajam Rei.


Laki-laki itu justru tersenyum dari sudut matanya yang biru akibat pukulan Riga tadi.


"Lo denger kan Chia? Gue bakal ganggu hidup lo sama bodyguard lo ini! Gue bakal pastiin hidup lo ga tenang! Inget itu!"


"Pergi!" Riga menajamkan tatapannya.


Rei berjalan mundur. Ia menghampiri kawanannya yang telah berdiri di dekat motor masing-masing. Ia menaiki motornya. Dengan satu gerakan tangannya, ia memerintahkan kawanannya untuk mundur dan pergi dari tempat itu.


Ah, Riga sedikit merasa lega ketika gerombolan lelaki itu telah menghilang dari pandangannya. Ia berbalik badan. Ia ingin melihat kondisi Chia yang sejak tadi tak bergerak juga. Riga hampir kalah, karena berusaha menghalanginya agar tak terkena pukulan dari orang-orang tadi.


Kemana tuh cewek? Riga menatap sekelilingnya. Gadis itu rupanya telah berjalan meninggalkannya. Apa-apaan sikapnya itu? Riga mendengus dan mulai berjalan mengikuti gadis yang terlihat seperti mayat berjalan itu.


● ● ●


Chia duduk di sebuah halte. Ia sendiri bahkan tak yakin kenapa ia duduk di sana. Bayang-bayang masa lalunya terus berkelebat di sekitarnya, membuatnya gagal memusatkan perhatiannya, sehingga ia hanya menatap kosong ke arah jalanan.


"Apa lo gak bisa ngucapin terima kasih setelah ditolong orang?"

__ADS_1


Chia tersontak. Kesadarannya kembali. Ia mendengar suara yang selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Chia menoleh. Ia terkejut ketika mendapati seseorang telah duduk di sebelahnya. Dia? Kenapa ada di sini?


Chia tampak merenung. Ah, tak butuh waktu lama baginya untuk mendapat alasan kehadiran laki-laki itu di sebelahnya. Justru keberadaan Rei dan kawanannya yang menjadi perhatian Chia.


Kemana tuh cowok? Apa yang terjadi saat gue hilang kesadaran tadi? Chia mengamati penampilan lelaki di sebelahnya itu yang tampak sedikit berantakan dan berkeringat. Apa Riga berkelahi dengan Rei? Chia tampak heran, karena laki-laki itu tak terlihat terluka sedikitpun. Rei cerita soal masa lalu gak yah? Chia terlihat cemas sesaat. Ia termenung cukup lama.


"Hei!" panggil Chia tiba-tiba.


"Apa lo suka sama dia?" Chia tertegun mendengar perkataannya sendiri. Kenapa gue tiba-tiba nanya hal ini?


"Seharusnya gue gak nanya hal ini. Iya kan?" Sanggah Chia cepat saat melihat Riga menatap heran ke arahnya.


Mata coklat itu. Chia selalu tertegun memandang bola mata berwarna coklat yang sedang menatapnya balik itu. Selalu ada perasaan menyakitkan setiap ia menatapnya cukup lama.


Chia memalingkan wajahnya. "Bukannya semuanya udah jelas kelihatan dari gerak-gerik lo."


Ah, sebenarnya Chia berkata pada dirinya sendiri. Ia bahkan merutuki mulutnya yang tiba-tiba saja bertanya hal semacam itu.


Lihat? Lelaki itu sekarang terlihat penasaran. Chia bahkan enggan menjelaskan apa pun. Ia termenung sesaat sambil menatap lalu lalang kendaraan.


"Lo tau apa yang lagi gue pikirin?" Chia berkata tiba-tiba lagi.


"Gue lebih suka lo hilang ingatan selamanya," sambungnya. "Karena lo yang sekarang ini, bersikap lebih baik daripada diri lo yang dulu. Lo membuka hati lo dan berbuat baik sama orang lain. Gak kayak dulu, yang cuma bisa bikin kesel, marah dan nangis buat orang lain."


Ah, Chia menghela napas. Disaat pikirannya sedang kacau seperti ini, ia bahkan tak bisa mengendalikan perkataan apa yang akan terlontar dari mulutnya. Menyebalkan!


"Bukannya lo pacar gue? Lo gak suka kalo ingatan gue balik? Lo gak suka kalo gue inget lo?"


Chia terperangah mendengar tanggapan lelaki itu. Tadinya ia pikir lelaki itu hanya akan diam saja mendengar perkataan bodohnya seperti yang biasa dilakukannya.


"Iya," jawabnya singkat.


"Apa karena cowok tadi?" Riga menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Apa karena dia ngaku pacar lo?" Dia masih berkata. "Jadi siapa pacar lo yang sebenernya? Dia atau gue?"


"Apa status itu penting?" Chia balik bertanya.


Ia menoleh dan menatap Riga dengan serius. Ah, rasanya ia mulai kesal. "Siapa pacar gue, apa itu penting buat lo?"


Riga tak menjawab. Ia hanya menatap Chia dingin.


"Penjelasan apa pun itu gak akan berarti buat lo. Meskipun gue bicara jujur atau bohong, lo gak akan pernah percaya. Apakah gue bener atau salah, lo bakal tetep gak akan percaya." Chia menelan ludah sambil memalingkan wajahnya. Ia menahan diri.


"Gue saranin, dalam kondisi lo yang kayak gini, jangan pernah percaya pada siapapun. Lo gak perlu percaya pada apa yang lo denger dan lihat. Karena lo gak akan tau apakah itu bener atau engga. Apakah itu kejujuran atau kebohongan. Tapi percayalah pada pikiran dan hati lo sendiri. Apa yang menurut lo bener, itu yang lo ambil."


Chia berkata dengan datar.


Ia pun berdiri. Chia melirik sebentar laki-laki yang masih duduk terpaku di sebelahnya itu. Ia melangkahkan kakinya. Ia ingin segera pergi dari sana. Sudah cukup, ia terlalu banyak bicara hari itu.


Langkah Chia tiba-tiba terhenti ketika ia teringat sesuatu. Ia berbalik badan dan menatap lelaki itu kembali.


"Hampir aja gue lupa. Makasih buat pertolongannya. Dah!"


Chia memutar kembali tubuhnya tanpa memberi kesempatan Riga menjawab ucapannya.


● ● ●


Riga tersenyum tipis sambil memalingkan wajahnya. Ia tak lagi menatap punggung gadis yang telah berjalan meninggalkannya sendirian. Tatapannya terpusat pada hilir mudik kendaraan di hadapannya.


Apa-apaan perkataan gadis itu, tak ada penjelasan apa pun yang keluar dari mulutnya. Tadinya ia pikir, dengan mengikuti gadis itu, ia bisa mendapat penjelasan tentang siapa lelaki yang baru saja dihajarnya.


Kenapa gue harus penasaran cowok tadi pacarnya atau bukan! Cih! Riga mengepalkan tangannya. Ia benar-benar dibuat penasaran tentang masa lalunya, dan hal yang membuatnya terhubung dengan gadis itu.


"Sial!" umpatnya.


● ● ●

__ADS_1


__ADS_2