
Mara mengomel sepanjang koridor rumah sakit setelah beberapa saat lalu keluar dari ruangan seorang dokter. Dia terus bicara sendiri hingga telah berdiri di depan pintu keluar bangunan 4 tingkat itu.
Fachri yang sudah lelah mendengarnya, mendelik sebal. Lantas menutup mulut Mara dengan telapak tangan kanan. "Berisik banget sih. Udah kayak burung beo aja lo," keluh Fachri lalu melepaskan tangannya. Membiarkan Mara melotot dengan tajam. Bersiap menerkam lelaki itu.
"Salah lo sendiri. 'Kan gue udah bilang, gue gak kenapa-napa. Ngapain juga lo bawa gue ke rumah sakit? Kurang kerjaan!" sungut Mara sambil melipat kedua tangannya dan berjalan cepat-cepat menuju mobil.
Mara duduk di balik kemudi setelah menjemput mobilnya di parkiran. Fachri yang masih berdiri di tempat seraya mengusap wajah frustrasi. Lalu melangkah lebar-lebar menuju sahabatnya itu. Untung saja kadar kesabaran Fachri masih di atas rata-rata. Kalau tidak, sudah dari tadi Fachri tinggalkan perempuan itu saat diperiksa oleh dokter begitu saja.
"Pindah," perintah Fachri setelah membuka pintu mobil di sisi sebelah kanan.
"Enggak! Setelah apa yang lo lakuin waktu bawa mobil gue tadi, lo kira gue masih mau mempercayakan si cantik pinky gue sama lo apa? Ya kali. Sekali enggak, tetap enggak! Mending lo yang buruan naik. Kalau enggak, nanti gue tinggal."
Fachri tersenyum miring. "Tinggal aja. Kunci mobil lo ada di gue kok. Jalan kaki aja sana!"
Mara mencondongkan bibirnya beberapa centimeter ke depan. Dia lupa untuk mencuri kunci mobilnya dari si bodoh Fachri. Menyebalkan! Apalagi, sekarang sahabatnya itu sedang menertawakan dirinya.
Minta disantet emang! dengus Mara dalam hati.
"Buruan pindah," perintah Fachri. Dia segera menutup mulut Mara yang terbuka untuk melakukan protes. "Gak usah ngeyel. Lo lagi sakit, nurut sama gue aja kenapa sih?"
"Gue gak kenapa-napa, Fachri. Gak usah lebay deh. Berapa kali sih gue harus ngomong?" Mara memutar kedua bola matanya.
Fachri menghela napas panjang. Diamatinya luka benjolan di kepala belakang Mara yang hampir sebesar bola pingpong, membuat Fachri begidik ngeri sendiri. "Dengan luka di kepala lo yang segede itu, jangan harap gue percaya sama ucapan lo. Lagian kenapa sih bisa jatoh dari tangga sampai lo kayak gitu?"
Mara mendengus. Kilasan balik tentang kecelakaannya di tempat kerja hari ini, terputar lagi dengan jelas di kepalanya. Kalau saja dia memerhatikan lantai tangga yang licin saat itu, berita memalukan soal dirinya yang terjatuh tidak akan membuat heboh satu departemennya. Juga Mara tidak akan disuruh pulang oleh atasan karena luka benjol di belakang kepalanya itu.
Nasi telah menjadi bubur. Kini Mara harus siap menerima perlakuan berlebihan dari orang-orang di sekitarnya. Meskipun dia sendiri tidak tahu semengerikan apa lukanya hingga Bunda dan Alya histeris begitu tadi. Ah, sudahlah. Biarkan Mara memilih bungkam dan tidak menjawab pertanyaan Fachri.
"Cepetan pindah. Gue lebih gak mau mati muda dengan konyol. Kalo gue biarin lo nyetir dengan kepala pusing kayak gitu, lo kira gak akan terjadi tabrakan apa? Minggir. Duduk di samping gue. Atau di belakang, sekalian istirahat."
Mara mendengus pasrah. Dia menggeser posisi duduknya sambil cemberut. Setengah hati. Tidak terima. Meski sejujurnya, perkataan Fachri ada benarnya. Saat itu kepala Mara berdenyut lagi. Rasa pusing itu terus membayanginya.
__ADS_1
∆ ∆ ∆
Menghempaskan seorang lelaki itu mudah. Apalagi seorang pria bernama Gamma. Buktinya, satu hari setelah Mara memutuskan lelaki itu, Mara sudah mendapatkan gebetan baru. Tirta namanya.
Ya, sejak Mara bekerja di kantor milik ayah Gamma itu, Tirta--sahabat Gamma--diam-diam juga menyukai Mara. Hanya saja Tirta kalah cepat dari Gamma. Akhirnya Tirta lebih memilih untuk mengalah demi kebahagiaan sahabatnya itu. Siapa sangka, kini kabar putusnya Mara, justru membuat dia menjadi orang pertama yang berani merebut Mara dan menjadi kekasih barunya.
Tirta tidak tahu saja, padahal Mara tidak benar-benar serius menjalani hubungan dengannya. Mara hanya menjadikan Tirta alasan untuk mengisi kekosongan.
Tolong jangan salahkan Mara. Para pria itulah yang terus mendatanginya, mendekatinya, memohon untuk menjadi kekasihnya. Huh! Meski Mara menolak beribu-ribu kali, tapi para pria itu tetap memaksa. Jadi, bukan salah Mara jika pada akhirnya Mara menerima mereka hanya untuk alasan seperti itu. Salah mereka sendiri yang pada akhirnya dipermainkan oleh Mara.
"Hari ini jadi 'kan, Sayang?" tanya Tirta penuh harap di matanya.
Mara sebenarnya ingin menjawab tidak, tapi begitu melihat Gamma yang sedang memerhatikannya dari balik kaca jendela, Mara pun menyetujui ajakan Tirta sambil tersenyum manis.
"Biar kamu gak nunggu lama, aku ke bawah dulu yah siapin mobil?"
Lagi-lagi Mara hanya mengangguk tanpa melepas senyumnya. Mara membiarkan Tirta pergi. Dia sibuk membereskan barang-barangnya. Berpura-pura tidak tahu bahwa Gamma sedang menunggunya keluar dari ruang kerja. Laki-laki itu sudah berdiri di depan pintu.
Mara tersenyum miring. "Kenapa? Bukan lo aja kali yang dengan cepat langsung dapet pengganti. Ah ... bahkan sebelum putus pun lo udah nyiapin cadangan. Haha."
"Soal itu, iya tau gue salah. Sekarang gue juga gak ada hak lagi buat ngatur-ngatur lo. Cuma, please! Jangan sama Tirta! Ya?" Gamma menatap Mara penuh harap. Semoga perempuan itu dapat mendengarkan kata-katanya kali ini. Mara memang agak keras kepala.
"Gue mau sama Tirta kek, atau sama siapapun kek, kayaknya itu bukan lagi urusan lo deh," dengus Mara. Dia sudah bisa memperkirakan, bahwa hubungannya dengan Tirta akan ditentang Gamma cepat atau lambat. Namun, Mara tidak menyangka, Gamma akan mengemukakannya secepat ini.
"Bukan gitu Mar. Lo tau 'kan Tirta itu sahabat gue. Gue tau gimana buruknya dia. Apalagi sama perempuan. Gue gak rela lo diperlakuin Tirta sama kayak mantan-mantannya. Gue gak mau lo jadi rusak gara-gara dia."
Cih! Mara berdecak. Tanpa perlu Gamma jelaskan panjang lebar pun, Mara sudah tahu perangai seorang Tirta. Gosipnya sudah menyebar seantero kantor. Bahkan beberapa kabar didapatnya langsung dari narasumber asli. Namun, sekali lagi, dia adalah Mara. Yang menurut Sera adalah seorang wanita penakluk pria. Kalau Tirta saja tidak bisa ditaklukkan, maka jangan beri Mara julukan itu.
"Udah deh! Gak usah sok ngurus hidup gue. Tuh, urus pacar lo si Sera-Sera itu. Dia gak bikin gue celaka kayak dua hari yang lalu aja gue udah seneng." Mara tersenyum di sudut matanya.
Mara tahu, perkataannya barusan memang membuat Gamma skakmat. Huh! Mungkin Gamma pikir, Mara tidak tahu siapa yang menaburkan oli di tangga waktu itu. Untung saja Mara langsung diberi tahu salah satu OB yang bekerja, bahwa tangga itu memang sudah di pel sejak pagi. Mustahil hingga siang belum kering. Kebetulan juga, Mara melihat dan mendengar percakapan Sera dengan genk gosipnya. Bahwa Sera lah yang menaburkan oli di tangga. Juga, bagaimana Mara tidak percaya bahwa dia menemukan botol berisi oli di laci meja kerja 'sahabatnya' itu. Lucunya, Gamma tahu rencana jahat Sera sejak awal, tapi memilih diam dan tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
"Sayang," panggil Tirta yang rupanya tiba-tiba berada di sana entah dari kapan. "Aku tungguin di bawah, ternyata kamu masih di sini."
"Maaf yah. Ada gangguan kecil," sindir Mara sambil berusaha berjalan melewati Gamma. Namun, lelaki itu malah mencekal lengannya dengan erat. "Apa sih Gam? Lo sama gue 'kan udah kelar."
"Please, Mara. Pertimbangin kata-kata gue."
"Kata-kata apa?" Tirta menatap keduanya dengan curiga. Dia sudah mengepalkan tangan bersiap meninju sahabatnya itu. Tirta bahkan melepaskan cekalan Gamma dari lengan Mara. "Kata-kata apa gue tanya?"
Melihat Tirta yang sudah naik pitam dan tak ingin ada keributan, Mara berinisiatif menjawab, "Ituloh, Gamma maksa banget ngajakin aku balikan. Padahal udah aku tolak dari tadi," bohong Mara.
Dia tidak mungkin bilang bahwa topik yang sebenarnya sedang dibicarakan adalah Tirta sendiri. Bisa-bisa keributan sungguh akan terjadi. Sangat merepotkan jika begitu, dan Mara malas mengurusi hal menyebalkan seperti itu. Maka, Mara terpaksa berbohong dan menjadikan Gamma kambing hitam. Untungnya Gamma paham dan tidak protes sama sekali.
"Lo gak tau malu yah. Udah selingkuh. Sekarang lo udah pacaran sama Sera. Ternyata, lo masih mau ngajak balikan sama mantan lo, yang udah jelas-jelas jadi pacar sahabat lo?" Tirta murka. Hampir saja dia mencekal kerah baju Gamma. Namun, Mara buru-buru menengahi lelaki itu dan membuatnya menjauh dari sang mantan.
"Udah deh. Jangan ngehabisin tenaga lo buat dia. Mendingan kita pergi. Jadi 'kan kita mau nge-date?" Mara menarik tangan Tirta untuk berjalan meninggalkan Gamma.
"Mar," panggil Gamma.
"Udah deh, Gam. Gue gak mau balikan sama lo. Titik," seru Mara tanpa menoleh ke belakang.
"Awas lo! Sekali lagi gue lihat lo ganggu pacar gue, habis lo di tangan gue." Tirta mengancam dengan kepalan tangan yang teracung di udara, sebelum dirinya dan Mara menghilang di belokan menuju lift.
∆ ∆ ∆
Gimana sampai di sini? Masih tetep lanjut buat kepoin ceritanya kan? jawab iya please 🤧🤧
kira kira makin penasaran gak?
oiya, jangan lupa klik like yah supaya aku makin semangat nulisnya. ,❤️❤️
luv luv untuk semua teman-teman yang mau baca cerita dan ngikutin sampai sejauh ini. tanpa kalian, aku mah apa atuh. ❤️❤️
__ADS_1