Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 25 : U'r Getting Tired of It All (2)


__ADS_3

"Mending lo pergi, Toni. Gue udah ngehubungin polisi. Sepuluh menit lagi mereka sampai di sini." Chia berkata lagi masih dengan nada datar khasnya.


"Diem lo! Lo pengen gue habisin juga, hah?" umpat Toni seraya berdiri dan hampir berjalan mendekati Chia, namun tertahan oleh tangan Asta yang refleks mencekalnya.


"Terserah! Gue gak peduli. Meski lo bisa kabur setelah berbuat sesuatu sama gue, gue udah ngasih info detail tentang lo dan temen-temen lo. Jadi polisi bakal tetep nyari lo!" Chia terlihat santai saja. Tatapannya tak nampak rasa ketakutan sedikitpun.


Asta menghela napas. Matanya kini beralih menatap dingin ke arah Toni yang masih menggeram kesal. Toni mengumpat samar.


"Dasar cewek sialan! Awas lo! Gue pasti bakal bales!" Toni bergerak mundur sambil berlari dengan wajah ketakutan.


Asta bangun dan beralih menatap gadis yang tampak 'cuek' memandangi kepergian Toni dan teman-temannya. Asta berdiri, berjalan menghampiri gadis itu.


"Lo serius soal polisi?" Asta bertanya tanpa menatap gadis itu. Ia membanting tubuhnya dan duduk di sebelah Chia.


"Gak! Gue bohong," jawab Chia datar, membuat Asta membulatkan matanya sesaat.


Cih! Asta menarik garis di ujung bibirnya sesaat. "Lo berusaha nolongin gue?"


"Gak! Gue gak punya niat nolongin lo." Chia masih menjawab enteng.


Asta menatapnya kesal, meski ada sedikit perasaan bersalah saat mengamati kaki gadis itu. Ah ia tahu saat itu Asta memang bersikap seperti pecundang dan berpura-pura tak tahu. Namun tetap saja bayang-bayang Chia yang terjatuh di atas tumpukan kaca terus mengacaukan pikirannya.


"Gue gak akan ngucapin makasih!"


Chia tak menjawabnya, membuat Asta penasaran akan hal yang sedang dipikirkan gadis itu.


"Lo tau? Dengan sikap lo yang kayak gini. Gue bakal dukung Mara buat milih Riga."


"Lo ngomong apa barusan?" Bagus! Rasa penasaran Asta justru membuat perasaannya tertusuk dengan perkataan gadis yang duduk di sebelahnya. Menyebalkan! Gadis itu sangat menjengkelkan.


Asta memalingkan wajah saat Chia bangkit berdiri. Keningnya berkerut saat sebuah kantung kertas berwarna hitam terulur di depan wajahnya.


"Gue balikin."

__ADS_1


"Apaan?" Asta menyipitkan matanya.


"Mantel lo. Yang waktu lo kasih di kamar mandi."


Terkejut, Asta bahkan tak bisa berkata sepatah kata pun. Ah! Ia tak memperkirakan jika gadis itu mengetahui bahwa orang itu adalah dirinya.


"Bukan punya gue!" elak Asta akhirnya.


"Gue tau itu lo. Karena lo selalu gitu. Bikin masalah dan langsung minta maaf saat itu juga. Persis saat gue di rumah sakit. Lo datang dan bawain buah-buahan secara diem-diem."


"Tau apa lo tentang gue?" Asta menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Matanya masih sibuk mengamati jalanan yang tampak lengang.


"Semuanya. Kecuali alasan lo ngerahasiain tentang keluarga lo dari semua orang."


"Brengsek lo!" desis Asta kesal.


"Gue tau."


Asta melotot memandangi punggung gadis yang berjalan menjauhinya. Kesal!


● ● ●


Riga melirik garasinya sebentar. Ah! Ia malas membawa mobilnya. Toh dia hanya ingin berjalan-jalan sebentar menghilangkan penat. Riga memang lebih suka berjalan kaki ketimbang menaiki mobil kemanapun. Bahkan saat pergi ke sekolah, ia banyak menggunakan jasa sopir ketimbang menyetir sendiri.


Riga menegang saat melihat Rei sedang duduk di sebuah kursi di sebuah halte dengan motor besar berwarna hitam terparkir tak jauh darinya. Lelaki itu duduk dengan santai sambil memandang kosong ke arah kepulan asap yang baru saja keluar dari mulutnya.


Kaki Riga bergerak sendiri menghampiri laki-laki itu. Dengan gerakan cepat ia mencekal kerah bajunya sambil melempar tatapan tajamnya. Lelaki di hadapannya jelas terkejut melihat kedatangan Riga yang tiba-tiba.


"Ceritain semua yang lo tahu tentang Chia!" bisik Riga di depan wajah lelaki yang mengernyitkan alisnya itu. Riga menajamkan sorotan matanya ketika Rei tertawa pelan, mengejeknya.


"Kenapa gue harus?" Rei memutar kedua bola matanya sambil melempar puntung rokok yang sejak tadi bertengger di celah-celah jari manis dan tengahnya.


"Lo harus! Karena lo satu-satunya yang tahu persis tentang cewek itu!" Riga menekan setiap perkataannya, nyaris seperti ancaman.

__ADS_1


"Gue gak mau! Lo cari tahu aja sendiri dari ingatan lo yang hilang itu!" Rei masih berkata dengan 'cuek' membuat Riga menggeram kesal dan meninju lelaki itu pelan, sebelum akhirnya pasrah dan duduk di sebelah lelaki itu.


Riga menyandarkan tubuhnya. Menatap kosong ke arah langit yang hitam pekat, sama seperti ingatannya.


"Gue gak bisa, Rei. Sekeras apa pun gue mencoba mengingat sesuatu, selalu gagal. Ingatan gue gak ada yang balik meski sedikit." Riga menurunkan nada bicaranya.


Riga menoleh, menatap penuh harap pada lelaki yang sedang menyipitkan matanya. Dari sudut mata Riga, Riga yakin lelaki itu sedang menertawainya lewat tatapannya. Ya, Riga memang terlihat lemah saat ini. Namun masa bodoh dengan hal itu.


Terserah orang ingin memandangnya seperti apa. Yang ia butuhkan saat ini adalah tentang kebenaran di masa lalunya. Ia harus tahu. Ia harus tahu tentang gadis yang terus-terusan mengusiknya sejak pertama kali ia bertemu dengannya. Saat Riga pertama kali kembali ke sekolah.


"Lo bakal percaya dengan omongan gue kalo gue bersedia cerita?" Rei masih menyunggingkan senyuman mengejeknya.


"Hmm." Riga menjawabnya dengan gumaman.


"Lo gak takut gue bohong? Gimanapun, gue nganggap lo musuh gue! Gue bahkan hampir nabrak lo kemaren-kemaren kalo Chia gak ngegagalin rencana gue!"


"Iya! Gue tahu!" lirih Riga. Ya iya tahu keputusannya itu mendadak sekali. Iya juga tahu laki-laki itu bisa saja berbohong padanya. Namun ia tak punya pilihan lain, selain mempercayai perkataan lelaki yang berdiri di sampingnya.


Riga menghela napas pelan, memandang penuh arti pada lelaki yang menatapnya dengan tajam.


"Ceritain, Rei!"


● ● ●


Chia menghempaskan tubuhnya dan duduk di atas kasur. Mengabaikan rasa sakit pada lututnya. Ia memandangi ponselnya dalam diam. Menatap nanar pada folder foto di ponsel itu.


Saat ingin menghapus foto Asta yang tak sengaja diambilnya tadi, matanya malah menangkap foto-foto yang sudah lama tak pernah dibukanya.


Bola matanya masih memandangi satu per satu foto itu. Foto-foto sejak ia duduk dibangku SMP pun masih tersimpan dengan baik. Rasa sedih dan sesak menyeruak di dadanya saat Chia terus menggerakkan jari jemarinya, memindahkan foto satu ke foto yang lain.


Tess!


Air mata Chia mulai mengalir lagi. Sudah berakhir. Pertahanannya telah runtuh semua dan ia gagal. Menjadi seseorang yang terlihat kuat dan tak memedulikan segalanya benar-benar menyesakkan untuknya. Terlalu sulit saat bayang-bayang dari masa lalu malah semakin menjadi dan bersimpangan di pikirannya.

__ADS_1


● ● ●


__ADS_2