
"Asta?"
"Chia?"
Keduanya berbicara nyaris dengan kecepatan yang sama. Lelaki yang sudah berdiri itu sedikit melompat-lompat kecil untuk mencari keseimbangan. Setelah cukup seimbang, kemudian lelaki itu tersenyum samar. "Gue Andra ... bukan Asta. Mau berapa kali lo panggil gue dengan nama itu?"
Chia tidak menanggapi. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri setelah memberikan kaki palsu di tangannya kepada si empunya. Sibuk mengamati orang-orang yang mulai berdatangan untuk mengurus si pria pencuri. Sibuk memandangi punggung Andra yang perlahan mendekati minimarket dan duduk di salah satu undakan tangga.
Perlahan kakinya melangkah. Namun, bukan untuk menghampiri Andra yang sedang berusaha memakai kaki kiri palsunya lagi. Melainkan untuk masuk ke dalam minimarket. Chia keluar setelah membeli dua buah kopi panas, kapas, alkohol, obat merah dan juga plester penutup luka.
"Buat lo," ucap Chia lalu mendudukkan diri di sebelah lelaki yang terlihat masih membetulkan posisi kakinya.
"Thanks." Tangan Andra menyambut gelas kertas di tangan Chia. Tapi fokusnya teralih pada mata Chia yang terpaku dengan kaki kirinya. "Kenapa? Aneh ya?"
Chia menggeleng lemah. Lalu mulai mengeluarkan barang-barang yang tadi dibelinya. Ketika Chia hendak mengeluarkan sedikit kapas untuk dituang alkohol, tangan Andra menahannya.
"Gue gak apa-apa. Luka begini doang. Nanti juga sembuh sendiri."
"Sok pasrah," sungut Chia datar dan sontak membuat mata Andra mengerjap.
"Apa lo bilang?"
"Iya, lo sok pasrah. Padahal lo itu dulu orangnya sok maksa."
"Lo lagi cari ribut sama gue?" geram Andra. Meski sejujurnya dia tidak bersungguh-sungguh untuk kesal pada perempuan di sebelahnya itu.
"Gue cuma lagi cari jawaban atas tebak-tebakan di kepala gue sendiri. Gue gak tau lo bakal lebih memilih gue untuk bantu obatin lo, atau lo obatin sendiri sekarang juga?" jelas Chia sambil memandang kosong ke jalan di hadapannya.
"Terus?" tanya Andra santai sambil menyesap kopi pemberian Chia.
__ADS_1
"Sepertinya jawaban gue bener."
"Apa?"
"Lo akan memilih untuk gak melakukan keduanya dan membiarkan luka-luka itu terkena infeksi."
Andra berdecak lalu tersenyum miring. Chia memang benar. Dibandingkan luka-luka habis dipukuli orang seperti ini, rasa sakitnya masih kalah dengan rasa sakit ketika harus rela melepaskan cintanya dan memilih pergi. Bahkan rasa sakit itu tak pernah mau meninggalkan Andra sendirian. Andra terkungkung dalam pertemanan dengan luka yang menyiksa selama beberapa tahun.
Andra mengulurkan kedua tangannya di depan Chia. "Kalo gitu gue minta bantuan lo. Meski sejujurnya, lo bakalan rugi karena bakal jadi digosipin sama gue."
Andra menoleh ke sekeliling. Menangkap berpasang-pasang mata telah mengamatinya dari kejauhan. Namun, Chia justru tampak tenang-tenang saja.
"Gue gak pernah peduli dengan gosip." Kemudian Chia mengeluarkan sedikit kapas dan menuangkan beberapa tetes alkohol di atasnya. Pelan-pelan dioleskannya kapas itu pada luka-luka di wajah juga di kedua tangan Andra. "Boleh gue tanya sesuatu?"
"Jawab enggak pun, lo bakalan tetep nanya," ujar Andra pasrah sambil sesekali meringis menahan sakit ketika cairan alkohol mengenai lukanya.
Chia tersenyum tipis. "Kaki lo ... Apa yang sebenernya terjadi sama kaki lo?" tanya Chia hati-hati. Dia takut salah bicara. Takut menyinggung lelaki di sebelahnya itu. Karena, Chia belum bisa memastikan bahwa firasatnya benar atau tidak.
Gerakan tangan Chia terhenti. Kecelakaan? Kepalanya mendongak untuk menatap bola mata Andra lebih dalam lagi. Mencari kebenaran dari sorotan yang memandang Chia dengan tenang.
Jika dirunut, apa yang terjadi terhadap Andra dan Asta adalah suatu kesamaan yang bukan termasuk kebetulan semata. Mereka adalah orang yang sama. Andra pasti Asta, yakin Chia. Lagi-lagi firasat Chia telah mengalahkan logikanya. Padahal secara logika, Andra dan Asta adalah orang yang berbeda. Dari segi fisik terutama.
"Kalo lo bukan Asta, sejak kapan lo tau nama dan kenal gue?" Chia mencoba mencari informasi lebih jauh dari seorang Andra.
Andra tersenyum miring. "Gue pernah lihat foto lo di ruang kerja Jun. Dan Jun juga sempet nyebut nama lo beberapa kali saat bercerita. Jadi, gue tarik kesimpulan, hubungan kalian cukup dekat. Gue bener 'kan?"
Mendengar jawaban Andra barusan, sepertinya lelaki itu sudah mengenal Jun cukup lama. Tapi sejak kapan? Kenapa dia harus meminta bantuan Jun? Lalu, hal apa yang diceritakan Jun kepada Andra tentang dirinya? Ratusan pertanyaan kini justru menghantui Chia.
Baru saja Chia hendak membuka mulut untuk bertanya lagi, tiba-tiba Andra menjulurkan jari telunjuknya di depan bibir lelaki itu. Meminta Chia untuk diam sejenak.
__ADS_1
"Gue angkat telpon dulu," ucap Andra tanpa bersuara. Kemudian lelaki itu mengeluarkan ponsel yang ternyata sejak tadi bergetar. Andra berjalan menjauhi Chia. Dari tempat duduknya, Chia hanya bisa mengamati. Entah apa yang dibicarakan Andra di depan sana.
"Gue harus pergi. Ada pesanan yang harus gue anter lagi," ucap Andra setelah menutup teleponnya dan kembali ke tempat Chia berada.
Sementara Chia sendiri tidak menjawab. Perhatiannya berpindah pada kotak besar yang ditaruh di jok belakang motor matic milik Andra. Sepertinya, lelaki itu memang dalam perjalanan pulang ke tempatnya bekerja setelah mengantar pesanan. Namun, terjeda karena insiden pria pencuri tadi.
"Tunggu! Satu pertanyaan lagi dari gue," seru Chia seraya menghentikan langkah Andra yang telah berjalan menuju motornya. "Kenapa harus Jun? Kenapa lo pengen banget Jun bantuin lo?"
Andra berbalik dengan senyum di matanya yang terlihat sendu dan agak misterius. "Karena ... cuma pengacara itu yang bisa bantuin gue."
Chia mendengus. Pertemuannya dengan Andra semalam memang belum membuka semua jawaban dari pertanyaannya. Namun, Chia mendapat sebuah kesimpulan, Jika Jun sebenarnya terlibat dan tahu banyak mengenai lelaki bernama Andra itu. Dan Chia yakin, Jun pasti tahu siapa Andra yang sebenarnya.
"Ya! Gue emang ketemu dia. Tapi dia gak menceritakan apa pun. Yang gue tahu, lo udah kenal Andra sejak lama. Dan dia bilang, cuma lo yang bisa bantu dia. Gue gak ngerti apa yang sebenernya terjadi, tapi kenapa lo gak mau bantu dia?"
Jun menghela napas. Inilah masalahnya Jun tak ingin Andra bertemu dengan Chia. Dia tak ingin Chia semakin penasaran atau bahkan tahu dengan apa yang terjadi. Jun tak ingin pada akhirnya Chia melibatkan diri. Juga, dia tak ingin melihat Chia memohon padanya agar Jun mau membantu Andra. Sebab, Jun tak akan pernah bisa menolak apapun permintaan perempuan yang ada di depannya itu. Tidak akan pernah.
"Gue mohon. Untuk kali ini. Bisa 'kan lo percayain semuanya sama gue?" tanya Jun. "Apapun itu, tolong percaya sama gue. Ya?"
Mendengar Jun berkata begitu, Chia mendadak hening. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Dalam diam, dia hanya mengamati gerak-gerik Jun yang mengambil jaket serta topinya dari gantungan yang ada di dekat pintu kamar mandi.
"Gue pergi ke supermarket dulu. Ada bahan di dapur yang kehabisan," pamit Jun yang dengan sengaja tak ingin memandang ke arah Chia. Dia justru mengamati Sun yang sejak tadi diam di dekat satu-satunya perempuan di ruangan itu. "Gue pulang nanti, lo harus udah lepas kaos itu. Kalau lo gak mau, hidup lo kelar setelah ini."
Kata-kata dingin yang diucapkan Jun barusan justru membuat bulu kuduk Sun meremang. Sebab, Sun dapat merasakan kemarahan luar biasa dari tiap kata yang didengarnya.
'Emangnya kenapa sama kaos ini?" tanya Sun polos begitu Jun telah pergi meninggalkan keduanya.
"Baju itu ... baju kesayangan Jun. Pemberian dari seseorang yang sampai sekarang gak pernah Jun lupain," jawab Chia.
Mulut Sun membentuk huruf O dengan kepala yang terangguk-angguk. Sun jelas paham 'seseorang' yang dimaksud Chia barusan.
__ADS_1
∆ ∆ ∆
Entah kenapa bonus bab ini gak nongol semalem. sepertinya aku mulai error akibat efek obat. 🤧🤧🤣🤣