
Ini bukan pemandangan yang diharapkan saat Chia menginjakkan kakinya di kelas S. Tempat itu sangat berbeda dari saat ia pertama kali melihatnya.
Kelas Semesta Udaraja itu kosong saat ini dan ruangannya sangat berantakan. Kursi dan meja-meja terguling. Vas-vas bunga hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai. Buku-buku tercecer dan banyak sobekan kertas dimana-mana, percis seperti sebuah ruangan yang baru saja didatangi perampok.
Buru-buru Chia menutup pintu ruangan itu rapat-rapat dari dalam. Ia berjalan dengan cepat menghampiri satu-satunya orang yang masih tinggal di sana. Chia mencengkeram tangan orang itu dengan kuat, mencegah orang itu memecahkan meja kaca yang telah retak dengan tongkat pemukul di tangannya.
"Cukup!" Chia menatap orang itu datar.
Orang itu menoleh sambil menyeringai ke arah Chia. Matanya berkilat memancarkan kebencian sangat dalam pada Chia. Dengan gerakan cepat orang itu melepaskan tangannya dari cengkeraman Chia.
"Seperti yang gue harapin. Lo beneran datang, sepupu gue yang manis." Orang itu memancarkan senyuman dari sorot matanya dan hanya dibalas tatapan datar dari Chia.
"Apa yang lo mau?" tanya Chia tenang.
Orang itu tertawa pelan sambil menyerahkan tongkat pemukulnya pada Chia. "Yang gue mau? Lo tetep tinggal di sini dan bertanggung jawab soal kerusuhan di kelas ini," ujar orang itu dengan santai.
Chia tak menjawab. Ia hanya menggenggam tongkat pemukul yang sekarang telah berpindah ke tangannya dengan erat.
"Lo harus bayar semua perbuatan lo ke gue. Lo udah bikin keluarga gue hancur."
Chia menatap penuh arti pada orang itu. Ah, ia sudah tahu tentang kronologis cerita keluarga seseorang yang saat ini berada di hadapannya setelah Chia meninggalkan mereka, dari Jun, anak dari orang yang telah memberi Chia tempat tinggal saat ini.
Ya, Chia pernah tinggal satu atap dengan orang di hadapannya itu selama lebih dari sepuluh tahun, sejak ditinggal ayahnya selamanya. Ia cukup mengenal dengan baik sifat masing-masing keluarga sepupunya itu.
Ayah dari orang itu selalu mabuk-mabukan dan berjudi. Bahkan bisa menjadi laki-laki yang sangat menakutkan saat tak sadarkan diri. Chia bahkan sering menjadi korban pukulan ayah sepupunya itu.
"Apa-apaan cowok yang namanya Jun itu! Gue harus berubah dan bersikap baik sama lo? Jangan harap! Gue bahkan gak pernah minta siapapun buat nolong gue!" cibir orang itu sambil menatap tajam ke arah Chia.
__ADS_1
"Gue gak pernah minta Jun buat bebasin nyokap gue dari penjara, karena harus nanggung ulah bokap yang ninggalin utang dan kabur gitu aja. Gue juga gak minta rumah baru dan pekerjaan dari lo ataupun cowok aneh itu saat semua udah disita!"
Chia menghela napas. Sejak awal ia memang tak terlalu berharap sepupunya itu bisa berubah dan menerimanya.
"Gue gak mau!" tolak Chia sambil memalingkan wajah dan membuat orang di hadapannya mengerang kesal.
Chia memekik pelan saat orang itu dengan kasar menarik rambutnya ke bawah. Matanya menyipit menatap kedua bola mata Chia.
"Lo pikir lo bisa nolak, hah? Lo gak lagi dalam posisi bisa nolak permintaan gue! Lo harus bayar jasa keluarga gue yang ngerawat lo dari umur lima tahun sampe beranjak SMA," bisik orang itu tepat di telinga Chia.
Chia tersenyum miris saat mengingat kembali kehidupannya di dalam rumah itu. Ya, keluarga dari adik ayahnya itu memang merawatnya. Meskipun pada akhirnya hanya berujung pada makian, hinaan dan pukulan yang diterima Chia hampir setiap hari.
"Lo harus ngelakuin ini demi gue!" Orang itu melepaskan rambut Chia dan mendorongnya ke belakang. Ia menyeringai.
"Sampai kapan lo bakal kayak gini, Chika?"
"Sampai lo gak berusaha nyelakain Mara. Gue minta lo jauhin Mara."
Gadis di hadapan Chia tertawa sesaat, membuat Chia menatapnya dengan serius.
"Gak ada urusannya cewek bego itu sama lo. Lagian salah dia sendiri ngedeketin Riga yang harusnya jadi pacar gue! Dan gue seneng lo berhasil meranin peran yang jatohin vas bunga dan nabrak dia!" Chika tertawa lagi.
Chia mengerutkan dahinya, menatap tajam ke arah Chika. Sejak insiden vas bunga, Chia sudah tahu jika Chika adalah pelaku sebenarnya. Karena Chia selalu ada di sana saat Chika menjatuhkan vas bunga dari kelasnya dan beranda lantai tiga. Meski semua orang akhirnya malah menuduh Chia, karena Chika selalu bisa bersembunyi saat melakukan aksinya.
Yang membuat dahinya berkerut, saat Chika bicara soal Chia menabrak Mara. "Lo yang bikin rem sepeda gue blong? Dan lo yang bikin sepeda gue jadi ancur?"
"Iyalah! Kenapa? Lo berharap cewek lembek kayak Renata yang ngelakuinnya? Bahkan cewek sok berkuasa itu cuma bisa ngancam tanpa bertindak. Seharusnya cewek macam dia gak berhak jadi penguasa sekolah!" Chika menyeringai dan dibalas helaan napas dari Chia.
__ADS_1
"Kenapa lo? Lo gak terima kalo gue yang harusnya ada di posisi Renata? Lo lupa siapa yang selalu nindas lo dari SMP sampe lo di kelas satu SMA?"
Lupa? Chia tersenyum samar. Mana mungkin ia melupakannya. Berusaha melupakannya pun tetap saja ingatan tentang dirinya yang ditindas tak akan pernah hilang.
"Sebentar lagi Asta dan temen-temennya bakal datang. Lo harus lakuin tugas lo!" Chika menyeringai sebelum akhirnya gadis itu melenggang dengan santai meninggalkan Chia yang masih terpaku di tempatnya.
Lima menit setelah kepergian Chika, Chia masih tak bergeming. Matanya menatap kosong pada meja kaca yang telah pecah dan berserakan di lantai.
Rasanya seluruh badannya tak bisa mengikuti perintah dari otaknya dengan benar. Tak ada bagian tubuh yang bisa digerakkannya. Semuanya terasa kaku. Bahkan saat seseorang telah membuka pintu dan suara derap langkahnya makin mendekat, Chia masih berdiam di tempatnya.
"Ini buruk," gumam Chia pelan sambil tersenyum miris.
● ● ●
Asta merubah raut wajahnya saat menginjakkan kaki di kelasnya. Matanya melotot memandangi kelas S yang berantakan. Asta menarik pandangannya dan menemukan seorang gadis sedang berdiri memunggunginya.
Ia masuk ke dalam dengan langkah panjang diikuti teman-temannya. Sambil menahan amarah, ia berdiri di belakang gadis yang dengan suka rela memutar badannya dan menunjukkan sendiri identitasnya.
"Apa yang LO LAKUIN DI SINI?!" Asta membentak Chia tepat di depan wajahnya.
Chia tersenyum samar. "Menurut lo?" tanyanya dengan santai.
Asta menatapnya tajam. Ah, entah kenapa gadis dingin itu malah muncul di setiap Asta sedang merasa kacau. Sungguh Asta membenci tatapan datar milik Chia yang mengingatkannya pada laki-laki yang masih terus membuntuti Mara.
Rasa benci Asta pada gadis di hadapannya sama besarnya dengan rasa bencinya pada kekasih gadis itu. Asta mengepalkan tangannya. Masa bodoh jika yang berdiri di hadapannya itu adalah seorang gadis. Baginya Chia adalah musuhnya saat ini. Gadis itu harus membayar perbuatannya karena tiba-tiba merusak kelasnya tanpa alasan yang jelas. Meski sebagian lagi alasannya hanya untuk melampiaskan kekesalannya pada Riga melalui gadis itu.
Asta mengangkat tangannya, menampar keras-keras Chia hingga gadis itu terjatuh di atas tumpukan pecahan kaca. Asta tertegun sesaat sebelum melemparkan pandangannya ke arah lain. Ah, biarlah. Asta tak terlalu peduli jika gadis itu terluka.
__ADS_1
● ● ●