
Chia tersenyum samar saat matanya menangkap sebuah foto tiga siswa belia sedang berpose memegang piala kemenangan. Dua diantaranya tersenyum, sedangkan satunya lagi malah memasang wajah datar. Wajah datar yang bahkan tak pernah bisa dilupakannya. Ekspresi yang coba ditirunya selama ini, namun justru berakhir dengan kegagalan.
Ah Chia ingat. Mana mungkin ia melupakan kenangan saat ia pertama kali bertatap muka langsung dengan Utaraka Meteoriga. Anak lelaki yang memasang wajah datar di foto.
"Tunggu! Masih ada satu orang lagi yang bakal ikutan lomba cerdas cermat ini." Adit berbisik dengan antusias.
Chia mengangguk pelan.
"Tuh dia dateng!" pekik Adit semringah sambil melambaikan tangannya ke arah anak lelaki berwajah datar yang sedang berjalan ke arahnya.
"Siapa dia, Dit?" tanya anak laki-laki itu, saat tatapan dinginnya tertangkap oleh Chia sedang mengamatinya.
Chia melirik Adit sesaat. Adit tersenyum getir. "Dia Chia. Salah satu temen sekelas kita."
"Sejak kapan?"
Chia mengerutkan dahinya saat anak lelaki itu menajamkan tatapannya ke arah Chia.
"Sejak kelas satu, Utaraka Meteoriga!" potong Chia sebelum Adit sempat mengeluarkan suara.
"Gue gak inget," tukas Riga dengan nada datar sambil duduk di sebelah Chia.
Chia kesal dan melotot ke arahnya. Hampir satu tahun lebih mereka duduk di kelas yang sama. Namun tatapan dan sikap lelaki itu menunjukkan jika ini pertemuan pertama mereka.
"Gue gak suka dia!" bisik Chia kepada Adit.
"Gue denger," tutur Riga kalem. Chia mendengus, sebal.
Mata Chia kini mengamati fotonya sendiri yang sedang berdiri di sebuah koridor. Sebuah foto yang diambil Riga secara diam-diam.
__ADS_1
Chia hanya berdiri di koridor sejak tadi. Menatap dalam diam ke arah pasangan yang sedang duduk sambil memakan bekal makan siangnya bersama. Ada perasaan sesak saat melihat Rei dengan santainya merangkul pundak Agnes dan tersenyum bahagia.
"Lo pinter tapi bego!"
Chia mendelik tajam pada seseorang yang tadi mengatainya. Ah, Chia tak tahu kapan Riga datang dan tiba-tiba berdiri di dekatnya, sambil bersandar ke tembok dengan tangan yang terlipat di depan dada. Malas menanggapi tatapan dinginnya, Chia berbalik dan berjalan melewati laki-laki itu.
Langkah Chia terhenti saat Riga tiba-tiba mencengkeram tangannya. Dia menarik tubuh Chia pelan ke arahnya. Lalu bola matanya memindai tangan Chia yang sebelumnya bagian baju di lengannya telah disingsingkan.
Ternyata ada banyak bekas luka di tangan gadis itu.
"Siapa yang ngelakuin ini? Cowok lo itu?"
"Bukan urusan lo!" geram Chia sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Lo emang kelewatan begonya!" Dengan sendirinya Riga melepaskan tangan Chia dan pergi begitu saja. Terperangah, Chia berdecak kesal sambil mengucapkan sumpah serapah.
Chia memandangi foto lainnya. Foto sebuah kotak kecil yang mirip seperti kotak P3K. Foto yang diambilnya sendiri. Chia ingat saat itu Riga sudah menunggunya di luar kamar mandi.
Chia tertegun sesaat saat ia melihat foto rumah tempat ia tinggal bersama Chika dan keluarganya dulu. Ia merindukan tempat itu sekaligus membencinya.
"Tante, maafin aku. Aku tahu harusnya aku gak sekolah di SMA itu, tapi aku dapet beasiswa penuh Tante. Tante gak perlu khawatir soal biaya aku. Jadi aku mohon Tante jangan ngusir aku kayak gini. Ijinin aku tetep tinggal di sini, Tante," lirih Chia sambil meneteskan air matanya. Berlutut dan memohon agar wanita yang lebih tua dua puluh tahun darinya itu mengerti dan mengabulkan permintaannya.
"Kamu pikir ayah kamu nitipin bekal uang buat kamu sebanyak apa? Kamu pikir sampai kapan kamu bakal jadi beban di keluarga ini? Pergi sana! Tante udah gak peduli lagi sama kamu! Salahin ayah kamu yang cuma ninggalin biaya sampai SMP doang!"
Wanita itu menggebrak pintunya dengan keras di depan wajah Chia. Chia mengetuknya berkali-kali dan memohon agar dibukakan pintu. Tapi tak ada yang mendengarnya.
Chia memutuskan untuk pergi ke sebuah taman terdekat. Tempat satu-satunya untuk pergi. Ia duduk di atas ayunan. Menangis lirih berjam-jam.
Hingga Chia berhenti terisak saat tangan seseorang terulur padanya.
__ADS_1
"Ikut gue," pintanya. Dibalas tatapan kebingungan dari Chia.
Chia tak tahu bagaimana cara Riga bisa menemukannya di tempat seperti itu, di saat tengah malam seperti ini. Namun bukan itu yang menjadi alasan Chia tak kunjung menyambut uluran tangannya. Ia meragu untuk banyak hal.
Namun, tangan Riga yang telah menggenggamnya meyakinkan Chia hingga ia dengan rela mengikuti laki-laki itu menuju rumahnya.
"Ini siapa Riga?" tanya seorang wanita dengan lembut saat membukakan pintu.
"Dia pa ...."
"Temen. Saya temennya, Tante," potong Chia yang langsung dibalas pelototan dari Riga.
"Oh. Masuk yuk!"
Ah, Chia merindukan rumah itu. Bagaimana keluarga itu menyambutnya dengan hangat dan menerimanya untuk tinggal di sana.
Chia mengingat bagaimana Sun, kakak Riga yang artis itu menggoda Chia setiap ada kesempatan. Chia tersenyum samar saat mengingat Riga yang selalu uring-uringan karena ulah kakaknya.
"Tante kaget loh waktu Riga tiba-tiba bawa kamu ke rumah," ujar Ibu Riga yang sedang sibuk mengaduk adonan kue.
Chia tersenyum sambil membantu hal-hal kecil yang dipinta oleh wanita itu.
"Tadinya Tante pikir Riga gak bakalan punya pacar loh. Dia itu pemilih dan punya tipe sendiri. Tipenya itu susah dicari. Tante sampe pusing. Tapi Tante seneng. Meskipun kamu bukan tipenya Riga, tapi kamu yang dipilih sama dia. Tante suka sama kamu."
"Saya, cuma temennya aja Tante," dalih Chia sambil tersenyum getir.
"Tapi Tante cuma pengen kamu yang jadi mantu Tante nanti." Wanita itu tiba-tiba memeluk Chia. Chia tertegun. Hangatnya sikap wanita itu sangat bertolak belakang dengan sikap anak bungsunya.
Chia menyeka air matanya. Entah berapa lama ia tak bertemu dengan wanita yang selalu menyunggingkan senyuman hangatnya itu. Rasa rindu yang menyesakan. Terlalu sakit. Bahkan untuk sekedar merindu pun. Rasanya Chia tak berhak.
__ADS_1
● ● ●