
"A-Asta? Lo ngapain di sini?" tanya Mara sambil terkesiap.
"Lo tuh kebiasaan! Kalo gue tanya, lo harus jawab! Bukannya nanya balik!"
Mara mendengus. Buru-buru dipalingkan wajahnya yang mulai merah padam. Perasaannya selalu kesal setiap berbicara dengan lelaki berperawakan tinggi itu.
"Gue lagi cari angin!" jawab Mara sembari salah tingkah.
Ia menoleh ke arah Asta lagi. Mara menyipitkan matanya, menyelidiki lelaki itu. Jangan-jangan dia tahu, kalo gue gak tahu ulang tahunnya sekarang! Ah! Kenapa gue baru sadar sekarang sih! Harusnya gue kabur dari tadi!
"Ngapain lo lihatin gue kayak gitu?"
Mara gugup. Sial! Rupanya lelaki itu bisa menangkap kecemasannya.
"Gue heran aja. Ngapain orang kayak lo ada di sini?" sergah Mara sambil memalingkan wajahnya.
"Lo pikir, gue nguntit lo cuma sekali atau dua kali doang?"
Mara melebarkan mulutnya. Ia tampak tercengang. Nih orang beneran! Gue hajar juga lo!
"Psycho lo!" Mara kesal sambil memelototi lelaki itu.
Tuh kan bener! Nih orang satu beneran bakal ngamuk deh! Pasti dia tahu kalo gue gak datang ke pestanya. Pasti dia tahu kalo gue gak tahu kapan ulang tahunnya. Sialan! Mara masih merutuki kesialannya.
"Psycho?" Asta mendecakkan lidahnya sambil tersenyum tipis.
Tiba-tiba tangan Mara digenggamnya. Laki-laki itu menarik Mara hingga ia bangun dari duduknya.
"Mau ke mana kita?" Mara gelagapan. Ia mulai curiga.
Sial! Sial! Sial! Nih cowok pasti mau bawa gue ke suatu tempat dan ngamuk di sana!
Mara sungguh ketakutan. Sudah beberapa kali ia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Asta. Namun hasilnya nihil. Terpaksa Mara menurut ketika lelaki itu menyuruhnya masuk ke dalam mobil hitamnya.
Oke fine! Hari ini gue tamat! Rengek Mara di dalam hati saat Asta menghentikan laju mobilnya. Laki-laki itu memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Tepat di dekat sebuah pohon yang menjulang tinggi.
__ADS_1
Mara memicingkan matanya. Dilayangkan pandangannya jauh ke depan sana. Keadaan yang gelap gulita membuat retina matanya membesar. Ditelusurinya setiap sudut di luar sana. Jalanan yang kosong, dengan daun-daun berguguran berhamburan di sana karena tertiup angin. Lalu kanan-kirinya hanya ada pepohonan yang menjulang tinggi. Ia tak bisa melihat jelas pohon apa yang dilihatnya. Seluruh keadaan gelap. Tak ada cahaya lampu sedikit pun. Kecuali beberapa meter di depannya, yang masih tersinari cahaya lampu mobil milik Asta.
"Dimana kita?" tanya Mara ketus. Ia menatap lelaki di sebelahnya dengan sinis.
"Menurut lo?" Asta bertanya balik sambil mematikan mesin. Keadaan di sekitar semakin tak terlihat oleh Mara.
"Tempat gelap yang cuma ada pohon-pohon di sana-sini, menurut lo dimana?" tanya lelaki itu datar.
"Hutan?"
"Nah itu lo tahu! Pake nanya segala!"
Mara memerhatikan Asta yang mulai membuka pintu mobilnya, lalu menurunkan kakinya sebelah.
"Turun!" ucap lelaki itu dengan nada memerintah.
"Turun? Lo nyuruh gue turun dari mobil? Ke tempat gelap kayak gitu? Sama lo? Jangan harap gue mau!" jawab Mara ketus. Ia melipat kedua tangannya di dada.
Ok gue salut sama lo Asta! Lo tahu aja tempat bagus buat nyiksa gue! Tapi jangan harap gue mau ke sana! Huh! Mara memelototi lelaki itu. Meskipun ia sadar, Asta bahkan tak melihat ekspresi wajahnya sama sekali.
"Gue gak tanggung jawab kalo lo kenapa-napa." Asta keluar dari dalam mobil dengan santai. Ia lalu berdiri dengan salah satu tangan yang memegangi pintu mobilnya.
"Gak!" jawab Mara tegas. "Ngapain sih lo bawa-bawa gue ke sini? Ke hutan belantara kayak gini? Ke tempat yang gue gak tau? Pokonya gue mau pulang! Sekarang! Gue gak mau ...."
Brakk! Mata Mara terbelalak ketika lelaki itu membanting pintu mobilnya dengan keras, menghentikan ocehan Mara yang bahkan belum selesai dikatakannya. Bahkan Asta berjalan dengan santai meninggalkan Mara begitu saja.
Gue benci lo Asta brengsek! Mara menurunkan kaca jendela dengan geram, lalu menjulurkan kepalanya keluar.
"Gue pengen pulang sekarang juga!" teriak Mara.
"Lo denger Asta! Oy Asta! Semesta Udaraja! Gue pengen pulang! SEKARANG!"
Napas Mara tersengal-sengal. Dadanya naik turun. Sambil mengatur napas, dimasukkan kembali kepalanya yang terjulur keluar ke dalam mobil. Ia termenung, teriakannya barusan tak ditanggapi oleh lelaki yang telah menghilang di kegelapan.
Bagus! Dia bener-bener ninggalin gue sendirian sekarang!
__ADS_1
● ● ●
Riga menatap lelaki di hadapannya itu tersenyum. Ah, entah kenapa rasanya ia tak menyukai senyuman Rei. Masih dengan posisi siaga, mata Riga masih memerhatikan lelaki yang mulai berjalan mundur, merenggangkan jarak dengannya.
Riga bahkan beberapa kali menangkap lelaki di hadapannya itu memandangi gadis yang sekarang berdiri dibalik tubuh jangkungnya itu. Riga melirik sebentar Chia yang berdiri di belakangnya. Ah, ia tak bisa melihat dengan jelas kondisi gadis itu. Namun, Riga bisa mendengar napas Chia yang tersengal-sengal.
"Gue tahu lo pasti dateng, Utaraka Meteoriga!" Rei tersenyum simpul sambil menatap serius ke dalam bola matanya.
Riga tak menjawab. Ia hanya berdiri sambil menatap lelaki di hadapannya itu dengan dingin. Uh ia tak tahu kenapa ia harus membiarkan dirinya terjebak dalam situasi seperti itu.
Beberapa saat lalu, ketika ia baru saja keluar dari toko kue, tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat gadis di belakangnya ini dikepung oleh segerombolan laki-laki bermotor besar dengan pakaian serba hitam.
Sebenarnya Riga tak peduli. Ia bahkan bersikap seolah-olah tak mengenali gadis itu dan ingin pergi berlalu begitu saja.
Sampai akhirnya, tiba-tiba saja kakinya berlari ke arah Chia, ketika seorang laki-laki yang berbicara dengan gadis tadi melayangkan tinjunya. Lalu akhirnya ia berdiri di sana sekarang. Di antara kepungan orang-orang bermotor besar.
"Lo emang bodyguard Chia yang paling setia, iya gak Chia?" Rei melirik lagi gadis yang berdiri di belakang Riga.
Riga masih terdiam.
"Gue gak akan pernah ngakuin hubungan lo sama Chia! Apa itu .... "
"Pacar bos!" Salah satu anak buah Rei menanggapi.
"Nah pacar!" Seru Rei.
"Pacar? Lo cuma bodyguardnya Chia! Gue yang pacarnya cewek itu!" Rei tertawa.
Riga masih melemparkan tatapan dinginnya. Ia bahkan tak peduli dengan perkataan panjang yang diucapkan Rei.
Bukk! Tangan Riga refleks menangkis serangan yang tiba-tiba dilayangkan Rei tepat ke wajahnya.
"Gue gak mau basa-basi sama lo! Urusan kita waktu itu belum selesai!" Kata Rei dengan serius.
Riga melirik lagi Chia yang berdiri di belakangnya. Sial! Kenapa sih nih cewek diem terus kayak patung! Ya, kondisi Riga kurang menguntungkan. Berkelahi dengan sepuluh orang yang membawa alat pukul sambil melindungi seorang gadis, memang sedikit merepotkannya.
__ADS_1
"Gue gak kenal sama lo semua! Gue gak tahu urusan lo sama gue apa! Tapi ayo kita beresin ini secepatnya!" Riga tersenyum, menjawab tantangan lelaki itu.
● ● ●