Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Dua Puluh Enam


__ADS_3

"Lo yakin ini bener gedung kantornya?" tanya Mara sambil menurunkan kaca mobil miliknya.


Sejak Mara menginjakkan kaki di ibukota, Fachri benar-benar menjadi sangat rewel. Sedikit-sedikit dia akan menengok Mara di dalam apartemennya. Atau lelaki itu akan begitu berisik jika Mara yang ingin pergi kemana pun tak mau diantar olehnya. Fachri yang posesif, sangat menyebalkan. Mara sungguh ingin membuang Fachri ke dalam sungai. Lalu dibiarkan terbawa arus hingga sampai di kota kelahirannya.


"Kan lo yang ngasih alamatnya ke gue. Kalau sesuai alamatnya, ya bener ini gedung kantornya," jawab Fachri yang menjabat jadi supir dadakannya Mara.


"Katanya anak perusahaan, kok gedungnya tinggi banget deh. Beda sama kantor gue di Bandung."


"Mana gue tau! Udah sana turun. Entar lo kesiangan. Gue juga nanti yang bakal repot."


Mara memukul lengan Fachri geram. Kemudian turun dengan bibir yang dimajukan beberapa sentimeter ke depan. "Habis ini lo mau ngecek lokasi?"


Iya, alasan lain Fachri selain menjadi bodyguard Mara adalah urusan bisnis. Katanya lelaki itu akan membuka cabang restorannya yang pertama di Jakarta. Maka dia sengaja datang sendiri ke kota sibuk itu untuk mensurvey lokasi yang cocok untuk restorannya.


"Iya. Jam berapa emang lo pulangnya?"


"Gak tau! Nanti gue hubungin lo. Udah sana pergi. Awas loh yah kalo mobil gue sampe lecet!" Mara mengibas-ngibaskan tangannya. Bermaksud mengusir Fachri pergi.


Fachri berdecak sambil menyalakan mesin. "Gak percayaan amat sama bodyguard lo ini."


Mara tersenyum. Tangan kanannya melambai ketika Fachri melajukan mobil miliknya ke jalan. Kemudian Mara melangkah cepat-cepat memasuki gedung kantor. Tempat barunya bekerja. "Semangat Mara! Semoga lo betah," ucap Mara di dalam hati sambil tersenyum.


∆ ∆ ∆


"Makan siang kali ini apa?"


"Katanya sih ikan."


"Aduh gue males banget ikan. Lagi bosen. Pengen yang lain."


"Kita pesen aja dari luar. Gimana? Mau gak?"


Dari balik biliknya, Mara yang masih menarikan jari di atas keyboard itu berusaha untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Suara-suara yang sedang berdiskusi itu sesungguhnya membuat Mara agak terganggu. Baru kali ini rekan setimnya 'agak' berisik. Dulu, rekannya kelewat serius. Pendiam dan tak banyak bicara. Kalau pun mengobrol, ujung-ujungnya, yang dibicarakan itu hanya masalah seputar kerjaan.


Namun, rekan baru di gedung kantor baru itu, sejak awal Mara masuk dan bergabung, semuanya terdengar sangat berisik. Banyak hal yang diobrolkan. Dari yang penting hingga berakhir dengan menggosipkan orang. Astaga! Mara tidak yakin sanggup jika dirinya berada di lingkungan kerja seperti itu. Dia agak meragu. Ah sudahlah. Mara tak mau memikirkan hal lain. Pekerjaan di hadapannya jauh lebih penting.


Mara ingin segera beristirahat. Perutnya lapar. Fachri gila tidak membiarkannya untuk sarapan dengan alasan takut terlambat di hari pertama bekerja. Benar-benar sahabat durhaka memang. Ingatkan Mara untuk melakukan suatu hal sadis jika nanti dia bertemu dengan lelaki itu.


"Mara," panggil seorang perempuan yang hanya menyembulkan kepalanya di bilik Mara.


Mara menoleh dan mendapati Gita sedang tersenyum padanya. "Iya, Mbak?" jawab Mara sopan sambil membalas senyuman itu. Mara sengaja menyebut perempuan itu dengan panggilan 'mbak' karena dia tidak tahu umur yang sesungguhnya dari salah satu rekan kerja Mara itu.

__ADS_1


"Kita mau pesen makanan di luar nih. Lo mau ikutan gak?" tanya Gita ramah.


Mara tampak menimang sejenak. Tak enak menolak, Mars akhirnya menganggukkan kepala. "Boleh, Mbak."


"Kamu mau pesan apa?" tanya Gita lagi. Kali ini sebuah kertas dan pulpen ikut menyembul di bilik Mara. Perempuan berwajah ayu itu bersiap menulis setelah memberikan kertas kecil berisi daftar menu.


Mara membacanya pelan-pelan. Pilihannya jatuh pada bakmi jawa dengan es campur sebagai minumannya. Setelah Gita mencatat pesanan, perempuan itu segera mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Sepertinya menginfokan pesanan pada tempat makan yang dituju.


Fokus Mara kembali pada layar komputer. Mara berhasil menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Tepat ketika bel istirahat berbunyi. Gita dan rekan setimnya segera mengajak Mara keluar. Mereka membawanya ke sebuah teras lantai dua di samping gedung kantor.


Teras itu cukup luas. Tanaman bougenville mengelilingi teras yang dipagari dengan kayu jati itu. "Kita gak makan di kantin aja?" tanya Mara. Sebab, dulu dia tidak pernah diijinkan makan di area lain selain kantin. Makanya, Mara agak takut dikatai melanggar aturan.


Gita tersenyum. "Enggak dong. Aturan di sini gak terlalu ketat kok. Di sini masih agak bebas. Yang penting lo bertanggung jawab. Lo mau makan di ruang kerja lo pun boleh. Asal, setelah selesai lo harus beresin lagi sampai bersih."


"Termasuk makan saat jam kerja?" tanya Mara.


"Sst!" Gita menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Mara sambil terkekeh. "Kalau yang itu gak boleh sebenernya. Kita-kita aja yang pada bandel. Rahasia yah."


Mara terkikik geli ketika Gita mengedipkan salah satu matanya.


"Eh lihat deh. Mas-mas gantengnya udah dateng," seru Amel antusias. Perempuan yang memiliki rambut ikal itu mengembangkan senyuman lebar pada seorang lelaki yang membawa kotak aluminium besar. Lelaki itu sedang menaiki tangga dan berjalan menuju ke arah mereka.


"Pesenan gue ada 'kan Mas Andra?" tanya Amel genit dengan jari telunjuk yang menggulung-gulung sedikit rambut ikalnya.


Lelaki yang bernama Andra itu hanya mengangguk dengan tatapan dingin. "Iya, Mbak Amel ada kok."


"Aaarrrgghhh!" Lengkingan suara teriakan dari Amel dan Selo membuat Mara dan Gita menutup kedua telinganya. Sementara yang diteriaki justru cuek saja di tempat.


Astaga! Haruskah kedua perempuan itu bereaksi sangat berlebihan begini? Haruskah mereka begitu histeris hanya karena mendengar suara lelaki pengantar makanan yang bernama Andra itu? Mara menggelengkan kepalanya pelan. Tak habis pikir.


Rekan kerja Mara itu belum lihat saja bagaimana wajah Astanya. Mara tersenyum. Mara tak bisa membayangkan ekspresi heboh dari perempuan-perempuan di depannya itu. Ah, Mara sedikit merasa lega dan bersyukur karena Astanya sudah pergi dan tak akan bisa kembali lagi. Kalau tidak, Mara pasti sudah terbakar api cemburu melihat perempuan lain kegenitan dan mencari perhatian pada kekasihnya tersebut.


"Mbak! Bakmi jawa dan es campur!" seru Andra dengan nada datar.


"Hah?" Mara hanya melongo sambil memandangi sebuah mangkuk dan gelas plastik yang terulur di depan wajahnya.


"Lo yang pesen bakmi jawa sama es campur 'kan?" tanya Andra dengan menatap Mara dingin.


"I-iya itu gue." Mara gelagapan. Malu karena ketahuan bahwa sejak tadi dia melamun.


"Ya udah cepetan ambil. Tangan gue udah pegel meganginnya."

__ADS_1


Mara merengut sambil berdecak sebal. Sewot amat sih! kesalnya. Buru-buru Mara meraih benda-benda di tangan Andra dengan sekali hentakan.


Melihat wajah Mara yang berubah menjadi bete, Gita menepuk bahu perempuan itu pelan sambil memberikan uang bayaran pada Andra. Tanpa banyak bicara, lelaki itu berbalik badan. Menuruni tangga dengan cepat lalu menghilang di balik tembok.


"Gimana, Mar?" tanya Selo yang telah duduk di sebuah kursi panjang sambil mulai memakan pesanan ayam gorengnya.


"Gimana apanya?" Mara balik bertanya sambil berjalan menghampiri ketiga perempuan yang telah membuka bungkusan makanan masing-masing. Mara mengambil duduk di sebelah Amel.


"Itu ... si Andra. Dia keren yah. Cool bangeeeet kayak kulkas. Tapi gue suka. Tipe gue banget ituuuu. Jutek-jutek gimana gitu," jerit Amel histeris yang tak jadi memakan mi ayam di atas pangkuannya.


"Iya, bener. Ya ampuuuun, mana udah ganteng banget lagi. Gue mau dong jadi pacarnya," timpal Selo dengan mode fangirling.


Gita mendengus. "Sok tau lo. Emangnya doi masih jomblo? Lo udah konfirmasi belum. Entar, pas tau doi udah ada yang punya, kejang-kejang deh lo di pojokan." Gita tertawa. Lalu menyeruput es jeruk yang dipesannya.


"Yee, udah gue pastiin kali. Doi masih jomblo sejati. Kalau pun udah ada yang punya, gue mau kok jadi kekasih bayangannya." Selo senyum-senyum sendiri sambil menerawang dengan kedua tangan di pipi.


"Sebelum lo jadi kekasih bayangannya, langkahin dulu mayatnya Gita." Amel tak mau kalah. Perempuan itu meringis ketika Gita memukul kepalanya pelan.


"Enak aja lo! Jadi gue yang kena."


Amel, Selo dan Mara hanya tertawa melihat Gita mendengus sebal.


"Kalau lo gimana, Mar? Mau daftar jadi saingan kita?" tanya Selo.


Mara tertawa. "Gak deh. Gak tertarik. Soalnya orangnya nyebelin."


"Awas loh. Dari benci bisa jadi cinta." Amel sengaja menyenggol bahu Mara pelan sambil tersenyum menggoda.


Mara menggeleng-gelengkan kepalanya. Di luar dugaan, dibanding menjadi rekan tim yang berisik. Justru perempuan-perempuan itu lebih pantas disebut dengan rekan tim yang sangat asyik. Mara bahagia saat ini. Untuk pertama kalinya, dia tidak melihat kepura-puraan dari teman-temannya. Tidak melihat sandiwara dari orang-orang di sekitarnya. Bahkan dalam waktu singkat, Mara dapat merasa sangat akrab dengan mereka. Teman-teman yang begitu hangat, tanpa peduli apakah Mara orang baru atau tidak. Namun, Mara telah dianggap menjadi bagian dari mereka begitu saja. Senyum Mara semakin mengembang.


"Benci jadi cinta? Kayaknya gak mungkin deh," jawab Mara yakin. Karena gue udah mengalaminya sekali, dan hal itu gak akan terulang dan terjadi kembali. Bahkan jika sekali pun gue ingin, gue masih belum mampu. Karena ... hati gue lah yang menahan gue untuk gak jatuh cinta lagi, sambung Mara di dalam hatinya.


∆ ∆ ∆


Aku juga mau dong dianterin makanan sama Andra. 🤧🤧 kebetulan lagi baper. eh salah. lagi laper maksudnya.


yo wes cuap cuap penulisnya gak usah panjang-panjang. takutnya bosen lihat aku ngoceh dan curcol gak jelas 🤣🤣🤣


semoga suka yah sama part ini ❤️


luv luv untuk kalian semuaaah ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2