Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Dua Puluh Satu


__ADS_3

Pagi buta. Ketika matahari masih malu-malu untuk menyapa dunia, Mara sudah keluar kamar sambil mengenakan jaket tebal. Lagi-lagi berwarna merah muda. Dengan susah payah Mara menurunkan koper besarnya dari lantai dua hingga memasukkannya ke dalam mobil. Berjejalan dengan barang-barang milik Mara yang sudah terlebih dahulu menjadi penghuni bagasi.


Mara menghela napas. Akhirnya seluruh barang-barangnya sudah selesai dia kemas. Kini dia sudah siap untuk berangkat menuju Jakarta. Kedua tangan Mara meraih pintu bagasi untuk menutupnya. Namun, gerakannya terhenti ketika sebuah koper hitam besar baru saja bersanding dengan koper Mara.


Mara melotot pada si pelaku--yang tak lain ialah sahabatnya sendiri Fachri--yang sedang melemparkan cengiran lebar. Bahkan tanpa merasa berdosa sama sekali terhadap Mara. "Ngapain lo?" protes Mara. Dia tak jadi menutup bagasinya. Kedua tangannya berpindah ke pinggang. Matanya sejak tadi mengamati Fachri yang mulai memasukkan satu persatu barang yang di letakkan di dekat kakinya.


"Eh Kuya! Gue tanya, lo lagi ngapain? Kenapa barang-barang lo dimasukin ke mobil gue?" tanya Mara dongkol setengah mati.


"Hehe. Gue mau ke Jakarta." Fachri terlihat santai dengan jawabannya. Bahkan lelaki yang lebih tinggi dari Mara itu masih sibuk memasukkan barang-barangnya.


"Mau ngapain lo ke Jakarta?" tanya Mara makin bingung.


"Ya buat nemenin lo lah. Buat apa lagi coba?" Fachri menutup pintu bagasi mobil Mara sambil tersenyum lebar. Mara buru-buru meletakkan tangannya di dahi Fachri. Namun, suhu tubuh lelaki itu masih normal. Tidak menunjukkan gejala sakit.


"Fachri, gue ke Jakarta sendiri. Gak ada acara lo nemenin gue. Enak aja lo. Jangan gila deh."


"Oh, gak bisa. Mulai sekarang Fachri adalah penjaganya Naigisa Amaranth. Gue adalah bodyguard lo. Kemana pun lo pergi, disitu pasti ada gue. Kalau lo mau protes, silakan protes ke Bunda. Paling-paling lo gak dikasih ijin sama Bunda kalau lo ngotot pergi sendiri."


Astaga. Boleh tidak Mara mencincang sahabatnya itu saat ini? Mara tidak tahu lagi dimana dia harus meletakkan kesabarannya. Sambil mencak-mencak, Mars menghampiri Bunda yang ada di dapur.


"Kok Bunda kasih ijin Fachri ikut sih Bun? 'Kan Mara udah gede. Mara bisa jaga diri kok, Bun. Lagian Mara di sana bukan mau liburan. Mara 'kan mau kerja, Bun," rengek Mara sambil bergelayut manja di tangan ibunya yang sedang mengemasi kotak makan untuk bekal Mara di jalan.


"Sayang," ujar Bunda sambil mengelus puncak kepala Mara lembut. "Kamu 'kan bakal tinggal lama di sana sendiri. Bunda bakal jarang ketemu kamu. Bunda lebih tenang kalau ada Fachri di sana. Seenggaknya dia bisa jagain dan nemenin kamu di sana."


Mara menghela napas panjang. Kalau Bunda sudah seperti itu, kata-katanya sudah tak bisa di bantah lagi. Mara hanya bisa mengikuti apa kata Bunda.


"Ayo Tuan Putri, silakan masuk," seru Fachri yang entah sejak kapan telah duduk dibalik kemudi mobil milik Mara. Mara hanya mencebik sambil melemparkan tatapan sinis. Fachri terkekeh-kekeh melihatnya.


"Ya udah, Sayang. Kamu buruan masuk. Kalau berangkatnya siang nanti jalanan keburu macet," ucap Bunda sambil memberikan kotak makan yang tadi disiapkannya kepada Mara.


"Makasih ya, Bunda," balas Mara sambil tersenyum. Lalu membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Fachri. Namun, tiba-tiba Mara merasakan perasaan berdesir ketika melihat Bunda dari balik jendela.


Sejujurnya Mara sadar, hingga detik ini Mara belum pernah mengucapkan maaf pada ibunya itu, karena telah membuatnya susah dengan tingkah Mara selama tiga tahun ke belakang. Mara sadar bahwa rasa egonya masih terlalu tinggi hingga tak sempat berucap maaf. Ya, nyatanya, memang bukan karena tidak ingin, tapi belum sempat.


"Sebentar ya," seru Mara pada Fachri sambil keluar dari mobil.


"Loh, kok keluar lagi?" tanya Bunda heran.


Mara tidak menjawab. Mata sendunya mengunci netra milik Bunda. Kemudian Mara berlari dan memeluk erat wanita yang telah melahirkannya tersebut. Perasaan menyesal, perasaan bersalah, perasaan sedih, semua bercampur menjadi satu.


"Maafin Mara ya, Bun. Maafin Mara. Mara salah. Mara nyusahin Bunda terus. Mara bikin Bunda sedih selama tiga tahun ini. Mara bikin nangis Bjnda setiap malam. Mara bikin yang lain khawatir sama Mara. Mara bodoh karena udah jauhin Ayah, Bunda dan adik-adik Mara. Mara bener-bener nyesel, Bun. Mara bukan anak yang berbakti. Mara juga bukan kakak yang baik. Maafin Mara, Bun." Mara terisak-isak di balik punggung Bunda. Bahunya terus bergetar sementara air mata mengalir deras di pipinya.

__ADS_1


"Udah Sayang, gak apa-apa. Bunda udah maafin kamu kok. Pintu maaf Bunda selalu terbuka untuk kamu," sahut Bunda penuh haru sambil mengelus-elus punggung Mara.


Diam-diam Fachri tersenyum senang dari kejauhan melihat pemandangan penuh haru itu. Fachri bahagia melihat ibu dan anak itu telah berbaikan. Akhirnya, hati Mara yang beku perlahan mencair. Sekarang tugas Fachri yang belum tuntas. Dia masih memiliki misi untuk membuat hati Mara menghangat kembali. Sama seperti dulu. Fachri akan membantu Mara bangkit. Mencari pengganti Asta untuk melengkapi hati Mara yang kosong.


Mara masuk ke dalam mobil. Tangannya melambai kepada seluruh anggota keluarganya. Tadi, ayah dan kedua adiknya yang masih tertidur, ikut keluar rumah. Mungkin mereka mendengar suara tangisan Mara. Akhirnya, seluruh keluarga dipenuhi tangis haru dengan momen saling memaafkan yang terjadi pada dini hari itu. Dengan mata sembap dan hidung merah seperti tomat, Mara terus melambai hingga mobil yang dikemudikan Fachri terjun ke jalanan.


"Kalau lihat matahari terbit dulu, masih bisa gak yah?" tanya Mara tiba-tiba di tengah keheningan yang tercipta selama perjalanan.


Fachri tampak menimang-nimang dengan mata yang tetap fokus ke jalan. "Mmh ... kalau lo mau lihatnya di atas bukit atau di puncak gunung, kayaknya gak akan kekejar. Kecuali, lo mau lihat dari atas gedung tinggi ... atau ... dari atas jembatan Pasopati."


Senyum Mara merekah. Dia menganggukkan kepalanya dengan girang. "Kita ke jembatan aja. Gue cuma mau lihat sebentar."


"Oke! Siap Tuan Putri."


"Apaan sih lo!"


Akhirnya perjalanan mereka tidak menjadi sepi lagi. Mara dan Fachri mengobrol sambil sesekali bercanda hingga tertawa bersama. Mereka bahkan melihat matahari terbit sambil memakan bekal yang disiapkan Bunda. Pagi itu menjadi pagi yang berharga bagi Mara. Mungkin dia akan merindu dengan kota kelahirannya itu.


"Ah!" seru Mara tiba-tiba. Dia teringat sesuatu. Sepertinya, memang ini lah jalan yang ditakdirkan agar Mara melupakan seluruh kesedihannya. Agar Mara segera Mara melupakan kenangan buruknya. Untuk itu Mara ingin pergi ke suatu tempat. "Anterin gue ke toko bunga dulu yah. Gue mau beli bunga dulu."


Fachri hanya menganggukkan kepala. Setelah keduanya puas melihat matahari terbit, Fachri mengantar Mara untuk membeli bunga di toko kenalan Fachri. Karena sepanjang jalan tadi, Fachri tak melihat ada toko bunga yang buka. Maka, dia memaksa seorang teman yang memang mempunyai toko bunga untuk segera membuka tokonya. Mara hanya senyum-senyum melihat Fachri yang akhirnya kena omel oleh si pemilik toko.


Ya, saat ini Mara sedang berdiri di depan makam milik Asta. Mara berjongkok sambil meletakkan bunga yang dibawanya di dekat batu nisan bertuliskan nama Semesta Udaraja dengan tinta warna emas.


"Hai, Asta. Apa kabar?" tanya Mara dengan bibir bergetar. Air matanya tiba-tiba saja luruh. "Semoga lo baik-baik aja di sana yah. Gue di sini belum bisa baik-baik aja tanpa lo. Makanya, gue sengaja gak pernah ngunjungin lo dua tahun belakangan ini. Gue jahat ya? Karena gue jahat, makanya Tuhan ngambil lo dari gue tanpa minta persetujuan dulu."


Mara menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Rasa sesak di dadanya menyeruak keluar. Kenapa rasanya sesakit ini. Padahal sudah tiga tahun berlalu. Namun, rasa sakit yang ditinggalkannya tak pernah hilang. Bahkan kian tumbuh semakin harinya.


"Lo tau gak gue bawa bunga apa?" tanya Mara sambil mengusap batu nisan di depannya. Seolah-olah dia sedang berbicara dengan Asta asli di depannya. "Baby's Breath pink. Tadinya gue mau bawa yang warna putih. Tapi gak jadi. Gue mau lo inget kalo gue sukanya warna pink."


Mara berusaha menarik senyumnya. "Lo tau gak arti dari bunga yang gue bawa? Cinta sejati yang gak akan pernah berakhir. Gue cuma pengen lo tau, meski lo udah gak ada, gue tetep sayang sama lo. Hati gue masih terisi sama lo. Masih terukir nama lo."


Merasa pegal, dan sepertinya akan berakhir lama, Mara mendudukkan diri di atas tanah. Duduk bersila tanpa peduli jika celananya akan menjadi kotor. "Gue selalu berharap, lo gak bener-bener pergi, Ta. Semua ini cuma sandiwara lo untuk ngasih kejutan sama gue. Gue bahkan berharap lo ada di sini sekarang. Bacain gue puisi, seperti saat pertama kali lo bacain sewaktu kita masih kuliah dulu. Inget gak lo?"


"Ngapain sih lo ngajakin gue malem-malem ke sini? Mana dingin lagi," dengus Mara berusaha protes. Nyatanya, kaki Mara tetap mengekor langkah Asta yang berjalan di depannya.


Asta menghentikan langkah seraya berbalik menghadap kekasihnya itu. Dia mencubit hidung Mara yang terlihat mulai memerah karena kedinginan. "Gue heran. Kenapa gue bisa pacarin orang sebawel lo yah?"


"Ih Asta! Sakit!" seru Mara sambil berusaha melepaskan tangan Asta dari hidungnya. Namun, rupanya Asta justru berhenti sendiri dengan aksi gemasnya. Kini lelaki itu justru sedang sibuk memakaikan jaket tebalnya pada Mara. Lalu mengalungkan syal hangat pada leher kekasihnya itu.


"Nah, kalo gini lebih mirip ondel-ondel. Lebih enak dilihat," ucap Asta setelah selesai dan memandangi Mara yang benar-benar hampir tenggelam di dalam jaket miliknya.

__ADS_1


"Gila lo! Gue gak bisa nap ...." Mara tak berhasil menyelesaikan perkataannya, karena Asta baru saja menciumnya dengan tiba-tiba. Setelah Asta berhenti, kesadaran Mara akhirnya kembali. Dengan wajah bersemu merah, perempuan itu mengulurkan tangan untuk menghujani Asta pukulan. Namun, tangannya tertahan oleh cekalan lelaki itu.


"Badan kecil dan pendek. Jari-jemari lo apa lagi. Gak ada harapan," ejek Asta sambil menautkan jari-jemarinya dengan milik Mara. "Nah, kalo gini lebih pas 'kan?"


Kata-kata Asta yang datar. Namun rasa hangat yang baru saja diterima Mara dan kini menjalar di seluruh tangannya membuat Mara lagi-lagi bersemu merah. Mara tak menyangkal. Dia hanya tersenyum kepada lelaki itu.


"Masih mau protes soal kedinginan lagi?" tanya Asta masih datar.


Mara menjawabnya dengan gelengan. "Kalau misalnya masih?" tanya Mara. Dia hanya berniat menggoda. Ingin tahu saja jawaban apa yang akan dilontarkan lelaki itu.


"Kalau masih, gue bakal cium lo lagi."


Jawaban Asta yang berada di luar perkiraan membuat Mara tertohok. Mara menggigit bibir bawahnya lalu tersenyum menggoda. "Ya udah, gue masih kedinginan. Gimana?"


Asta tersenyum miring. Dia mendekatkan wajahnya lagi pada Mara. Mara mengantisipasi dengan memejamkan mata. Namun, yang ditunggu Mata tak kunjung tiba. Akhirnya Mara membuka mata dan melihat sepatu Asta teracung di depan wajahnya.


"Masih kedinginan gak?" tanya Asta lagi. "Kalo masih, gue cium lo pakai ini."


"Ih rese! Tau ah sebel!" Mara menghentak-hentakkan kakinya sambil meninggalkan Asta yang sedang memakai kembali sepatunya. Mara duduk di sebuah kursi panjang yang ada di taman sakura itu.


Sama seperti pertama kali, Mara dan Asta akhirnya menjadikan taman sakura sebagai tempat untuk merayakan ulang tahun keduanya. Setiap tahun selama dua kali mereka akan bergantian datang untuk merayakan haru lahir salah satu di antara mereka. Dan hari ini ... adalah hari ulang tahun Asta.


Asta tersenyum melihat kekasihnya itu cemberut. Dia memang jadi lebih sering menggoda Mara dan membuat perempuan itu sebal. Lucu rasanya ketika melihat Mara berekspresi seperti itu. Tanpa melepas senyumnya, Asta mengambil tempat duduk di samping Mara.


Malam itu sungguh sepi. Namun, cahaya bintang di langit membuat Mara dan Asta terpana. Bintang-bintang seolah sedang menunggu dan menyambut kedatangan keduanya. Jari jemari Asta ditautkan lagi dengan milik Mara. Mara yang masih merajuk tak berusaha protes. Sejujurnya, Mara tak sungguh-sungguh marah. Dia hanya malu.


"Bodoh emang gue! Kalo Asta berpikir gue ganjen dan berharap pengen dicium dia gimana? Padahal tadi 'kan gue cuma isengin dia. Gue yang tadi mau jebak dia, kenapa jadi gue yang kejebak? Sial! Sial! Sial!" sesal Mara dalam hati. Dia terus merutuki kebodohannya.


"Sebenernya, hari ini ada yang mau gue omongin sama lo."


Mara menoleh. Dia mendapati raut wajah Asta tampak serius. "Mau ngomong apa?" tanya Mara agak was-was. Sebab, jika Asta berekspresi seperti itu, berarti sungguh ada hal yang benar-benar serius untuk dikatakan.


"Gue ...."


∆ ∆ ∆


aku menantimu Asta . udah lama banget. dan kamu baru nongol. cuma flashback lagi . udah gitu gantung. 🤧🤧🤧 aku tak bisa digantung lama lama.. aku rindu Asta. buruan bilang aja kamu mau ngomong apa As? 🤭🤭


#penulis lagi ngehalu sama Asta. abaikan aja 🤣🤣🤣


chapter ini chapter bonus buat kalian yang setia selalu. makasih yah. semoga suka yah ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2